Chandana

Chandana
Bagian 9


__ADS_3

Langit sore yang semula menampakkan nyala kemerahan kini mulai meredup seiring dengan tenggelamnya matahari. Dua orang remaja laki-laki yang sedang saling mengutuk nampak sibuk beradu tatapan. Siapa lagi jika bukan Kiran dan Roka. Lima menit berlalu sejak Roka menginjakkan kaki di kamar Kiran dan masih bungkam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Bagi Kiran, ia lebih baik mendengar cacian dan hinaan Roka dibandingkan melihatnya diam tanpa kata seperti ini sebab Kiran sendiri tak tahu bagaimana harus menanggapi sikap diam Roka yang jika dilihat sahabatnya itu terlihat begitu marah pada dirinya.


"Maaf. Gue bingung banget tadi harus gimana." Usai berpikir berulang kali, Kiran memutuskan untuk mengambil inisiatif dengan mengajak Roka berbicara terlebih dahulu.


Roka menghela napas pelan. "Dasar lo emang bloon banget lo dasaarrr! Bisa-bisanya kabur pas lagi pdkt, ngapain si lo brooo? Liat pocong? Dah gitu pakek acara tereak lagi sebelum lari! Malu-maluin martabat gue tau nggak lo." Usai menahan amarahnya selama beberapa waktu, Roka pun pada akhirnya menuangkan segala kekesalannya dengan berapi-api.


Kiran tersenyum kecil karena pada akhirnya Roka bersedia buka suara. "Ini susah buat gue tau nggak lo. Gue nggak pernah ngobrol sama cewek, nggak pernah ada urusan selain masalah tugas, tau-tau suruh melakukan hal-hal bertubi-tubi. Lo pikir gampang apa?"


Roka terdiam usai mendengar ucapan Kiran. Bagaimanapun sahabatnya itu ada benarnya. Segalanya mungkin memang terlalu mendadak dan tiba-tiba bagi Kiran. "Terus lo maunya gimana dong nih? Gue jadi ikutan bingung begini dah, dasar *** lo."


"Gue dari awal cuma pengen temenan doang, kenapa si lo heboh bener. Kasih gue waktu biar gue gerak sendiri. Ga cocok gue pakek cara lo yang barbar." Kiran memutuskan untuk menentukan sendiri bagaimana selanjutnya. Mengikuti alur permainan Roka membuatnya kualahan hingga banyak melakukan hal-hal konyol.


"Yeee songong lu. Barbar-barbar gini juga tokcer tau nggak lo." Roka mengelak, berusaha membela diri agar tak nampak payah. "Tapi terserah lo aja dah, tiap orang kan emang beda-beda. Emang paling bener kalo lo pake cara lo sendiri." Meski begitu, Roka tetap bersikap supportive dan berusaha memberikan dukungannya kepada Kiran.


"Gatau ah, gue mau mandi. Minggir!" Kiran mendorong Roka hingga terjengkang di atas kasur yang kemudian dibalas oleh sahabatnya itu dengan melemparkan bantal ke arah Kiran.


Saat itu, Kiran merasa lega karena pada akhirnya mereka kembali berbaikan. Namun lebih daripada apapun, hatinya masih tak tenang. Ia merasa takut kalau-kalau Chandana akan menganggap dirinya aneh usai peristiwa siang tadi, belum lagi ia tak tahu darimana harus memulai semuanya dari awal.


Beraksi pake cara gue sendiri? Hmngghhhh, emang songong lu Kiraannn. Gatau aaahh, bodo amaatt.


----


Kiran membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari kran wastafel. Ia meringis saat melihat garis samar di dahinya. Belum lama berdiri di bawah terik matahari, kulitnya sudah nampak belang. Meski biasanya belang tersebut hanya bertahan beberapa jam saja, Kiran tetap selalu membawa tabir surya agar kulitnya tidak terbakar sinar matahari secara langsung.

__ADS_1


Usai membenahi pakaian dan mengenakan kembali topinya, Kiran bergegas keluar dari kamar mandi untuk kembali mengikuti upacara bendera di lapangan. Setelah sempat mencari-cari tempat kosong untuknya berbaris, Kiran memutuskan untuk bergabung di barisan depan karena hanya barisan itulah yang masih menyisakan satu tempat kosong.


Kiran memandang lurus ke depan, dari tempatnya berdiri dapat terlihat jelas petugas pengibar bendera yang tengah sibuk mengaitkan bendera ke tali yang terpasang di tiang. Sinar matahari pagi ini cukup terik sehingga banyak siswa yang mengeluh dengan berbisik-bisik, menimbulkan kegaduhan kecil yang membuat salah seorang guru berulang kali menegur barisan paling depan. Kiran hanya diam sembari sesekali menundukkan kepala untuk menghindari sengatan sinar matahari. Tidak begitu lama setelahnya, pemimpin upacara menyerukan perintah agar seluruh peserta upacara memberi hormat pada sang merah putih. Kiran menengadah, memandang bendera yang meliuk-liuk tertiup angin. Ia kemudian mengedarkan pandangan, mengamati satu persatu orang yang ada di sekelilingnya, hingga pandangan Kiran tiba pada sosok yang berdiri di barisan sebelah kanannya. Chandana, tengah menunduk sembari sesekali mengelap keringat yang mengucur dari sisi-sisi wajahnya.


Astaga, kebetulan-kebetulan ini lama-lama bikin gila juga ya ternyata.


Kiran mengalihkan pandangannya kembali ke arah bendera. Ia merasa tangan kanannya bergetar karena grogi. Ia sama sekali tak mengerti, namun memang belakangan ia cukup sering bertemu dengan Chandana. Ia merasa bingung harus bersyukur atau justru khawatir. Meski dalam hati kecilnya ia merasakan perasaan lega di setiap pertemuan mereka, namun di sisi lain Kiran juga merasa was-was dan tidak tenang. Di dalam kepalanya terus muncul perintah agar ia bergegas melakukan sesuatu agar pertemuan mereka tidak berakhir dengan sia-sia sedangkan hatinya mengatakan tak perlu tergesa-gesa, mengamati diam-diam saja sudah lebih dari cukup. Bentrokan yang terjadi dalam dirinya ini lah yang menyebabkan Kiran kerap merasa gelisah dan tak bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Lelah melihat ke arah bendera yang tak kunjung sampai pada posisinya, Kiran melirik seorang siswa pendek yang berdiri tepat di sebelah kanannya. Siswa tersebut berdiri tepat di depan Chandana, namun tubuhnya yang lebih pendek dari gadis tersebut membuat sinar matahari secara bebas menyengat kulit putih Chandana yang kini sibuk menunduk untuk menyembunyikan wajahnya dari sengatan sinar matahari.


Kiran kembali mengalihkan pandangannya ke depan untuk menunggu lagu kebangsaan selesai dinyanyikan. "Boleh tukar posisi?" Sesaat setelah pemimpin upacara menyerukan 'SIAP GRAK!' Kiran berbisik pelan pada siswa yang berdiri di sebelahnya.


Awalnya siswa laki-laki tersebut merasa bingung, namun pada akhirnya ia mau-mau saja menuruti permintaan Kiran untuk bertukar tempat. Dan jadilah kini Kiran berdiri tepat di depan Chandana. Ia tak tahu apakah hal yang dilakukannya kali ini adalah hal yang benar, namun perasaan tak tega melihat Chandana kepanasan hingga berkeringat sebanyak itu membuat Kiran memberanikan dirinya untuk mengambil tindakan. Tanpa sadar, Kiran tersenyum tipis membayangkan ekspresi Chandana yang mungkin terkejut karena kini ia tak perlu lagi menunduk untuk menghindari sengatan sinar matahari sebab semuanya sudah terbendung oleh tubuh tinggi Kiran.


Entah kenapa, berdiri di posisinya yang baru terasa sedikit lebih panas dibanding posisi yang sebelumnya Kiran tempati. Hal ini sejalan dengan keringat yang perlahan-lahan mulai mengucur deras di sekitar dahi dan punggungnya. Pantas saja Chandana terus menunduk serta berkeringat sebanyak itu.


Usai pemimpin upacara membubarkan barisan, Kiran tak langsung pergi. Ia berdiam diri di posisinya selama beberapa waktu guna memastikan Chandana telah pergi terlebih dahulu. Setelah samar-samar mendengar suara sepatu dari orang yang berdiri di belakangnya menjauh, dengan ragu-ragu Kiran menoleh ke belakang. Dan memang benar, sudah tidak ada siapa-siapa di sana. Chandana sudah pergi.


Hal pertama yang Kiran lakukan adalah menghela napas lega. Meski tak dapat berinteraksi secara langsung seperti yang ia harapkan, setidaknya ia telah melakukan sesuatu yang benar dengan tidak terlihat bodoh seperti yang dilakukannya tempo hari. Ia merasa lega karena sedikit demi sedikit ia mulai bisa memposisikan diri dengan benar, untuk selanjutnya ia berharap bisa mengurangi rasa grogi dan gelisah yang tiba-tiba saja datang tiap kali ia melihat sosok Chandana.


Kiran hendak melangkah pergi meninggalkan lapangan upacara saat merasakan sesuatu yang lunak menusuk bahunya dari belakang. Ia melepas topi yang dipakainya kemudian menoleh untuk melihat apa atau mungkin siapa yang menyentuh bahunya. "Terimakasih." ujar seorang gadis seraya menyodorkan seplastik tisu wajah.


Kiran tahu betul siapa gadis tersebut namun ia berusaha mati-matian untuk tetap tenang dan tidak bersikap bodoh. "Iya." Kiran meraih tisu yang disodorkan gadis yang tak lain adalah Chandana tersebut.

__ADS_1


Dengan ragu, Kiran mengelap keringat yang membanjiri wajah dan lehernya. Keheningan meliputi keduanya karena sama-sama tak tahu harus berkata apa, sampai kemudian Chandana membuka suara. "Maaf karena saya belum berterimakasih secara pantas untuk waktu itu. Hari ini kamu malah membantu saya lagi. Terimakasih."


Kiran terdiam, sorot matanya tertuju pada Chandana yang menyembunyikan wajahnya di balik topi. Kiran lebih tinggi lima belas hingga dua puluh centimeter dari Chandana sehingga ia tak bisa melihat wajah gadis tersebut melainkan topi yang dikenakannya. Tanpa sadar, sudut bibir Kiran terangkat. Sesuatu yang sejuk menerpa hati dan pikirannya, tanpa tahu kenapa ia merasa senang sekaligus bahagia mendengar perkataan Chandana.


"Saya kira kamu nggak ingat." Kiran membalas dengan lirih, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar bergetar.


"Enggak. Saya nggak mungkin lupa, nggak akan lupa." Chandana semakin menunduk sehingga suaranya semakin terdengar pelan. "Saya mau kembali ke kelas. Terimakasih sekali lagi." Lanjut Chandana yang langsung berbalik kemudian melangkah menjauhi Kiran.


Melihat Chandana yang mulai menjauh menciptakan semacam dorongan yang amat besar bagi Kiran sehingga tanpa sadar ia memanggil nama gadis tersebut untuk menghentikan langkahnya. "Chandana!"


Chandana menghentikan langkahnya kemudian berbalik untuk melihat Kiran, tatapan mereka bertemu untuk kesekian kalinya. Cantik. Ujar Kiran dalam hati yang dengan segera ia tepis usai melihat Chandana mengisyaratkan kebingungan mengapa Kiran memanggil namanya. Untuk sesaat Kiran berpikir apa yang harus ia katakan selanjutnya hingga keluarlah sebuah kalimat yang tak pernah Kiran sangka akan ia katakan. "Besok pulang sekolah ada waktu?"


Chandana menatap Kiran tanpa ekspresi. Melihat rekasi yang ditunjukkan Chandana membuat Kiran mempersiapkan diri untuk menerima sebuah penolakan. "Ada. Kamu bisa menemui saya di perpustakaan." Jawab Chandana yang kemudian berjalan meninggalkan Kiran yang masih mematung karena perasaan gembira yang tak bisa dijelaskan.


Astaga. Kok seseneng ini ya?


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2