
Akibat rem yang mendadak, tubuh Shane dan Anna terdorong ke depan. Dan bruuugghhhhhh, pelipis Anna terbentur.
Shane yang melihat Anna langsung khawatir karena pelipis Anna menjadi memar.
"Sayang, kamu terluka? Pelipismu memar.", Shane langsung memegang pundak Anna, mengecek pelipis Anna yang memar.
"Ohhh gakpapa Shane.", Anna buru-buru mengambil kaca dari tasnya dan melihat pelipisnya.
"Gimana kamu kebentur gak?.", Anna khawatir juga dengan kekasihnya tersebut.
"Gakpapa tadi cm kebentur dikit tapi untung ya gak memar. Kurang ajar itu mobil. Aku keluar dulu ya sayang, kamu tunggu di dalem aja.", Shane beranjak keluar dan menghampiri mobil yang ada di depannya.
"Permisi. Bisa keluar sebentar?.", Shane berusaha melihat seseorang di dalam kaca mobil, tapi kaca mobil terlalu gelap.
Tookk..tokk...tokkk
Shane kembali mengetuk kaca mobil itu. Tapi sang pemilik mobil tetap belum membuka ataupun keluar dari mobilnya.
Kali ini Shane mengetuk lebih keras lagi alisa menggedor-gedor kaca mobil itu.
Klekk...
__ADS_1
Akhirnya pintu mobil terbuka dan keluarlah Ray dari mobil tersebut. Shane terkejut dan secara refleks tangan Shane berusaha mencengkram kerah baju Ray.
"Ohhh kamu rupanya. Kamu gila?? Belum puas penjelasanku tadi sekarang kamu bikin gara-gara lagi dengan kami?!!.", Emosi Shane meluap lagi gara-gara perbuatan Ray.
Anna yang menyaksikan dari dalam mobil juga sangat terkejut melihat siapa yang membuat gara-gara dengan dia dan Shane. Sontak Anna berniat membuka pintu mobil, tapi dari kejauhan Shane sudah memberikan kode kepada Anna agar tidak keluar dari mobil.
"Mana Ana??.", tanya Ray kepada Shane.
"Kamu!!! Sudah kubilang jangan ganggu Anna. Enyah dari kehidupan Anna!! Jangan muncul lagi di depan Anna!!.", Shane semakin kuat mencengkeram krah kemeja Ray, tetapi Ray hanya tersenyum saja.
"Jika kamu berusaha menemui Anna atau apapun itu bentuknya, gak akan ku ampuni kamu Ray!.", Anna menarik krah kemeja Ray sehingga membuat Ray terhuyung ke depan, dan segera melepaskannya.
Lalu tanpa basa-basi lagi, Shane segera meninggalkan Ray, dan bergegas melajukan mobilnya.
"Ya??.", Shane menjawab singkat.
"Jangan marah ya. Anggep aja Ray udah gak waras. Aku juga gak tau kenapa dia tiba-tiba jadi nekat kayak gitu. Setauku dia bukan tipe orang kayak gitu.", Anna mencoba menjelaskan ke Shane.
"Buka tipe orang kayak gitu?? Kamu masih mikirin dia?.", perkataan dan nada Shane mendadak menjadi sedikit tinggi.
"Gak gitu Shane. Ah sudahlah aku gak mau bahas lagi. Kamu sensi kalo tak ajak ngomong." Anna memalingkan mukanya.
__ADS_1
"Memang!! Aku gak suka dia terus berada di sekitar kita.", Shane menimpali perkataan Anna dengan ketus.
"Kan aku udah nyuekin dia Shane. Trus maumu apa? Ahhh..jangan childish lah Shane.", Anna mengejek Shane dan kembali memalingkan muka.
Lalu mereka berdua terdiam karena masih saling jengkel satu sama lain. Shane kemudian mengarahkan mobil ke apartemen dia bukannya mengantarkan Anna pulang.
"Mau kemana Shane?.", Anna bertanya kepada Shane.
"Ke apartemenku.", jawaban Shane masih terkesan dingin.
Sesampainya di rumah Shane, mereka berdua terkejut karena melihat mantan pacar Shane sudah berdiri di depan pintu apartemen.
"Itu mantan kamu ngapain di depan pintu Shane??.", Anna berkata dengan ketus.
"Gak tau. Ayoo turun Anna.", Shane membukakan pintu untuk Anna.
"Tapi ada dia.", Anna mendadak bingung.
"Kenapa? Gak masalah kan?", Shane menjawab dengan lebih tenang.
Lalu mereka berdua turun dari mobil, dan dari kejauhan mantan pacar Shane menatap mereka dengan tatapan cemburu.
__ADS_1
BERSAMBUNG