Chandana

Chandana
Bagian 10


__ADS_3

Terik sinar matahari menembus cela-cela jendela kelas 11 Ipa 3, menambah panas suasana kelas yang sejak beberapa waktu lalu penuh ketegangan akibat pengumuman ulangan akhir semester yang mendadak dimajukan. Protes demi protes telah diajukan oleh beberapa siswa namun tak ada yang mampu merubah keputusan sekolah. Alhasil mereka semua hanya bisa menerima dan mempersiapkan diri agar bisa menjalankan ujian dengan baik dan lancar.


Tak seperti siswa lain yang sibuk merasa khawatir dengan dimajukannya UAS, Roka justru asik memainkan game di ponselnya tanpa menghiraukan pengumuman sama sekali. "Eh, lo nanti ada latihan futsal kan?" Roka menyikut lengan Kiran yang sedang sibuk membaca di sebelahnya.


"Iya."


"Ntar kalo anak futsal macem-macem langsung telpon gue. Jangan sok jago lo ngadepin mereka sendirian!" Roka kembali melanjutkan ucapannya seraya melirik Kiran, kemudian kembali menatap layar ponselnya.


"Oke."


Roka menggigit bibir bawahnya saat tiba-tiba melihat musuh keluar dari balik semak sehingga membuat heronya mati tertembak. "Buseeettttt, nih orang apa jin si tiba-tiba nongol terus ngilang kaya kentut!" Pekik Roka yang sontak membuat seisi kelas memperhatikannya karena situasi kelas memang sedang dalam keadaan hening.


Kiran yang semula fokus memperhatikan buku di hadapannya pun turut menoleh melihat wajah kikuk Roka yang salah tingkah sebab menjadi pusat perhatian seisi kelas. "Heheh, apaan sih lo pada. Belajar sono, minggu depan UAS." Roka menggaruk tengkuknya seraya tertawa kecil untuk menetralisir rasa malu.


Tak menunggu lama hingga bel pulang sekolah terdengar melalui pengeras suara yang ada di sudut kiri depan kelas mereka. Kiran membereskan semua alat tulis serta bukunya seraya membenahi seragamnya agar kembali nampak rapih. "Besok pulang sekolah gue mau ketemu sama Chandana." ujar Kiran tiba-tiba.


Roka yang sudah siap keluar dari kelas sontak terkejut bukan main, kedua matanya melotot sempurna mendengar kalimat tak masuk akal yang baru saja Kiran sampaikan. "Hah?! Seriusan lo? Gimana bisa?"


Kiran tersenyum kecil, perasaan malu kembali menyeruak dalam dirinya, namun dengan segera ia tepis segala perasaan tersebut serta kembali memasang ekspresi wajah datar seperti biasanya. "Kemarin ngobrol pas bubaran upacara. Dahlah, gue mau latihan futsal."


Roka tersenyum girang, ia mendoring kecil bahu Kiran sembari terus menggoda sahabatnya tersebut. "Sabi-sabi. Lo apain dia sampe mau ketemuan? Ngaku lo!"


"Dih, paan si lo." Kiran berusaha menahan diri agar tidak tersenyum sembari berjalan cepat meninggalkan kelas. Namun rupanya Roka tak berhenti di situ, ia mengikuti Kiran dari belakang seraya terus menggoda Kiran dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Kiran merasa malu. Hal tersebut terus berlanjut saat keduanya berlarian di koridor sambil saling melempar hinaan. Namun di balik semua itu, Roka merasa begitu bahagia, karena pada akhirnya gunung es yang selama ini Kiran bangun guna membatasi dirinya dengan dunia perlahan mulai meleleh.


---


Kiran mengusap butiran keringat yang berkumpul di dagunya kemudian kembali berlari guna menggocek si kulit bundar. Belasan kali ia berhasil mengelabuhi pemain bek lawan hingga sukses mencetak tiga gol dalam latihan mereka sore itu. Meski pada awalnya Kiran sempat merasa khawatir, namun ia patut lega karena semua anggota tim futsal menyambutnya dengan ramah dan senang hati. Ia diperlakukan dengan baik oleh seluruh anggota tim, bahkan ia merasa sudah akrab dengan mereka hanya dengan dua kali bergabung dalam latihan.


