Cerita Cinta Bersamamu

Cerita Cinta Bersamamu
56. Cerita cinta bersamamu


__ADS_3

"Jangan merasa sok benar!! Kamu....", Ray tidak meneruskan kata-katanya. Tangannya mengepal menahan emosi yang bergejolak di dadanya.


"Sudah!! Kamu keluar!! Jangan ganggu orang kerja!!", Ray menelpon sekretarisnya dan menyuruhnya masuk ke ruangan.


"Sel.. Abis ini saya ada meeting sama klien di luar. Saya berangkat sekarang, trus tolong kamu urus Nona Shinta", Ray memberi perintah kepada sekretarisnya.


"Oh.. baik pak", Gisel, sang sekretaris Ray sedikit bingung dengan perkataan bosnya. Tapi dia menuruti permintaan bosnya, dan segera menyiapkan minuman untuk Shinta.


Ray menyetir mobilnya dengan pelan menuju tempat meeting bersama klien-nya. Selama di perjalanan, Ray rupanya menelpon Anna.


Tiga kali Ray menelpon, lagi-lagi Anna tidak mengangkat telepon darinya.


****


Anna berlari-lari kecil menuju ke ruang dosen pembimbingnya, sampai dia tidak sadar bahwa di ponselnya banyak panggilan tak terjawab. Tinggal sedikit lagi skripsi Anna akan selesai dan melakukan sidang.


"Hampir telat, fiiuuuuhhhh", Anna menarik nafas panjang dan mengaturnya agar tidak terengah-engah.


"Shane pasti sudah di dalam, aduuhh aku harus gimana??", sejak ciuman singkatnya dengan Shane di dalam mobil, sejak itu pula Anna belum bertemu lagi dengan Shane.


Anna belum siap lagi bertemu Shane, dia merasa akan malu dan salah tingkah karena ciuman mereka.


Klekk...

__ADS_1


Pintu terbuka dan Anna melihat sekeliling. Rupanya dia tidak melihat Shane. Ada perasaan sedikit lega menyelimutinya.


****


Setelah menyelesaikan konsultasinya, Anna bergegas keluar dari ruang dosen. Dia sempat melihat ponselnya, dan sedikit terkejut karena ada panggilan tak terjawab dari tiga pria.


Pertama, dari Ray dan kemudian di susul Shane serta Gaga, "Waaaaahhh, kenapa mereka ganggu sih pagi-pagi gini".


kriiingg...kriiinggg..


"Ya.. haloo", Anna mengangkat teleponnya.


"Bisa kita ketemu pas makan siang?? Di tempat biasa, ada yang mau aku bicarakan", Ray bertanya dengan ragu-ragu kepada Anna.


"Tentu ada!! Tentang foto yang kamu kirim. Setelah kamu kirim foto, kurasa kamu haruse njelasin ke aku. Jangan jadi orang yang gak tanggungjawab", setengah paksaan dari Ray membuat Anna tidak enak hati.


"Ohh.. maksudku. Ehmm.. aku bisa jelasin lewat telepon aja, gak perlu ketemu", Anna tetap berusaha menghindar.


"Oke. Aku anggap kamu orang yang gak bertanggungjawab karena setelah mengirim foto, kamu menghindar. Oke. Sekarang aku paham", Ray berusaha memojokkan Anna.


Anna rupanya sedikit geram dengan perkataan Ray, "Ohh.. aku tanggungjawab kok. Oke, kita ketemu di jam makan siang. Bye!!", Anna segera menutup telepon.


Pluukkk...

__ADS_1


Anna terhuyung ke depan karena mendapat timpukan buku tepat di punggungnya.


"Annaaaa... aduuhhh sorry sorry yaahh. Duhh jangan marah, gak sengaja", Allia menjerit melihat temannya terhuyung.


Anna refleks menyeret tangan Allia lalu mencubitnya, "Kamuu yaaa... ngagetin tauk!!".


"Kamu ngelamuun. Ya kan?? Makanya udah ku panggil, kamu gak noleh. Ishhhh!!."


"Loohhh, aku gak denger. Sumpaaahh!!!", Anna mendelik kaget ke arah Allia.


"Makanya jangan ngelamun. Ngapain sih??", seperti biasa, Allia menunjukkan rasa keingintahuannya yang besar.


Lalu Anna menarik tangan Allia, dan mengajaknya duduk di bangku bawah pohon. Anna lalu menceritakan semuanya tentang Ray kepada Allia.


"Trus, mau nemuin Ray?? Buat apa? Biarin aja dia gak usah di temuin. Lagian juga kamu gak salah kirim foto tunangan sama selingkuhannya. Biar tau rasa dia!!", Allia mendengus kesal.


"Cuma sebentar doang Al. Setelah aku njelasin, udah aku cabut", Anna menegaskan hal itu kepada Allia.


"Yakiiiinnnn??? Trus kalo Shane tau?? Bakal perang dunia dong. Lagi sakit tuh anaknya".


Anna kaget dan langsung mencengkram tangan Allia, "Haaah... Sakit apa? Aku kok gak tau??".


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2