Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 2-2] Kutukan Kutu Buku


__ADS_3

Fix! tidak diragukan lagi. Wanara benar-benar sedang sakit.


Sudah sedari kecil kami berteman--dari sebelum masuk taman kanak-kanak malah--dan baru kali ini aku lihat, cowok berambut lurus belah tengah itu, bisa begitu tekun membaca buku tebal.


Saking seriusnya membaca, bahkan dia sampai melewatkan film "The Running Dad" kesukaan kami. Padahal bulan lalu, dia sampai membeli headset wireless, demi dapat menonton film larut malam itu tanpa ketahuan.


Kekonyolannya masih ditambah lagi, dengan peristiwa di jam terakhir. Entah apa yang merasukinya, Wanara tiba-tiba saja menggebrak meja sambil berkata, "Apa-apaan ini!?" dengan suara keras.


Satu kelas jadi kaget. Aku yang setengah mengantuk, bahkan hampir terlonjak jatuh dari kursi. Bu Maddy, yang sedang asik menjelaskan pelajaran, bergegas pergi ke belakang kelas dengan wajah merengut. Ke tempatku dan Wanara berada.


Beruntungnya dia. Bukannya kena marah, justru malah dapat pujian dari guru killer tersebut.


"Oh ... benarkah? Itu suatu perubahan yang baik. Pertahankan, Nak. Tetapi, sekarang waktunya belajar. Kau simpan dulu buku itu, dan teruskan membacanya nanti, setelah kelas usai, ya." Begitu yang diucapkan Bu Maddy, saat Wanara mengatakan alasannya berteriak, disebabkan terbawa cerita yang ada di dalam buku.


Jadi penasaran. Seseru apa sih buku berjudul Alkisah Naga Bersisik Merah Delima itu?


Ya, sepanjang hari ini aku lebih banyak tidak diacuhkan oleh Wanara. Jujur, aku merasa dia seperti orang yang berbeda. Kepikiran jadinya; apa mungkin buku itu memiliki kekuatan sihir, yang akan membuat pemiliknya terkena kutukan. Kutukan yang mengubah seseorang menjadi seonggok kutu buku.


"Jadi, apa sebenarnya rahasia buku itu?" tanyaku saat kami berjalan menyusuri lorong yang ramai oleh para siswa. Di jam pulang sekolah tentunya.


"Akan susah jika aku terangkan di sini sekarang. Lagi pula, mungkin kau tidak akan percaya."


Aku menatap cowok berkulit sawo matang itu dengan dahi berkerut. Tidak mengerti maksud ucapannya. Hei, itu hanya sebuah buku, kan. Asal kalian tahu, aku lebih banyak membaca buku yang hanya berisi tulisan dibandingkan dirinya!


Apa yang istimewa? Sebegitu kerenkah cerita dari buku yang terus kau jinjing itu? Sumpah, jadi semakin penasaran aku. Terpikir untuk merebutnya, jika Wanara tidak mau meminjamkannya lagi. Seperti tadi saat di kantin.


Aku mengaduh sebelum sempat meminta Wanara meminjamkan buku merahnya, karena tiba-tiba saja ada selemperan benda keras mengenai kepala--tutup botol kola--yang membuatku urung melanjutkan niat.


"Hei, Gendut!" Bersandar di tembok krem, Rico yang diapit kedua temannya, menggerakkan tangan melintangi batang leher. Gerakan menyemblih, yang artinya dalam waktu dekat ini, dia akan merisakku tanpa ampun.


Mati aku! Pasti kejadian tadi pagi penyebabnya.


Tutup botol minuman itu kembali terlontar. Tetapi kali ini melayang menuju ke arah pemiliknya. Mengenai dinding, tanpa menyentuh Rico yang telah terlebih dahulu menghindar.


"Jangan berani-berani kau mengganggu temanku!" Wanara maju selangkah sambil menunjuk Rico, yang memiliki tubuh lebih tinggi dan besar darinya.