Suara nyaring menggema di penjuru lapangan saat Edy meniupkan peluit tanda berakhirnya latihan mereka sore itu. Kiran mengatur napasnya sembari berjalan beriringan bersama dengan Bayu rekan setimnya untuk menuju ke tepi lapangan. Usai semuanya berkumpul, mereka duduk melingkar dengan berselonjor kaki guna menyimak evaluasi yang akan diberikan Edy untuk latihan mereka sore ini.


"Gaes, latihan hari ini udah bagus. Bek tim merah lebih konsen lagi ya, terus kiper tim merah juga lebih fokus lagi lo bro. Kiran mantul permainan lo mulus, emang nggak salah kita milih lo. Overall tim biru kekurangannya cuma di sayap kiri aja. Evaluasi kemarin sama hari ini bakal gue kasih pelatih, pengumuman buat tim inti paling baru keluar hari Sabtu atau Minggu. Semangat terus gaes!" Edy memaparkan segala hal yang perlu ia sampaikan dengan tegas dan singkat agar teman-temannya bisa segera kembali ke rumah masing-masing dan beristirahat. "Ayo ayo tos sebelum bubar." Lanjut Edy sembari mengajak teman-temannya agar kembali berdiri.


"Futsal Tunas Kelapa!...."


"Mantul mantul seger!" Seru seluruh anggota tim secara bersamaan.

__ADS_1


Usai menyelesaikan tos mereka, Kiran tersenyum kecil sembari menyalami seluruh anggota timnya. Hari ini adalah hari yang cukup baik bagi Kiran. Selain karena latihan futsal yang berjalan lancar sesuai dengan harapan, pagi tadi ia juga berhasil mengobrol dengan Chandana walaupun tidak banyak hal yang mereka bicarakan. Setidaknya Kiran patut merasa lega karena ternyata Chandana tidak melupakan pertemuan pertama mereka.


Kiran meraih tasnya kemudian mengambil sebotol minuman dari dalam sana, ia meneguk air putih yang berada di dalam botol hingga hanya tersisa 1/3 bagian kemudian memasukkan kembali botol tersebut ke dalam tas. Ia hendak meninggalkan area lapangan futsal saat tiba-tiba Edy menepuk bahunya.


"Ran, gue denger si Rendi ada masalah lagi sama lo. Emang bener ya?" Edy berjalan pelan guna mensejajari Kiran.


Tanpa berusaha menyembunyikan apapun, Kiran memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Edy. "Iya. Gue lihat dia lagi gangguin orang, yaudah gue tolongin itu orang. Cuma kayanya si Rendi nggak terima."


Edy mengusap wajahnya dengan handuk kecil sembari mengangguk mengiyakan cerita yang Kiran ungkapkan. "Udah gue duga sih. Dia melesetin cerita lo. Katanya lo lagi-lagi mau ngerebut cewek dia." Tutur Edy seraya mengamati raut wajah Kiran yang nampak tidak peduli sama sekali dengan apa yang ia sampaikan.


"Gue nggak peduli dia mau gimana juga. Gue gak ngerasa salah. Kalaupun itu orang emang cewek dia, kenapa pas gue ketemu mereka malah itu cewek ketakutan setengah mati?" Kiran kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran, sementara Edy mengikutinya dari belakang.


"Dia emang begitu, Ran. Ceweknya si Bayu sama cewek gue dulu juga begitu. Tapi bedanya pacar kita mau-mau aja sama si Rendi. Emang sialan itu anak." Edy meremas handuk di tangannya hingga tak lagi berbentuk. Rasa kesal serta ingatan tentang bagaimana penghianatan yang Rendi berikan padanya membuat emosi Edy meningkat seketika.


"Iya. Gausah berurusan sama dia lagi. Kalo dia nggak mulai kita diemin aja biar capek sendiri." Kiran berhenti kemudian menoleh ke belakang. Ia menepuk-nepuk bahu Edy sembari berusaha meredam emosinya.


