
Rupanya cinta membuat mereka berdua tidak peduli dengan permasalahan dari mantan-mantan mereka berdua yang ternyata mendekat lagi setelah mereka berpacaran.
Mereka lebih menikmati masa-masa indah daripada memikirkan tentang mantan-mantan mereka berdua.
Sambil sembunyi di bawah selimut putih, sepasang kekasih itu berpelukan dengan mesra seolah enggan untuk melepas pelukan mereka satu sama lain.
"Ahhhhh... hangatnya.", gumam Anna sambil memeluk erat Shane.
"Gak mau lepas. Pengen di sini aahhh tapi Arsy bisa tau nanti. hehe..", Anna menjawab sendiri pertanyaannya.
"Pulang nanti aja. Aku masih pengen memelukmu." Shane mencegah Anna pulang sekarang.
Cup.. cupp..
Shane mencium pipi Anna dengan lembut dan mesra, membuat Anna tersipu malu.
"Kita kayak gini sebentar aja ya. Sebenernya banyak yang pengen aku omongin, tapi aku lagi males buat membahasnya.", Anna menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Shane.
Dua jam kemudian, Anna bangun dan melihat kekasihnya masih tertidur pulas di sampingnya. Dengan pelan dia beranjak dari tempat tidur.
__ADS_1
Anna mengecup pelan dahi kekasihnya, lalu bergegas menuju kamar mandi. Pada saat sedang mandi sambil bernyanyi-nyanyi kecil, pintu kamar mandi terbuka dan Shane langsung masuk untuk menggoda Anna.
Ting tong...
Jam menunjukkan pukul 18.30 malam. Isha berdiri lagi di depan pintu apartemen Shane.
Klek..
Shane membuka pintu secara perlahan, dan melihat ada Isha dibalik pintu. Isha sempat terpana dengan Shane, karena rambut basahnya tergerai dengan indah.
"Ada apa lagi?.", tanya Shane datar.
Isha sepertinya sudah hafal tiap sudut rumah Shane. Matanya berkeliling mencari-mencari sesuatu, "Apa cewek itu masih di sini?."
Isha duduk di sofa Shane, "Aku perlu bicara Shane."
Shane menyahut dengan agak ketus, matanya menatap tajam Isha, seolah-olah Shane mengerti kalau mantan pacarnya sedang mencari-cari keberadaan Anna.
"Bicara apa?", tanya Shane dengan nada datar.
__ADS_1
"Ehm.. Aku ingin kita dekat lagi seperti dulu. Aku rela pindah dan meninggalkan kuliahku di luar negeri demi kamu Shane. Empat tahun bukan waktu yang singkat buat kita. Aku yakin kamu masih sayang sama aku.", Isha berbicara dengan nada percaya diri.
"Kamu yang mencampakkan aku Sha. Aku sudah move on, dan sudah punya kekasih. Jadi kita gak bisa dekat seperti dulu. Maaf.", Shane menolak permintaan Isha.
"Aku tau Shane. Anna hanya pelampiasan kamu. Dulu meskipun kita putus berkali-kali, kamu tetap meminta aku kembali padamu.", Isha terus membujuk Shane dengan kenangan-kenangan yang mereka miliki dulu.
"Itu dulu Sha. Sekarang sudah beda. Aku sudah nyaman dengan Anna. Kamu gak bisa mengungkit-ungkit yang dulu. Anna bukan pelampiasanku.", Shane mulai bernada marah karena Isha sudah keterlaluan.
"Ohhhh.. jadi bukan pelampiasan. Masih cantik aku sama Anna, Shane. Masih seksi aku, hubungan kita juga udah lama. Aku tau kamu hanya emosi sesaat sama aku. Makanya kamu cari pelampiasan.", Isha mulai mengomel dan memaksa Shane.
Lalu Isha mendekati Shane secepat kilat, dan bermaksud akan memeluk Shane. Tapi tangan Shane segera menangkis pelukan dari Isha.
"Shaa... Sudah ya!!! Stop!!.", Shane mulai berteriak karena Isha mulai kehilangan kendali.
Sementara di kamar Shane, Anna mendengarkan dari balik pintu saja. Dia tidak bermaksud untuk ikut campur urusan mereka berdua.
Anna ingi urusan Isha dan Shane di selesaikan sendiri oleh mereka.
Lalu.... Braaakkkk...bruughhhhh!!!!
__ADS_1
BERSAMBUNG