
Ray tiba di kantor lebih siang, dia hanya akan memeriksa pekerjaan sebentar saja. Ray bekerja di kantor papanya Shinta, sebuah perusahaan periklanan. Ray mendapat jabatan Wakil Direktur karena memperoleh keistimewaan dari papanya Shinta. Selain masih muda, Ray adalah lulusan dari Universitas luar negeri. Ray memang kaya, ganteng dan cerdas. Itu yang menyebabkan Shinta benar-benar tergila-gila dengan Ray.
Ray kembali menelpon Anna, namun tetap tidak ada jawaban dari Anna. 'Rupanya Anna menghindariku'. Ray menghela nafas sambil setengah membanting handphone nya di meja kerja. Tiba-tiba Shinta masuk ke dalam ruang kerja Ray. Ray terkejut dan langsung membalikkan handphone-nya ke meja. Shinta yang mengetahui gelagat Ray langsung memasang muka jutek, 'Abis telepon sapa sayang? Kamu masih nyari-nyari Anna? Mau aku ganggu lagi?.
Ray spontan langsung berjalan keluar ruang kerja tanpa menggubris Shinta. Shinta terkejut dan marah karena sikap cuek Ray. Shinta ingin meneriaki Ray, tapi dia masih bisa menahannya karena sedang berada di kantor.
Ray kembali masuk ke ruangannya sambil menbawa secangkir kopi. 'Harusnya kamu minta tolong aku bikinin kopi, kan aku calon istrimu sayang.' rayu Shinta. 'Gak perlu, udah kamu duduk manis aja di situ. Aku agak lama di kantor, kalo kamu bosen pulang aja gih.' Ray secara halus mengusir Shinta.
__ADS_1
Tapi Shinta tetap tak bergeming, dia tetap menunggu Ray dengan duduk manja di sofa. Shinta memakai sok mini dan atas blouse yang kancing atasnya sengaja tidak di kancing, serta memakai high heels. Shinta memang senang memakai pakaian yang menonjolkan bentuk tubuhnya.
Sesekali Ray melirik Shinta, dan pandangan mata mereka bertemu. Shinta hanya tersenyum tipis sambil memainkan handphone-nya. Rupanya Shinta sedang membalas pesan dari Arnold 'I miss u too sayang.. ntar malem yaa kita ketemu.. gak sabaaaar..muaachh.' Lalu muncul sebuah pesan lagi, 'Di tempat biasanya sayang.. kita nginep ya, mumpung istriku lagi di rumah ortunya.' Shinta tersenyum senang, 'See u sayang...muachh.' Shinta kembali tersenyum senang sambil memainkan handphonenya.
Ray hanya melirik Shinta, dia berusaha cuek ke Shinta dan meneruskan kembali pekerjaannya. 'Aku mau keliling kantor dulu ya sayang.' Shinta berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari ruangan Ray. Ray hanya diam dan tidak menjawab.
Pintu pantry terbuka, dan muncul Ray. Sontak Shinta terkejut dan langsung menutup teleponnya, 'Ayo pulang.' Ray berbicara sambil melangkah pergi meninggalkan ruang pantry. Shinta yang masih terkejut bergumam lirih, 'Aduhh, dia denger gak ya. aduuuhh, mati aku.' Shinta tergopoh-gopoh menyusul Ray yang sudah menuju ke parkir mobil.
__ADS_1
Di dalam mobil mereka berdua tampak diam dan tak saling bicara. Ray terlihat sangat kaku dan cuek. 'Sayang, kamu gak beliin oleh-oleh buat mama?, mama pasti seneng.' Shinta mencoba membujuk Ray, 'Boleh' Ray hanya menjawab singkat dan padat. Mereka kemudian mampir ke toko roti untuk membeli oleh-oleh mama Shinta. Shinta nampak senang karena Ray menuruti permintaannya.
Mereka tiba di rumah Shinta, rumah yang sangat besar dan mewah. Pos satpam ada dua, yang satu di dekat pagar, satu lagi di dekat rumah. Papa Shinta memang seorang kinglomerat yang sudah terkenal seantero negeri. Mama dan Papa Shinta rupanya sudah menunggu kedatangan mereka di ruang tamu.
'Nak Ray, apa kabar?' sapa mama Shinta. Ray menjawab dengan sopan, 'Baik tante, ini buat tante.' Mama Shinta sangat senang dengan pemberian Ray, 'makasih sayang, aduhh kamu benar-benar calon mantu yang ideal buat papa mama, ya kan paa??. Papa Shinta mengangguk setuju, 'Jadi gimana Ray, sudah kamu tentukan tanggal pernikahanmu dengan Shinta?'.
BERSAMBUNG
__ADS_1