
Kami semua masih bergeming menatap sang sepuh, yang wajahnya dipenuhi keriput dan sedikit bergelambir. Duduk bersimpuh di atas alas bantal, sambil memegangi tongkat kayunya.
Hening pecah, saat dirinya berdehem pelan. Awalannya sebelum memulai berbicara.
"Aku bahagia, Cucukku Manika, mendapatkan tambatan hatinya." Suara ringkih dan sengau itu kini terdengar begitu berat penuh wibawa. "Yang menjadi pikiranku sekarang adalah, pertanyaan tentang apa niatmu sebenarnya, sampai mau melamar Manika? Aku tahu kalian tadi hendak menyelinap ke dalam hutan, menuju goa di tepi bukit. Dan, karena takdir unik yang diberikan oleh para dewa, kau akhirnya dapat menaklukan hati Manika yang sekeras karang. Jadi, apa niatmu yang sebenarnya? Jawablah, Anak Muda!"
Oh, jawabannya mudah, karena aku tidak mau mati konyol di dunia antah berantah. Tapi, tidak mungkin kan aku jawab seperti itu?
Jelas tidak!
"Tidak perlu ditanya lagi, tetua. Sudah jelas, kan, apa alasan mereka melakukan itu. Mereka hanyalah buronan busuk berotak licik!" Sando tiba-tiba saja menyela, sebelum aku bisa merangkai alasan yang pas untuk diutarakan.
"Buronan busuk katamu? Bagaimana dengan kau, Hah? Seorang penyelundup, sekaligus pengedar obat terlarang! Rendahan!" Yenz angkat bicara, dengan kalimat menusuk, yang bodohnya sama sekali tidak dia pikirkan akibatnya.
Serentak. Para ABK yang dikomandoi Kapten Sando, menghentak berdiri dan menodongkan senjata ke arah kami. Beberapa warga pun melakukannya. Jelas begitu, karena mereka sebagai produsen obat terlarang, pasti merasa tersinggung.
Aku mengkeret oleh kepungan senjata di sekeliling kami. Berbeda dariku, Leon justru sudah mengangkat setengah badannya, dan bersiap untuk menerjang. Sedangkan Yenz bergeming dengan tatapan lurus menatap Kapten Sando.
Sedetik lewat. Ketukan keras tongkat kayu membentur lantai papan. Berkali-kali dipenuhi emosi. Mengalihkan semua pandangan.
"Kalian tidak lagi menghormatiku, dan adat di dalam Rumah Junjung ini? Lupa kalian dengan jasa yang aku berikan hingga sekarang!?" Getaran suara Tetua Perota begitu merasuk dan membuatku merinding. Begitu pula sepertinya dengan para penodong, yang langsung kembali menyimpan senjata, lalu duduk ke tempatnya semula.
"Mohon maaf, Tetua. Aku melakukan itu semata-mata demi Manika, yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Lagi pula, bukankah peraturan adat juga melarang melakukan pernikahan dengan orang luar?"
Orang tua bermata sayu itu menoleh, dan melemparkan pandangan tajam, yang membuat Kapten Sando tertunduk beriring ucapan maaf.
Tetua Perota beralih memandang kami. Sesaat berbaku tatap dengan Leo, yang masih bersiaga, walau sudah duduk bersila di tempatnya.
__ADS_1
Itu terjadi sebentar, sebelum sesepuh desa mengangguk sambil berdeham. Awalan favoritnya sebelum memulai perkataan.
"Memang benar, adat budaya di sini melarang untuk menikah dengan orang luar, bahkan tidak diperbolehkan untuk bersentuhan dengan kehidupan di luar desa. Tetapi, lihatlah sejarah Suku Tastal dahulu, di mana kita masih memegang erat peraturan itu. Apa yang didapat? Kita tergerus oleh kemajuan zaman. Di Perang Besar Sepuluh Tahun, banyak orang suku yang mati dan dijadikan budak, karena kalah persenjataan. Begitupun peninggalan budaya kita yang habis dirampok. Apakah aku harus mempertahankan cara salah seperti itu?"
Hening. Semua diam. Akan tetapi, aku yakin, setiap kepala yang ada di sini, menyetujui perkataan Tetua Perota.
"Nak. Sejujurnya, aku tidak mau melakoni pekerjaan haram, dengan membuat obat-obatan seperti itu. Tetapi, tahu kah kau? Walau pulau ini bagian dari Negara Vajal, tetapi sebenarnya kami berada di bawah perlindungan kerajaan Andapala. Keamanan kami terjamin dari keserakahan Pemerintah Vajal, yang sudah lama ingin mengeruk kekayaan alam berupa tambang bijih angin, bahkan berniat menjadikan kami, penduduk Pulau Talse, sebagai budak." Tetua Perota menghela napas panjang. "Demi perlindungan itu, dan menjaga eksistensi Suku Tastal, maka kami harus membayarnya, dengan memberikan mereka pasokan obat retnap."
Yenz memekik tertahan. "Obat terkutuk itu ... bu-bukankah sudah dilarang sejak sepuluh tahun lalu oleh Dewan Dunia!? Sejak perang berakhir?"
"Cukup! Tidak lebih dari ini. Posisi kita terancam jika sampai orang luar tahu tentang itu. Aku mohon kepadamu, Tetua." Kapten Sando kembali menyela. Tetapi, kali ini orang tua itu mengangguk setuju.
"Hanya itu yang bisa aku beritahu kepada kalian. Semoga bisa diterima. Karena, hal itu menyangkut kelangsungan hidup suku kami."
Yenz mengangguk perlahan. Dia bungkam seakan menerima, walau terlihat dari gelagatnya, kuncir pirang itu sama sekali tidak puas.
Oh ya, jika kalian bertanya, "Apa itu retnap?" Sejujurnya aku hanya bisa memberitahukan kalau itu adalah sejenis obat kuat. Tanpa bisa menjelaskan kandungan, atau cara membuatnya.
Obat kuat yang aku maksud tadi adalah stimulan, peningkat kekuatan pemakainya, dan menghilangkan rasa sakit di tubuh, berikut mempercepat proses penyembuhan. Secara psikis pun, orang yang mengkonsumsi obat ini akan mendapatkan euforia, dari kepercayaan diri dan kekuatan ekstra yang didapat.
Obat itu memang hebat, tetapi efeknya lebih luar biasa lagi. Selain ketergantungan, obat itu membuat tubuh menjadi cepat tua, umur berkurang banyak, kesehatan menurun drastis, bahkan otak dan organ tubuh lainnya menciut. Lengkap menjadikan mereka sebagai mayat hidup.
Bagaimana Margo bisa mengetahuinya? Jangan mentang-mentang om-om ini bermuka tua, kalian kira dia memakai itu juga!
Retnap adalah obat populer yang dipakai di peperang besar sepuluh tahun lalu. Bukan hanya prajurit, bahkan rakyat sipil pun, bisa dengan mudah mendapatkannya.
Selama pelarian, aku bertemu beberapa orang yang memakainya, demi dapat menghadapi kengerian di masa perang. Bahkan, aku pun beberapa kali terpaksa menghadapi keganasan pemakai obat tersebut. Tidak perlu diceritakan bagaimana kewalahannya aku saat melawan mereka.
__ADS_1
"Baiklah. Kembali ke topik pembicaraan," ucap Tetua Perota, menyudahi hening yang sesaat meraja. "Nak Margo, jawablah pertanyaanku tadi."
Aku menarik napas sesesap, lalu berdeham. Bersyukur tadi ada sedikit keributan, yang membuatku dapat memikirkan alasan bagus.
"Tetua Perota. Sungguh, sebenar-benarnya aku sudah tertarik saat melihat Nona Manika pertama kali. Lepas dari paras dan fisiknya yang sempurna. Aku memerhatikan bagaimana telatennya dia menuntun Anda, menyiapkan makanan, hingga caranya bergerak. Sungguh terlihat anggun bagai seorang bidadari ... ah, lebih tepatnya maha dewi surga yang turun ke bumi. Itulah yang membuat hatiku terpikat olehnya."
Senyap sejenak. Setiap mata memandang terbelalak ke arahku, dengan mulut menganga. Jujur, aku merasa ada sesuatu yang salah.
Detik berikutnya. Terdengar suara terkikik, yang kemudian pecah menjadi tawa terbahak-bahak. Menular kepada yang lain, hingga kompak semua tertawa. Hanya kami bertiga, ditambah Tetua Perota yang tidak.
Sumpah! Malu aku! Para sialan ini, apa mereka menertawakan bahasaku yang puitis itu? Norak sekali kalian! Belum pernah membaca "Sayap-Sayap Patah" karangan Khalil Gibran, pasti mereka ini!
Suara ketukan tongkat beberapa kali menggema. Membuat mereka semua terdiam, walau ada beberapa yang mati-matian menahan tawa tersisa.
"Mohon maaf atas ... Nak Margo." Bagian ucapannya yang terpotong, jelas benar karena kakek bongkok itu menahan tertawa. "Aku pernah muda, dan mengerti kalau cinta itu buta. Jika kau mau tahu, sifat nenek, dan ibunya Manika, sangat amat mirip. Tomboy, liar, urakan, bermulut kasar, jorok, suk ...."
Ucapan pak tua itu terhenti karena suara hantaman keras, dari pintu kamar di ujung ruangan yang menjeblak terbuka. Di sana Manika, tengah berdiri dengan picingan mata tajam menyorot kami.
Dia berjalan mendekat, dengan hentakan keras yang sengaja dibuat. Saat itu, semua kepala tertunduk dalam. Gentar merasakan kemarahan, yang tersampaikan lewat getaran di lantai kayu, saat dirinya melangkah.
"Kenapa Kakek tidak sekalian bilang kalau aku mau menuntunmu, dan menjaga sikap, karena iming-iming senjata revolver baru sebagai hadiahnya?" Manika berucap dengan seringai lebar di wajah. Sewaktu sudah berdiri di sisi sang tetua.
Ah ... tamat riwayat Margo. Kalau sampai dia jadi menikahi gadis berjiwa barbar itu, entah akan bagaimana nasibnya nanti.
Tetua Perota meminta cucu tersayangnya itu untuk duduk. Dengan alasan, dirinya akan meneruskan pembicaraan tentang pernikahan aku dan Manika. Ampuh. Gadis manis itu menurut.
Tetua Perota berdehem. Menatapku sambil menghela napas. Bisa kuartikan sebagai tanda bela sungkawa beliau atas keputusan yang telah kubuat.
__ADS_1
"Cinta itu misterius. Sama sekali tidak bisa dijelaskan sepenuhnya dengan kata-kata. Hanya si pecinta saja yang dapat memahaminya. Menimbang dari perkataan indah Nak Margo, teruntuk cucuku tersayang. Maka ...."
Khidmat kata-kata sang petinggi desa kembali tersela. Kali ini gangguan berasal dari suara gaduh di luar Rumah Junjung. Terompet dan tabuh genderang susul-menyusul bagai tak mau terjeda. Teriakan-teriakan perintah bersahut-sahutan. Dan, dari itu semua, berkali-kali satu kata memekik keras, "Penyerangan!"