
Shane menghela nafas panjang. Tangannya ragu apakah dia akan membalas pesan itu atau tidak.
Tiba-tiba Anna menelepon Shane, "Halo Sayang. Aku hari ini mau di ajak Allia pulang sebentar ke rumahnya. Boleh??."
"Sama Allia doang?.", Shane balik bertanya kepada Anna.
"Iya. Nanti ak kasih buktinya biar kamu percaya.", Allia memotong pembicaraan Shane.
"Hahaha... percayaa sayang. Ya udah hati-hati dijalan. Jangan ngebut. Muaaahh."
"Iya. Nanti aku kabari lagi.", Anna menutup teleponnya.
***
Lalu Shane beranjak ke kamar mandi, karena hari ini jadwal ke rumah orang tuanya. Dia diminta oleh papanya untuk membantu bisnisnya.
Selama berada di kamar mandi, ponsel Shane terus berbunyi. Rupanya mamanya Isha tetap pantang menyerah dalam menelepon Shane.
Shane sudah selesai mandi dan berganti baju, dia dengan cepat meraih ponsel dan tasnya. Ponsel Shane berdering lagi, "Ya halo."
"Nak Shane, tolonglah tante sekali ini saja ya nak. Isha pingsan nak. Papanya lagi ada urusan di luar negeri. Mama bingung harus ngapain nak.", terdengar suara mama Isha terisak-isak.
__ADS_1
Shane akhirnya luluh dan tidak tega, "Ya tante. Sekarang Isha dimana?."
"Masih dirumah nak. Mau dibawa ke rumah sakit. Kondisinya terus menerus drop.", mamanya Isha masih terdengar menangis.
"Baiklah tante. Saya segera kesana. Semoga Isha baik-baik saja."
Shane mengurungkan niatnya untuk ke rumah orang tuanya. Setelah menelpon papanya dan minta maaf karena urusan lain, Shane berniat untuk memberitahu Anna.
"Ahhh.. tapi nanti Anna kepikiran, dan ganggu liburannya di rumah Allia. Nanti aja kalo dia udah balik aku jelaskan semuanya.", Shane membatalkan niatnya untuk memberitahu Anna karena takut mengganggu liburannya.
Setelah tiba di rumah Isha, Shane mendapati mama Isha menangis terisak, sementara Isha terlihat lemah dan tak berdaya.
"Shane... akhirnya kamu kesini.", Isha berkata lirih.
"Baik nak. Terimakasih nak Shane karena masih perhatian sama anak tante. Sudah beberapa hari gak mau makan, maunya di temenin nak Shane."
Shane enggan menjawab perkataan dari mamanya Isha. Dia mendekat ke arah Isha, lalu membopong Isha menuju ke rumah sakit.
"Biar saya bantu tante. Tante siapin aja semua keperluan Isha.", sambil membopong Isha menuju mobil.
"Makasih nak Shane, tante sangat terharu.", mama Isha sesekali mengusap air matanya.
__ADS_1
Sedangkan Isha menyenderkan kepalanya ke bahu Shane sambil tersenyum bahagia. Dia berpikir bahwa Shane masih peduli padanya dan masih memikirkannya.
Isha berkata, "Makasih Shane." , lalu tiba-tiba tangan Isha memeluk pinggang.
Shane langsung menoleh kepada Isha dan berkata, "Jangan gini ahh sha. Kamu fokus aja sama kesehatanmu."
Shane berusaha melepaskan pelukan Isha, dia terlihat risih. Tapi Isha tetap tidak mau melepaskan pelukan Shane.
Sampai di rumah sakit, Isha harus menjalani rawat inap karena tekanan darahnya sangat rendah dan kekurangan gizi akhir-akhir ini karena sama sekali tidak mau makan.
Shane dan mama Isha membantu Isha menuju ke kamar rawat inapnya. Setelah membaringkan Isha di tempat tidur, Shane berniat untuk pamit pulang kepada mama Isha. Tetapi dengan sigap Isha meraih tangan Shane dan memegangnya, "Please temani aku sebentar."
"Aku gak bisa, ada janji sama papaku. Kamu sudab aman di sini, ada mamamu.", Shane melepaskan tangan Isha secara pelan.
Dengan tergopoh-gopoh, mama Isha masuk ke dalam kamar, "Nak Shane, tante minta tolong lagi bisa? Tante harus pulang sekarang karena bibi di rumah juga sakit. Tante balik ke sini lagi besok."
"Tapi tante.", Shane hendak berbicara tapi segera di potong oleh mama Isha.
"Tante mohon temani Isha sampai besok ya. Tante harus mengurus yang di rumah. Papa dan kakak Isha juga lagi ada kerjaan di luar negeri. Tante tau ini sungguh merepotkan. Tapi tante minta tolong sekali ini saja nak.", raut wajah mama Isha begitu berharap.
Sementara Isha tersenyum puas karena mamanya begitu mengerti situasi sekarang.
__ADS_1
BERSAMBUNG