
Bibirku kelu untuk berucap, dan rasa-rasanya seluruh darah di badan bagai terhisap keluar dari ubun-ubun. Kebas dingin tubuhku, dan mungkin saja paras ini sudah pucat, seperti yang dialami Yenz sekarang.
"Hei, apa yang kalian ...."
Kami secara bersamaan mendesis dengan telunjuk di depan bibir, saat mengetahui asal suara itu dari Leo.
Mendengar keributan kecil yang menggema di sekeliling ruang luas ini, seseorang yang berada tepat di sebelah pembaringan Leo, terbangun dengan mata setengah terbuka.
Aku gemetar dan hampir saja ingin berteriak, macam tokoh cewek di anime. Jelas kaget melihat orang itu terbangun. Bisa runyam dan panjang masalah yang diakibatkan Yenz ini!
Sekelebat kemudian, lelaki berewokan itu tumbang. Bukan tanpa sebab.
Sekelebat terlihat. Dengan gerakan tangan cepat, Leo memukul tengkuk pria itu hingga pingsan. Menangkapnya sebelum sempat terjatuh, lalu menempatkannya lagi di pembaringan pelan-pelan.
Selesai semua itu, dia menyengir lebar, sambil mengacungkan jempol ke arahku.
Edan memang bocah itu. Tapi sungguh salut aku dengan keahliannya. Gerakan yang dia lakukan memang terlihat gampang, tetapi pasti susah jika dipraktekan. Tanya saja kepada Sensei Hito, yang mengajarkan ilmu bela diri di Uncup.
Sehentakan, pemuda berambut panjang itu berdiri. Mulai melangkah cepat namun ringan, bagai tubuhnya terbuat dari bulu burung puyuh. Begitu mudahnya dia menghampiriku tanpa menimbulkan suara.
"Mau ke mana?" bisiknya.
Aku menoleh kepada Yenz, lalu mengedikkan kepala. Disusul Leo di sebelahku yang ikut menengok. Melihat si pirang berkuncit.
Lelaki berwajah oval itu menangkupkan kedua tangannya di wajah. Mengusapkannya ke bawah, sambil mendesah pelan. Tanpa memberi jawaban, dia berbalik, lalu melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti.
Mau tidak mau, aku mengikutinya. Kalau tidak bisa menghalanginya berbuat kekacauan, semoga nanti bisa menjadi orang, yang mencegahnya berbuat hal bodoh.
Yenz, disusul Leo, kemudian baru aku, keluar dari pintu samping, setelah berdebar saat membukakanya karena berderit.
Kalau kalian tanya, kenapa Leo sampai lebih dulu dari aku, sudah jelas kan, karena faktor tubuhnya yang lebih kecil dan ringan dariku!
Puas!?
Sampai di teras rumah, kami bertiga langsung menundukkan badan. Berusaha tidak terlihat, di bawah sorot sinar jingga matahari sore, dari tajamnya mata para penjaga pendek berbadan kekar.
Makin aneh aku merasa. Buat apa ada penjaga, di sekeliling rumah kepala suku berisi tamu? Bahkan mereka menenteng senapan laras panjang, dengan golok tersarung di pinggang. Ditambah ajag di sisinya, yang terlihat bersiaga. Jelas mereka berjaga demi mengawasi orang di dalam rumah.
Pasti ada udang di dalam tom yam!
__ADS_1
Urusan itu bisa dipikirkan nanti. Sekarang, masalahnya adalah kita mau ke mana, dan harus apa agar tidak diketahui mereka.
Seakan ada kontak batin di antara kami. Leo menepuk punggungku, lalu berkata, "Tunggu di sini, Tuan. Aku akan memancing para penjaga. Usahakan segera bergerak, jika mereka sudah beranjak."
"Hei, kau mau ke mana!?" pekik tertahan dari Yenz, yang tidak digubris Leo.
Pemuda itu terus berlari ringan hingga ke belakang rumah panggung. Sejenak memeriksa keadaan sekitar, sebelum turun dari teras tanpa bising. Dia menelusup ke hutan lebat yang berlatar bukit tinggi.
