
"Kita pacaran yuk", kata-kata itu terlontar dari mulut Shane.
Anna sontak terkejut dan seketika menarik tangannya dari genggaman Shane. Kemudian pipi Anna tampak merah merona, dan tangannya memegang dadanya karena jantungnya serasa mau meledak mendengar pernyataan dari Shane.
"Shane, kamu bercanda?", Anna masih tak percaya.
"Enggak!! Aku serius!!", Shane memasang tampang serius.
"Ehhh.. gak mungkin. Kenapa tiba-tiba?", grogi dan bingung mulai menyelimuti diri Anna.
"Gak tiba-tiba juga", Shane memegang kedua pipi Anna, sambil memandang dengan lembut wajah Anna.
"Maksudnya???", Anna semakin bingung dengan sikap Shane.
"Kamu aja yang gak ngerasa. Aku udah suka kamu dari lama. Gimana?? Mau kau pertimbangkan perkataanku tadi??", Shane mencoba menghibur diri dengan tersenyum meskipun hatinya saat itu sedang tidak karuan.
"Ehmm... ehmmm", Anna yang tak tau harus berkata apa kepada Shane, hanya bisa bergumam tidak jelas saja.
"Kamu butuh waktu buat menjawab?", Shane terus mendesak Anna untuk menjawab.
"Aku bingung harus jawab apa Shane, bagiku ini terlalu tiba-tiba. Dan jujur saja aku sangat kaget waktu denger itu".
Shane mengangguk paham, "Oke Anna. Aku paham kamu kaget karena pernyataanku yang tiba-tiba. Tapi aku gak mau nglepasin kamu lagi, gak mau kehilangan kamu. Aku akan sabar nunggu jawaban kamu", senyum tipis keluar dari bibir Shane yang tampan.
***
__ADS_1
Klek..
Cewek itu keluar dari mobil Ray. Sebelum keluar tak lupa cewek itu mengecup bibir Ray dan mengelus rambut Ray. Cewek itu merapikan rok spannya sebelum turun dari mobil.
"Makasih sayang, ehmm...boleh minta nomor hp?".
Ray menggeleng seraya tersenyum tipis. Lalu dia melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumahnya.
Klek..
Ray membuka pintu rumah, ternyata mama papa Ray sudah menunggu di ruang tamu. "Ray.. kata Shinta semalem kamu nemenin Shinta yang lagi sakit di rumah ya?".
"Oh.. iya ma. Shinta kakinya terkilir", sebenarnya Ray sangat malas menjawab pertanyaan tentang Shinta. Dia ingin cepat-cepat masuk ke kamarnya.
"Kasian nak Shinta. Tadi mama telepon dia, katanya kakinya sudah sembuh berkat kamu Ray".
Klek...
Ray membuka pintu kamarnya, berjalan menuju ke tempat tidurnya. Dan segera menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
Sambil menghela nafas panjang, Ray mengusap-usap wajahnya berkali-kali, "Gila kamu Ray, dua hari berhubungan intim sama dua cewek".
Seperti sebuah nada penyesalan yang amat dalam, Ray sendiri tidak percaya atas apa yang telah dia lakukan.
***
__ADS_1
Sementara Anna sudah sampai di rumahnya. Dia bertemu mama, papa, dan adiknya di ruang keluarga.
"Ciyeee yang tiap hari kencan ama kak Shane", celetuk adiknya.
"Huusssshh... apaan sih kamu dek, ngacooo!!!", Anna mengelak dari tuduhan adiknya.
"Ihhhh... sapa yang ngaco. Mama papa, tiap hari kakak di jemput kak Shane lohh. Di anter kemanapun dia pergi. Lagian ngapain sewot sihh!!!! Kak Shane itu tampan, pintar, perhatian. Kalo aku sihh langsung mau-mau aja dooonk!!! hihiii", celoteh Arsy panjang lebar.
"Cerewet kamu!!!", Anna mencubit pipi Arsy dengan gemas.
Mama Papa hanya tertawa melihat kelakuan dua anak gadisnya.
"Udaaah, jangan berantem. Kalian ini kayak tom and jerry aja ya. Udah gedee adu argumen terus. Anna mandi dulu sana. Abis itu temui papa ya. Papa mau bicara",
"Baik pa", Anna berjalan menuju kamarnya.
Klek..
Anna masuk ke dalam kamarnya sembari bergumam, "Papa mau bicara apa ya, jangan-jangan mau tanya-tanya tentang Shane. Aduuuhhh mati akuu!!!", pipi Anna mendadak merah merona.
Belum selesai pipinya merona, Shane sudah menelepon Anna, "Aduuhh.. aku harus ngomong apa ke Shane", Anna mondar-mandir sambil memegang ponselnya.
Dan akhirnya Anna tidak menjawab panggilan dari Shane karena di merasa malu dan grogi.
Klingg...kliiinggg..
__ADS_1
Rupanya ada pesan masuk ke ponsel Anna. Dan ternyata dari Shane, "Udah tidur?".
BERSAMBUNG