
"Menurut gue itu pemahaman yang salah. Kalau semua orang begitu, nggak akan ada orang baik yang tersisa di dunia ini. Makanya ada yang namanya batasan. Dalam setiap perbuatan baik lo harus tetap menekankan batasan pada setiap orang yang lo bantu, supaya mereka nggak GR dan ngerasa spesial. Jangan pernah ngerasa nggak enak untuk menekankan niatan lo yang cuma sekedar nolong dan bukannya lagi flirting. Orang kadang kalo nggak dikasih tahu dari awal suka halu. Jangan cuma tegas sama diri sendiri, lo juga harus tegas ke orang lain," Ratih menatap Kiran dengan tajam. Ia seolah memperuntukkan semua kalimatnya pada Kiran, menghujamnya dengan fakta.
"Gue tahu kok lo bukannya lagi ngomongin Si Kelinci tapi lagi ngomongin diri sendiri. Ya kan?" Ratih menakkkan sebelah alisnya, Kiran hanya tersenyum kikuk sembari mengangguk malu.
"Lain kali, jangan pernah menyimpulkan sesuatu sendiri. Lo butuh pendapat orang lain, pendapat orang terdekat lo buat nambah bahan pertimbangan. Ngambil keputusan bukan cuma tentang salah dan benar, tapi dampak jangka pangjang yang akan ditimbulkan. Sebelum yakin sama suatu hal, lo pikirin juga kedepannya bakal gimana," Ratih menutup buku dongeng yang belum tuntas ia baca itu lantas meletakkannya di meja yang terletak di sebelah ranjang Kiran.
"Lo thoughtful juga ya orangnya. Gue nggak pernah bisa ngobrol dua arah senyaman ini sama orang karena nggak banyak orang yang satu frekuensi sama gue. Gue seneng kita temenan," Kiran mengacungkan jempolnya. Ia salut pada dirinya serta Ratih yang mampu berteman dan berbincang semacam ini usai segala kerumitan yang terjadi di antara mereka.
"Gue juga seneng kita bisa temenan," Ratih turut mengacungkan jempolnya, "Udah mau malem nih. Gue balik duluan ya," Ratih meraih tasnya, waktu berlalu dengan cepat hingga ia tidak menyadari hari sudah hampir gelap.
Kiran mengangguk, "Dateng lagi ya. Dongengnya belum abis," lanjut Kiran.
"Gue bakal dateng tiap hari."
Ratih berjalan meninggalkan Kiran tanpa menunggu jawaban dari laki-laki tersebut. Ia sadar betul bahwa Kiran pasti merasa kesepian selama di rumah sakit, terlihat jelas dari bagaimana ia berusaha membuat Ratih datang hanya agar ia memiliki teman.
Ratih juga sadar jika kini Kiran pasti sepenuhnya menganggap dirinya sebagai seorang teman, seorang sahabat yang bisa diajaknya bercerita dan bertukar pikiran. Sebab jika tidak, Kiran tidak akan memintanya untuk datang. Satu-satunya alasan Kiran mau berteman dengan Ratih ialah karena gadis tersebut kini nampak tidak tertarik lagi pada Kiran sebagai laki-laki. Ia tidak lagi memandang Kiran sebagai pria yang ia sukai melainkan teman yang ingin ia bantu hingga sembuh. Begitulah Kiran menganggap, dan begitu pula Ratih yang meyakinkan dirinya. Kini mereka adalah teman, tidak kurang dan tidak lebih.
Dengan segenap perasaannya yang tersisa untuk Kiran, Ratih akan berusaha sebisanya. Berusaha menjadi pendengar dan pendongeng yang akan menemani Kiran dalam masa terburuknya hingga nanti ketika laki-laki itu telah sembuh, Ratih akan pergi dan menanggalkan semua rasa sukanya yang masih tersisa.
Pada hari-hari berikutnya, Ratih memenuhi janjinya pada Kiran. Ia datang setiap pulang sekolah dan membacakan buku-buku dongeng untuk Kiran. Ia memilih cerita-cerita yang memiliki makna filososfis sehingga mereka dapat membahas makna tersirat yang ada di dalamnya. Mendiskusikan isi pikiran masing-masing untuk mendapatkan satu jawaban yang paling mungkin meski sifatnya tidak mutlak.
Di saat yang bersamaan, luka-luka Kiran mulai mengering. Karena mood dan kondisi mentalnya yang baik, progres pemulihan Kiran meningkat dengan pesat. Ia juga tidak lagi malas makan karena Ratih terus memaksanya untuk menelan buah-buahan dan makanan dari rumah sakit. Sifat Ratih yang terus terang dan tegas membuat Kiran menurut tanpa sadar. Hubungan pertemanan mereka terjalin dengan baik dan kuat lantaran seringnya mereka berbagi kisah satu sama lain. Baik Kiran maupun Ratih tidak merencanakan atau menyengaja perkembangan ini, mereka hanya merasa nyaman satu sama lain sebagai teman dan pendengar untuk kisah masing-masing secara alamiah. Semua terjadi begitu saja. Seolah waktu yang menggiring keduanya untuk menjadi dekat dan saling memahami.
Liliana yang semula terus dirundung rasa khawatir dengan kesehatan putranya pun turut merasakan angin segar karena perkembangan kesehatan Kiran yang menunjukkan sinyal positif. Kini wanita paruh baya tersebut tidak lagi mereasa stress dan lebih tenang saat beristirahat. Sejauh yang ia lihat, Ratih berhasil membawa pengaruh positif bagi Kiran meski keduanya bersikeras hubungan mereka hanya sebatas teman.
Namun, sebagai orang dewasa, Liliana menyadari sesuatu dari kedua mata Ratih, maniknya itu menyorotkan sinar tak biasa tiap kali memandang Kiran. Sorot mata gadis tersebut bukanlah sorot yang akan ditujukan pada seorang teman. Namun, di sisi lain Liliana juga menyadari bahwa Ratih berusaha keras menyembunyikan hal itu, berusaha keras menyangkal perasaannya sendiri. Sementara Kiran, putranya itu hanya memandang Ratih sebagai teman, sebagai seorang sahabat sebab tak ada cinta di matanya, melainkan rasa nyaman. Liliana tidak mempermasalahkan siapa yang disukai putranya selama Kiran merasa bahagia. Tapi jika boleh meminta, ia akan dengan senang hati jika suatu hari nanti gadis cantik nan baik hati yang setiap sore meluangkan waktunya untuk menjenguk Kiran itu akan menjadi bagian dari keluarga mereka.
Semua berjalan dengan baik. Kondisi Kiran, kondisi keluarganya, begitu juga kondisi Ratih. Namun, dari sekian banyak hal yang selama ini mereka perbincangkan, Ratih merasa heran karena Kiran tidak pernah sama sekali menyinggung soal Chandana. Ratih juga tidak pernah mendapati Chandana menjenguk Kiran ke rumah sakit hingga ia mulai bertanya-tanya ada apa di antara mereka. Bukan hanya penasaran yang Ratih rasakan, melainkan rasa kasihan. Saat ini Kiran membutuhkan dukungan dan kehadiran seseorang yang ia cintai. Dan orang itu adalah Chandana.
__ADS_1
Sejauh ini Ratih berhasil menahan rasa penasarannya dengan baik hingga pada hari Jum'at sore, ketika mereka sedang asyik bercanda dan bercerita tentang kejadian masa kecil, Ratih tiba-tiba bertanya, "Ceritain ke gue tentang cinta pertama lo."
Dalam hal ini Ratih berusaha hati-hati dan tidak terlalu frontal. Ia tidak ingin membuat Kiran merasa tidak nyaman dan berpikir dirinya bertanya karena ingin menyelidiki masalah hubungan Kiran. Pada nyatanya, Ratih ingin memastikan alasan yang membuat Chandana tidak pernah datang. Jika Ratih bisa membantu, ia akan membantu mempertemukan mereka karena ia tahu Chandana adalah orang yang dibutuhkan Kiran saat ini.
Mendengar pertanyaan Ratih membuat senyum Kiran memudar. Meski Kiran mempercayai Ratih, ia merasa ragu apakah menceritakan persoalan cintanya pada orang yang mengaku masih menyukainya sekitar satu atau dua bulan yang lalu adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Kiran takut mendengar ia membicarakan gadis lain justru akan membuat dirinya dan Ratih merasa canggung.
Menyadari kekhawatiran Kiran, Ratih berkata, "Kalo lo nggak mau cerita nggak masalah. Gue cuma ngerasa aneh aja, kenapa dia nggak datang saat lo lagi butuh dia. Kalau gue bisa bantu sesuatu, gue akan bantu. Kalau lo butuh di dengar, gue akan dengar."
Kiran menghembuskan napas pelan. Ngomong-ngomong, kini Kiran telah bisa menyandarkan punggungnya di headboard atau sandaran ranjang. Ia telah bisa menekuk perutnya karena beberapa jahitan sudah mengering meski ia tetap tidak boleh terlalu banyak bergerak.
"Gue nggak pernah merasakan perasaan suka atau ketertarikan sama perempuan manapun sejak SD, sejak kejadian buruk yang gue bicarain. Tapi suatu hari, gue ngerasa ada dorongan dalam diri gue ketika pertama kali lihat namanya. Ketika pertama kali lihat wajahnya. Sejak saat itu semua tentang dia rasanya sangat menarik, sangat mengundang untuk diperhatikan dan dipikirkan. Tiap kali sama-sama dia gue ngerasa bahagia. Bahagia yang bukan sekedar bahagia, lebih kayak sesuatu yang ngebuat gue ngerasa lega dan ada rasa senang yang meluap-luap tiap kali gue lihat dia senyum apalagi ketawa. Gue pengen selalu deket dia dan memastikan dia baik-baik aja. Dia semacam pusat untuk semua kebahagiaan yang gue rasakan. Mungkin ini berlebihan, tapi semua hal yang gue rasain ke dia adalah pertama kalinya. Dan tanpa ragu gue mendefinisikan perasaan gue ini sebagai perasaan cinta," Kiran bercerita dengan senyum merekah, ia mendeskripsikan perasaannya dengan ekspresi dan gerak tangan, berharap Ratih dapat memahami penjelasannya.
"Gue berusaha mendekati dia karena gue lagi jatuh cinta. Bukan karena gue pengen mencuri hatinya."
"Baru aja sebentar kebersamaan gue sama dia, kita harus menelan kenyataan pahit yang nggak pernah gue bayangin selama ini," Kiran memandang Ratih dengan sorot mata yang mulai berubah. Raut wajah bahagia berganti dengan ekspresi sedih dan terluka.
Usai mendengar keseluruhan cerita, Ratih termenung dalam diam. Sebagai seorang pendengar, ia harus berusaha netral dan memahami berdasarkan kedua sisi. Sejujurnya, Ratih merasa kagum karena Kiran bahkan tidak sedikitpun menyorotkan rasa benci dan kesal pada Chandana meski gadis tersebut telah menutupi fakta yang seharusnya ia katakan sejak lama. Kiran justru terlihat patah dan putus asa, seolah tengah berjuang melawan logika sebab nuraninya mengambil alih. Kiran ingin bertemu Chandana, ia membutuhkan Chandana.
Usai berhasil menyimpulkan situasi yang ada ke dalam versinya, Ratih bertanya, "Lo mau ketemu dia? Gue rasa ada banyak hal yang masih harus kalian bicarakan. Gue ngerasa kisah ini belum sepenuhnya selesai. Dia masih berhak menjelaskan dan lo masih punya kewajiban untuk mendengarkan. Lo juga bilang dia nggak pernah cerita apa-apa sama lo. Untuk itu mulai sekarang lo harus lebih banyak mendengar dari dia," Ratih meyodorkan apel yang baru selesai ia kupas kulitnya kepada Kiran.
Kiran meraih apel tersebut, "Makasih," lantas menggigit salah satu bagian apel, "Gue mau ketemu dia. Gue ingin. Tapi apa dia mau ketemu sama gue? Terlebih di kondisi gue yang mengerikan ini. Bahkan gue masih heran kenapa lo mau-maunya kesini tiap hari dan meluangkan waktu lo buat ngobrol sama gue. Sampai saat ini pun gue masih nggak bisa paham. Gue nggak bisa memahami Chandana sama sekali."
Ratih menghela napas, "Itu sebabnya lo perlu mendengar dia bicara."
Kiran mengangguk, "Gue juga mau tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Apa aja yang dia sembunyiin dari gue. Tapi sekali lagi, hanya kalau dia mau cerita dan menemui gue di sini."
Ratih memandang Kiran dengan sorot mata kasihan. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu untuk membantu dua sejoli ini membereskan persoalan hati mereka. Ya, ia harus membantu keduanya.
---
__ADS_1
Udara yang sejuk mengiringi perjalanan beberapa siswa menuju ke sekolah. Hari Sabtu memang menjadi hari yang indah untuk dilalui sebab hanya pada hari tersebut siswa-siswi bisa bersantai karena jam belajar mengajar hanya berlangsung setengah hari.
Tidak banyak hal yang dilakukan Ratih selama berada di kelas. Ia masih menjadi primadona sekolah namun kini bedanya, ia tak lagi bergaul dengan beberapa teman sekelas yang dulu mengaku sahabatnya. Kini Ratih memilih duduk di pojok dengan seorang gadis pendiam yang tidak banyak bersosialisasi dengan yang lain sejak tahun pertama sekolah. Ratih merasa lebih nyaman berada di situ dibanding bersama dengan teman-teman palsu yang hanya baik saat ada maunya.
Usai mendengar cerita Kiran kemarin sore, Ratih meneguhkan hati untuk mencoba berbicara pada Chandana. Meski Naya telah mengatakan bahwa Chandana kini benar-benar berubah dan membatasi diru bahkan dengan Naya sekalipun, Ratih tidak gentar. Ia harus meluruskan masalah Kiran dan Chandana sesegera mungkin karena hanya dengan itulah ia bisa benar-benar yakin untuk melepaskan Kiran. Ia harus memastikan Kiran bisa bersama dengan orang yang dicintainya.
Sesaat setelah bel istirahat berbunyi, Ratih bergegas menuju kelas Naya. Ia berencana menemui Chandana di kelas karena gadis itu memang jarang keluar dari sarangnya, terlebih akhir-akhir ini.
Ratih masih berada dalam perjalanan saat Naya menelponnya. Dengan heran, ia mengangkat panggilan tersebut dengan masih melanjutkan perjalanan.
"Halo? Ada apaa?"
"Jadi ke kelas?"
"Iyaa. Ini gue lagi jalan. Tapi kayaknya belok kantin bentar mau beli es. Gue lupa bawa minum."
"Mending nggak usah ke kelas deh."
Ratih menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa? Dia nggak mau ketemu gue? Atau dia keluar dari kelas?"
"Bukaan. Dia malah nggak tau kalo mau lo temuin. Masalahnya dia hari ini nggak masuk sekolah."
"Hah?"
"Iya, dia nggak masuk sekolah. Kurang tau juga kenapa. Nggak ada keterangan sama sekali."
"Yaelah. Iya deh kalau gitu lain kali aja gue ketemu dianya," Ratih menutup panggilan tersebut dengan sedikit rasa kecewa.
Ini artinya Kiran harus kembali menunggu. Sabar ya. Tapi gue pasti usahain supaya lo ketemu sama Chandana dan beresin semua masalah kalian. Gue janji.
__ADS_1