
Belum selesai Shinta bicara dengan lembut, rupanya Ray sudah berdiri di hadapannya dengan sorotan mata tajam.
"Ehhh Ray... kapan kamu tiba?", tanya Shinta dengan nada gugup.
Ray tidak menjawab pertanyaan Shinta, matanya berkeliling mencari sesosok Arnold. Shinta berusaha memasukkan tangannya ke dalam tas, dan mencoba mencari-cari ponselnya.
Sebelum menemukan ponselnya, Shinta di kagetkan oleh suara berat Arnold, "Maaf bikin kamu nunggu lama sayang."
Shinta berusaha memberi isyarat kepada Arnold, dengan meletakkan kedua jari di bibirnya. Tapi sudah terlambat karena Ray dan Arnold telah bertemu.
Kedua cowok tampan itu saling berpandangan dengan sorot mata tajam.
Shinta kebingungan setengah mati, dia terjebak antara kedua kekasihnya. "Ray, bisa kujelasin kok. Kami hanyalah teman."
Shinta panik dan berusaha untuk menjelaskan semuanya ke Ray. Tetapi Ray hanya terdiam dan tiba-tiba dia menunjuk ke perut Shinta yang mulai membuncit, "Itu anak siapa?".
Shinta sangat kaget mendengar pertanyaan dari Ray, begitu pula dengan Arnold. Keduanya saling berpandangan, dan dengan cepat Shinta memegang tangan Ray dan berkata, "Ini anakmu sayang. Aku dan Arnold hanya sebatas teman. Teman lama. Kami sudah kenal lama."
Arnold tahu posisi dia sangat terpojok, jadi dia memilih untuk diam saja. "Sudahlah jangan berbohong. Aku sudah tau lama kalau kalian punya hubungan di belakangku."
__ADS_1
Ray menunjuk muka Shinta, "Dasar cewek murahan."
Lalu dia pergi meninggalkan Shinta dan Arnold yang masih diam membungkam.
Kemudian Shinta terduduk lemas di kursi, sementara Arnold berjalan menghampirinya sambil mengelus pundak Shinta.
"Tenang sayang. Kita cari solusinya. Tenang... Kamu tenang dan kalem ya.", di balik sikap tenangbya Arnold, sebenarnya dia juga khawatir kalau istrinya sampai tahu kelakuan mereka berdua.
Walaupun istrinya sekarang sedang berada di luar negeri, Arnold tetap was-was dan hati-hati karena rahasianya dengan Shinta sudah terbongkar.
Shinta masih lemas dan menangis tersedu-sedu, "Apa yang harus kulakukan Arnold??? Aku bingung aku takut."
Ya.. Ray tampak masih mengawasi mereka berdua. Dan di saat bersamaan, ponsel Ray berdering.
Rupanya Airin menelpon Ray. Seakan dia punya firasat kalau Ray sedang butuh dia.
"Ray.. ak rindu." , ucap Airin di sebrang telepon.
Ray tersenyum, berbicara sebentar dengan Airin. Kemudian berjalan menuju mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju rumah Airin.
__ADS_1
Ting toooong...
Airin membuka pintu rumahnya, dan menyambut Ray dengan senyum manis, "Masuk sayang!!! I miss you so much." , bibir Airin mengecup bibir Ray dengan mesra.
Tanpa basa-basi, keduanya langsung berciuman dengan panas. Mereka saling merangkul, saling mencium. Dan berjalan mundur menuju sofa empuk milik Airin.
Tanpa memperdulikan ponsel yang berdering berkali-kali di handphone Ray, Ray terus saja berciuman dan bercumbu dengan Airin di sofa.
Terdengar deru nafas panas dan erangan kenikmatan mereka berdua. Mereka berdua tampak menikmati dan bercumbu tanpa mengenal lelah.
Setelah mereka berdua puas, mereka tertidur di sofa dengan bertelanjang bulat dan hanya mengenakan selembar kain selimut saja. Airin memeluk tubuh Ray yang tertidur pulas.
"Ganteng banget sih kamu sayang!!", Airin mencium bibir dan pipi Ray berkali-kali. Ray nampak tidak bergerak karena kelelahan.
Kriinggg...kriiingggg
Ponsel Ray berbunyi lagi, Airin yang penasaran melihat layar ponsel. Dan tertera nama Shinta di layar ponsel Ray.
Airin mengambil ponsel Ray di meja dan, "Yaa.. Halo."
__ADS_1
BERSAMBUNG