
Anak laki-laki itu muncul kembali di hadapan saya dengan kondisi fisik yang sehat dan luar biasa. Ia sudah tumbuh menjadi laki-laki remaja yang tinggi dan tampan. Entah bagaimana dan kenapa, tetapi saya tidak bisa memungkiri bahwa melihatnya kembali membuat saya sangat senang dan lega. Seolah ia adalah seseorang yang telah sejak lama saya damba. Yang sejak dulu ingin saya temui.
Saat itu saya belum mengetahui apa pun tentang anak laki-laki itu. Saya belum mengetahui nama, usia, atau apa pun tentang dia. Hingga waktu mulai kembali memainkan perannya. Waktu mengungkapkan fakta bahwa ia adalah siswa laki-laki paling digilai di sekolah. Waktu mengizinkan saya mengetahui bahwa anak laki-laki itu bernama Kiran, yang mana nama tersebut hampir selalu saya dengar di mana-mana. Yang mana hampir semua siswi di sekolah ini membicarakannya.
Saya tidak pernah tahu bahwa Kiran yang mereka maksud adalah anak laki-laki itu. Bahwa orang yang selama ini selalu dikatakan sombong dan angkuh itu adalah anak laki-laki yang saya temui beberapa tahun yang lalu.
Semua orang membicarakan Kiran seolah-olah mereka mengenal dan mengetahui semua tentangnya. Seolah-olah ia adalah manusia kejam yang beruntung karena memiliki wajah rupawan.
Tentu, saya tidak ada bedanya dengan mereka. Saya tidak mengenal Kiran dan hanya bisa menilai dirinya melalui apa yang saya dengar dan saya lihat dengan mata ini. Dan memang benar bahwa ia selalu terlihat murung. Enggan membalas sapaan gadis-gadis yang memanggil namanya dengan suara manja atau apa pun itu.
Tetapi, bagi saya dia bukannya sombong atau angkuh. Ia mungkin terlihat risih dan tidak senang, tetapi sorot matanya selalu terlihat sedih dan rapuh. Dia sedang bersedih, dan nahasnya, tak ada yang menyadari itu. Tidak ada yang memahami itu.
Sejak saat itu, saya mulai memberanikan diri untuk pergi ke perpustakaan. Saya memiliki cukup banyak buku bacaan yang mana membuat saya tidak harus pergi ke perpustakaan untuk menemukan bahan bacaan. Selama satu tahun menjadi siswi pun saya nyaris selalu menghabiskan jam istirahat dengan berdiam diri di kelas. Namun, saya mulai memberanikan diri untuk pergi ke perpustakaan hanya agar saya dapat melihat Kiran. Hanya agar saya dapat melihat wajahnya sekilas saja.
Entah sejak kapan perasaan aneh ini mulai muncul. Namun, tidak bisa saya pungkiri bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya memiliki suatu keinginan dan hasrat di hati saya. Setelah sekian lama merasa hambar dan tidak memiliki tujuan hidup yang pasti, saya mulai merasakan sebuah keinginan. Mulai merasakan detakan jantung yang seolah menandakan bahwa saya kembali hidup, bahwa jiwa saya telah kembali pada raga yang sebelumnya kosong ini.
Dan keinginan itu tidaklah muluk-muluk. Hanya sebuah keinginan sederhana untuk bisa melirik dan melihat wajah Kiran selama sepersekian detik karena dengan melihat wajah itu, saya merasa hidup kembali. Dan memang begitulah adanya sebab di hari Kiran menyelamatkan saya, secara tidak langsung dirinyalah yang membuat saya berada di sini.
Selama kurang lebih tiga atau empat bulan, saya rutin melakukan hal yang sama. Jika beruntung, saya akan dapat melihat Kiran. Terkadang dia tersenyum dan tertawa bersama yang lainnya. Namun, seringkali dia hanya berdiam diri sembari melamunkan sesuatu yang tidak saya mengerti.
Selama periode itu, sudah belasan atau bahkan puluhan orang laki-laki yang mendekati saya. Dan tidak sedikit pula perempuan yang mendatangi saya dan mengatakan bahwa sayalah alasan mereka putus hubungan dan sebagainya. Saya hanya diam dan mendengarkan. Saya bahkan tidak tahu apa yang telah saya lakukan hingga mereka membenci atau menyukai saya tanpa alasan. Karenanya, saya tidak ingin menanggapi dan memberi mereka semakin banyak alasan untuk membenci atau menyukai. Saya hanya diam, membiarkan semuanya berlalu. Seperti halnya saya membiarkan masalah yang terjadi di masa lalu.
Saat itu saya berpikir bahwa saya hanya akan melihat Kiran dari kejauhan selama sisa hidup saya. Tidak akan memiliki kesempatan untuk berdiri lebih dekat karena saya memang tidak akan pernah bisa dan pantas berada di dekat siapa pun.
Hingga suatu sore, terjadi sebuah peristiwa yang secara tidak langsung mengawali rentetan cerita panjang kami.
Hari itu adalah hari yang cukup melelahkan bagi saya. Usai perayaan ulang tahun salah seorang teman, anak-anak lupa dengan tugas piketnya dan pulang lebih awal. Meninggalkan saya sendirian bersama dengan kelas yang amat sangat kotor. Tentunya saya tidak punya pilihan selain membersihkan kelas tersebut dan berujung dengan menghabiskan belasan menit berkutat dengan sapu dan tempat sampah plastik.
Setelah memastikan kelas telah berada dalam keadaan bersih, saya bergegas pergi ke tempat parkir untuk mengambil sepeda dan pulang ke rumah. Dari kejauhan, di parkiran yang sudah dalam kondisi sepi, saya dapat melihat dengan jelas bahwa ada seorang gadis yang tengah merobohkan sepeda saya dan berusaha melindasnya dengan motor.
Jika saya tidak salah mengingat, ia adalah salah satu perempuan yang sempat mendatangi saya dan mengatakan bahwa saya telah membuat hubungannya hancur. Bahwa saya telah membuat kekasihnya yang bahkan tidak saya kenal sama sekali berpaling.
Saya memelankan langkah dan menunggu gadis tersebut pergi. Saat itu saya berpikir bahwa lebih baik membiarkan semuanya daripada memperpanjang masalah. Lagipula bukan salahnya jika kekasih yang ia cintai harus pergi dan meninggalkannya begitu saja. Mungkin dia membutuhkan pelampiasan atas kesedihan dan amarahnya.
Usai melihat dia pergi, saya kembali berjalan sebelum akhirnya tersentak ke belakang dan buru-buru bersembunyi saat melihat seorang lelaki berlari ke arah sepeda saya dan memeriksa benda tersebut.
# (Kalau lupa bisa cek interval 1- bagian 2 :D)
__ADS_1
Ia terlihat begitu khawatir dan memeriksa sepeda saya seolah-olah itu adalah sepeda miliknya. Saya tidak benar-benar mengenali laki-laki tersebut sampai saat ia membalik badannya. Jujur saja, saat itu saya begitu terkejut dan tidak bisa berkata-kata saat menyadari bahwa laki-laki itu adalah Kiran. Dia mengangkat sepeda saya dan menyandarkan sepeda tersebut ke motornya lantaran sepeda saya tidak bisa berdiri sebab pelek yang telah rusak parah.
Meski dia bahkan tidak menyadari keberadaan saya, saat itu tidak ada hal lain lagi yang bisa saya lakukan selain tersenyum lebar sembari meremas jemari saya. Jantung saya berdebar begitu cepat bahkan saat jarak puluhan meter terbentang di antara kami.
Saya masih bersembunyi dan dia masih menunggu. Saya tidak tahu apa yang ia lakukan tapi sepertinya dia tengah menunggu pemilik sepeda tersebut. Menunggu saya.
Astaga, membayangkannya saja sudah terasa seperti mimpi bagi saya. Bukankah itu yang dirasakan seorang secret admirer? Bukankah itu yang dirasakan seseorang yang hanya bisa melihat dari jauh tanpa pernah berani mendekati orang yang dianggapnya penting?
Waktu terus berlalu hingga tanpa terasa hari mulai gelap. Berkali-kali saya mencoba memberanikan diri untuk melangkah ke sana, tetapi selalu mengurungkan niatan. Saya tidak mampu berhadapan secara langsung dengan Kiran. Saya tidak bisa berada di dekatnya setelah semua perasaan dan debaran aneh yang ada di hati saya ini.
Hingga akhirnya, Kiran membawa sepeda saya dan menyandarkannya di sebuah pohon. Ia meletakkan secarik kertas dan beberapa lembar kertas lain yang terlihat seperti uang di dalam keranjang sepeda kemudian pergi dengan menggunakan motornya.
Saya yang saat itu merasa benar-benar senang atas apa yang dia lakukan pun berjalan cepat menuju sepeda dan melihat lembaran uang seratus ribuan beserta sebuah kertas putih yang tertindi sebuah batu.
Saya mengambil kertas tersebut dengan ragu, lantas membacanya di dalam hati.
