
"Eheem..", Papa Dave mencoba memberi sinyal kepada putrinya.
Shane yang melihat duluan papa Dave keluar dari pintu, secara spontan langsung melepas pelukan dari Anna. Dan bergegas menghampiri Papa Dave, "Oh.. maaf om. Saya belum sempat menyapa Om.", Shane mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan calon mertuanya.
Sementara Anna hanya meringis menahan malu karena kepergok papanya memeluk Shane. "Papa belum tidur?."
"Gak papa nak Shane. Mau keluar kemana sama Anna?." , Tanya Papa Dave kepada Shane.
Sebelum Shane menjawab, Anna sudah menjawab duluan, "Mau makan-makan pa. Sama teman-teman, nih ada Allia udah di sini dari tadi."
"Halo Om." , Sapa Allia kepada papa Dave.
"Yaaa.", Papa Dave tersenyum lalu mempersilahkan Allia dan Shane masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.
Shane mengangguk lalu masuk ke dalam rumah Anna sebentar untuk berpamitan kepada Papa dan Mama Anna.
"Hati-hati di jalan ya nak. Ingat lo jangan ngebut bawa mobilnya.", Mama Via memberikan ijin kepada Shane.
"Baik tante. Saya pamit dulu.", Shane membungkuk sebentar seraya berpamitan kepada kedua orang tua Anna.
__ADS_1
Setelah sampai di resto yang sudah di pesan Allia, mereka melihat teman-teman yang lainnya sudah menunggu. Lalu Allia melambaikan tangan kepada teman-temannya, "Haaaaaiiiiiiii."
Mereka duduk bersama merayakan kelulusan Shane dan Anna. Tawa canda menghiasi makan malam mereka.
"Kalian emang soulmate deh. Lulus bareng. Abis ini kerja bareng. Ehh bukannya kamu mo nerusin kuliah ke luar An?.", Salah satu teman Anna serius bertanya.
"Ahh.. belum tau. Masih kupikir dulu, aku pengennya langsung kerja aja.", Anna menjawab sembari melirik kekasihnya.
"Kesempatan gak dateng dua kali lo Anna.", Allia menimpali.
Anna hanya tersenyum mendengar perkataan Allia. Dia sempat melirik kekasihnya lagi, terlihat raut wajah sedih dari Shane ketika berbicara tentang melanjutkan sekolah ke luar negeri.
Mereka menghabiskan waktu bersama sampai larut malam. Canda tawa menghiasi keseruan malam mereka.
Anna dan Shane yang duduk bersebelahan rupanya saling menggenggam tangan, saling memandang seakan dunia milik mereka berdua.
Setelah keseruan malam ini, satu persatu teman-teman mereka mulai pamit pulang. Shane mengantar Anna kembali pulang ke rumah.
Di tengah perjalanan rupanya Shane sudah tidak tahan ingin membahas tentang kelanjutan sekolah Anna ke luar negeri.
__ADS_1
"Jadi gimana sayang?? Tentang yang ke luar negeri?.", Shane setengah ragu bertanya kepada Anna.
"Ehm.. Tadi pagi aku juga di tanya papaku. Sejujurnya aku galau nih sayang. Pengen sekolah, tapi gak pengen LDR.", Anna menjawab pertanyaan kekasihnya dengan wajah setengah cemberut.
Shane mengusap-usap rambut Anna, "Kalo memang kamu pengen ya gakpapa sayang. Cuma bentar kan sekolahnya. Sekarang jaman sudah canggih. Kalo pengen ketemu juga tinggal terbang pulang atau aku yang kesana."
"Entahlah Shane. Masih aku pikir-pikir. Papa kasih waktu aku sebulan buat mutusin jadi atau enggaknya.", Anna menggenggam tangan Shane erat.
Shane tersenyum lalu mencium tangan kekasihnya tersebut.
****
Keesokan harinya, ponsel Shane terus menerus berdering. Rupanya Isha pantang menyerah dalam menghubungi Shane.
Dalam satu hari dia bisa sampai 19x menelepon mantan kekasihnya tersebut. Tapi Shane tetap tidak mau menerima telepon dari Isha.
Sampai suatu waktu, terdapat pesan masuk yang mengatas namakan orang tua Isha, "Nak Shane tolong baca dan balas pesan dari tante ya. Sudah beberapa minggu Isha sama sekali tidak mau makan. Dia terus menangis. Sekarang kondisinya drop. Tante minta tolong bujuklah Isha agar mau makan lagi."
Begitulah kira-kira isi pesan dari mamanya Isha yang membuat Shane sangat terkejut.
__ADS_1
BERSAMBUNG