Cerita Cinta Bersamamu

Cerita Cinta Bersamamu
93. Cerita Cinta Bersamamu


__ADS_3

"Kamu gakpapa??." Shane terlihat mengkhawatirkan Anna.


"Oh gakpapa. Makasih." terjadi kecanggungan antara mereka.


"Mau ku antar pulang?." Shane memulai basa-basinya.


"Eh.. gak usah Shane. Kamu kan kerja. Gak enak nanti di liatin karyawan lain." Anna mencoba memberikan alasan kepada Shane. Sebenarnya dalam hatinya merasa senang karena setelah sekian lama tidak bertemu, dia bisa melihat Shane.


Shane yang sekarang menurut Anna telah menjadi pria yang matang dan mapan. Shane juga terlihat lebih tampan dan berkarisma. Pantas saja banyak calon pelamar kerja yang terpesona.


Tanpa sengaja Anna menelan ludah karena mengagumi ketampanan Shane. "Ehm.. aku pulang dulu ya. Selamat bekerja, Shane."


Anna mengambil ponselnya yang jatuh ke lantai, bergegas untuk berdiri dan melangkah pergi. Tangan Shane memegang lengannya, "Nanti aku telepon. Hati-hati ya."


"Ohh.. Iya makasih, Shane." Jantung Anna langsung dag dig dug mendengar suara Shane dan pipinya merona seketika layaknya orang yang lagi kasmaran.


"Haiisshhh.. kenapa aku jadi tersipu. Anna sadar, dia bukan milikmu lagi." Anna menepuk pipinya pelan sambil menyadarkan dirinya.


Dia melihat Shane berjalan menjauhinya, lalu tersipu malu lagi karena tiba-tiba Shane menoleh dan tersenyum padanya.


"Kenapa dia jadi dingin gitu ya. Kayak bukan Shane yang dulu." pandangan Anna tetap tertuju kepada Shane, pandangan ke bahu lebar Shane, "Dari belakang aja keliatan ganteng.. Ahhh."

__ADS_1


Anna menepuk mulutnya sendiri, karena pikirannya hari ini sudah sangat tidak terkontrol.


"Stop Anna. Sudahi pikiran gak terkontrolmu. Fokus fokuussss cari kerja." Anna mengangguk-angguk tanda dia harus fokus pada pekerjaan.


****


Anna berjalan berkeliling, karena dia sedang menunggu Allia pulang dari kantor. Dia berjalan perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.


Lalu Anna beehenti di sebuah coffee shop kecil di pinggir jalan. "Ahhh.. aku butuh kopi. Pikiranku kacau."


Anna memesan coffee latte dan satu slice cake untuk mengganjal perutnya.


Kemudian dia kembali berjalan dan menyeruput kopinya dengan santai sambil menikmati pemandangan di tengah kota.


Dia menggerutu dengan kesal karena menunggu telepon dari Shane yang tidak kunjung datang.


Anna berjalan pelan dan gontai menuju halte bus, kemudian dia duduk dan menikmati kopinya lagi, "Kenapa jadi gelisah gini sih!!."


Dia melirik ponselnya sekali lagi, dan hasilnya adalah nihil. Tidak ada pesan maupun telepon dari Shane.


Tak terasa hari sudah gelap. Matahari mulai menenggelamkan diri, di gantikan dengan bulan dan bintang.

__ADS_1


Nyatanya, Anna masih duduk di halte bus sambil bermain ponselnya. Dia tidak sadar kalau malam telah tiba.


Kemudian datang sebuah mobil mendekati Anna. Mobil itu berhenti tepat di depan Anna dan membunyikan klaksonnya.


"Aduhhh.. kaget!! Sapa sih!!" raut wajah kesal tampak terukir di wajahnya.


"Belum pulang??." sapaan seseorang membuat Anna kaget.


Dia melihat wajah Shane muncul dari balik kaca mobil yang berhenti di depannya. Sontak Anna langsung salah tingkah, "Eh, Shane." Anna tak bisa berkata apa-apa.


Untuk menutupi sikap salah tingkahnya, Anna langsung berdiri dan berjalan, "Ini mau pulang."


"Aku antar ya?" tawaran Shane membuat Anna tergiur, tapi masih kalah dengan sikap gengsinya.


"Gak ah. Kamu pasti capek habis kerja."


"Ayok. Aku antar sekalian aku mau bicara." ucap Shane dengan lembut.


Anna menggeleng pelan. Shane tertawa melihat sikap Anna, "Lucu banget kamu." Shane kembali tertawa sambil menutup mulutnya.


"Kapan lagi bisa dapet tumpangan gratis. Ya kan?." candaan Shane akhirnya membuat Anna tertawa.

__ADS_1


Akhirnya Anna mengangguk dan masuk ke dalam mobil Shane.


BERSAMBUNG


__ADS_2