
'Whaatt.... Shaneee.. gak lucu tau', Anna mencoba menyangkalnya.
'Enggak.. cuma boongan aja An, kamu yang paling deket sama aku sekarang. Aku cuma gak mau Isha mengganggu kehidupanku lagi', Shane mencoba menjelaskan kepada Anna.
'Ntar deh Shane, aku pikir-pikir lagi', Anna masih terlihat keberatan.
Sementara Shane tetap memohon padanya, 'Plisss... An. Anna yang cantik, yang baik hati, yang suka menolong, plisss'.
Anna mencibir Shane dan meninggalkan Shane yang sedang duduk, 'Aku gak mau kalo gratis..hahahaha'.
Mereka berdua tertawa senang, dan sesekali Shane membersihkan daun-daun di baju Anna.
'Maa.. Shinta pergi dulu ya, mau ke rumah teman', seru Shinta dari ruang tamu.
'Jangan nyetir sendiri dulu sayang, naik taksi atau di antar Pak Dahlan aja'.
'Naik taksi aja ma, byee maa', taksi sudah menunggu Shinta di depan rumahnya. Rupanya Shinta menuju apartemen Arnold. 'Sebentar lagi aku sampe apartemen, istrimu sudah balik luar negeri kan?'.
'Tenang sayang, udah balik, ku tunggu', nada suara Arnold setengah manja ke Shinta. 'Sudah kusiapkan sesuatu yang istimewa, I miss u sayangku'.
__ADS_1
Tiinngg tooonggg... tinggg tooongggg
Bel apartemen Arnold berbunyi, 'Halooo sayang, welcome... aku kangeen', Arnold memeluk dan menciumi bibir dan leher Shinta dengan penuh nafsu. Shinta membalas ciuman panas dari Arnold.
Lalu mereka berdua berciuman dan bercumbu untuk yang kesekian kalinya. Baju yang melekat di tubuh mereka berdua telah terlepas satu persatu, mereka menikmati keintiman mereka yang menggelora.
Arnold mendekap tubuh Shinta erat-erat, seakan dia tidak mau melepaska tubuh seksi itu. Begitupula Shinta yang sangat menikmati dekapan dan ciuman dari Arnold yang bertubi-tubi.
Tinggg....tooonggg... tinggg... tooong..
Tiba-tiba bel pintu Arnold berbunyi, 'Haaahh... siapa sayang? Istrimu beneran sudah balik luar negeri kan?'
Arnold berjalan dengan pelan menuju pintu dan melihat dari monitor siapa yang menekan bel. Denga cepat Arnold berbalik ke kamar dan memberitahu Shinta untuk segera merapikan kamar dan bersembunyi. 'Bibi balik lagi kesini, kamu sembunyi dulu di sini sayang.'
Shinta lantas dengan gerakan cepat segera memakai bajunya, merapikan tempat tidur dan bersembunyi di kamar mandi.
' Pak Arnold, handphone saya ketinggalan di dapur, sekalian mau antar makanan dari Nyonya Wati'.
'Iya bi, ambil aja. Kebetulan aku juga mau keluar. Untung aku belum keluar rumah'. Arnld sedikit gugup dan salah tingkah.
__ADS_1
Bibi menaruh beberapa makanan di kulkas Arnold, menata dengan rapi dan mengambil handphone-nya yang tertinggal, 'Saya pulang dulu pak'.
'Oke bi, hati-hati', Arnold mengantar bibi sampai ke pintu.
Mata bibi rupanya melihat ada sepatu high heels berwarna merah di rak sepatu, 'Kayak bukan sepatu bu putri ya?', Bibi bergumam lirih dan merasa penasaran.
Tapi ia tahan rasa penasaran itu dan segera pergi dari apartemen Arnold. Setelah menutup pintu dan menguncinya, Arnold masuk ke kamarnya.
'Sayang, sudah aman. Keluarlah!!'. Kepala Shinta muncul dari balik pintu kamar mandi, lalu dia berjalan menghampiri Arnold yang sedang duduk di ranjang.
Shinta melingkarkan lengannya di pinggang Arnold, lalu membisikkan sesuatu, 'Gimana dengan bayi kita sayang? Aku kemari mai membicarakan tentang kehamilan aku'.
Arnold nampak gugup dan gusar karena tidak menyangka bahwa Shinta akan secepat itu hamil anaknya. 'Kamu sudah periksa ke dokter?'.
Shinta mengangguk, 'Sudah, dokter sangat yakin kalo aku hamil, perut ini akan semakin membesar sayang, apa kau mau menikahiku?? Akan ku tinggalan Ray demi kamu.'
Handphone yang di pegang Arnold terjatuh, bruuukkkk.... pletaaakkk...
Arnold terkejut dan tidak menyangka Shinta akam berbicara seperti itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG