
"Tolong mengertilah Shane. Aku butuh waktu untuk nenangin diri. Hubungan kita terlalu rumit, dan masalahnya tetap seputar mantan kita." Anna mencoba menolak keinginan Shane untuk tetap bersama.
"Kamu gak sayang lagi sama aku?." Shane memberi pertanyaan yang gak di sangka-sangka oleh Anna.
Anna hanya terdiam dan tidak mampu menjawabnya. Namun dalam hati Anna berkata, "Aku sayang banget sama kamu Shane. Aku cuma capek dan pengen tenang untuk sementara waktu."
Ting tong...
Rupanya bel berbunyi lagi berkali-kali, dan hal itu membuat mereka tidak nyaman setiap kali akan berbicara.
"Coba bukalah Shane." Perintah Anna lirih.
Shane mengangguk dan berjalan menuju ke pintu. Sebelum membuka pintu, Shane melihat terlebih dahulu siapa tamunya.
Setelah mengetahui siapa tamunya, ekspresi Shane langsung berubah seketika. Anna menyadari hal itu, "Siapa?."
Shane berbalik dan memandang Anna, "Isha."
"Dia lagi." Terlihat wajah tidak senang Anna, lalu Anna seketika berdiri dan berjalan menghampiri Shane.
"Suruh masuk aja. Aku mau pulang." Anna langsung membuka pintu. Shane bermaksud untuk mencegahnya namun tangan Anna lebih cepat sehingga pintu sudah terbuka.
__ADS_1
Anna keluar dengan sangat anggun dan dingin. Isha terkejut mendapati bahwa yang membuka pintu adalah Anna.
Tanpa basa-basi Anna melangkah keluar dan tersenyum kepada Isha. Shane mencoba untuk menahan agar Anna tidak pulang.
Dengan lembut Anna menjawab, "Aku masih ada urusan di luar. Silahkan lanjutkan keperluan kalian berdua."
Anna berjalan meninggalkan Isha dan Shane sambil meremas tangannya sendiri. Terlihat suatu emosi yang sangat dalam, dan terlihat di raut wajah Anna bahwa dia menahan kesedihan.
"Kalian bertengkar?." Isha bertanya kepada Shane.
Akan tetapi Shane tidak menjawabnya, "Ada perlu apa ke sini?."
"Oh ini." Isha memberikan bingkisan yang dibawanya kepada Shane, "Mama tadi ada acara. Beliau masak besar trus keinget kamu. Aku disuruh bawain ke sini."
"Ehm.. boleh masuk?." Isha memberanikan diri untuk meminta ijin masuk ke dalam apartemen Shane.
"Kebetulan aku mau keluar. Udah janjian sama Anna dan teman-teman." Shane beralasan kepada Isha.
"Ohhh.. Tadi kenapa Anna berangkat sendiri?." Ternyata Isha sangat penasaran.
"Mau ke rumah temennya dulu." Shane ijin memasukkan makanan ke dalam kulkas, lalu kembali keluar dan siap-siap untuk pergi.
__ADS_1
"Shane, bisa anterin aku dulu gak? Kamu sekalian keluar kan?." Isha rupanya pantang menyerah.
"Maaf gak bisa, Sha. Nanti Anna salah paham. Mau kupesenin taksi?." Shane menawarkan diri untuk memesankan taksi kepada Isha.
Isha menunjukkan wajah murung ke Shane, tapi Shane dengan cuek tetap melangkah meninggalkan apartemennya.
"Aku pesen sendiri aja. Tadi pas gak bawa mobil. Have fun ya!! Salam ke Anna." Isha berbalik sambil menunjukkan wajah muram.
Shane masuk ke dalam mobilnya, dan segera menuju ke rumah Anna. Beberapa kali Shane memanggil nomor telepon Anna, tetapi tidak ada jawaban, "Dia gak mau angkat lagi. Sampai kapan Anna begini?."
****
Anna keluar dari mobilnya menuju ke kantor Papanya, "Pa.. Anna mampir ya."
Pintu ruangan Papa Dave terbuka, "Halo papa." Wajah cantik Anna muncul dari balik pintu untuk menyapa.
Lalu Anna segera berjalan dan memeluk Papanya. Papa Dave terlihat bahagia karena putri kesayangan mampir ke kantornya.
"Tumben anak papa mampir kesini? Hayoo pasti ada sesuatu ya." Papa Dave terlihat menggoda putri kesayangannya itu.
"Ehmmm.. Papa, Anna berangkat bulan depan aja ya. Mau resfreshing dulu sebelum lanjutin kuliah. Boleh pa?." Rayu Anna kepada Papanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG