
*A few weeks before Ratih point of view*
"Udah bener semua kan proposalnya? Pengajuan dana, jadwal kegiatan sama peserta semua udah bener kan?" Rendi mengacungkan proposal yang hendak ia ajukan ke pihak sekolah terkait dengan turnamen basket yang akan segera digelar beberapa minggu yang akan datang.
Amel dan Naya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Rendi yang terlihat grogi dan khawatir. Bagaimana tidak, Rendi telah dikenal memiliki reputasi buruk oleh pihak sekolah sehingga apapun dan bagaimanapun perbuatannya selalu dipandang negatif oleh orang lain. Tiap kali ia mengajukan proposal, mengumpulkan tugas, atau bahkan sekedar menjawab pertanyaan dari guru pengajar, semua orang selalu bersikap seolah ia tidak akan melakukan hal-hal tersebut dengan baik, selalu berusaha mencari-cari kesalahan yang mungkin dilakukan Rendi karena mereka yakin semua yang dilakukan laki-laki tersebut pasti tidak akan pernah lepas dari hal-hal negatif.
Usai mendapatkan keyakinan dari Naya dan Amel, Rendi pergi ke ruang kepala sekolah dengan ditemani oleh beberapa rekannya. Sepanjang perjalanan, dadanya berdebar memikirkan akankah proposal mereka diterima atau justru sebaliknya.
"Tenang aja, awalnya aja mereka sinisin elo, tapi pasti bakal diterima kok proposalnya," salah seorang rekan Rendi mencoba menenangkan laki-laki yang kini terlihat pucat lantaran grogi tersebut.
"Diem lo, bacot banget!" Rendi menyalak, alih-alih berterima kasih atas ucapan temannya, ia justru berang lantaran tak dapat mencerna kalimat apapun di saat-saat seperti ini.
Di sepanjang perjalanan yang mereka tempuh untuk menuju ke ruang kepala sekolah, Rendi terus berkeringat. Beberapa kali ia mengusap dahi dan lehernya yang basah oleh keringat dingin. Sudah setengah tahun lebih ia menjadi kapten tim basket. Namun, ini adalah kali pertamanya menyerahkan proposal besar pada pihak sekolah. Proposal yang akan menjadi gerbang pertama untuk melaju ke turnamen yang akan menentukan masa depan dan kredibilitas timnya di kancah provinsi.
Usai menempuh jarak yang lumayan jauh dari ruang basket, akhirnya mereka berhasil tiba di depan ruang kepala sekolah. Rasa gugup dan debaran jantung Rendi semakin tak karuan membayangkan dirinya harus berhadapan langsung dengan kepala sekolah yang pernah memberhentikan ekstranya selama hampir satu bulan karena ia dan rekan-rekan pernah mengeroyok Kiran dan Roka.
Saat itu Rendi datang sebagai seorang siswa bermasalah yang mengamuk dan menyalak di depan kepala sekolah atas keputusannya. Namun, kini ia harus datang sebagai anjing kecil yang meminta makan pada majikan. Ia datang dengan membawa mandat serta harapan dari teman-temannya di dalam tim basket, ia datang bukan untuk dirinya saja melainkan untuk seluruh anggota timnya.
Rendi menarik napas kemudian menghembuskannya pelan. Ia mengatakan pada dua rekannya untuk menunggu di luar sementara ia masuk ke dalam dan menyerahkan proposal tersebut kepada Kepala Sekolah SMA Tunas Kelapa
"Lo yakin?" salah seorang teman Rendi bertanya. Ia khawatir Rendi akan lepas kendali seperti biasa dan mengamuk di hadapan kepala sekolah.
Rendi mengangguk mantap, "Gue yakin! Tenang aja! Gue ini kapten lo semua. Gak usah ikut campur, gue bisa!"
Dengan wajah ragu, kedua rekan Rendi mengangguk mengiyakan. Meski khawatir, mereka tidak punya pilihan lain selain membiarkan Rendi masuk dan menyerahkan sendiri proposal tersebut.
*kriieet*
"Se- Selamat pagi Pak!" Rendi tersenyum kikuk saat kedua matanya langsung bertemu dengan mata wakil kepala sekolah sesaat setelah ia membuka pintu.
"Kamu? Ada apa?" seolah heran dengan kedatangan Rendi, wakil kepala sekolah menunjukkan ekspresi tak biasa. Ekspresi yang menyiratkan rasa tidak suka.
Rendi sadar benar akan hal tersebut. Bukan hanya wakil kepala sekolah, semua orang juga memandangnya dengan tatapan itu tiap kali mereka berjumpa dengan Rendi. Meski awalnya tidak mengerti mengapa orang-orang membencinya, kini semua seolah telah menjadi hal yang biasa bagi Rendi. Ia tak peduli lagi pada tatapan orang-orang bodoh itu, tidak peduli lagi pada pandangan konyol yang diterimanya. Meski begitu, terkadang ia tetap menyalak bahkan menghajar orang jika suasana hatinya sedang buruk.
__ADS_1
Puas memandangi ekspresi menyebalkan yang disuguhkan wakil kepala sekolah, Rendi menarik kursi kemudian duduk tepat di hadapan wakil kepala sekolah dengan meja sebagai pembatas di antara mereka. Umumnya, proposal seperti ini harus diajukan kepala wakil kepala sekolah terlebih dahulu sebelum diberikan pada kepala sekolah untuk mendapatkan persetujuan dan tanda tangan.
"Apa ini?" wakil kepala sekolah menaikkan sebelah alisnya saat melihat Rendi menyodorkan klipingan kertas bersampul mika bening dan kertas buffalo warna biru padanya.
"Itu proposal turnamen basket, Bu. Saya dan teman-teman mengajukan proposal untuk mengikuti turnamen provinsi yang diadakan beberapa Minggu ke depan," Rendi berusaha keras merendahkan suaranya, menyopankan diri dan tata bicaranya. Ia sadar, sedikit saja kesalahan, maka seluruh anggota tim akan menanggung akibatnya.
Seolah tidak memedulikan ucapan Rendi, wakil kepala sekolah nampak sibuk membolak-balik proposal yang disodorkan laki-laki itu padanya. Rendi sadar perempuan gemuk di hadapannya ini tengah berusaha mencari-cari celah atau kesalahan dari proposal mereka. Namun, ia dan rekan-rekan yang lain telah meninjau dan merevisi proposal tersebut puluhan kali sebelum benar-benar mengirimnya kemari. Oleh sebab itu Rendi merasa cukup percaya diri bahwa usaha perempuan gemuk itu untuk menjatuhkannya tidak akan berhasil.
"Waktunya berdekatan sama turnamen futsal ya?" ujar Ibu Wakil Kepala Sekolah dengan intonasi yang terdengar cukup menjengkelkan.
Rendi mengangguk ragu. Kenapa juga ini orang bawa-bawa futsal?
"Dana yang kamu minta cukup besar. Panitia dan officialnya saya rasa terlalu banyak," wanita tersebut membolak-balik proposal di tangannya dengan ekspresi yang kian lama kian memuakkan bagi Rendi.
"Terlalu banyak bagaimana, Bu? Officialnya hanya lima orang! Tim yang ikut lomba ada empat tim! Gimana ceritanya lima orang dibilang terlalu banyak? Masalah dana, itu normal kok Bu, untuk ukuran perlombaan. Kami juga memotong dananya lebih dari sepuluh persen kalau dibandingkan sama tahun kemarin. Apalagi masalahnya?" Rendi mulai terdengar emosi. Terlihat jelas dari nada bicaranya yang mulai meninggi.
"Kan saya sudah bilang, waktunya berdekatan sama tim futsal. Ada baiknya kamu potong beberapa dana-dana ini. Seperti konsumsi atau jersey ini. Kan bisa makan sebungkus berdua dan pakai jersey tahun lalu! Atau kalau tidak bisa beli makan sendiri. Kalian kan anak-anak orang kaya!" tak mau kalah, wakil kepala sekolah pun turut meninggikan suaranya.
"Kami lomba dengan membawa nama sekolah, Bu. Kami representasi sekolah kami. Terserah ibu kalau sekolah lain dan penonton melihat kami memakai jersey butut dan makan nasi satu bungkus untuk berdua. Bukan kami juga yang akan dicela," Rendi menaikkan sebelah alisnya. Entah darimana datangnya perkataan tersebut, kini ia tengah mencoba membalik posisi mereka.
Wakil kepala sekolah terlihat berang usai mendengar perkataan Rendi. Merasa tak punya pilihan lain lagi, ia berkata, "Baik. Saya bawa dulu proposalnya lalu akan saya berikan kepada kepala sekolah untuk ditinjau lagi."
Rendi tersenyum simpul lantas berdiri dari kursi dengan berkata, "Terima kasih."
Maksudnya, Rendi tidak benar-benar berterima kasih pada perempuan tersebut. Ia hanya sedang mengejek wakil kepala sekolah karena wanita itu tak punya pilihan selain menerima proposal yang Rendi ajukan padanya. Rendi tahu sekolah ini sangat memedulikan reputasi melebihi apapun juga, kepala sekolah tidak akan membiarkan tim basket mempermalukan mereka di hadapan sekolah lain sehingga mau tak mau mereka harus menyanggupi permintaan tertulis yang ada di dalam proposal.
Dengan perasaan lega dan riang, Rendi berjalan keluar dari ruang kepala sekolah. Dua teman yang sebelumnya menunggu Rendi di depan pintu nampak terkejut dengan ekspresi Rendi yang terlihat senang dan sumringah.
"Boleh?" tanya salah seorang rekannya. Meski ragu, ia ingin memastikan apa gerangan yang membuat Rendi nampak begitu bersemangat.
"Tunggu aja," ujar Rendi, sengaja membuat rekannya bertanya-tanya.
"Halah sok misterius lo!"
__ADS_1
"Bacot lo! Ayok makan. Gue mendadak lapar abis liat ikan kembung di dalem!" Rendi menggamit bahu salah seorang rekannya lantas berjalan dengan rusuh menuju kantin.
Ketiganya berjalan beriringan melewati lorong-lorong dan koridor sekolah dengan saling bertukar candaan. Beberapa siswa yang melihat ketiganya terlihat refleks menepi dari jalan atau bahkan menunduk takut karena Rendi selalu bertindak kejam pada siapapun yang berani mengganggunya. Bahkan untuk sekedar melihat orang lain berjalan di depannya terkadang mampu membuat Rendi merasa marah jika suasana hatinya sedang buruk.
Usai bercanda-canda di sepanjang perjalanan menuju kantin, Rendi mendaratkan pantatnya di atas sebuah kursi memanjang yang ada di salah satu sudut kantin. Ia meraih sebungkus krupuk kemudian memakannya dengan masih tertawa bersama kedua temannya yang lain.
"Gue bakso sama es jeruk. Lo berdua pesen aja juga, gue yang bayar," Rendi menatap kedua temannya bergantian.
"Sippp!" seru salah seorang rekan Rendi dengan semangat. Keduanya berhambur menuju kedai makanan sementara Rendi menunggu di tempatnya sembari menghabiskan krupuk.
Meski memiliki masalah dengan pengendalian emosi, Rendi adalah orang yang tergolong dermawan bagi teman-temannya. Memang bukan rahasia lagi jika Rendi adalah anak orang kaya. Terlebih jika melihat bagaimana penampilan dan gaya hidupnya. Semua yang ada pada Rendi dari kaki hingga ujung kepala adalah barang-barang mahal. Ia juga kerap mentraktir orang-orang jika suasana hatinya sedang baik. Setidaknya, bagi orang-orang yang melihat dan menyaksikan bagaimana Rendi hidup selama ini, mereka bersyukur sebab masih ada satu hal baik yang dimiliki laki-laki tersebut.
Suasana kantin siang itu cukup ramai. Seperti biasa, siswa dan siswi terlihat menjejali setiap kedai yang ada dengan berdesak-desakan. Suara gaduh yang terdengar layaknya dengungan lebah memenuhi seisi kantin. Beberapa gadis terlihat mengumpat kesal karena antriannya diserobot sementara beberapa lain terlihat sumringah sembari mengobrol dan bercengkrama dengan teman dekat masing-masing.
Rendi mengedarkan pandangan dengan acuh tak acuh sampai kedua matanya menangkap sosok Ratih tengah duduk bersama dengan beberapa gadis lain yang memang Rendi kenal sebagai teman-teman Ratih. Gadis itu terlihat amat cantik seperti biasanya dengan rambut sebahu serta kulit putih dan bersihnya yang terlihat bersinar jika dibandingkan dengan anak-anak lain.
Rendi tersenyum tanpa sadar saat melihat Ratih tertawa bersama teman-temannya. Gadis itu memang selalu cantik dan indah jika sedang tertawa. Sayangnya, Rendi tak pernah bisa membuat Ratih tertawa saat mereka masih bersama.
Bagi Rendi, Ratih adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padanya meski hal itu tidak berlangsung lama sebelum Tuhan kembali mengambil Ratih darinya. Namun, Rendi sadar bahwa saat-saat bersama Ratih adalah masa yang paling indah dan berharga dalam hidupnya.
Ratih adalah gadis yang sederhana dan ceria. Ia selalu positif dan menularkan hal tersebut pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini berbanding terbalik dengan Rendi yang selalu negatif dan menyebabkan kekacauan dimanapun ia berada. Ratih seolah menjadi peredan atas kekacauan dan ketidakmampuan Rendi dalam mengontrol dirinya. Ratih selalu menjadi air memadamkan Rendi tiap kali ia membakar sekitarnya. Ratih selalu menjadi samsak tiap kali Rendi gagal menghalau emosinya. Ratih selalu menjadi apapun bagi Rendi sementara bagi Ratih ia hanyalah masalah dan penderitaan.
Saat Ratih memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, Rendi merasa marah dan hancur di saat yang bersamaan. Ia tahu saat-saat itu akan segera tiba sebab semakin lama mereka bersama, semakin hilang pula tawa dan keceriaan dari wajah Ratih. Terlalu banyak masalah yang Rendi sebabkan sehingga Ratih tidak memiliki hal lain untuk dikerjakan selain membereskan masalah yang Rendi perbuat.
Tawa dan kebahagiaan yang ada pada diri Ratih mulai berkurang dan terus berkurang. Cahaya yang selalu meliputinya seolah redup karena ia sibuk menyalakan cahaya pada diri Rendi yang gelap dan kelam. Namun, Rendi tidak cukup lapang hati untuk melepaskan Ratih. Ia tidak cukup dewasa untuk menerima kepergian Ratih meski ia sadar bahwa hal terbaik yang bisa ia perbuat untuk kebahagiaan Ratih adalah membiarkannya pergi.
Rendi tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ratih akan meninggalkannya sehingga semua mendadak abu dan gelap. Rendi menolak melepaskan Ratih sementara gadis tersebut menolak untuk tetap berada di sisi Rendi. Keduanya masih tetap kukuh tanpa pernah ada yang mau mengalah. Rendi masih terus mencari-cari dan menemui Ratih bahkan setelah satu bulan sejak perpisahan mereka.
Tak lagi ingin dipusingkan dengan sikap egois Rendi, Ratih mencoba untuk mengacuhkan dan membiarkan Rendi bertindak semaunya sebab ia takkan peduli pada apapun yang dilakukan laki-laki itu.
Waktu berjalan dan Rendi tak kunjung mendapatkan Ratih kembali. Ia menderita dan semakin menderita lagi saat mendengar kabar bahwa Ratih menyatakan perasaannya pada laki-laki lain. Saat itu, amarah, sedih, dan putus asa yang selama ini dirasakan Rendi melebur menjadi satu. Ia benar-benar hancur saat menyadari bahwa takkan ada lagi kesempatan baginya untuk bersama Ratih.
Di tengah kehancuran dan rasa sakit hati yang membelenggunya bak rantai besi, seseorang datang mengulurkan bantuan. Mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja jika ia pergi dan menghabisi laki-laki yang membuat Ratih jatuh hati.
__ADS_1