
Airin menyambut ciuman Ray dengan penuh nafsu, dia tersenyum puas karena Ray sudah berada dalam genggamannya.
Kemudian mereka berdua melakukan hubungan intim di sofa ruang kerja Ray. Kedua nafas mereka berderu kencang seolah mereka tidak lepas satu sama lain.
Mereka berdua melakukan hal gila dan berani di ruang kerja Ray. Mereka tak lagi mempedulikan dimana mereka berada.
Yang mereka berdua pikirkan hanya nafsu semata.
Ray tampak membetulkan celana dan kemejanya yang acak-acakan, begitu pula denga Airin.
Airin segera menuju ke depan kaca besar di ruang kerja Ray, untuk membetulkan dress putih selutut dengan outer blazer hitam.
Sesekali Airin merapikan rambut, dan memakai lipstik. Lalu dia duduk manis di sofa layaknya tamu kantor.
Tokk..tokk..tokk..
Sekretaris Ray mengetuk pintu, "Masuk..", Ray menyilahkan masuk sekretarisnya.
"Maaf Pak, Nona Shinta telepon saya. Tadi telepon ke ponsel bapak. Katanya sekarang lagi menuju kantor pak".
Ray sedikit terkejut dan tak menyangka Shinta akan tiba di kantornya sebentar lagi, "Oke, makasih".
__ADS_1
Setelah sekretarisnya meninggalkan ruangan, Ray meminta Airin untuk segera pergi dari kantornya.
"Tunanganmu dateng?? Ohhh oke, aku pergi. Bye sayang", Airin mengecup bibir Ray dan berjalan keluar dari ruangan.
Pada saat Airin membuka pintu ruangan, muncul Shinta di depannya. Airin berusaha untuk tenang dan tersenyum di depan Shinta.
Berbanding terbalik denga Airin, mata Shinta melotot memandang tajam ke arah Airin. Shinta memandang Airin dari atas sampai ke bawah dengan pandangan tajam dan sinis.
"Kamu siapa?", tanya Shinta ketus.
Ray langsung menjawab, "Dia klienku".
Shinta langsung menyelonong masuk ke dalam ruangan, sementara Airin tetap tenang dan berkata, "Mari Pak dan Bu".
Lalu Airin mengirim pesan ke Ray, "Makasih sayang. Aku puas!!. Nanti kita ketemu lagi".
****
Sementara di dalam ruangan Ray, Shinta tampak kesal dengan kehadiran Airin. Dia terus mencerca Ray dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting.
Ray tidak menggubris pertanyaan dari Shinta. Dia tampak asik dengan pekerjaannya. Ray menahan diri untuk tidak membahas foto yang dikirim Anna sebelum dia bertemu dengan Anna.
__ADS_1
Well, sebenarnya itu hanya alasan Ray saja. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk bertemu Anna.
"Sayang, dari tadi aku tanya kamu gak jawab. Maksud kamu apa? Siapa cewek itu?", Shinta gusar dan terua bertanya.
"Bukan urusan kamu!!", Ray menjawab dengan sangat ketus.
"Jelas urusan aku lah sayang. Kita mau nikah, aku hamil anak kamu!!", Shinta semakin gusar dan marah.
"Yakin itu anakku??!!", pertanyaan Ray yang to the point langsung membuat Shinta tidak nyaman.
"Jelas anak kamu lah. Kamu inget kan malem itu kita ngapain??", Shinta berusaha menyembunyikan kegundahannya.
"Sudah sana kamu pulang. Jangan ganggu aku kerja!", Ray dengan santai mengusir Shinta untuk keluar dari kantornya.
"Kamuu... ngusir aku??!!!! Ini kantor punya papaku. Kamu cuma numpang di sini!! Inget itu!!", Shinta mulai kehilangan kendali.
"Ya.. aku cuma numpang. Tolong keluar dari sini!!", Ray cukup tahan untuk tidak terbawa emosi yang meluap-luap.
"Raaaaaaaayyyy......!!!", Shinta mulai berteriak.
"Jangan gaduh!!! Gak malu apa sama karyawan papamu!! Sikapmu sungguh seperti anak kecil yang selalu merengek. Jaga sikapmu!! Jaga nama baik papamu!!", Ray membentak Shinta.
__ADS_1
BERSAMBUNG