
Anna tersadar dari lamunannya, 'Ohh kabar baik', hanya jawaban singkat yang keluar dari bibir Anna.
Sementara Shane tetap memandang tajam Ray. Sorot mata Shane yang tajam seolah sanggup untuk menembus jantung Ray.
'Ada waktu hari ini?', Ray mencoba untuk mengajak Anna. 'Kamu terlihat lebih kurus Anna'.
'Bukan urusanmu Ray! Aku buru-buru, maaf. Ayo Shane kita pergi'.
'Tunggu Anna. Aku hanya ingin meminta waktumu sebentar aja', Ray tetap pada keinginannya untuk mengajak Anna bertemu berdua.
'Buat apa Ray? Aku gak mau tunanganmu salah paham. Aku udah gak ada urusan lagi sama kamu. Jadi aku mohon jangan ganggu aku!', dengan tegas Anna tidak mengabulkan keinginan Ray.
Shane hanya diam sambil tetap menatap tajam Ray, seolah Shane ingin menerkamnya.
Ray terdiam melihat mereka berdua berjalan meninggalkannya. Dengan langkah gontai Ray masuk ke dalam mobilnya.
Ray mengendarai mobilnya menuju kantor Shinta. Tapi hasilnya nihil karena Shinta tidak sedang di kantor. Ray mencoba menelpon Shinta tapi tidak di angkat oleh Shinta.
'Kemana dia?', dia mencoba menelpon Shinta lagi. Karena tetap tidak di angkat, Ray mengirim whatsap ke Shinta, 'Temui aku di toko perhiasan langganan mamamu, mama menyuruh kita untuk menular cincin pernikahan'.
Shinta tengah duduk di lobi sebuah klinik kecil, dengan memakai kulot warna nude, dan atasan tanktop di balut blazer berwarna hitam, serta dengan sneakers putih, Shinta membuka pesan dari Ray sambil membalas, 'Aku masih ada perlu sebentar'.
__ADS_1
'Ini minumnya sayang', suara lelaki itu mengagetkan Shinta. 'Makasih sayang', Shinta tersenyum manja ke lelaki itu.
Yaaaa... mereka berdua datang ke klinik di luar kota untuk menggugurkan kandungan Shinta. Mereka berdua telah sepakat untuk tidak meneruskan kehamilan Shinta.
'Ibu Shinta..', seorang perawat menghampiri Shinta, dan mempersilahkan Shinta masuk ke sebuah ruangan.
Shinta dan Arnold memasuki ruangan tersebut. Mereka di sambut senyuman seorang dokter laki-laki muda.
'Haloo Ibu Shinta, perkenalkan saya dokter Bram', Dokter memperkenalkan diri kepada mereka berdua.
'Ya dokter, gimana dok?', tanpa basi-basi Shinta langsung bertanya kepada dokter Bram.
'Ya.. karena usia kandungan masih cukup muda. Bisa-bisa aja di gugurkan, tapi lebih baik dipikirkan secara matang.
'Sebelum di jadwalkan, saya minta kalian berdua tanda tangan di sini ya. Silahkan di baca dulu kemudian tanda-tangan', dokter Bram menyodorkan dua lembar kertas kepada Shinta.
Arnold membaca isinya, kemudian mengangguk kepada Shinta. Dan Arnold menandatanginya, di ikuti oleh Shinta.
'Baiklah, akan kami jadwalkan segera. Nanti perawat saya yang akan menghubungi Ibu Shinta ya. Terimakasih'.
Arnold mengucapkan terimakasih kepada dokter, kemudian mereka berdua bergegas pulang.
__ADS_1
'Sayang.. aku laper, kita makan di resto yang biasanya yuk', Shinta merajuk kepada Arnold.
Arnold tersenyum lalu mencium bibir Shinta yang tebal dengan penuh nafsu, 'Husssshh... jangan di sini sayang'.
Shinta kewalahan menghadapi ciuman nafsu dari Arnold. Tapi kemudian mereka berdua menikmati ciuman tersebut di dalam mobil yang berhenti, di bawah lampu merah.
Rupanya ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua, seseorang itu berada sejajar dengan mobil yang di tumpangi Arnold dan Shinta.
'Isshhhh.... ciuman di jalan', gerutu cewek itu. Lalu laki-laki di sebelahnya menggoda cewek itu, 'Cemburu An?? hahahaha'. Shane menggoda Anna yang sedang menyindir pasangan yang sedang berciuman itu.
Anna tidak tahu kalau yang sedang berciuman di sebelah mobil mereka adalah Shinta, tunangan Arnold.
'Shane.. sepertinya aku pernah liat yang cewek deh. Aku pernah ketemu, tapi agak samar aku gak keliatan'.
Shane menenangkan Anna, 'Ahh udah udah An.. salah orang kali kamunya'.
'Bentar dehh.. beneran aku seperti kenal cewek itu', Anna ragu-ragi dan penasaran.
'Haaaaahhh... Shaaneee... itu Shinta!!!! Tunangan Ray', Anna terkejut setengah mati ketika cewek itu menghadap ke depan..
'Yaaa...itu Shinta!!!', Anna mengepalkan tangannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG