
'Mamaaa... aku gak papa kok, udah ya nangisnya. Maluu nih banyak orang' gerutu Shinta kepada mamanya.
'Yang nyuruh kamu ngebut siapa' Mama Shinta langsung marah dan cemberut sambil memukul tangan Shinta.
'Aduuuhhh... mamaa, sakit nih tangan Shinta' Shinta merengek sambil memeluk Ray. Ray yang hanya pasrah menerima rengekan Shinta karena dia merasa bersalah atas kecelakaan Shinta.
'Kamu pasti ngebut ya nak, kok sampai oleng nabrak pembatas. Untung kamu gak kenapa-kenapa. Untung gak ada orang yang kamu tabrak. Lain kali kalo nyetir yang fokus, kamu udah dewasa' Papa Shinta memberi nasehat kepada Shinta.
Shinta hanya mengangguk pasrah sambil sesekali menyenderkan kepalanya di dada Ray. Tak lupa Shinta memotret itu dan kembali mengirimkan pesan kepada Anna.
Nun jauh di hutan pinus, nampak Anna dan kawan-kawan menikmati sarapan padi dengan Indomie kuah ceplok telor.
'Aduuhhhh... surgaaa, pagi-pagi hawanya dingin makan Indomie kuah', Sabrina menyeruput kembali mie nya sambil menghirup aroma mir nya.
Mereka semua tertawa karena tingkah lucu Sabrina. Anna tiba-tiba berdiri dan berlari menuju kamar mandi, 'An..mau kemana, makanmu belum selese nih'.
__ADS_1
Anna menjawab sambil tetap berlari, 'Bentar mo ke kamar mandi'. Sampai di kamar mandi air mata Anna kembali menetes, ia tak kuasa melihat foto pesan yang di kirim Shinta, nampak Shinta menyenderkan kepalanya di dada bidang Ray.
'Bener-bener brengsek yaa kamu Ray'. Anna sesenggukan sambil mengusap air matanya. 'Aku gak bisa di giniin, walo udah pacaran 5 tahun, tapi dia udah nyakitin aku banget'. Anna kembali terisak sambil berpegangan pada gagang pintu kamar mandi.
Lalu Anna menghela nafas dalam-dalam, membasuh mukanya dengan air agar tak kelihatan kalau dia habis menangis.
'Oke Anna, tetap tenang.. Jangan tampakkan sedihmu di depan teman-temanmu'. Anna berbicara pada dirinya sendiri. 'Tarik nafas , hembuskaaan.. oke rilex Anna...Kamu bisaa, pasti bisa.. Selesaikan saat kamu pulang'.
Anna menatap kaca di kamar mandi, membasuh muka lagi. 'Okee.. aku gak nangis, ak gak nangis'.
Anna dan kawan-kawan menghabiskan hari dengan bersenang-senang di villa tersebut.
Sementara di rumah sakit, Shinta manja dengan Ray. Dia gak mau Ray pulang meninggalkannya. 'Jangan pulang yaa sayang, ini hari Minggu lohh.. kamu kan lagi gak kerja' Ray kemudian melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 2 siang.
'Aku pulang bentar ya, lagian ada mama kamu di sini'. Shinta cemberut manja, 'Ahhhh kamu gituuu sayaang.. Mamaku kan lagi keluar sebentar, jangan pulang yaaahh sayang' Shinta terus merajuk ke Ray.
__ADS_1
'Nanti sini lagi ya.. awas loo jangan boong'. Shinta mulai mengancam Ray, 'Iya' Ray meninggalkan Shinta sendirian di dalam kamar-nya.
'Lo mana Ray?' Mama Shinta bertanya kemana calon mantunya. 'Pulang ma. Gak papasan ma sama Ray?'
'Gak tuh. Mama abis beli camilan sekalian nganter papa ke parkiran, mau pulang'. Mama meletakkan sejumlah camilan di meja dekat ranjang Shinta.
'Gimana, masih pusing? Buat baring aja, udah jangan mainan hape'. Mama mulai mengomeli Shinta yang daritadi sibuk denga handphone-nya
Shinta merajuk kesal ke mamanya, 'Ahhh mamaa, Shinta pusing ma, Shinta juga bosen nih gak ngapa-ngapain di sini'.
Mama menabok paha Shinta, 'Sapa yang suruh kamu ngebut'. Mama Shinta mengomel sambil mengupas buah apel untuk anak perempuan satu-satunya.
Tok..tok..tookk .. pintu kamar ada yang mengetuk. 'Masuk' Mama melongok penasaran siapa yang mengetuk pintu. Arnold muncul dari balik pintu, dan membuat Shinta kaget bukan main.
BERSAMBUNG
__ADS_1