Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 5-2] Jangan Kau Nodai Aku!


__ADS_3

Hai, kembali lagi bersama aku, Zacky, di sini. Dalam cerita di dunia jahanam, "Jurnal Pelayaran Menuju Benua yang Hilang". Ya, dalam buku terkutuk sialan milik Wanara!


Oh iya, aku ternyata tidak mati, disebabkan peluru yang ditembakkan si bandit, meleset dari sasaran, karena aku tiba-tiba saja tumbang ke belakang. Alih-alih melobangi kepala, timah panas itu hanya menggores keningku.


Kebetulan yang unik, karena kalau tidak pingsan, tentu sudah sejak tadi aku jadi mayat.


Apakah aku merasa beruntung?


Jawabannya; tentu saja tidak!


Bukannya pergi saja meninggalkanku di tengah gurun, para bandit keji itu, malah menyeret diri ini menggunakan kuda. Dengan kaki, tangan, dan sekujur tubuh diikat, aku melaju penuh kesengsaraan. Tidak bisa melawan sama sekali, sementara badan makin dipenuhi luka perih bercampur ngilu. Bahkan borok di pundak Margo pun, semakin mengganas rasa sakitnya.


Sintingnya, mereka tertawa terbahak-bahak saat melakukan itu. Sesekali malah para bandit bergantian menembakiku. Tidak berniat mengenai. Hanya candaan jelek mereka, sebagai hiburan paling laknat yang ada di muka bumi.


Entah sudah seberapa jauh aku dibawa dalam tur tak berperikemanusiaan ini. Ke mananya pun aku tidak tahu. Karena, boro-boro untuk melihat jelas, sekadar untuk bernapas pun aku harus bersusah payah, di tengah terjangan pasir gurun yang panas.


Untung, sebelum aku benar-benar jadi daging giling, konvoi yang ternyata membawa serta karavan berikut isi dan saudagarnya--iya, si Rusty Golbar--akhirnya berhenti. Di ujung ngarai yang cukup panjang. Tempat rumah kayu besar berada, yang di kanannya terdapat kandang kuda, dan di kirinya ada dua bangunan lain tanpa jendela.


Seorang bandit yang kakinya pincang, berjalan mendekat. Menginjak dadaku lalu berkata, "Beginikah wujud buronan besar, yang berani membakar rumah Gubernur Rose? Hahaha ... tidak sangka, buronan seharga enam ratus ribu dem, sepecundang ini. Uang mudah. Cuih!"


Sialan! Seenaknya saja dia meludahkan liur kental berwarna hijau ke wajahku. Sungguh menjijikkan! Baunya membuatku ingin muntah.


Usai melepas ikatan di kaki, yang terhubung dengan pelana kuda, seorang lagi bandit berbadan besar menjambak dan menyeretku tanpa ampun. Sampai di salah satu gubuk kayu tanpa jendela, dia lempar aku dengan kasar ke dalam ruang lembab nan apek ini. Lalu, tanpa ada empati barang sedikitpun, dia segera mengunci pintunya.


Aku merintih, karena sekujur badan terasa sakit yang membuat menggigil. Sumpah, jika tidak segera diobati, riwayatku sebagai Margo di dunia ini sebentar lagi akan tamat. Mati karena infeksi borok di pundak, yang ternyata berasal dari luka tembak sewaktu pelarian. Setelah membakar rumah bangsawan Rose.


Aku tidak mau terus tersungkur di sini. Mesti bergerak ke tempat yang lebih baik, dan mungkin bisa mendapatkan selimut atau sedikit air untuk melancarkan tenggorokan yang tadi banyak dijejali pasir.


Aku mengaduh bangun, dengan hanya sebelah tangan membantu. Gemetar dan gontai. Menunggu mati di dalam ruang pengap, yang hanya bercahayakan lampu petromak tergantung di dinding--ada masing-masing satu di kiri, dan kanan ruangan. Berjalan sempoyongan menuju pojok gubuk, yang aku pikir tempat terbaik untuk mendekam menahan sakit.


"Kondisimu menyedihkan."


Aku menoleh ke arah suara yang berasal dari dekat lampu petromak. Siluet seseorang bermata hijau terpampang di sana. Aku langsung melompat dan jatuh terjerembab melihatnya.


Sial! Kenapa harus pula bertemu hantu penunggu ruangan ini? Ya Tuhan, tidak cukupkah Engkau menyiksaku?


Derai tawa terdengar. Sosok itu mengambil petromak, dan membawanya di hadapan. Terlihat kini di sorot remang cahaya, seorang pemuda dengan rambut pirang terikat. Berjalan menghampiriku dengan senyum terkembang.


"Tidak perlu takut. Aku bukan hantu. Lihat, kakiku menapak tanah," ucapnya santai. Mendopak-dopakkan kaki di lantai kayu ruangan yang berpasir.


"Apa maumu!?" bentakku dengan nada mengancam.


"Tidak ada, hanya mau mengenal orang yang ditempatkan satu ruangan denganku. Dalam sekapan para bandit gurun." Dia duduk bersandar dinding kayu, tidak terlalu jauh dariku. Meletakkan tabung petromak di ruang kosong antara kami, lalu melanjutkan berkata, "Perkenalan, namaku Yenz."


Aku menatap tangannya yang terjulur. Menimbang sesaat ajakan berkenalan orang itu. Tidak ada salahnya sih, toh tidak merugikan.


Perlahan-lahan aku tegakan badan, dan bersusah payah mengangkat tangan kanan, demi menyambut jabatan perkenalannya.

__ADS_1


Ah, hanya untuk melakukan hal mudah saja, tubuhku sudah sakit tidak karuan. Sepertinya semakin parah seiring berjalannya waktu.


"Sepertinya tanganmu terluka ya?" Dia mencondongkan badan demi meraih tanganku yang baru terangkat setengah. "Biar kuobati."


"Hah? Kau dokter?" tanyaku, saat dia beranjak dari duduk, dan melangkah hingga di hadapan.


"Baiklah, kau tenang. Aku akan melakukannya perlahan."


Selanjutnya, tanpa persetujuan dan menjawab pertanyaanku, dia mulai membuka ponco yang kukenakan. Tidak berhenti sampai di situ. Setelah melempar asal kain kumal itu ke samping, tangannya dengan cekatan membuka kancing kemejaku. Satu per satu sampai akhir. Menyibaknya, hingga terpampang dada berbulu lebat di tubuh besar Margo.


"Akh! Jangan nodai aku!" Spontan aku berteriak. Diikuti sepakkan kencang menyasar si cowok vulgar itu, yang juga membuat diriku sendiri terguling ke belakang.


"Kau gila ya!?" Dia terbatuk memegangi dadanya yang terkena tendanganku. "Hei! Aku ini masih normal! Mau aku obati atau tidak, sih!?"


Aku menatapnya sesaat, lalu berkata, "Oh, mau mengobati, ya? Kenapa tidak bilang dari tadi?"


Dia mendengkus kesal dengan sorot mata tajam menatapku.


Yah, jangan salahkan aku juga, kalau reflek membuat cap kaki di baju putih berkerahnya. Siapa yang tidak panik diperlakukan tidak senonoh seperti itu, dalam kondisi sekarat seperti ini pula.


"Tunjukkan luka di lenganmu!" Dia mengambil sesuatu, dari ujung lipatan mantelnya yang tersimpul. Sebuah botol kecil berisi cairan hijau kental.


"Apa itu?" Kupicingkan mata demi melihat benda di tangannya, yang berkilauan ditimpa cahaya api petromak.


"Obat. Sekarang cepat tunjukkan lukamu, dan jangan bertingkah konyol lagi!" perintahnya, bernada tajam.


Aku perlahan menyibak lengan baju, hingga terlihat lubang bernanah di pundak belakang. Sumpah, aromanya begitu busuk saat tersibak.


Sial! Kenapa dari tadi aku dipaksa untuk muntah sih!? Salah apa aku kepada buku sialan ini!?


"Parah juga." Lelaki bernama Yenz itu jongkok di sebelahku, lalu mendorong, dan membuat tubuhku membungkuk dalam duduk, macam sedang melakukan yoga. "Aku yakin, kalau dibiarkan lebih lama, luka ini akan membuat tanganmu harus diamputasi."


"Hei! Serius, kau!" Bentakku, dengan mata melotot melirik dirinya.


"Tenang saja. Kau beruntung bertemu denganku." Dibuka sumbat gabus botol seukuran jempol itu. "Dengan ini, aku jamin lukamu akan sembuh total. Kau tahan, ya!"


Selintas. Aku rasakan setetes benda cair menyentuh borok di pundak. Awalnya terasa sangat dingin bagai terkena batu es. Akan tetapi, selanjutnya semua berbalik seratus delapan puluh derajat.


Lukaku mendesis, dan terasa bagai terkena lelehan timah panas cair membara merah. Menjalar bagai hendak melobangi lagi bagian tubuhku yang sudah busuk itu.


Gilanya. Saat aku pikir sudah berhasil menahannya dan mulai mereda, di titik itu tiba-tiba saja bagai dirayapi ratusan serangga yang menggigit ganas. Perih bercampur gatal luar biasa yang sangat tak tertahankan.


