
"Waahh.. jangan-jangan Shane sama cewek lain. Tapi Shane kayak gak suka di pegang tangannya. Aku kasih tau Anna gak ya? Duhh.. tapi kalo Anna tau ntar bisa berantem mereka.", Sabrina si teman Anna mondar-mandir di depan pintu kamar.
Beberapa menit mondar-mandir, akhirnya Sabrina memutuskun untuk peegi dari depan kamar Isha.
***
Suara air sungai gemericik membuat desa tempat kelahiran Allia begitu damai dan sejuk. Allia tampak menyiapkan beberapa teh panas untuk orangtuanya dan tentu saja untuk sahabat tersayang.
"Beb Anna... nih teh panas buat kamu ayangku.", Allia menepuk-nepuk pipi Anna dengan gemas.
"Aww.. maaci bebebkuhh.", Anna membalas tepukan Allia dengan mencubit pipi Allia.
"Hari ini ikut aku berkunjung ke rumah sodaraku ya. Kamu mandi sana dulu. Udah kusiapin air hangat. Huuussh husshhh sanaa.. " Allia mendorong temannya itu untuk segera mandi dan bergegas.
"Iyaaa bentar Al, aku mau telepon Shane dulu ahh. Dari kemarin dia gak hubungi aku sama sekali. Malah aku yang duluan telepon, itupun cuma sekali. Apa dia sibuk ya?.", Anna gelisah karena Shane belum menghubunginya.
__ADS_1
"Lagi sibuk kali, biarin aja. Nikmati aja alam dan pemandangan di sini. Baru ntar mikirin pacarmu.", Allia menggoda Anna yang sedang gundah.
Handuk yang sedari tadi di pegang Anna tiba-tiba di lempar ke muka Allia. Mereka berdua menjerit-jerit senang seperti anak kecil.
****
"Aku pulang ya. Bentar lagi mamamu dateng.", Shane berpamitan kepada Isha.
"Tungguin bentar Shane. Aku takut sendirian di kamar.", Isha merengek kepada Shane.
"Sha.. please kamu ngerti lah. Aku sibuk!! Aku udah nuruti kemauan mamamu. Terus terang aku gak nyaman, aku juga harus jaga hatinya Anna." Shane sontak melepas tangannya dari genggaman Isha.
"Sudah cukup sandiwaramu Sha. Aku tau kamu baik-baik saja." Shane memotong omongan Isha sebelum Isha mencoba untuk terus merengek kepadanya.
"Shaneeeee, kumohon temani aku lagi. Aku bisa cepat sembuh kalo ada kamu. Kamu liatkan gimana sakitnya aku waktu kamu menolakku. Gimana sengsaranya aku waktu kamu gak mau balikan sama aku." tangisan Isha terus saja menjadi senjatanya untuk menahan kepergian Shane.
__ADS_1
Kleekkk...
Pintu kamar terbuka dan betapa terkejutnya mama Isha waktu tau kalau anaknya menangis tersedu-sedu. Lalu mama Isha memandang Shane dengan tanda tanya, "Ada apa Shane? Kenapa Isha menangis?."
"Ehmm.. begini tante. Saya mau pamit pulang karena saya lagi ada kerjaan, lagipula tante juga sudah datang. Tapi Isha terus menahan saya untuk tidak pulang." akhirnya Shane menjelaskan semuanya kepada mama Isha.
"Ohhh begitu.. nak Shane sangat sibukkah? Gak bisakan temani Isha dulu?."
Shane terkejut karena mama Isha rupanya juga tidak mengerti dengan kesibukannya. Padahal Shane sudah membantunya untuk menemani Isha sepanjang malam.
"Maaf tante saya hari ini sangat sibuk. Kemarin saya sudah menjaga Isha sepanjang malam. Sekarang saya pamit pulang. Maaf." tanpa berpamitan kepada Isha, Shane akhirnya melangkah pergi.
Sementara Isha hanya bisa memandangnya sambil menangis terisak-isak. Mama Isha mendekati putrinya dan mengelus kepala Isha, "Sabar ya nak. Mungkin nak Shane lagi sibuk. Harusnya kamu berterimakasih nak, dia sudah mau membantu kita."
"Tapi maa...", Isha terisak kembali.
__ADS_1
"Sudah-sudah Isha. Fokus kesembuhanmu saja ya nak. Kamu beruntung lohh, Shane masih mau membantu kita meskipun kamu udah menyakiti hatinya. Sudah ya, sekarang istirahat dan makan banyak biar cepet sembuh. Oke sayang?." mama Isha memeluk putri kesayangannya untuk menenangkannya.
BERSAMBUNG