
Jelas sudah, kenapa mereka yang menjemput kami. Aku ingat, si rambut tembaga itu adalah pemuda yang menyambangi kediaman Pud'e, di hari aku ditangkap oleh para petugas Velbar.
Pasti lelaki yang berdiri menyandar dinding di sebelah pintu itu, mempunyai hubungan dengan Pud’e.
Masih aku terperangah. Si Gendut sudah bergerak sampai ke tengah ruangan, demi menyiapkan kursi yang dibawanya. Mempersilakan pria berwajah oval untuk duduk. Aku yakin dia adalah kapten kapal ini.
Jubah yang tersampir di pundak, dikibaskannya sebelum duduk tegap di atas kursi. Tajam sebelah matanya menatap kami satu persatu. Mematut, seakan mencoba menembus dalam ke relung hati.
Merinding aku saat harus bersitatap dengan mata berwarna kuning tersebut.
"Siapa di antara kalian pemegang kunci menuju benua yang hilang?" Pria bermata kuning tersebut berkata penuh wibawa.
Aku tidak tahu maksud dan arah pembicaraannya, tetapi aku menebak hal itu pasti berhubungan dengan kotak kayu yang dimiliki Yenz.
"Kalau Kapten Hovler bertanya, kalian harus menjawabnya, bengal!" bentak si pria gendut, setelah lama kami terdiam.
Yenz berdiri sambil memegangi pundaknya. "Tidak ada satu pun dari kami yang memilikinya." Si bodoh itu malah menjawab dengan nada menantang. Membalas langsung tatapan si kapten bajak laut.
Aku mencium aroma masalah mulai menguar. Si sialan bibir ranum itu, kenapa begitu keras kepala sekali menahan kotak kayunya? Padahal kita ada di posisi yang tidak menguntungkan.
"Berani sekali kau!" Si Gendut menghunus pedangnya, dan mengacungkannya ke hadapan batang leher Yenz.
__ADS_1
Aku jelas tidak tinggal diam. Di detik yang persis bersamaan, aku berdiri dan mencabut kedua pistol di pinggang. Menodongkannya kepada si Gendut, dan kapten kapal yang sangat dijunjungnya.
Bergeming kami dalam posisi genting saling ancam. Sebenarnya hanya aku dan si Gendut, sementara Yenz, Kapten Hovler, dan si lelaki rambut tembaga tetap tak berubah posisi, bagai tak terpengaruh atmosfer mengancam dari senjata yang tertodong.
Oh ya. Kita lupakan sejenak soal si Jamet. Percaya atau tidak, dia masih tertidur nyenyak. Seperti sedang hibernasi.
"Aku tidak percaya akan ucapanmu, tetapi aku yakin dengan informasi yang diberikan Pud’e dan Baba Ruska. Jelaskan maksud ucapanmu!"
Tanpa bergeser, Yenz angkat bicara. "Di kediaman gubernur Velbar. Kunci itu direbut oleh Falcoa dan Sando. Aku tidak bisa mengambilnya kembali, dan terkena tembakan di bahu. Benda yang kau cari sekarang berada di tangan mereka." Dia melepaskan tas kain kumal di sandingan bahu, lalu melungsurkannya di atas pedang milik si Gendut. "Periksalah jika kau tidak percaya."
"Berikan tas itu, Daff!" perintah Kapten Hovler, yang langsung dipatuhi si gendut.
Kami diam sejenak saat si kapten bermata satu memeriksa isi tas Yenz, yang seingatku, selama ini tidak pernah lepas dari sisinya.
Yenz tidak langsung menjawab. Dia menghampiri, lalu memegang dan menekan pelan pundakku. Tanda agar aku menurunkan revolver yang teracung.
Yenz berjalan ke tengah ruangan, dan duduk bersandar di bawah jendela kapal. Berbaku tatap dengan si kapten bermata satu. Meringis samar sewaktu menempatkan diri di sana.
"Aku sudah tahu ke mana arah tujuan untuk diambil. Tempat yang pastinya akan diketahui juga oleh kelompok Barrety, tepat setelah dia mengetahui cara menggunakan kunci yang direbutnya dariku. Cepat atau lambat." Yenz menarik napas. "Aku hanya memerlukan peta lengkap dari wilayah selatan, untuk bisa memastikan ke mana poin pasti dari arah yang ditunjukkan."
"Kalau hanya itu, kau akan mendapatkannya nanti," timpal Sang Kapten.
__ADS_1
Yenz terkekeh. "Lalu, apa kau pikir aku akan memberitahukannya kepadamu?"
Suasana tegang kembali meraja. Jelas-jelas Yenz mengintimidasi sang kapten, untuk tujuan entah apa. Dia lupa ya kita ada di mana?
Sang Kapten Mata Satu tertawa. Tidak terprovokasi intimidasi Yens. "Mau bagaimanapun kau menolak, hanya kami yang bisa mengantarmu mengarungi lautan selatan yang ganas."
Sekilap. Aku melihat bibir Yenz bergerak. Mendecap kesal pastinya. Paham aku, dia sedang ingin menegosiasikan sesuatu, tetapi sayangnya gagal sebelum terlaksana.
"Apa yang kau inginkan dengan datang ke sana? Sebelum kau kecewa, akan aku katakan sekarang. Kau hanya membuang waktu jika berniat mencari harta karun di sana."
"Sepertinya kau sudah mengenal tempat itu, hah. Baguslah, berarti usahaku tidak sia-sia. Tetapi, sayangnya tebakanmu salah. Bukan harta yang aku cari. Kau hanya perlu mengantarku sampai ke sana. Berikutnya, pers*etan kau mau berbuat apa."
Tegasnya si Kapten berambut cepak berwarna merah itu, membuat Yenz terdiam. Sadar sih diriku, kalau apa yang diutarakannya tidak main-main.
Selekas kemudian, dia bangkit dari kursi, dan meninggalkan kami tanpa kata. Diiringi si pemuda rambut tembaga, dan kacungnya yang mengekor membawa kursi. Meninggalkan kami setelah sebelumnya si gendut itu menatapku sinis sambil mendengkus.
"Yenz! Jelaskan kepadaku!" panggilku didorong rasa penasaran.
"Nanti, Marg. Sampai saat yang tepat, pasti aku ceritakan kepadamu. Sekarang aku mau beristirahat, untuk memulihkan luka ini."
Kami bersitatap tanpa berkedip. Jelas aku tidak puas dengan jawabannya. Tidak peduli walau harus bertengkar lagi seperti di Lapalasa, karena sudah sejauh ini, barang tentu hal itu menjadi masalahku juga. Karena, kupikir plot di buku terkutuk ini, ingin aku untuk sampai ke benua yang hilang.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan? Apakah sudah waktunya makan?" ujar Leo yang baru saja terbangun. Memecah ketegangan, yang berujung buyarnya mood untuk bertengkar dengan si Lambe Kemayu itu.