Cerita Cinta Bersamamu

Cerita Cinta Bersamamu
47. Cerita cinta bersamamu


__ADS_3

Shinta kaget bukan main waktu Ray membentak dirinya. Dia tak menyangka Ray yang kalem dan tenang akan membentak dengan keras.


Lalu Shinta mulai menangis tersedu-sedu, menutupi mukanya dengan kedua tangannya.


"Kamu kasar Ray", sambil mengusap air matanya yang jatuh, Shinta kembali menangis.


Ray tiba-tiba menjadi terenyuh melihat Shinta yang menangis, "Maafin aku, Aku cuma gak ingin kamu bersikap sesuka hati. Hargailah aku sebagai calon suamimu".


"Aku antar pulang. Aku butuh waktu sendiri.", Ray melangkahkan kakinya menuju teras, sementara Shinta mengikutinya sambil terdiam.


Di tengah perjalanan mengantar Shinta, mereka berdua hanya terdiam. Shinta terlihat kesal atas sikap Ray yang masih ketus dan tidak berubah sedikitpun meskipun Shinta hamil.


"Aku turun di depan, aku mau jalan-jalan sebentar", Shinta meminta Ray menurunkannya di depan sebuah pusat perbelanjaan.


Shinta turun tanpa mengucapkan sepatah kata, lalu dia berjalan memasuki sebuah pusat perbelanjaan.


Ponsel Shinta berdering, "Halo sayang, ada apa?".


"Kamu dimana?", tanya Arnold.


"Aku lagi jalan-jalan, lagi bete, sumpek. Please sayang temenin aku", rengek Shinta kepada Arnold.

__ADS_1


"Nanti pulang ngantor kita ketemu di tempat biasa ya", kemudian Arnold menutup teleponnya.


Shinta melihat-lihat ke sebuah toko baju pria, "Aku mau belikan Arnold ahh, biar dia senang. Laa...laaa...laaaa.. hmmmm...hmmmm", sambil. bersenandung kecil Shinta memilih-milih baju untuk kekasih gelapnya.


"Haii Shinta.. Apa kabar??", tampak dua orang wanita cantik berjalan menghampiri Shinta dan menyapanya.


"Ehmm... Siapa ya?", Anna mengrenyitkan dahinya sambil bertanya-tanya.


"Arin!!! Temen kuliah. Ahh masa lupa sih??" , jawab salah satu wanita tersebut. Salah satu wanita itu tampak tengah hamil.


Shinta nemperhatikan perut temannya itu. Shinta memang payah dalam urusan mengingat wajah dan nama, "Ohhh haaiiiii... apa kabar?".


Mereka kemudian saling menyapa dan bersalaman, "Kamu lagi hamil?", Shinta bertanya kepada Arin.


"Iya nih. Lagi milih-milih baju buat calon suamiku", Shinta tersenyum sambil melihat-melihat baju.


"Aku bulan depan mau nikah. Dateng ya. Nanti kita tuker-tukeran nomor handphone".


Shinta dengan wajah sumringah menunjukkan kepada temannya bahwa dia mau menikah bulan depan.


"Ohhh wowww... Selamat ya sayang. Aku turut berbahagia", kemudian mereke bertukar nomor telepon dan mengobrol sebentar.

__ADS_1


Lalu Shinta menuju ke kasir untuk membayar, dan melambaikan tangan kepada kedua temannya.


"Eh lihat deh, Shinta tambah cantik aja ya. Aku jadi penasaran siapa calon suaminya", bisik salah satu teman Shinta kepada Arin.


"Yang pasti dapet orang kaya lah, orang tua Shinta juga tajir dari dulu. Sempurna banget hidupnya", mereka berdua melanjutkan mengobrol sambil berbincang-bincang.


****


Anna berlari-lari kecil menuju ke ruangan dosen pembimbingnya. Sambil terengah-engah, Anna berhenti dan mulai mengatur nafas.


Took..tookk..tokkk


Tampak tidak ada jawaban dari dalam. Kemudian Anna mengetuk sekali lagi, dan tetap sama. Tidak ada jawaban dari dalam.


"Apa aku yang kecepetan datang ya", gumam Anna sambil melirik jam tangannya.


Lalu mata Anna tertuju kepada seorang pria tampan yang memakai kemeja 3/4 warna merah dipadu dengan celana chinos warna krem.


Sesaat Anna tampak terpesona dengan ketampanan pria itu, "Udah lama nyampe?", sapa Shane kepada Anna.


"Ohhh.. Shane. Aku baru dateng, ehh ini mau ke kantin bentar. Udah yaa aku cabut dulu", Anna berusaha menghindari Shane. Dia nampak terbata-bata menjawab.

__ADS_1


Lalu Anna membalikkan badannya dan bermaksud akan berjalan menuju kantin, namun tiba-tiba tangan Shane mencegahnya dengan memegang tangan Anna, "Tunggu!!".


BERSAMBUNG


__ADS_2