
'Sayang... jangan terburu-buru, kita pikirkan baik-baik. Kita cari solusi yang terbaik. Gak mungkin aku melepas istriku, kamu tau sendiri karirku sekarang sangat terjamin karena istriku'.
Shinta menunjukkan raut muka kesal dan marah, 'Kamu lebih memilih istrimu daripada aku?'.
'Kamu juga lebih milih Ray daripada aku, bisa dibilang kita berdua cuma khilaf, Ya kan?'. Arnold tak terima dengan perkataan Shinta.
'Kita sama-sama salah, kamu tau kan? Ditambah kamu sekarang, perlu kita pikirkan matang-matang apa yang akan kita lakukan dan perbuat terhadap kehamilanmu'.
'Solusinya gimana sekarang? Aku gak mau ada anak ini'. Shinta yang gak punya hati ternyata keberatan dengan kehamilannya. 'Aku udah cari-cari klinik yang mau aborsi kandunganku', Dengan nada datar dan biasa saja Shinta memberitahu Arnold apa yang dia pikirkan.
Arnold sangat terkejut dan serba salah, 'Kamu yakin mau ngelakuin itu sayang?'
Shinta mengangguk pelan , 'Ya...aku sangat yakin, aku belum siap punya anak'.
'Baiklah..mari pikirkan sekali lagi dan segera selesaikan masalah ini', Tangan Arnold memegang tangan Shinta dengan erat dan mencium bibir Shinta.
Tak lama kemudian mereka berdua kembali bercumbu dan saling memeluk mesra.
__ADS_1
'Kita lupakan sejenak masalah ini, yang penting aku selalu mencintaimu sayang' bisik Arnold.
Anna membawa baki berisi kopi panas ke meja tamu. Shane duduk manis di ruang tamu denga n meja di depannya yang telah tertata jajanan lengkap.
'Nih Shane..ku buatin kopi, sama cemilannya di abisin ya. Mumpung ujan deras, kita pindah ke teras depan aja yuk'. Merek berdua berjalan menuju teras depan, sambil menyeruput kopi dan makan camilan mereka menikmati suara hujan deras.
Opa dan oma ternyata melihat mereka dari balik korden ruang tamu, 'Itu temen kampusnya Anna apa pacarnya Opa?' Rupanya oma penasaran dengan hubungan mereka.
'Itu temennya kampus ahh, Anna baru putus sama pacarnya yang pernah di bawa ke sini dulu Oma'.
'Kamu nginep sini aja, ujan deras nih Shane. Balik besok aja sama aku.'
Shane menoleh ke Anna, 'Oyaaa..bolehkah sama Opa mu An?'.
Anna mengangguk, 'Boleh, udah ku bilang Opa tadi, kamu tidur di kamar sepupuku aja. Bahaya kalo kamu balik kondisi ujan deres gini'.
Shane tersenyum tanda setuju, 'Oke lah.. siap. Besok beneran kamu balik ya. Kasian kampus sama Allia. Bingung aja tuh dia dari kemarin-kemarin'.
__ADS_1
Nada dering handphone Shane berbunyi, 'Udah angkat aja.. Dari Isha kan? Kalo kamu ngindar kesannya kamu gak gentle'.
Anna mencoba menasehati Shane, 'Haloo.. ada apa?' Nada suara Shane terdengar dingin.
'Kemana aja? Teleponku gak kamu angkat terus.. Ak mau ketemu sama kamu. Ada yang mau kubicarakan', Isha terus mendesak Shane untuk segera bertemu.
'Bicara apa Isha? Semua sudah berakhir kan?', sahut Shane yang masih denga nada dinginnya.
'No..nooo Shane.. saat itu aku salah, aku khilaf. Aku ingin memperbaiki semuanya', Isha terus mendekati Shane.
Shane menoleh ke Anna sejenak, lalu dia akaj menutup telepon dari Isha. Tapi Anna memberikan isyarat kepada Shane, 'Jangan ditutup dulu Shane, nanti dia akan terus telepon kamu'. Anna berbisiki lirih di telinga Shane.
Bisikan Anna membuat pipi Shane merah dan jantung Shane dag dig dug. Shane terpaku beberapa saat sambil memandang Anna.
Lalu tiba-tiba Shane mengucapkan kata-kata yang membuat Anna terkejut, 'Tolong Isha.. aku sekarang sudah punya cewek'.
BERSAMBUNG
__ADS_1