Aku meronta dan berteriak, hendak menggaruk pundak, yang entah bagaimana wujudnya setelah terpapar cairan laknat itu. Tetapi, pemuda bernama Yenz tersebut, sudah terlebih dahulu menahan dan juga mencekal tanganku. Membuat kedua belah tangan ini tidak bisa menyentuh luka yang gatal meradang di pundak.


Ternyata sensasi menyakitkan itu tidak berlangsung lama. Berikutnya, mulai mereda dan berganti rasa nyaman yang perlahan menjalar ke sekujur tubuh. Seakan cairan itu masuk ke pembuluh darah, lalu menyembuhkan lukaku yang lain secara keseluruhan.


Tak ada lagi rasa panas di tubuh yang disebabkan oleh demam. Tersapu bersih semua penyakit merongrong badan.

__ADS_1


Aku menoleh, dan mendapati luka menganga itu mulai menutup. Tak lagi tercium bau busuk, dari cairan borok kental berwarna kuning. Semua berlanjut hingga hanya tersisa sebundaran koreng kering.


Ajaib! Obat apa yang dia berikan? Bahkan salep luka termanjur di klinik dokter, sampai klinik Tongteng pun, tidak ada yang seampuh itu.


"Lukamu mungkin akan berbekas. Tetapi percayalah, besok hari, luka tembak di pundakmu akan pulih sepenuhnya."


"Terima kasih." Aku menegakkan badan, lalu menatap pria berambut pirang itu dengan mata berbinar. Dari jarak kami yang hanya sejengkal saja.


"Menjijikkan!" ujarnya. Mendorongku hingga terguling.


"Apa-apaan kau!?" bentakku.


"Ah, sudahlah. Anggap saja kita impas."


Impas matamu! Tapi sudahlah. Toh karena dia, lukaku bisa sembuh.


"Lalu siapa namamu?" tanyanya, sembari menyelipkan lagi obat ajaib itu ke lipatan mantel, yang kemudian disimpul.


"Oh ... ya. Namaku ... Margo. Margo Damarion. Panggil saja Margo." Ya, itu nama orang yang aku perankan di buku ini.


"Hah? Margo, yang seorang buronan pembakar rumah gubernur itu? Wah, tidak disangka. Aku kira orangnya ...."


Sesaat terdiam. Aku yakin dia tidak akan meneruskan ucapannya. Dan, kupikir pasti disebabkan dirinya hampir mau mengatakan hal yang menyinggung secara tidak sengaja.


"Oh iya ... aku menolongmu tidak secara cuma-cuma." Seenaknya saja dia mengubah topik pembicaraan. Padahal baru aku mau protes, agar dia melanjutkan ocehannya.


"Apa maumu!?" Aku mulai curiga dengan gelagatnya. Awas saja kalau sampai minta yang aneh-aneh!


"Tenang saja. Aku hanya butuh sedikit pertolonganmu, dan ini juga demi kepentingan kita bersama," ucapnya dengan cengiran lebar.


"Maksudmu?" Aku memicingkan mata, demi mendapat efek sangar mengancam. Walau tidak tahu bagaimana bentuk wajah si Margo, tetapi aku yakin, orang dengan brewok lebat seperti ini, pasti akan terlihat menyeramkan saat berekspresi seperti itu.


Mulut Yenz mulai terbuka, tetapi yang selanjutnya terdengar adalah suara gemeretuk kayu yang beradu. Tanda pintu gubuk--tempat kami disekap--akan dibuka.


Sosok pria kurus beruban jarang, dengan kemeja merah hati mahal--yang sudah lecek--muncul di ambang pintu yang terbuka lebar. Seorang bandit berkepala pelontos mengenakan topi tinggi di belakanganya, mendorong Golbar hingga terjerembab di dekat kami.


"Kalian berdua! Tutup mulut dan jangan lagi membuat keributan. Atau kutembak batok kepala kalian semua!"


Pria botak itu menutup rapat pintu, yang hanya dipalangi sebuah balok panjang sebagai pengunci--di bagian luar gubuk tentunya. Dia pasti terganggu dengan keributan absurd yang tadi kami buat.


"Baguslah jika ditambah satu orang lagi. Aku jamin, tidak lama lagi kita akan bebas dari sini."


Aku melongok mendengarnya. Jadi imbalan yang dia minta itu, adalah membantunya untuk kabur dari sini? Apa mungkin bisa kami lolos dari tempat terpencil, dengan hanya satu jalan penghubung, berupa jalur yang diapit dua gunung batu tinggi?


Antara percaya dan tidak percaya. Tapi apa lagi yang bisa aku lakukan, selain mempercayainya?


Semoga benar aku bisa kabur dari tempat terlaknat ini, dengan selamat sentosa!

__ADS_1


__ADS_2