Chandana

Chandana
Edy (2)


__ADS_3

Pada dasarnya, tidak ada satupun manusia yang terlahir buruk. Semuanya lahir dalam keadaan suci dan baik. Tidak ada seorang bayi pun yang datang ke dunia ini dengan membawa dendam dan kebencian di hatinya. Namun, manusia mulai mengalami perubahan serta kecenderungan sifat seiring dengan proses pendewasaannya. Lingkungan dan orang sekitar memiliki peranan yang sangat amat penting dalam membentuk kepribadian dan pola pikir seseorang. Itu pula yang dialami oleh Edy.


Hidup dan besar di tempat yang mengerikan menuntutnya menjadi pribadi yang kuat dan selalu waspada. Untuk melindungi dirinya sendiri, Edy harus memikirkan berbagai macam cara dan jalan. Tak terkecuali menyakiti orang lain.


Meski begitu, tak semua orang yang memiliki lingkungan dan pengalaman buruk dapat tumbuh menjadi orang jahat. Semua itu hanyalah faktor pendukung, sedangkan keputusan dan pilihan tetap ada di tangan manusia itu sendiri. Entah akan jadi apa ia kelak, dirinya sendirilah yang menentukan semuanya.


Dalam hal ini, Edy memutuskan untuk pergi ke sisi yang tidak seharusnya ia datangi. Sebagai seorang anak berusia 9 tahun, saat itu Edy berpikir tidak ada pilihan dan jalan lain yang bisa ia lalui selain berbuat jahat. Namun semua orang selalu punya pilihan. Tuhan selalu memberikan pilihan. Oleh sebab itu, surga dan neraka diciptakan karena Tuhan tidak pernah menakdirkan kebaikan dan keburukan sifat hamba-Nya. Tuhan memberi mereka pilihan untuk setiap keputusan yang ada pada hidup, dan dengan begitulah akhir dari kisah mereka ditentukan.


Awalnya Edy tidak bersungguh-sungguh dengan rencananya. Ia tidak seberani itu untuk melakukan perbuatan yang menurutnya amat sangat besar itu. Namun, setelah merasa semakin ditindas dan menderita setiap harinya, Edy mulai menyelidiki kasus susu basi yang sempat ia baca di koran beberapa waktu yang lalu itu.


Edy mencari tahu siapa, apa, dan bagaimana siswa-siswa itu bisa keracunan. Ternyata, saat itu mereka sedang melakukan karyawisata. Pihak sekolah memberikan mereka masing-masing satu buah susu kotak dan juga satu bungkus roti. Namun nahasnya, susu yang mereka minum ternyata telah kedaluwarsa. Alhasil, semua anak dan guru yang meminum susu tersebut mengalami mual, muntah, diare, dan sakit perut. Pihak sekolah menjadi satu-satunya yang disalahkan atas kasus tersebut. Mereka dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya.


Dari sana, Edy mulai menyusun rencana. Ia mengawali rencananya dengan mendekati petugas yang menangani dapur. Meski nyaris setiap hari menyantap tahu dan tempe, pihak panti sesekali memberikan mereka susu untuk sarapan atau setelah makan malam. Tentu saja susu yang diberikan kepada anak-anak bukanlah hasil dari pembelian yang dilakukan oleh pihak panti asuhan, melainkan sumbangan dari beberapa pihak dan orang-orang dermawan.


Saat berusaha mendekati pihak dapur, Edy membantu mereka mengusung, mencuci piring, dan memindahkan makanan. Di sela-sela kegiatannya itu, Edy sesekali bertanya tentang makanan-makanan yang dimasak untuknya dan anak-anak lain. Darimana makanan-makanan tersebut dibeli, kapan harus membeli, sampai berapa banyak yang harus dibeli. Edy mengumpulkan semua informasi yang ia anggap berguna untuk mematangkan rencananya.


Hingga setelah semua data berhasil ia dapatkan, Edy mulai menyusun rencana finalnya. Kiriman susu akan datang setiap hari Sabtu dan disajikan pada anak-anak pada hari Selasa atau Rabu. Edy punya waktu 3-4 hari untuk membuat susunya basi sebelum mulai dikonsumsi anak-anak.


Untuk melancarkan aksinya, Edy sengaja tidur siang agar ia bisa terjaga saat tengah malam. Ia memastikan semua orang terlelap sebelum pergi ke dapur untuk membuka tutup botol-botol susu yang ada di sana dan membiarkannya terbuka semalaman. Beruntung bagi Edy karena susu yang selama ini dikirimkan ke panti asuhannya merupakan susu murni dengan botol kaca yang tidak akan kentara meski telah dibuka tutupnya.



*cr : shopee


Selain membuka tutup botol susu tersebut tiap malam, Edy juga memunguti sayur-sayur busuk dari dalam sampah dan mendekatkannya dengan botol-botol susu yang terbuka itu. Ia berharap bakteri-bakteri yang ada di sayur busuk bisa masuk ke dalam botol susu dan mempercepat proses pembusukan.

__ADS_1


Tanpa terasa, 4 hari telah berlalu dan tiba saatnya bagi mereka untuk mengonsumsi susu tersebut. Edy sendiri tidak tahu apakah usaha yang telah ia lakukan selama berhari-hari menuai hasil yang baik atau tidak. Namun, yang pasti Edy telah berdoa dan berharap sejak pagi ini agar susu tersebut telah basi.


Petugas dapur mulai menuangkan susu di gelas-gelas kosong yang ada di meja makan. Edy hanya mengamati dari kejauhan sembari menaruh harapannya agar susu tersebut sudah dalam keadaan basi.


Usai semua makanan dihidangkan, petugas dapur memanggil semua anak-anak untuk berkumpul dan menyantap makanan mereka. Tak terkecuali Edy yang juga turut duduk bersila sembari mengamati anak-anak lain yang terlihat acuh tak acuh dan tanpa ragu sedikitpun menyantap makanan mereka dengan lahap seperti biasanya.


Edy ketar-ketir. Ia merasa deg-degan sekaligus gelisah. Bagaimana jika rencananya gagal? Bagaimana jika ada yang menyadari bahwa susu itu basi sebelum semua orang meminumnya? Bagaimana jika ia dicurigai? Bagaimana jika pada akhirnya Edy gagal menemui si Ibu Dokter dan terjebak di tempat mengerikan ini selamanya?


Begitu banyak hal yang Edy pikirkan di waktu yang relatif sangat singkat. Satu-persatu anak mulai meminum susu mereka. Beberapa di antaranya menyadari bahwa rasa susu tersebut tidak sama dengan yang biasa mereka minum, sedang sisanya masih saja meminum semuanya tanpa sedikitpun mempermasalahkan rasanya. Wajar saja anak-anak itu merasa heran dengan rasa susu mereka. Namun, mereka tidak cukup berani untuk mengeluhkan masalah makanan sebab Ibu Panti bisa saja marah dan mengatai mereka tidak bersyukur. Selain itu, Edy juga meyakini bahwa anak-anak itu tidak paham apa itu susu kedaluwarsa, mereka hanya memahami bagaimana cara menuruti perkataan Ibu Panti dan memakan semua yang disajikan untuk mereka.


Edy mulai merasa lega. Semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencananya. Tidak ada sedikitpun kendala maupun kecurigaan. Kini tinggal menunggu susu tersebut bereaksi di tubuh anak-anak sehingga mau tak mau pihak panti asuhan harus menghubungi rumah sakit. Dan tentu saja, sebelumnya Edy telah meletakkan kartu nama yang sempat diberikan padanya oleh Ibu Dokter di sebelah telepon milik Ibu Panti saat ia sedang membersihkan ruangan tersebut. Dengan begitu, Ibu Panti yang panik akan menelpon rumah sakit tempat si Ibu Dokter bekerja dan jika semuanya berjalan sesuai dengan rencananya, Edy akan dapat bertemu dengan dokter wanita yang saat itu belum ia ketahui namanya.


Tidak butuh banyak waktu untuk melihat reaksi dari susu basi yang diminum oleh anak-anak. Hanya dalam hitungan jam, beberapa anak mulai mengeluh sakit perut dan muntah. Beberapa di antaranya mengalami diare dan demam. Ibu Panti yang merasa panik pun berlari ke ruang kerjanya. Edy mengintip dari balik pintu saat mendapati Ibu Panti tengah memegang sebuah kertas kecil yang ia yakini sebagai kartu nama yang sempat ia tinggalkan di sebelah telepon.


Kurang dari 30 menit, sebuah ambulance datang ke panti asuhan dan membawa semua anak untuk pergi ke rumah sakit. Edy yang sebelumnya juga meminum susu tersebut untuk menghindari kecurigaan dari berbagai pihak pun turut dibawa ke rumah sakit bersama anak-anak lainnya.


Edy mengamati wajah kesakitan dan pucat yang terukir di wajah anak-anak lainnya. Beberapa di antara anak-anak itu adalah para perundung dan penyiksa yang biasa mengganggu Edy. Entah kenapa, rasanya senang dan bahagia melihat anak-anak itu kesakitan. Semua dendam dan kekesalan yang selama ini Edy rasakan seolah berganti dengan kesenangan yang tiada duanya. Ia bukannya tidak merasa mulas dan sakit perut seperti yang lain, hanya saja Edy enggan menyia-nyiakan pemandangan indah di sepanjang perjalanan mereka ini. Ia puas dengan hasil kerjanya. Ia puas melihat semua anak itu mengernyit dan menangis menahan sakit.


Seharusnya ibu panti minum susu itu juga, ya. Sayang sekali.


Semua benar-benar berjalan terlalu mulus dan baik bagi Edy. Ia dan anak-anak panti di antar ke rumah sakit tempat si Ibu Dokter bekerja, dan tidak lama setelah Edy menerima perawatan, dokter wanita yang sempat mengatakan bahwa ia akan mengadopsi Edy itupun mendatangi Edy dan menanyakan bagaimana keadaannya.


Edy tidak banyak berkata-kata. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya bersedia di adopsi dan enggan berlama-lama berada di panti asuhan mengerikan itu. Edy menjelaskan bagaimana anak-anak diperlakukan di panti asuhan. Ia menceritakan bagaimana mereka di perintah dan di eksploitasi layaknya pembantu. Selain itu, Edy juga mengatakan bahwa dirinya dan anak-anak diperlakukan dengan tidak adil. Meski banyak menerima bantuan dari berbagai komunitas, Ibu Panti dan Kepala Panti mengambil semua keuntungan dan menyisakan sedikit sisa untuk bisa dinikmati anak-anak.


Edy juga menambahkan bahwa mereka seringkali diberi makanan sisa ataupun makanan yang dihangatkan berkali-kali. Edy mempergunakan insiden susu basi ini untuk meyakinkan Ibu Dokter sebab ia yakin bukti dan fakta yang ada kini telah menunjukkan semuanya. Dan lagi, jika orang-orang dewasa yang bertanya, anak-anak panti pasti mau berkata jujur tanpa perlu takut disakiti oleh Ibu Panti yang kejam dan tukang siksa itu.

__ADS_1


Sesuai dengan perkiraan Edy, panti asuhan resmi dicabut izinnya dan Ibu Panti beserta beberapa pegawai yang membantunya pun di tahan atas dugaan eksploitasi anak. Sedangkan para penghuni panti lainnya di adopsi oleh keluarga lain atau dipindahkan ke penampungan anak. Tidak sedikit pula yang dikirim ke panti asuhan lain.


Edy yang berhasil mewujudkan semua rencananya pun kembali mendapatkan keburuntungan lantaran Ibu Dokter membawa Edy untuk tinggal bersamanya beserta suami dan anak perempuan yang sempat Edy lihat beberapa waktu lalu itu.


Edy sangat senang dan bahagia. Ia diperlakukan layaknya anak kandung di rumah itu. Terlebih oleh suami Ibu Dokter. Pria dewasa itu sangat perhatian dan penyayang. Saat Ibu Dokter pergi bekerja, ia menjaga dan mengawasi Edy serta putrinya. Ia bahkan memasak makanan untuk Edy.


Laki-laki itu benar-benar menjadi teladan dan panutan bagi Edy yang saat itu masih anak-anak. Meski Suami Ibu Dokter memiliki sedikit keanehan karena sering menggerak-gerakkan kaki, tangan, atau berkedip secara berulang-ulang, Edy tidak terlalu ambil pusing dengan itu.


Melihat bagaimana ia sangat menyayangi dan menjaga keluarganya membuat Edy sangat kagum dan senang. Terlebih dengan si Ibu Dokter itu sendiri. Edy yang tidak pernah merasakan hangat dan indahnya kasih sayang seorang ibu pun mulai mendapatkannya dari ibu angkatnya itu.


Namun, semua kebahagiaan Edy tidak berlangsung lama. Sebuah tragedi mengerikan memporak-porandakan kebahagiaan singkat yang baru saja ia rasakan selama hitungan minggu itu.


---


Edy membuka matanya. Ingatan tentang masa lalu memang selalu membuatnya terlena dan lupa waktu. Bagaimana tidak, semua yang terjadi di masa lalulah yang membuat Edy menjadi dirinya yang sekarang ini.


Dengan satu tarikan napas panjang, Edy bangkit dari kursi bambu yang sedari tadi menjadi tempatnya duduk dan bersandar. Kini dirinya tidak punya waktu untuk merenung dan mengenang masa lalu. Usai mendengar bahwa salah satu bidaknya gagal dan tertangkap, tinggal menunggu waktu sampai bidaknya itu menyebutkan namanya.


Sejujurnya Edy sudah memperkirakan hal seperti ini pasti akan terjadi. Namun, ia tidak menyangka bahwa semuanya akan terjadi secepat ini. Edy belum mempersiapkan apapun untuk menghadapi pihak berwajib. Ia juga masih belum mematangkan rencananya jika ia benar-benar harus hidup dalam pelarian nantinya.


Memang benar, mempekerjakan orang yang dekat dengan musuh bisa menjadi kekuatan namun juga dapat memberinya kerugian. Edy yang menyuruh seseorang untuk memata-matai orang yang ada di sekitar Kiran pun mendapati fakta bahwa kakak laki-laki Naya adalah orang yang bermasalah. Bahkan, ia sempat dihajat oleh beberapa orang karena hutang yang membelitnya. Melihat kesempatan itu, Edy berniat memanfaatkan laki-laki tersebut. Ia membayar hutang yang dimiliki oleh kakak Naya dan memintanya untuk memata-matai semua gerak-gerik adiknya sebagai ganti dari apa yang sudah Edy lakukan buatnya.


Hal itu terbukti efektif karena dengan mempekerjakan kakak Naya, ia bisa mengetahui apapun yang dilakukan Kiran dan Roka. Ia mengetahui bagaimana rencana dan siasat mereka serta fakta bahwa ketiganya mulai menyadari bahwa mereka tengah diikuti. Melalui kakak Naya, Edy juga mengetahui hal-hal krusial yang tidak bisa ia jangkau saat mempekerjakan mata-mata yang berasal dari luar.


Kini saat orang terdekat Naya itu ketahuan, Edy yakin laki-laki itu tidak akan segan-segan membeberkan identitasnya. Meskipun Edy tidak pernah benar-benar menunjukkan wajah dan namanya, bukan tidak mungkin kakak Naya menyadari siapa identitas Edy sebenarnya.

__ADS_1


Saat itu, Edy masih belum terlalu panik sebab dirinya yakin kakak Naya belum sepenuhnya tahu siapa dirinya. Namun, ia tidak tahu bahwa keteledorannya membuat identitasnya telah diketahui.


Siang itu, saat menugaskan kakak Naya untuk menyuntikkan racun ke cairan infus Kiran, ia memang mengenakan masker, topi, dan jaket untuk menghindari tereksposnya identitas diri. Namun, ketika ia berbalik pergi usai memberikan perintahnya, tas kecil yang ia kenakan berada dalam posisi sedikit terbuka. Tanpa sadar, ban kapten yang ia letakkan di dalam sana terlihat oleh kakak Naya. Dan hal terburuk dari itu ialah, Edy tidak sadar sama sekali bahwa dirinya telah ketahuan. Bahwa Kiran dan orang-orang yang menyayanginya tidak akan tinggal diam.


__ADS_2