"Okedeh. Gue emang udah males sama itu orang. Bodo amat lah. Buruan balik lo, udah mulai gelap." dengan emosi yang masih sedikit tinggi, Edy mengingatkan agar Kiran segera pulang sebelum hari semakin gelap.


Kiran mengangguk ringan. "Gue duluan." ujarnya seraya berjalan cepat menuju tempat parkir.


Hal kedua yang masih belum Kiran temukan jawabannya ialah kepastian apakah Chandana yang meminjam buku di perpustakaan sekolah adalah orang yang sama dengan Chandana yang menyumbangkan buku miliknya ke perpustakaan umum. Kiran meyakini bahwa jika memang benar ia adalah Chandana yang sama, maka akan lebih mudah bagi Kiran untuk mencari topik pembicaraan. Meski ia tak yakin apa yang harus ia bahas, namun setidaknya Kiran bisa merasa sedikit tenang karenanya.


Setibanya di rumah, Kiran bergegas membersihkan diri kemudian turun ke lantai bawah untuk makan malam. Di meja makan hanya ada sang ibunda serta sang adik sementara ayahnya pastilah masih sibuk bekerja. "Dek, abang sebentar lagi ada pertandingan futsal loh. Mau nonton?" Kiran mengusap kepala Arda yang ternyata masih sibuk mengunyah makanan di dalam mulutnya.


Usai menelan makanannya, Arda memekik bahagia. "Widihhh, pastii Bang! Kapaaannn? Mama, mama temenin Arda nonton ya?" Dengan penuh semangat, si kecil Arda meminta agar sang ibunda mau mengantarkannya melihat pertandingan sang kakak.


Dengan senyum sendu, sang ibunda mengelus puncak kepala Arda. "Iya, sayang. Mama pasti antar Arda lihat pentandingan kakak."


"Yeeyy." Arda tersenyum bahagia seraya mencari-cari letak sendok di hadapannya, usai mendapatkannya Arda kemudian menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Makan pelan-pelan. Pertandingannya masih bulan depan kok." Kiran tersenyum tipis sebab telah berhasil menyenangkan hati adiknya. Namun tetap saja, setiap kali Kiran melihat sang adik, ia selalu dan selalu merasa sedih dan bersalah. Sebagai kakak ia merasa tak cukup baik bagi sang adik.


Arda mengalami kebutaan usai mantan sopir keluarganya yang melakukan aksi perampokan di rumah megah mereka. Kiran tidak mengerti kenapa sopirnya dengan tega melakukan hal semacam itu sebab selama belasan tahun bekerja di rumah mereka, sopirnya itu ia kenal sebagai sosok yang baik, ramah, dan juga sopan. Bahkan jika ia memang benar-benar membutuhkan uang, kedua orang tuanya tak akan segan-segan memberikan pertolongan karena memang sopirnya itu telah sangat dipercaya oleh keluarganya. Namun apapun alasan yang melatarbelakangi aksi kejamnya itu, Kiran tetap merasa kecewa dan marah terhadap sosok yang pernah ia anggap sebagai paman tersebut. Tak ada yang bisa membenarkan tindakan mengerikan yang ia lakukan pada Arda yang saat itu masih berusia tiga tahun.


Sejujurnya kedua orang tua Kiran bisa saja dengan segera melakukan operasi transplantasi terhadap putera bungsu mereka itu, namun usia Arda masih sangat muda. Mencari pendonor yang tepat juga bukanlah hal yang mudah. Oleh karenanya Arda harus kembali bersabar hingga usianya sudah sedikit lebih dewasa sehingga operasi transplantasi yang akan dijalaninya tidak akan membahayakan keselamatan Arda sendiri.

__ADS_1


Usai menyelesaikan makan malamnya, Kiran pergi ke dapur untuk meletakkan piring kotor. Ia melihat sang ibunda tengah membasuh piring serta beberapa peralatan masak lainnya. "Ma, biar Kiran yang cuci. Mau nyoba." Ujar Kiran tiba-tiba.