Maaf sebelumnya karena sepeda kamu jadi rusak seperti ini. Saya menyelipkan sedikit uang supaya kamu bisa memperbaiki sepedanya. Selalu berhati-hati ya.
Saya tersenyum samar. Tidak pernah terbayangkan oleh saya jika Kiran akan menyurati saya seperti ini meski sebenarnya ia sendiri tidak benar-benar mengetahui siapa saya.
Saya merasa bahwa semua itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Hanya dengan mengetahui bahwa Kiran masih sama baiknya dengan saat pertama kali kami bertemu sudah membuat saya merasa begitu lega dan juga tenang. Namun, rencana Tuhan tidak hanya berhenti di sana.
Kami kembali bertemu secara langsung setelah bertahun-tahun saat saya sedang dalam keadaan terpojok dan tersudutkan oleh seorang laki-laki yang belakangan getol sekali ingin mendekati saya.
Saat itu saya merasa takut sekali melihat betapa berani dan agresifnya laki-laki bernama Rendi itu. Dia tidak pantang menyerah dan terus berusaha menjangkau saya hingga saya mulai histeris dan gemetaran. Di saat-saat yang genting itu, seorang laki-laki datang dan membela saya. Dia berusaha mengusir Rendi dan berhasil membuat laki-laki itu benar-benar pergi.
Saya masih gemetaran dan ketakutan saat dia berbalik dan menatap mata saya. Menanyakan keadaan saya dengan ekspresi khawatir dan gelisah.
Saya tidak dapat berkata-kata. Saya tidak dapat memikirkan apa pun lagi. Isi kepala saya mendadak kosong lantaran mata kami bertemu dalam jarak sedekat itu. Tubuh dan pikiran saya masih berkecamuk dan dipenuhi rasa takut sementara hati saya terasa hangat. Entah bagaimana bisa begitu, saya pun tidak tahu. Yang pasti, perasaan saya tidak dapat dideskripsikan ke dalam kata-kata. Tidak dapat disimbolkan atau diwakilkan dengan apa pun. Terlalu rumit dan tidak dapat dimengerti.
Dengan ragu, saya mengucapkan, "Terima kasih," kemudian berlari menaiki anak tangga untuk kembali ke kelas dan mengambil tas yang saya tinggalkan di sana.
Jantung saya berdebar dengan sangat cepat sementara keringat dingin dan gemetar di tubuh saya tak kunjung mereda. Tak ingin berlama-lama di kelas dengan segala perasaan yang campur aduk itu, saya berjalan keluar dan lantas menuruni anak tangga tanpa mengatakan apa-apa lagi kepada Kiran. Ia masih berdiri di sana dengan ekspresi khawatir saat saya berjalan melaluinya begitu saja.
Sesampainya di rumah, saya membanting diri di kasur sembari memejamkan mata kuat-kuat. Segala hal yang baru saja terjadi kembali terputar di benak saya bagai kaset film. Setiap detail terasa sangat jelas dan berarti bagi saya. Ekspresi, suara, dan segalanya tentang Kiran benar-benar tertancap di benak saya.
Di sisi lain, saya merasa cukup menyesal karena pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa. Saya merutuki kebodohan yang telah saya lakukan. Benar-benar bodoh. Semuanya terasa aneh dan membingungkan. Saya bahkan tidak tahu bagaimana harus bersikap. Setelah semua penderitaan mengerikan yang telah saya lalui, Kiran terlalu indah dan baik untuk dapat menjadi nyata.
__ADS_1
Hari-hari selanjutnya tidak jauh berbeda dari biasanya. Hanya saja, saya mulai membatasi diri dan tidak pergi ke perpustakaan setiap hari seperti sebelum-sebelumnya. Saya merasa takut dan belum siap jika harus bertemu lagi dengan Kiran. Saya takut tidak bisa memosisikan diri dengan baik. Saya tidak ingin Kiran mengetahui bagaimana perasaan saya untuknya. Saya tidak ingin siapa pun mengetahuinya.
Selama kurang lebih dua atau tiga hari saya tidak pergi ke perpustakaan. Dan ketika saya pergi ke perpustakaan lagi setelah beberapa hari absen, takdir kembali mengambil alih. Kiran, Roka, dan Naya berada di sana. Memanggil nama saya dan bahkan meminta saya bergabung dengan mereka.
Keajaiban macam apa lagi ini? Apa yang Tuhan rencanakan dengan semua kebetulan yang terjadi di setiap pertemuan saya dan Kiran?
Dan yang pasti sudah bisa ditebak bagaimana dan apa yang saya rasakan selama berada di sekitar mereka. Jujur saja, saya merasa asing dan tidak nyaman saat bergaul dengan mereka pada awalnya. Semua terasa terlalu tiba-tiba dan terburu-buru.
Begitu juga Kiran yang tiba-tiba saja bersikap aneh dengan menunjukkan sinyal-sinyal yang tidak saya mengerti. Roka dan Naya seolah-olah hendak mengatakan bahwa Kiran tertarik dan ingin lebih dekat dengan saya.
Tentu saya merasa senang bukan main. Saya merasa bahagia, amat sangat bahagia hingga rasanya ingin melayang saat itu juga. Namun, sekali lagi saya berusaha terlihat normal dan tidak tertarik sama sekali. Entah kenapa saya melakukannya, yang pasti saya benar-benar tidak ingin menaruh harapan dan kepercayaan kepada siapa pun lagi setelah apa yang dilakukan Edy dan ayah. Dua orang yang saya anggap pelindung dan orang terpercaya tega melakukan hal mengerikan kepada saya. Semuanya membuat saya sering berpikiran negatif dan berasumsi buruk terhadap orang lain.
Jadi, saya mencoba menahan diri. Meski mereka terlihat baik dan tulus, saya tetap harus menahan diri sampai saya benar-benar bisa mempercayai mereka. Mempercayai diri saya sendiri.
Salah satu peristiwa yang membuat saya merasa tersentuh dan semakin mengagumi Kiran adalah saat ia merelakan tubuhnya untuk menjadi tameng dan pelindung bagi saya dari sengatan matahari.
Saya benar-benar lelah dan kepanasan saat seorang laki-laki memblokade seluruh sinar mentari pagi itu dengan tubuhnya yang tinggi dan bahunya yang lebar. Saya memperhatikan punggungnya dan sesekali melihat sisi wajahnya yang dibanjiri keringat.
Saya tersentuh. Saya merasa tersanjung dan beruntung. Saya merasa tidak yakin, pantaskah saya mendapatkan semua perlakuan itu? Pantaskah saya mendapatkan semua perhatian Kiran?
Dan di sela kebimbangan dan rasa dilema itu, Kiran memanggil nama saya dengan lantang sembari mengatakan, "Besok pulang sekolah ada waktu?"
Saya terdiam sejenak. Tentu. Tentu ada. Namun, jika saya mengatakan 'ya' artinya saya menerima semua ini. Artinya saya mengizinkan kami menjadi lebih dekat dari ini. Di waktu yang singkat itu, saya memikirkan begitu banyak hal. Begitu banyak kegelisahan dan kekhawatiran. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk memberi kesempatan kepada Kiran dan diri saya sendiri. Saya memberanikan diri untuk mengizinkan semua ini berlanjut dengan mengatakan, "Ada. Kamu bisa menemui saya di perpustakaan."
Usai mengucapkan hal tersebut, pikiran dan hati saya benar-benar tidak tenang. Rasanya gelisah dan juga penasaran. Apa yang harus saya katakan atau lakukan nantinya? Apa yang harus saya perbuat nantinya?
Semua terasa begitu cepat dan asing bagi saya. Sulit sekali menerima perubahan yang amat sangat drastis seperti itu. Rasanya, baru beberapa hari yang lalu saya masih sering mencuri pandang ke arah Kiran tanpa pernah mendapatkan perhatian darinya sedikit pun. Dan kini, Kiran berusaha mendekati saya lebih dulu. Seolah-olah Kiranlah yang lebih tertarik kepada saya di saat sayalah yang sebenarnya terlebih dulu mengagumi Kiran.
Setelah semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak, hari pertemuan kami pun tiba. Saya berjalan keluar dari kelas dengan perasaan gelisah dan juga gugup. Saya tidak berhenti meremas dan memainkan jemari saya di sepanjang jalan menuju perpustakaan.
Saya masih mengingat dengan jelas bagaimana saya berdiri di sudut lorong sembari memandang ke arah Kiran yang telah menunggu di depan perpustakaan. Saya benar-benar gugup dan tidak sabar menemui Kiran saat sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel saya.
"Halo?"
"Chandana, hari ini ayah kamu keluar dari penjara."
Saat itu, pikiran saya mendadak kosong. Sosok Kiran yang sebelumnya terlihat jelas dan nyata mendadak kabur. Ketakutan dan kekhawatiran kembali menyeruak, menggilas semua rasa hangat, tenang, dan bahagia yang sebelumnya sempat saya rasa. Pada akhirnya, sedekat apa pun Kiran dengan saya, ia tetap jauh. Ia terasa begitu jauh.
__ADS_1