Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 28-1] Kepercayaan dan Pertarungan


__ADS_3

Perjalanan dilanjutkan, setelah ketiganya dapat berdamai. Semakin mereka mendekat ke tujuan, Lebih banyak bermunculan halangan dan rintangan. Terutama yang paling menyulitkan datang dari kekuatan mistis permata lazarus, begitu mereka memasuki jangkauan sihirnya yang luas. Banyak kutukan dan serangan monster ganas yang untungnya dengan bantuan Mirala--menggunakan kekuatan dan pengetahuan sihirnya--dapat mereka atasi.


Di malam gelap gulita tanpa bintang gemintang dan cahaya rembulan. Pekat hitam ditutupi mega yang menyalakkan halilintar. Mereka sampai di depan kastil besar yang dijaga oleh sesosok monster bertubuh landak raksasa, dengan kepala penyu, bhuabi hutan, dan ular yang berjejer. Masih ditambah ekor buaya dengan kibasan menghancurkan.


Ketiganya menghadapi monster itu dengan susah payah. Disembur racun asam dari kepala ularnya yang mampu melelehkan besi tanpa tersisa dalam hitungan detik. Dikejar oleh kepala penyu bergigi tajam yang dapat memanjang sejauh belasan meter. Diterjang serudukan bhuabi hutan dengan taring penghancur karang. Sabetan ekornya yang hampir membunuh Mirala. Hingga hujan duri yang ditembakkan dari punggungnya.


Semua kombinasi penghancur tanpa ampun itu banyak menguras tenaga dan darah ketiganya. Sampai akhirnya, dengan gerakan nekat, Tura menerjang lalu menghujam kepala bhuabi hutan dengan lemparan tombak taring peraknya. Memberikan kesempatan bagi Pata untuk memenggal ketiga leher monster tersebut. Mengakhiri riwayatnya.


Setelah beristirahat sejenak. Mereka memasuki kastil yang ternyata kosong melompong. Hanya berisi tekanan kuat yang dihasilkan tuah permata lazarus. Menggedor nyali dengan rasa takut bagi siapapun yang berada di sana. Termasuk mereka bertiga. Namun, Tura, Pata, dan Mirala terus berjalan dan saling menguatkan, hingga langkahnya sampai ke ruang singgasana.


Di kursi lebar dengan sandaran bersepuh emas, diukir membentuk pola lidah api, yang berada di ujung undakan tinggi. Seorang pria bermantel bulu tebal dan bermahkota emas dengan hiasan tengkorak bermata rubi di tengahnya, duduk bertopang dagu. Matanya yang dinaungi alis tebal, menatap ketiga lawan di depan pintu masuk dengan pandangan merendahkan. Mulutnya yang dibingkai rahang petak, berdecap seakan mereka yang hendak membunuhnya hanyalah segerombolan lalat.


Dia berdiri, hingga terlihat tubuh tinggi besar bagai menara besi menjulang. Dikeluarkan tangan kirinyanya yang sedari awal tersembunyi di balik mantel. Mempertontonkan permata berwarna hijau seukuran bola tenis mengambang di atas telapak tangannya.

__ADS_1


Sadar mereka bertiga kalau itu adalah sumber teror yang mencengkram benua Suno. Permata lazarus yang di sekilingnya merembeskan aura jahat pekat. Menyiksa semua indra perasa. Pedih di mata, panas di kulit, pahit getir di lidah, menusuk gendang telinga, dan amis memuakkan merasuki hidung.


Mirala tumbang karena Tidak tahan akan tekanan gila yang sengaja dikeluarkan si raja lalim lewat permata lazarus. Membuat gadis itu menjadi tanpa pertahanan. Mangsa empuk untuk dijadikan sasaran serangan pembuka.


"Mati kalian, kecoak!" raung raja lalim dengan suaranya yang serak dan berat.


Sinar hijau penghancur meluncur dari dalam permata lazarus. Tura dan Pata yang mampu menahan tekanan sihir lazarus--terlindungi kekuatan senjata legendarisnya--langsung menerjang ke arah luncuran serangan. Berusaha menahan serangan tersebut.


Tura berlari mendekati sang raja lalim. Melompat menghindar ke samping saat dirinya akan diterjang cahaya hijau. Berulang kali, tetapi tidak sedikitpun menyurutkan langkahnya. Terus maju sampai menaiki undakan menuju singgasana.


Tura melompat demi menuntaskan sisa dua anak tangga. Tombak di tangan diayun kuat. Menghujam singgasana hingga hancur berantakan. Sayangnya, si raja lalim dapat berkelit sebelum terkena serangan.


Si raja lalim murka saat mendarat jauh dari singgasananya. Berkumpul kemurkaan si jahat itu ke dalam permata lazarus. Membuat cahaya hijaunya semakin cemerlang.

__ADS_1


Dua bersaudara itu menyerang serentak dari arah berlawan. Menyasar si raja lalim di tengah keduanya.


Pertarungan dahsyat tidak dapat dielakkan. Serangan kutukan dilancarkan berkali-kali oleh sang raja lalim dengan bantuan permata lazarus. Pata dan Tura meladeninya dengan tetap berusaha melindungi Mirala. Begitu dahsyatnya pertempuran itu, sampai lantai singgasan yang berada di tingkat teratas kastil rubuh.


Namun, itu hanyalah hal kecil bagi mereka. Pertarungan tetap dilanjutkan. Malah lebih dahsyat, setelah Pata terlebih dahulu mengungsikan Mirala, kekasihnya, jauh ke tempat yang aman.


Srat!


Setelah banyak serangan yang hanya memberikan luka ringan, akhirnya terjangan kakak beradik itu mampu menusuk perut dan merobek dada si raja lalim. Darah merah kental kehitaman tersembur keluar dari luka yang ditorehkan senjata sakti Pata dan Tura.


Merasa tugas dan dendamnya sudah terbayar lunas, kedua saudara itu tertawa bahagia. Sebuah kebahagiaan yang hanya sesaat, karena tiba-tiba saja seluruh kegelapan jahat yang ada di benua seakan terhisap ke dalam permata lazarus yang kemudian menelan tubuh sang raja lalim ke dalam pekatnya kabut hijau berisi sari pati kejahatan. Sublimasi dari permata lazarus.


Awal dari babak akhir pertarungan dua bersaudara melawan kejahatan tulen sang pemimpin bengis.

__ADS_1


__ADS_2