Cerita Cinta Bersamamu

Cerita Cinta Bersamamu
58. Cerita cinta bersamamu


__ADS_3

"Shane... ngapain kamu disini?", mata Anna terbelalak melihat Shane yang tiba-tiba sudah muncul di depan dia dan Ray.


"Aku telepon tadi, gak kamu angkat. Allia bilang kamu disini." Dengan nada yang dingin Shane menjawab pertanyaan Anna.


Lalu dengan cepat Shane menggenggam tangan Anna dan berkata "Ayo, aku antar pulang. Jangan lama-lama di sini".


Shane menarik tangan Anna pelan, menyuruhnya berdiri sambil berbisik kepada Ray, "Jangan ganggu Anna lagi!! Selesaikan sendiri masalahmu sama tunanganmu. Jangan libatkan Anna. Paham??!!!."


Ray melotot tajam mendengar pernyataan keras dari Shane, "Jangan ikut campur!!!". Ray berusaha untuk membela diri.


Shane yang sudah menahan diri sejak lama rupanya sudah tak tahan ingin menghajar Ray. Dengan cepat tangan kanan Ray mencengkeram krah baju Ray dan menariknya mendekat ke arah Shane.


Ray kaget dan berusaha untuk menepis tangan Shane, tapi tangan Shane sudah terlanjur mencengkeram krah bajunya.


Anna yang mengetahui hal itu langsung memegang tangan Shane dan berusaha untuk menenangkannya, "Shane... no no. Jangan bikin gaduh di sini, please!!! Aku sudah selesai dengan dia. Ayok kita pergi dari sini".


Anna segera menarik tangan Shane, dan mengajaknya keluar. Shane masih berat hati untuk meninggalkan Ray sebelum dia menghajarnya.


Di dalam mobil, mereka berdua diam seribu bahasa. Shane yang emosi nampak terdiam. Rupanya dia marah sama Anna karena tetap diam-diam menemui Ray.

__ADS_1


"Shane.. maaf." Anna berkata lirih.


Shane tetap diam, lalu dia melajukan mobilnya menuju rumah Anna.


"Ini mau kemana?", tanya Anna.


"Pulang ke rumahmu", jawab Shane singkat. Tampak guratan amarah masih memenuhi wajahnya.


Lalu Anna meletakkan tangannya di dahi Shane, "Kamu demam. Gak usah antar aku pulang. Kita ke apartemenmu aja."


"Gak usah." Jawab Shane dengan ketus.


"Aku minta maaf Shane. Tapi kamu demam. Nanti aku jelasin semua. Kerumahmu aja, biar aku obati demammu. Aku bisa pulang sendiri nanti naik taksi." Anna memohon kepada Shane.


Anna berjalan masuk ke sebuah minimarket, dia ternyata membeli obat untuk Shane dan beberapa roti. Saat akan membayar di kasir, tatapan mata Anna terhenti pada sepasang muda-mudi yang lagi berangkulan di dalam supermarket itu.


"Ahhh..mereka lagi. Semoga segera ketahuan deh sama Ray. Kasian Ray kalo sampe jadi nikah sama wanit itu." Anna menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Lalu Anna segera memakai masker dan berjalan keluar supermarket. Dia nampak terburu-buru keluar agar Shinta tidak melihat dia.

__ADS_1


"Udah??" tanya Shane.


"Udah, yuk berangkat. Kamu tambah demam nih." Anna kembali meletakkan tangannya di pipi dan dahi Shane.


Shane merasakan pipinya sangat panas dan memerah. Dia merasa jantungnya berdetak sangat cepat akibat terlalu gugup, karena wajah Anna yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Shane, Ayoo..." , Anna mencoba menyadarkan Shane dari lamunannya.


"Ohh...iya.", Shane tersipu malu.


Sesampainya di apartemen, "Aku masuk bentar ya, kamu tunggu sini. Berantakan dalemnya. Tunggu ya.", Shane mencoba masuk duluan, tapi Anna berhasil menyelinap mengikuti Shane masuk.


"Heeeyy.. Kubilang nanti Anna, aku mau beresin sebentar.", Shane malu karena apartemennya berantakan.


Anna tertawa, "Ishhh... gakpapa sante aja."


Tanpa ragu Anna melangkah maju menuju ruang tamu, dan bruughhhhhhhhh...


Tiba-tiba Anna kehilangan keseimbangan karena kakinya tersandung sesuatu saat dia akan melangkah. Dengan sigap Shane menangkap Anna.

__ADS_1


Tapi rupanya mereka kehilangan keseimbangan, dan bruugghhhhhh......


BERSAMBUNG


__ADS_2