"Aduh, kamu tumben-tumbenan. Nggak usah, biar Mama aja," balas sang ibunda yang kemudian merebut piring kotor dari tangan Kiran.


Usai niatannya gagal, Kiran memutuskan untuk duduk di kursi pantry yang letaknya tak jauh dari posisi sang ibu. "Ma, kalo tiba-tiba jantung berdebar itu kenapa ya?" Kiran memutuskan untuk mengobrol dengan ibunya, mencoba menggali jawaban yang lebih konkret atas segala keanehan yang dirasakannya selama berjumpa dengan Chandana.


"Hah? Jantung berdebar? Kamu sakit apa? Habis minum obat apa? Bilang sama Mama!" Alih-alih mendapatkan respon positif, Kiran justru mendapatkan cecaran pertanyaan dari sang ibunda yang langsung membuang piring di tangannya usai mendengar ucapan Kiran.


Hal ini wajar saja. Selama ini Kiran cenderung jarang membahas masalah pribadinya dengan sang Ibu. Kiran lebih suka membahas mengenai adiknya atau hal lain. Namun entah kenapa kini keberanian itu mulai muncul dalam diri Kiran. Keberanian untuk menceritakan dan mengatakan apa yang ia rasakan kepada orang lain.


"Dih, Mama apaan sih. Bukan jantung berdebar penyakit, tapi jantung berdebar kalo ketemu sama orang," tutur Kiran seraya memainkan sebuah apel yang ia pungut dari mangkuk buah yang berada tak jauh darinya.


Ekspresi ibunda Kiran yang semula serius berubah sumringah, senyum lebar mengembang di wajahnya yang awet muda. "Iiihhhh, kakak lagi naksir seseorang ya? Siapaaa? Akhirnya yaaa setelah sekian lama kamu bisa naksir orang juga. Ceritain sama Mama."


Melihat reaksi berlebihan sang ibunda membuat Kiran menyesali keputusannya untuk meminta pendapat sang Ibu. Namun apa boleh buat, mau tak mau kini Kiran harus menceritakan segalanya sebab ia tak mau mengecewakan ibunya yang kini terlihat begitu sumringah dan excited menanti ia bercerita.


"Nggak gimana-gimana Ma. Cuma ya kalo Kiran lihat wajahnya, jantung Kiran berdebar kencang. Kalo dia tatap mata Kiran, waktu rasanya kayak melambat dan Kiran nggak bisa merasakan sekitar. Kalo teman Kiran godain Kiran soal dia, pipi Kiran rasanya panas. Kalo Kiran ngobrol sama dia, ini pikiran rasanya kosong nggak tau mau ngomongin apa. Aneh kan Ma?" tutur Kiran panjang lebar.


Ibunda Kiran mengamati wajah Kiran selama putranya itu bercerita. Ia sadar betul bahwa meski putranya menunjukkan ekspresi datar seperti biasanya, namun semakin putra sulungnya itu menjelaskan, semakin memerah pula pipinya. "Nggak aneh, Sayang. Itu namanya Kiran lagi suka seseorang. Mama senang akhirnya kamu bisa membuka hatimu, kamu juga mulai sering tersenyum belakangan ini. Siapa gadis itu? Mama ingin berterimakasih."


Kiran memandang wajah ibunya yang melembut usai menuntaskan kalimatnya. Memang benar bahwa ini adalah kali pertama Kiran berbincang tentang masalah pribadinya dengan sang ibunda. Tanpa sadar, Kiran mengembangkan senyum di bibirnya. "Kiran akan segera bawa dia ke rumah ini."


"Kyaaa, anak Mama udah gedee sekarang." Pekik sang ibunda usai mendengar kalimat yang baru saja dikatakan putranya.


Kiran yang merasa tak sadar dengan kalimatnya barusan pun kembali merutuki dirinya karena lagi-lagi ia mengucapkan perkataan tak masuk akal.


Syit, mulut sial ini berulah lagi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2