Sumpah! Benar-benar sakit anak itu. Dari mana dia mendapat keberanian untuk menantang Rico, coba?


Yah, walaupun Wanara tidak pernah diganggu preman sekolahan itu, tetapi baru kali ini dia berani maju secara frontal melawannya. Padahal biasanya hanya melotot saat aku dirisak, agar gerombolan itu tidak meneruskan aksinya.


"Atau apa, hah? Mengadu kepada pamanmu?" Rico maju menerima tantangan Wanara.


Karena kejadian itu, anak-anak berkerumun membentuk lingkaran. Demi menyaksikan peristiwa langka, yang mungkin akan menjadi bahan pembicaraan selama beberapa hari.

__ADS_1


Aku terjebak di tengah semua ini. Entah harus berbuat apa. Yang pasti, aku tidak mungkin membantu Wanara kalau sampai terjadi perkelahian. Selain karena aku cinta kedamaian, tidak mungkin juga kan aku bisa menang melawan mereka yang berbadan atletis.


"Jangan kira aku akan takut. Aku pernah menghadapi yang lebih mengerikan dibandingkan dirimu!" dengkus Wanara.


"Oh ya? Di mana? Dalam game yang kau mainkan?" Rico tertawa di akhir ucapannya.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Wanara mendorong dada Rico dengan kedua tangan. Membuat cowok pirang itu hampir terjengkang ke belakang.


"Berhenti, atau aku laporkan kalian semua!" Bentak suara dari balik kerumunan.


Rico yang hendak mengambil ancang-ancang untuk menerjang, menghentikan niatnya, karena mendengar suara yang familiar tersebut. Siapa lagi kalau bukan bidadari berkepangku.


Fiona menerobos lingkaran kerumunan. Menatap galak Wanara dan Rico yang masih dalam posisi mengepalkan tangan. Siap berbaku hantam.


"Kalian mau bubar dengan damai sekarang, atau aku catat ini semua, dan memberikannya kepada kepala sekolah!?"


Riuh rendah sorak kecewa para penonton, yang gagal menyaksikan adegan perkelahian secara langsung. Tidak termasuk aku, yang justru menghela napas lega.


"Ayo, Kawan!" Wanara menepuk pundakku, lalu kami melanjutkan perjalanan yang tadi sempat tertunda. Kali ini diiringi banyak tatapan mengarah ke Wanara. Entah kagum atau mencela. Aku tak tahu.


Di jarak beberapa langkah lagi dari pintu ganda gedung sekolah, aku mulai tergelitik untuk bertanya. Banyak pertanyaan sebenarnya yang ingin aku ajukan kepada sobatku ini.


"Hei, kenapa tadi kau malah menantang Rico? Bisa-bisa kau habis dihajarnya. Tidak seperti dirimu yang biasanya," tanyaku, begitu kami telah melewati pintu keluar.


"Orang seperti dia tidak akan berhenti berbuat ulah, kalau belum diberi pelajaran. Lagi pula, apa yang perlu ditakuti dari berkelahi menggunakan tangan kosong? Tidak akan lebih sakit dari terkena sabetan pedang, kan," kata Wanara tanpa menoleh. Penuh keyakinan.


Menanggapi omonganku, dia menoleh sambil menarik sebelah bibirnya. Tersenyum konyol, seakan meremehkan aku yang tidak tahu apa-apa. Kurang ajar!


"Jangankan sekadar sabetan pedang. Serangan yang lebih dari itu pun aku pernah merasakannya berkali-kali."


Benar-benar geser otak anak ini. Dari mana, dan kapan dia marasakan sabetan pedang coba? Padahal baru kemarin kami bertemu di ulang tahunnya.


"Serius! Kau pasti terkena chuunibyou--sindrom kelas delapan yang membuat pengidapnya berkhayal berlebihan."


"Seperti yang aku bilang, kau ...."


Ucapan Wanara terhenti, karena terdengar ada yang memanggil dirinya dari belakang. Suara bidadari, yang sayangnya hanya menyebut nama Wanara. Kenapa tidak sekalian aku!?


"Kenapa, Fi?"


"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau mencari ribut seperti itu."


"Wuoh ... perlu kau catat. Rico duluan yang memulai mencari gara-gara dengan mengusili Zack."

__ADS_1


Mata kami bertumbuk. Fiona menatapku tajam. Mungkin bertanya soal kebenaran ucapan Wanara.


Ya, benar. Dia langsung melengos begitu aku mengangguk. Entah kenapa, bidadari berkepang itu selalu tidak mau berlama-lama menatapku. Apa mungkin karena ketampananku terlalu berlebihan baginya?


"Terserah kau lah. Pokoknya, jangan sampai membuat keributan di sekolah. Aku nanti yang kena getahnya."


"Baiklah, ketua konsil murid yang terhormat." Wanara menundukkan badan. Memberi hormat macam di film kerajaan.


"Tidak usah banyak drama!" Fiona mengambil sesuatu dari tas punggungnya. "Aku sekalian minta tolong kepadamu. Berikan buku catatan ini kepada Runa. Ada kisi-kisi untuk ujian besok di kelas sains. Tadi dia tidak masuk karena sedang demam."


"Oh, oke kalau ...."


Belum habis omonganku keluar, sembari menyambut uluran buku dari Fiona, Wanara begitu saja menyelak.


"Kenapa tidak kau sendiri saja? Lagian kan rumah kalian berdekatan!"


"Hei! Aku tidak akan minta tolong kepada kalian jika bisa melakukannya sendirian. Aku masih harus menghadiri rapat konsil siswa, dan sehabis itu mesti pergi ke toko Bibi Anne untuk mengambil pesanan mama. Aku takut tidak akan sempat kalau mengantarnya sendiri."


"Dengar itu, Sobat. Tidak ada salahnya kan membantu." Kulebarkan senyum menatap Fiona. Lagi-lagi dia melengos.


"Oi! Sebenarnya kau itu temannya siapa sih, Zack!?" bentak Wanara.


"Ya kan tidak ada salahnya membantu. Apa kau malas ke sana karena Yugo? Atau karena Runa ...."


"Aku hajar kau kalau masih lanjut berbicara!"


Wanara mengangkat buku tebalnya yang sedari tadi dijinjing. Hendak menggunakannya untuk memukulku. Tapi, belum sempat tangannya bergerak, bidadariku telah terlebih dahulu merebut buku bersampul merah itu dari tangannya.


"Dasar barbar! Buku itu untuk dibaca, bukannya digunakan sebagai pemukul!" Fiona membuka beberapa halaman buku yang direbutnya dari Wanara, dan menekurinya sebentar. "Buku siapa ini? Tidak biasanya kau membawa buku seperti ini."


"Punyaku lah. Siapa lagi memangnya?"


Sesaat, Fiona kembali menekuri buku itu. Aku lihat dahinya berkerut saat membuka halaman awal.


"Dan kau yang menulisnya?"


Buku di tangan kurusnya disorong ke arah kami. Tertulis besar di halaman paling pertama itu; "Created by Wanara."


Aku melongo. Antara tidak percaya dan mencoba mencerna fakta aneh tersebut. Wanara yang bahkan sama sekali tidak mau membaca buku, malah membuat tulisan di buku setebal itu?


Lebih aneh lagi, saat menoleh, aku dapati anak itu juga melongok sama herannya denganku.


Apa maksudnya coba? Kalau dia yang menulisnya, kenapa dia tidak tahu? Apa mungkin tadi malam dia ngelindur, lalu menulis isi buku itu sampai selesai dalam tidurnya?

__ADS_1


"Bukan urusanmu!" Wanara merebut buku itu dari tangan Fiona. "Ayo, Kord, kita pulang!" katanya sambil melangkah pergi. Makin membuatku terheran-heran akan kelakuannya.


Siapa pula Kord itu, Sialan!


__ADS_2