Cerita Cinta Bersamamu

Cerita Cinta Bersamamu
36. Cerita cinta bersamamu


__ADS_3

'Cewek psycho..', gerutu Anna saat keluar dari toilet resto.


'Makan yuuk.. menu kesukaanmu, habisin gih', Shane menyuruh Anna cepat memakan makanannya.


'Shinta masuk ke toilet, pasti kamu berpapasan ya', sesekali Shane menyisipkan pertanyaan kepada Anna.


'Yaa tentu saja, aku juga ngobrol. Lebih tepatny dia pamer mau menikah dengan Ray tiga bulan lagi. Sementara dia asik selingkuh dengan laki-lain.. Dasar cewek pyscho...!!!', Anna menancapkan garpu ke burger nya, sontak membuat Shane kaget dan melongo.


'An... sejak kapan kamu jadi sadis??, biarin ajalah.. Itu urusan mereka, kamu gak usah susah-susah ikut campur', tangan Anna di genggam oleh Shane.


Ana sedikit terkejut karena akhir-akhir ini sikap Shane yang sedikit romantis dibandingkan pada saat dia masih pacaran sama Ray.


'Ayo pulang Shane, aku udah kenyang, ngantuk. Nanti aku ada gym malam nih', secepat kilat Shane menghabiskan makanannya.


Ray sedang menuju kantornya setelah meeting dengan klien di sebuah resto. Dalam perjalanan ke kantornya, dia sempat menelpon Shinta.


'Haloo sayang..., maaf tadi aku gak denger kamu telepon, bentar lagi aku ke rumahmu', Anna mencoba mencari alasan.


'Gak usah ke rumah, kamu langsung ke kantor aja', Ray menutup telepon sambil meneruskan perjalanan ke kantor.


Ray masuk ke ruangannya, terlihat Shinta sudah menunggu kedatangan Ray. 'Sayaang', Shinta mencium pipi Ray.

__ADS_1


'Abis ini kita jadi cari cincin?', Tangan Anna merangkul pundak Ray.


'Jadi, sekalian cari hampers buat klienku', Ray membuka laptop sambil menjawab pertanyaan Shinta.


'Hampers apa? Klien yang mana?'


Ray tidak menjawab pertanyaan Shinta, dia sibuk menelpon klien dan meeting online.


Mereka berdua kemudian menuju toko perhiasan, Ray menyuruh Shinta untuk memilih kalung dan cincin sesuai seleranya.


Di saat Shinta sedang memilih-milih perhiasan, tak sengaja pandangan Shinta tertuju kepada seorang laki-laki muda yang gagah dan tampan. Shinta mengedipkan sebelah matanya kepada laki-laki tersebut secara sembunyi-sembunyi.


Dalam hati Shinta, 'Arnold pasti membelikan aku kalung itu', Shinta tersipu-sipu malu.


Sementara itu, Arnold menatap tajam Ray. Dia melihat Ray yang sedang sibuk dengan handphone nya dari atas ke bawah.


Ray yang sadar telah dilihat lelaki lain, secara sengaja menatap tajam mata lelaki tersebut. Arnold gelagapan dan segera membuang muka.


'Sayang...', Arnold dan Ray menoleh mendengar suara Shinta.


Namun Arnold kecewa, rupanya Shinta sedang memanggil Ray dan memperlihatkan sebuah kalung dann cincin.

__ADS_1


'Gimana sayang?? yang ini bagus?', Shinta sepertinya sengaja membuat Arnold cemburu. Dala hari Shinta senang dan sombong karena dia memiliki dua orang lelaki yang tampan.


'Oke terserah kamu', Ray setuju dengan pilihan Shinta.


'Mbak.. aku pilih dua ini ya. Tolong di bungkus',


Pelayan toko mengangguk siap dan segera membungkus pesanan Shinta.


Setelah selesai, mereka berdua bergegas keluar dari toko perhiasan. Seperti biasa, mata Arnold menatap tajam sosok pasangan tersebut keluar dari sampai mereka menghilang di ujung jalan.


'Itu tadi pasangan yang mau menikah Pak. Cantik ya Pak. Laki-lakinya pasti beruntung bisa menikahi wanita itu', pelayan toko itu rupanya terkagum-kagum dengan kecantikan Shinta.


Arnold berusaha mengalihkan pembicaraan pelayan toko dengan menunjuk sebuah kalung berlian, 'Ini ya mbak, bungkus ya!!'.


Pelayan toko dengan sigap membungkus pesanan Arnold, 'Buat istrinya ya pak?', Arnold tersenyum tipis.


'Beraninya Shinta bikin aku cemburu', Dengan berjalan cepat Arnold menggerutu karena ulah Shinta.


Nada dering Arnold berbunyi, istrinya menelpon beberapa kali, 'Halo sayaang... papa nyuruh kamu ke sini, ini tadi papa telepon kamu tapi gak kamu angkat'.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2