
Shinta marah dan kesal karena Arnold, tidak tepat waktu, 'Kamu tau kan kalo aku paling gak suka telat. Harusnya kamu ngerti donk sayang'. Gerutu Shinta lewat pesannya. Tapi Arnold tak lagi membalas pesan dari Shinta. Dengan menahan kesal, akhirnya Shinta menuju hotel dan langsung masuk ke kamar.
Begitu sampai di kamar, Shinta langsung menjatuhkan diri di kasur dan tangannya mengepal meninju-ninju kasur. Dia menelepon Arnold, tapi tidak ada jawaban, 'Kemana sih diaaa... Arrggghhhh, bikin bete'. Emosi Shinta memang kerap tidak terkontrol, bahkan untuk urusan sepele pun kemarahan Shinta bisa meledak-ledak. Ada yang mengetuk pintu hotel, 'Yaaa.. sebentar'. Kemudian masuk pelayan hotel yang mengantarkan wine pesanan Shinta.
Shinta membawa segelas wine ke kamar mandi, dia berendam di bathub sambil meminim wine, 'Aku harus relaaax.. sebentar lagi Arnold pasti datang, hanya dia pelampiasan nafsuku'. Shinta menyeringai lebar, 'Ray terlalu dingin sama aku, tapi aku cinta Ray, aku gak mau lepasin Ray'. Shinta memanjakan tubuhnya, dan bersantai-santai di bathub. Sesekali dia melirik jam yang menunjukkan pukul 9 malam. Arnold belum muncul juga dihadapan Shinta. Wajah Shinta kembali memerah menahan amarah.
__ADS_1
Sementara itu, di villa hutan pinus, Anna dkk sedang menyiapkan api unggu dan barbequ-an. Mereka semua tampak sibuk hilir mudik. Yang cewek-cewek sibuk memasak dan memanggang, sedang yang cowok-cowok asik meyiapkan api unggun. Suasana tampak meriah, mereka mengenakan jaket atau sweater tebal semua karena memang udaranya sangat amat dingin.
Anna berjalan menuju ke dalam villa untuk mengambil bahan makanan dan peralatan yang tertinggal. Sekilas dia melihat Shane tampak berbicara di telepon dengan seseorang di dekat pintu. Secara gak sengaja Anna mendengar apa yang di bicarakan Shane dengan seseorang, Anna tidak bermaksud menguping, tapi dia rupanya penasaran. 'Shaa.. aku tau ini gak mudah, tp lebih baik kita jalani dulu aja apa adanya, jangan ambil keputusan terburu-buru, pikirkan dengan matang, aku mohon!'.
Kepala Shane melongok ke dalam ruangan, dia tidak melihat siapa-siapa, 'Kita bicara nanti ya'. Isha dengan ketus menjawab, 'Gak ada yang perlu di bicarakan Shane, aku merasa hubungan kita sangat hambar. Aku hanya ingin kita break saja, tolonglah ngertiin aku'. Shane memerah wajahnya, 'Kamu aja yang ngerasa hambar sha.'. Isha tetap pada keputusannya, 'Maaf Shane, byee..'. Shane shock dan melongo karena Isha langsung menutup telepon, sedang Shane masih butuh penjelasan dari Isha.
__ADS_1
Batu di depan Shane menjadi sasaran kemarahannya. Dia menendang batu itu dan tangannya siap meninju pintu. Tapi di urungkan niatnya dan Shane segera berjalan menuju ke tempat api unggun. Rupanya Anna menyelinap keluar melalui pintu samping, Anna menghela nafas lega karena mengetahui Shane belum tiba di tempat api unggun, 'Oh my god..... aku selamat, aduuuhh bodohhh bodoooh, ngapain sih ak tadi nguping'. Anna mengumpat sambil menjitak kepalanya sendiri.
Allia heran dengan sikap sahabatnya itu, 'Ngapain sih, noyor kepala sendiri? hahaha, abis di telepon Ray kah?'. Anna menggeleng, 'Gak.. handphone ku dah kumatiin datanya, biar Ray gak bisa telepon'. Allia mengangguk-angguk, 'Good job gess, nikmatin aja waktu di sini, gak usah mikirin masalahmu dulu, enjoy duluuu di sini okee!!. Anna mengangguk dan melihat Shane yang baru datang ke tempat api unggun, secara gak sengaja pandangan keduanya bertemu, dan Anna langsung gugup tak karuan.
BERSAMBUNG
__ADS_1