
"Jawa dong Al. Shane sakit apa?", Anna bertambah penasaran karena Allia hanya cengengesan saja.
"Kangen kamu kaliiiii", Allia masih bercanda.
"Kaann.. becanda lagi. Beneran aku gak tau Al. Tadi pagi dia call aku, tapi aku pas konsul sama pembimbing", antara panik dan kepo, Anna tetap memberondong Allia dengan pertanyaan.
"Telepon sendiri donk", Allia tetap bungkam meskipun Anna sedikit memaksa.
"Al, please kasih tau donk. Sakit apa Shane?", Anna terlihat sangat khawatir.
"Telepon sendiri ah. Ehh.. trus gimana? Kamu yakin mau nemuin Ray??", Allia balik bertanya kepada Anna.
"Gak tau Al. Gimana menurutmu?? Tadi dia call aku, tapi belum tak angkat. Aku merasa bersalah banget", Anna bergumam seolah merasa bersalah.
"Ngapain kamu yang ngerasa salah!!. Ya wajar donk kamu kiri foto video itu. Harusnya Ray yang makasih sama kamu An, udah nunjukin gimana tabiat tunangannya itu. Dihhh, ikut sebel aku An. Karma is real!!", Allia berkata dengan menggebu-gebub menunjukkan kekesalannya terhadap Ray.
****
Sesosok pria duduk di sebuah restoran mewah. Sesekali dia melihat jam tangannya, kemudian memandang keluar cafe. Seolah sedang menunggu seseorang.
Kringg..kriinggg...
__ADS_1
"Ya.. Halo Shinta. Ada apa?", nada suara Ray sangat datar.
"Kamu dimana? Aku dirumahmu. Papa Mama ngajak makan malam di rumah", Shinta menanyakan keberadaan Ray.
"Lagi di luar. Aku masih sibuk", jawab Ray padat dan singkat.
Klekk...
Kemudian tanpa basa-basi Ray menutup telepon dari Shinta. Lalu setengah kaget, Ray mendongak dan Anna sudah berada di depan Ray.
Ray reflek mengulurkan tangan kepada Anna, "Sendirian?? Apa kabar Anna??".
Anna kemudian duduk di depan Ray, dan Anna diam seribu bahasa. Sebenarnya dalam hati, Anna merasa gugup bertemu lagi dengan Ray.
Anna merasa kikuk dan tidak bisa berkata-kata, "Ehhm... ".
Belum selesai Anna berkata, Ray menyahut, "Maaf ya An, mengundangmu tiba-tiba".
"Ohhh.. aku yang harusnya minta maaf, sudah mencampuri urusan pribadimu dengan tunanganmu. Seharusnya aku gak ngirimin kamu foto-foto itu", Anna tertunduk malu.
"It's okay An, gak masalah. Kamu gak salah. Aku yang salah", Ray menghentikan perkataannya sebentar.
__ADS_1
Lalu melanjutkan lagi, "Dulu aku nyakitin hati kamu. Aku minta maaf. Bener-bener minta maaf. Aku pria pengecut yang...".
Belum selesai Ray berkata, Anna sudah memotong kata-kata Ray, "No Ray, ini bukan tentang kita. Hal tentang kita di masa lalu sudah aku tutup. Dan aku sudah move on. Gak usah dibahas lagi".
"Tapi........", Ray mencoba menyanggah.
"Yang mau kita bicarakan adalah tentang foto yang ku kirim. Maaf banget Ray. Waktu itu aku lagi emosi karena tunanganmu tiba-tiba dateng kerumah. Ngomong macem-macem, nuduh-nuduh tanpa bukti", Anna menjelaskan dengan detail kepada Ray.
"Dia dateng ke rumahmu?? Ohh ****...", Ray menahan emosi.
"Selama ini aku berusaha ngalah dan diem. Tunanganmu sering ganggu aku. Yang terakhir maaf aku udah gak bisa sabar. Maaf ya Ray, tunanganmu tipe orang yang gak bisa kontrol emosi".
"Dan pada puncaknya aku khilaf ngirim foto itu ke kamu. Maaf!!", Anna meminta maaf kepada Ray.
"Aku udah tau kalo dia selingkuh An. Makasih ya udah ngirim foto itu. Maaf kalau Shinta sering ganggu kamu", Ray tertunduk malu.
"Oke.. Sudah ya, aku pamit. Kurasa gak ada lagi yang perlu kita bicarakan selain hal tadi", Anna mencoba berdiri dari kursinya tapi tangan Ray dengan sigap memegang tangan Anna.
"Tapi....", Ray tidak melanjutkan kata-katanya karena ternyata seorang pria tampan sudah berdiri di hadapan mereka.
BERSAMBUNG
__ADS_1