Sunyi sesaat. Sampai akhirnya terdengar keras dengkuran ba*bi dari dalam hutan. Suaranya makin gaduh dengan gemeresik dan patahan ranting. Seakan-akan disengaja.
Ajag penjaga mulai menggonggong. Mereka bernafsu memburu hama perkebunan itu, dan tidak peduli tali kekang di lehernya ditahan kuat oleh penjaga.
Mungkin karena sudah menyerah. Akhirnya kedua orang lelaki yang memegang bedil itu berlari, mengikuti ke arah mana si ajag pergi.
Berani bertaruh. Kebisingan tadi pasti Leo yang melakukannya. Salut aku, dia bisa meniru semirip itu. Seandainya bisa, aku akan ganjar dia dengan Piala Osxar, sebagai aktor ba*bi terbaik.
Pergi sudah para penjaga. Membiarkan posnya kosong, sehingga kami bisa leluasa bergerak. Tetapi, aku jadi kepikiran nasib Leo. Sehebat dan sekuat apa pun dia, rasanya mustahil bisa menghadapi beberapa ekor ajag ganas, serta sepasang penjaga kekar bersenjata lengkap.
Lamunanku buyar, saat mendengar suara kaki menjejak di tanah. Yenz sudah melompat turun dari teras.
Sial! Mau tidak mau, aku ikut turun untuk menyusulnya. Menggelongsor di lantai sampai ke tepian. Meloloskan kakiku melewati batasan teras berpagar, dan meneruskannya ke bagian tubuh yang lain.
Sialnya, aku tidak ada waktu untuk memulihkan diri. Yenz sudah beranjak setelah berdecak kesal. Mau tidak mau, aku harus segera bangun dan mengejarnya.
Melewati bagian bawah rumah panggung, yang di tengahnya terdapat sebuah ruangan yang entah apa. Mengekor langkah Yenz, yang mengendik cepat dan tetap waspada. Menuju ke arah barat dari posisi rumah panggung. Berlawanan dari tempat yang dituju Leo untuk mengalihkan perhatian.
Setelah menerobos semak belukar di antara jajaran pepohonan, aku percepat langkah demi dapat mengejar Yenz.
Aku tepuk pundak si pirang, lalu mencengkramnya erat, agar dirinya berhenti melangkah.
Dia menoleh dengan raut wajah penuh kekesalan. "Kenapa menghentikkanku, dan mau apa pula kau mengikutiku?" Yenz membentak, dengan tetap menjaga volume suaranya.
"Mau ke mana kau sebenarnya? Kau membahayakanku dan Leon! Bagaimana kalau kita ketahuan? Bukan hanya Kapten Sando dan anak buahnya saja yang akan jadi lawan, tetapi seluruh warga desa, Sialan!"
Yenz mendengus. "Kau tidak curiga kepada pelaut muka parut itu? Asal kau tahu. Di gudang kapal, aku menemukan kelopak bunga sangkala. Kau tahu itu apa? Bahan pembuat obat terlarang! Dan, tadi aku melihat mereka membawa beberapa peti ke daerah ini!"
Jelas aku kaget mendengar itu. Jadi selama ini kami menumpang di kapal pengedar narkoba? Apa disebabkan oleh waktu yang mendesak, karena penggerebekan terjadi, sehingga pilihan itu yang diambil? Aku harus menanyakan ini kepada Apak Lapo, kalau kami bisa bertemu lagi nanti.
Perinsipku tetap, "say no to drugs!" Itu sudah harus dan pasti, seperti yang selalu diwanti-wanti oleh Ibu. Akan tetapi, masalahnya sekarang, kalau memang benar seperti itu, kami bisa apa? Melaporkannya ke pihak yang berwajib? Lupakah dia kalau kita buronan?
__ADS_1
Aku suarakan pikiranku itu kepadanya.
