Chandana

Chandana
Edy (6)


__ADS_3

Kesialan dan keberuntungan selalu datang dan pergi tanpa pernah diduga-duga. Begitu juga Edy yang merasa seperti kejatuhan duren di siang hari lantaran pernyataan cinta Ratih kepada Kiran. Takdir seolah memihaknya sehingga dengan mudahnya, Edy berhasil membakar kebencian dan mengobarkan dendam di hati Rendi. Sama halnya dengan yang ia lakukan pada Arif beberapa tahun silam.


Edy berusaha menyakiti Kiran dengan cara memanfaatkan Rendi sebagai bidak utama. Edy berperan sebagai pengatur dan penyusun rencana sementara Rendi yang bodoh itu berperan sebagai eksekutor yang siap menanggung segala resiko apabila terjadi kegagalan. Dengan begitu, Edy hanya akan menjadi penonton dan penikmat dari hasil kerjanya sementara semua akibat dari rencana yang telah ia susun akan ditanggung oleh Rendi.


Edy mengatur skema pengeroyokan yang akan membuat Kiran babak belur dan tidak akan berani lagi berlagak sok di depan semua orang. Saat itu, Edy masih belum memiliki pikiran untuk menghabisi nyawa Kiran. Ia merasa bidak-bidaknya terlalu lemah dan belum matang jika harus melakukan pekerjaan berat tersebut. Oleh karenanya, Edy berpikir sebuah pengeroyokan saja cukup untuk membuat Kiran yang selalu berlagak sombong itu babak belur dan menderita.


Sebenarnya, sejak awal Edy telah menduga bahwa pengeroyokan bukanlah ide yang menguntungkan sebab hal tersebut jelas-jelas akan mendapatkan banyak perhatian dari semua orang. Selain itu, jika Edy terlibat secara langsung dalam pengeroyokan tersebut, dirinya tidak akan bisa mengelak dan playing victim sehingga situasi tersebut akan sangat merugikan bagi Edy. Oleh sebab itu, Edy mencoba bermain bersih dengan hanya menjadi seorang perencana dan penyusun agenda. Membiarkan Rendi yang mengeksekusi dan menerima semua kerugian yang seharusnya Edy tanggung.


Semua berjalan sesuai dugaan Edy, hanya saja sedikit lebih parah. Alih-alih mengeroyok dan menghancurkan Kiran, Rendi dan teman-temannya justru kembali dalam keadaan babak belur. Meski Roka dan Kiran mengalami cidera parah sehingga keduanya tidak masuk ke sekolah selama beberapa hari, teman-teman Edy dan Rendi juga tak kalah babak belurnya.


Sejak saat itu, Rendi menjadi lebih berhati-hati jika sudah berurusan dengan hal-hal yang berhubungan dengan Kiran. Ditambah lagi, Rendi mulai menunjukkan ketertarikan pada seorang gadis yang bahkan selama ini tak berani Edy dekati karena takut dirinya ketahuan. Ya, benar. Rendi mulai menunjukkan ketertarikan pada Chandana. Pada gadisnya.


Saat itu, Edy berusaha keras menyebarkan rumor tidak benar soal Chandana. Ia mengatakan bahwa gadis tersebut tidaklah sebaik dan sependiam kelihatannya. Namun, seperti biasanya, Rendi tidak peduli dengan hal-hal tersebut.


Merasa ucapannya tak lagi didengar dan dilakukan dengan baik oleh Rendi, Edy mulai merasa bahwa Rendi sudah tidak berguna lagi untuknya. Oleh sebab itu, Edy kembali menyusun rencana agar dirinya dapat membuang Rendi dan membuat seolah-olah Rendilah yang menghancurkan pertemanan mereka.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Edy untuk mendepak Rendi dan mempengaruhi anak-anak futsal bahwa pemain andalan tim basket itu adalah lelaki yang munafik dan sangat merugikan. Sejak saat itu, hubungan Rendi dan Edy mulai meretak dan benar-benar hancur hingga tak lagi menyisakan apa pun.


Waktu kembali berjalan. Edy mencoba mencari boneka yang lebih baik dan mudah dikendalikan usai ia melepaskan Rendi yang menurutnya sudah tidak lagi berguna. Di saat yang bersamaan, Edy mulai mendengar informasi dari anak buahnya di sekolah bahwa Chandana beberapa kali terlihat berbicara dengan seorang pria.


Awalnya Edy tidak menanggapi hal tersebut dengan serius sebab dirinya tahu betul bahwa Chandana adalah gadis yang tidak bisa berada di dekat laki-laki. Edy tahu bahwa Chandana merasa trauma dan ketakutan tiap kali seorang laki-laki mencoba mendekatinya. Alih-alih merasa bersalah karena telah membuat Chandana hidup dalam ketakutan dan trauma yang mengerikan, Edy justru merasa bersyukur karena dengan trauma itu, Chandana tidak akan pernah berdekatan apalagi menjalin hubungan dengan pria manapun selain dirinya. Tak akan ada laki-laki yang bisa menyentuh dan memiliki Chandana selain Edy.


Setidaknya begitulah yang dipikirkan Edy sampai saat ia mendapati sendiri bagaimana faktanya. Sore itu, Edy bersama dengan beberapa rekannya tengah berjalan melintasi lorong-lorong kelas saat tanpa sengaja mendengar kegaduhan yang berasal dari salah satu titik.


Karena penasaran, Edy dan rekan-rekannya pun mencoba mendekat ke sumber suara yang rupanya berasal dari tangga yang letaknya berada di bawah lantai kelas 11 Bahasa.


Saat itu, mereka menyaksikan Kiran tengah berbicara kepada Rendi dengan sangat amat serius. Wajahnya terlihat marah dan kesal.


"Si Rendi sama Kiran," ujar salah seorang rekan Edy yang kala itu turut menyaksikan pertikaian Rendi dan Kiran.


"Belum tobat aja tuh, si Rendi. Mau dibikin bonyok kayak gimana lagi itu anak biar kapok gangguin si Kiran," timpal salah seorang yang lain.


Edy tidak menjawab atau merespon pendapat rekan-rekannya. Alih-alih memusingkan Rendi dan Kiran, Edy kini tengah sibuk mengenali seorang gadis yang berdiri di belakang Kiran dengan kepala tertunduk ketakutan. Edy merasa dirinya mengenali gadis tersebut.

__ADS_1


Dan benar saja, sesaat setelah gadis tersebut mendongak dan memperlihatkan wajah cantiknya, Edy terlonjak di tempat. Gadis itu adalah Chandana. Kiran tengah beradu mulut dengan Rendi karena ia berniat melindungi Chandana.


Bukannya merasa bersyukur atau berterima kasih, Edy justru merasa sangat kesal dan marah. Ia tidak suka melihat barang miliknya di sentuh atau di lirik orang lain. Apalagi sampai dibela seperti itu. Kiran tidak mempunyai hak untuk menolong ataupun membela Chandana. Hanya Edy yang berhak. Hanya Edy yang bisa melakukan semua itu pada Chandana. Tidak Kiran tidak pula Rendi.


"Ayo pergi!" Edy berseru pelan karena tak ingin berlama-lama berada di sana.


Sore itu, amarah dan kekesalan Edy terhadap Kiran semakin memuncak. Ia tidak bisa membiarkan Kiran berdekatan dengan Chandana apapun dan bagaimanapun bentuknya.


Setelah lama berpikir dan mempertimbangkan, Edy mendapatkan sebuah ide yang sangat brilian. Selama ini Edy kesulitan menemukan bidak untuk mewakilinya dalam menjadi eksekutor. Setelah urusannya selesai dengan Rendi, Edy tak kunjung menemukan orang yang pas dan tepat untuk menjadi boneka selanjutnya. Namun, Edy mendapatkan ide yang lebih baik dari itu.


Tidak lama lagi, tim futsal akan segera mengikuti turnamen berskala nasional. Dengan kemampuan yang seperti sekarang, Edy sendiri tahu bahwa timnya tidak akan bisa memenangi kompetisi. Bahkan untuk sekedar lolos hingga ke semi final saja rasanya tidak mungkin. Di sisi lain, Edy harus memikirkan serta mencari orang untuk mulai menggerogoti Kiran dan mengorek informasi dari lelaki tersebut. Hanya saja, Kiran bukan orang yang mudah didekati.


Edy mulai mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle yang menjadi pokok permasalahannya. Ia mencari solusi dan jawaban terbaik atas semua permasalahan tersebut dan satu-satunya hal yang ia dapatkan adalah Kiran itu sendiri. Semua orang tahu bahwa Kiran memiliki postur tubuh yang sangat bagus dan proporsional. Ia juga pandai bermain sepakbola, bahkan jauh lebih baik dari kebanyakan anak futsal lainnya. Dari situ, Edy mulai menyusun rencana.


Edy sadar bahwa akan sangat sulit jika dirinya harus membujuk anak futsal untuk menerima Kiran bergabung ke dalam tim. Tentu saja demikian. Nyaris seluruh anggota tim inti pernah dihajar dan dibuat babak belur oleh Kiran di insiden pengeroyokan yang melibatkan dua ekstrakukikuler tersebut. Oleh karenanya, Edy sengaja mengatur rencana agar pemain andalan timnya mengalami cidera saat sedang berlatih. Hal ini membuat mereka harus segera mencari pemain pengganti yang pas dan cocok untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh pemain sebekumnya. Dan tentu saja semua orang paham betul bahwa Kiranlah yang paling cocok untuk menggantikan peran tersebut. Dengan begitu, karena terpaksa oleh keadaan, tak akan ada anggota tim yang berani menolak keputusan tersebut.


Edy pergi mendatangi Kiran dan memintanya bergabung dengan tim. Sejujurnya Edy sendiri tidak yakin Kiran akan menerima tawarannya. Namun, ternyata laki-laki tersebut tidak menolak dan bersedia membantu tim futsal. Edy merasa terbang. Semuanya berjalan dengan mulus dan bahkan melebihi ekspektasinya.


Menang benar kata orang, semakin dekat kita dengan musuh, semakin dalam pisaunya akan tertancap.


---


Edy memarkirkan motornya. Kini ia telah kembali ke rumah usai menghabiskan waktu dua sampai tiga jam di rumah kosong yang sekaligus menjadi base camp untuknya itu.


Usai melepaskan semua perlengkapan berkendaranya, Edy berjalan melalui jalanan sempit yang ada di samping rumahnya untuk pergi ke halaman belakang. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi, Edy tidak berniat untuk tidur ataupun beristirahat sama sekali. Ada seseorang yang harus ia temui terlebih dahulu sebelum dirinya pergi ke kamar dan bisa terlelap dengan tenang.


Setibanya di halaman belakang, Edy berlari kecil dan berjalan masuk ke dalam sebuah bangunan berbentuk kotak tempat ia menyimpan dan meletakkan semua perkakas otomotif. Di dalam bangunan tersebut, terdapat sebuah tangga yang menjadi satu-satunya akses jalan untuk menuju ke rooftop sederhana yang biasa ia gunakan untuk bersantai dan mencari inspirasi.


Setibanya di rooftop, Edy melirik singkat ke arah kursi bambu kesayangannya kemudian berjalan mendekat ke sebuah pintu besi yang tergembok dari luar. Edy memang sengaja membangun sebuah ruangan kecil di atas rooftop sederhananya itu untuk sekedar berjaga-jaga. Ia tidak menyangka bahwa ruangan tersebut sekarang ia pergunakan untuk menyimpan seseorang.


Dengan hati-hati, Edy memasukkan kunci yang ia ambil dari sakunya ke dalam gembok berukuran sedang yang kini berada tepat di genggamannya. Edy memutar-mutar kunci tersebut hingga terdengar bunyi dan gembok berhasil terbuka.


Dengan tenang, Edy melepaskan gembok tersebut dan membuka pintu besi yang ada di hadapannya. Bibirnya merekah saat melihat seorang gadis tengah bersandar di tembok dengan kedua mata terpejam sempurna.

__ADS_1


"Chandana! Bangun!" Edy tersenyum lebar sembari mengguncang bahu gadis yang ternyata adalah Chandana.


Merasa tubuhnya diguncang dan namanya dipanggil-panggil, Chandana membuka matanya perlahan. Tubuhnya mendadak gemetaran saat mendapati pria mengerikan itu tengah menyeringai lebar tepat di hadapannya.


"Kenapa? Haha. Kamu jahat sekali karena udah lupa sama saya. Udah lupa sama kita! Padahal, saya selalu membayangkan kamu tiap malam. Membayangkan kamu..." Edy menyentuh lengan Chandana dengan pelan. Ia membelainya dari atas hingga ke bawah, membuat Chandana terperanjat dan menyeret tubuhnya ke belakang.


Kini, Chandana berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Kedua kakinya diikat, begitu juga dengan kedua tangannya yang diikat ke belakang. Ia dibiarkan duduk di lantai yang dingin dengan mulut tersumpal kain yang diikat dengan sangat erat ke belakang kepalanya.


"Kulit kamu memang selalu lembut dan halus ya. Putih.. Bersih..." Edy membelai kulit Chandana dengan perlahan. Matanya memandangi lengan gadis tersebut dengan penuh kekaguman serta kengerian.


Chandana menggeleng kuat-kuat. Ia beringsut ke belakang sembari terisak perlahan. Ia ingin menjerit namun suaranya tertahan oleh kain yang menyumpal mulutnya. Air mata mengaliri wajah Chandana dengan sangat deras. Ketakutan menjalari tubuhnya hingga membuat gadis tersebut gemetaran dari ujung kaki hingga kepala.


"Kamu tahu, saya nggak pernah bisa melupakan kamu. Setiap hari, setiap malam, saya nggak pernah sekalipun nggak memikirkan kebersamaan kita. Malam-malam kita yang indah dan luar biasa.." Edy kini berganti membelai wajah Chandana. Ia menyentuh pipi dan hidung gadis tersebut dengan penuh obsesi, seolah Chandana adalah barang kesayangan yang tak seorang pun dapat menyentuhnya.


"Jangan khawatir, setelah ini, kita akan hidup bahagia. Kita akan hidup berdua selama-lamanya. Tapi, sebelum itu, kita harus menyingkirkan semua yang akan menghalangi jalan kita. Semua yang bisa menjadi ancaman untuk saya dan kamu," Edy tersenyum simpul sembari mendaratkan sebuah ciuman di dahi dan hidung Chandana.


Gadis tersebut mengeram dan membuang muka berkali-kali. Air mata terus mengalir dari pelupuk matanya. Ia merasa takut setengah mati.


"Bisa tebak siapa? Siapa yang harus kita singkirkan?" Edy menekan dagu Chandana dengan jari telunjuk serta ibu jari tangan kanannya agar gadis tersebut tidak lagi membuang muka dan menatap matanya.


Edy memandang Chandana yang terus berurai air mata dengan ekspresi bahagia. Ia tidak sabar untuk memiliki gadis ini hanya untuk dirinya.


"Ya! Kiran. Kita harus bunuh Kiran supaya saya dan kamu bisa hidup bahagia bersama. Yaa walaupun keluarganya juga harus dibunuh sih, tapi saat ini kita bunuh Kiran dulu," Edy menengadah, "Emm, apa jangan langsung dibunuh ya? Disiksa dulu kali ya?" Edy kembali memandang Chandana, meminta pendapat gadis tersebur atas rencananya barusan.


Alih-alih memberikan pendapat, Chandana justru semakin terisak saat mendengar Edy menyebut-nyebut nama Kiran. Apalagi berniat membunuh laki-laki tersebut.


Chandana menggeleng, matanya menyipit. Ia memasang ekspresi memohon agar Edy tidak melakukan niatannya. Agar Kiran tidak dibunuh hanya karena obsesi gila Edy pada dirinya.


"Udahlah. Udah pagi. Saya harus tidur karena ada banyak hal yang harus dikerjakan besok. Saya tinggal ya. Besok saya ke sini lagi untuk mengantarkan sarapan. Saya tahu kamu pasti rindu sama saya. Tapi saya harus segera menyusun rencana untuk membunuh Kiran! Kamu baik-baik ya?" Edy tersenyum girang. Ia melepaskan tangannya dari dagu Chandana kemudian memajukan kepalanya.


Edy mendaratkan bibirnya di leher Chandana, membuat gadis tersebut bergidik ngeri dan merasa sangat amat jijik. Tidak berhenti di sana, Edy menyempatkan diri untuk menghisap leher Chandana sebelum ia benar-benar pergi dan meninggalkan gadis tersebut sendirian di ruangan yang kecil dan pengap itu, "Bye. Nanti kita ketemu lagi!"


Edy berjalan keluar dan mengunci pintu tersebut dengan rapat. Di dalam ruangan, Chandana menatap nanar ke arah pintu besi yang baru saja tertutup di hadapannya itu. Sekali lagi, sekali lagi mimpi buruk kembali datang ke dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2