Dia diam sesaat mengatur napas. "Ya, kita buronan. Penjahat bernilai besar yang jadi buruan, tetapi perlu kutekankan. Aku jadi buronan karena sistem busuk yang berlaku di sini, bukan karena keserakahan, yang dapat memberikan efek buruk kepada orang lain. Seperti mereka!"
Aku terkesiap mendengar ucapannya. Benar apa yang dia katakan. Dan, sejauh yang aku tahu, Margo pun menjadi buronan, karena melawan penindasan, yang sampai membuat ibunya meninggal dunia.
"Lalu apa yang akan kau lakukan, jika memang benar seperti yang engkau duga? Apa rencana cerdas yang akan kau jalankan?"
Tanpa menjawab, dia berbalik untuk kembali berjalan menuju dugaan, yang entah akan membawa ke mana. Menepuk beberapa kali tas selempang lusuhnya yang menggembung. Paham aku apa yang tengah dia rencanakan.
Kalian juga kan? Tidak usah disebutkan pun sudah tahu. Aku penasaran saja, apakah nanti dia akan mengatakan, "Ledakan adalah seni!" Dengan seringai kejam, dan lidah menjulur.
Aku kembali mengekor Yenz. Walau ada ragu, plus rasa khawatir mengenai kondisi Leo, tapi mau tak mau, aku harus mengikutinya. Bukankah kalau dia jadi membuat keributan besar, seperti yang direncanakan, aku juga pasti akan terkena getahnya.
Belum ada sepuluh langkah terambil. Terdengar suara bergemeresik dari sisi kiri jalan. Serentak kami berhenti. Mengamati dengan mata terpicing ke arah semak belukar di sana. Khawatir kalau suara tadi berasal dari langkah hewan buas.
Sekelebat. Sambil meraung kencang penuh emosi, tubuh ramping memegas kuat menerjang Yenz. Niatnya jelas untuk menghabisi, karena tangannya yang terangkat, sudah siap menghujamkan kilau tajam tergenggam erat. Menyasar pasti tubuh si pria ramping.
Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Serangan itu terlalu mendadak. Apalagi si penyerang bukanlah seekor macan, atau kucing hutan bertubuh besar. Dia adalah perempuan cantik berkepang, yang tadi begitu anggun menolong tetua desa untuk berjalan.
Bisa sebenarnya aku melakukan tarikan cepat, untuk menembakkan revolver yang tergantung di pinggang. Tetapi dia adalah manusia, apalagi dirinya juga adalah perempuan mempesona yang sesuai tipeku.
Kalaupun harus menembak, bukan dengan revolver aku lakukan, tetapi dengan kata-kata, "Aku cinta padamu, wahai perempuan misterius."
Di saat aku masih terpaku bimbang, golok di tangannya sudah terayun. Dada Yenz terkena sabetan kencangnya.
Untungnya, si pirang itu sudah mengantisipasi, dengan melompat menghindar lebih dahulu. Reflek. Membuat luka yang diterima tidak begitu dalam. Walau jelas pasti akan terasa sakit.
Yenz jatuh terjengkang dengan suara mengerang. Dadanya bersimbah darah, dan tas kesayangan lusuh miliknya terlepas, karena tali yang tersampir ikut terpotong.
Sial! Yenz belum lepas dari maut, perempuan itu terus menerjang dengan niat membunuh. Aku harus bertindak, sebelum nyawa lelaki bermata hijau itu habis dibabat.
"Berhenti! Atau aku tembak!" Aku menodongkan senjata ke arahnya.
Perempuan berkepang itu mendelik. Tidak ada rasa takut terbias di matanya. Tetap mengilatkan kemarahan dan kebuasan.
Sekejap. Begitu lincah dan cepat, tangan kirinya menelusup ke balik pakaian, berikat pinggang kain tebal. Selaras revolver tersibak dari sana, dan teracung dalam posisi terkokang menodong Yenz.
******! Keadaan tidak berubah, malah semakin genting mengancam kami.
__ADS_1
Jujur saja. Aku tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan!