
Hari senin minggu pertama bulan dua belas menjadi hari pertama masuk sekolah usai berakhirnya ujian akhir semester pada hari sabtu, dua hari sebelumnya. Suasana sekolah terlihat ramai lantaran siswa dan siswi sudah tidak memiliki jam belajar di dalam kelas. Mereka terlihat asik bercanda gurau di tempat-tempat terbuka. Antara lain di depan kelas, di taman, di bangku-bangku yang ada di segala penjuru sekolah, di bawah pohon, di kantin, di saung-saung kecil yang tersebar di beberapa lokasi sekolah, serta berbagai spot nongkrong lainnya yang memang tersedia begitu banyak di SMA Tunas Kelapa, SMA terbaik di kota ini. Tujuannya tidak muluk-muluk, selain menambah kenyamanan siswa, kegiatan belajar dan mengajar juga terkadang di lakukan di luar ruangan. Tidak jarang pula siswa-siswi memboyong buku dan laptop mereka untuk mengerjakan tugas di luar ruangan atau sekedar menikmati akses internet gratis yang disediakan oleh pihak sekolah.
Sebelum diliburkan dua hari berikutnya, seluruh siswa dan siswi di wajibkan datang ke sekolah untuk melakukan persiapan lanjutan terkait kegiatan outbond yang akan digelar beberapa hari yang akan datang. Mereka ditugaskan untuk menyusun usulan kegiatan untuk diserahkan kepada pihak sekolah sebagai bahan referensi, serta rancangan kegiatan pribadi setiap tiga kelas -yang nantinya akan diundi- sebab pada hari ketiga outbond, mereka akan diberikan satu hari penuh melakukan kegiatan sendiri dengan tetap di awasi oleh pengajar yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan untuk melatih setiap siswa agar dapat merancang suatu acara dan bermusyawarah dengan anggota kelas lain yang notabene belum tentu akrab dengan mereka.
Kegiatan seperti ini terbukti mampu memperkuat persaudaraan di dalam sekolah. Puluhan angkatan sebelumnya yang kini telah berlabel alumni pun masih sangat kompak dan kerap mengadakan acara-acara gabungan lintas alumni, menunjukkan betapa erat persaudaraan mereka meski sudah belasan atau bahkan puluhan tahun berpisah.
Kiran tengah khidmat mendengar Roka bercerita saat seorang teman sekelasnya menepuk bahu Kiran dengan lembut.
"Ada apa Dhea?" Kiran menoleh, mencari tahu ada perlu apa gadis itu dengannya.
"Barusan ketua kelas disuruh kumpul buat ngambil undian gabungan kelas. Si Bagas lagi sibuk sama anak osis, lo gantiin dia kumpul di ruang BK ya?" Dhea memainkan jemarinya, ragu-ragu bertanya pada Kiran.
Semua orang tahu jika Kiran selalu dingin dan acuh tak acuh pada semua orang. Meski selalu mengerjakan tugas kelompok dengan baik dan benar, Kiran selalu enggan banyak berkomentar dan memasang wajah jengah dan tanpa ekspresi setiap kali teman-temannya berusaha menjadi akrab dengan Kiran. Semester ini Kiran memang jadi lebih banyak bicara dengan anak laki-laki dan mulai bersosialisasi dengan baik, namun nyatanya ia masih sangat menjaga jarak dengan siswi perempuan meski tidak se-dingin sebelumnya. Butuh keberanian ekstra bagi setiap teman sekelas Kiran yang perempuan untuk mengajaknya bicara lantaran sikap dingin yang kerap Kiran tunjukkan. Namun meski begitu, mereka semua tahu dan mengerti betul bahwa Kiran adalah orang yang baik, jauh berbeda dengan apa yang selama ini dibicarakan warga kelas lain. Terlebih bagi teman sekelas laki-laki Kiran dan Roka, mereka sangat saling memahami dan mengerti keadaan yang sebenarnya meski pada tahun pertama seisi kelas sempat salah menilai dua orang itu.
"Okee!" Kiran tersenyum sembari mengacungkan jempolnya, membuat Dhea mendelik heran dengan wajah merona.
"Tumben lo bisa senyum?" Dhea mencoba bersikap tenang meski sejujurnya ia tak sabar berteriak dan membicarakan ini pada teman-temannya yang kini sedang sibuk mengintip aksinya dari dalam kelas.
Sebelum Dhea memutuskan untuk mengahmpiri Kiran, ia dan teman-teman sekelasnya yang lain sempat saling tunjuk untuk pergi mendatangi Kiran. Meski sebenarnya mereka semua ingin, namun rasa malu dan takut dengan respon Kiran yang mungkin acuh tak acuh membuat mereka berpikir dua kali untuk melakukan tugas sederhana ini. Alhasil dengan segenap rasa canggung dan takut, Dhea yang merupakan sekertaris kelas pun menawarkan diri untuk berbicara pada Kiran.
Kiran tersenyum kikuk mendengar ucapan Dhea. Kalau dipikir-pikir, entah kenapa kini ia merasa lebih santai dan tenang di hadapan perempuan. Tidak panik dan buru-buru ingin menghindar seperti biasanya. "Aneh ya?"
Roka yang mengamati interaksi konyol di hadapannya ini pun tak kuasa untuk tidak ikut tersenyum. Ini kali pertamanya melihat Kiran terlihat tenang dan normal saat didekati perempuan. Biasanya ia akan langsung memasang ekspresi kaku dan tatapan malas yang akan selalu sukses melukai hati perempuan manapun yang mendekatinya.
"Aneh banget lo emang. Jangan mentang-mentang lagi jatuh cinta lo, berubah-ubah terus kaya bunglon!" Roka mendesis sembari melirik Dhea dengan gemas.
"Apaan sih. Mulut cabe lo ini emang ga pernah bener." Kiran membantah tuduhan Roka dengan tenang.
Dhea tertawa kecil melihat keduanya. Kiran memang cukup ramah pada sesama lelaki, namun ini kali pertamanya melihat Kiran tersenyum dan ramah pada perempuan. "Banyak-banyak senyum, Kiran. Lo makin ganteng pas lagi senyum."
__ADS_1
Dhea berlari cepat menuju kelas usai mengucapkan kalimatnya secara lengkap. Menyisakan Kiran yang tak kuasa menahan senyum serta Roka yang sibuk memukul lengan Kiran.
"Gila ya, si Chandana berhasil ngebawa perubahan sebesar ini loh buat lo. Tau gitu dari dulu aja gue seret dia ke kehidupan lo." Roka berdiri, merangkul bahu Kiran dengan tangan kirinya sementara tangan kananya sibuk mengacak rambut sahabatnya itu.
"Bukan cuma Chandana. Ini juga berkat lo. Berkat anak-anak. Gue gak akan pernah berani jadi diri sendiri kaya gini kalo bukan karena bantuan kalian semua yang percaya sama gue," Kiran menghela napas lega, begitu juga Roka yang menatapnya tak percaya.
Dulu hanya di hadapan Roka, Kiran selalu seperti ini. Menyenangkan dan apa adanya. Tapi bila sudah berada di sekitar orang lain terlebih perempuan, Kiran selalu memasang ekspresi kaku menjengkelkan yang Roka sendiri tidak sanggup melihatnya lama-lama. Kemudian Kiran mulai membaik dengan bersikap ramah pada teman-teman sekelas mereka, khususnya pria. Kini ia sangat-sangat membaik dengan mulai bersikap ramah pada semua orang, tidak lagi menyengajakan diri untuk terlihat sombong dan angkuh. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Roka selain melihat Kiran berhasil lepas dari trauma masa lalu yang selama ini membelenggunya.
"Ngapain ngelamun si? Ayo buruan ikut gue ke ruang BK buat ngambil undian outbond." Kiran menepuk lengan Roka yang terlihat melamun.
"Skuyyy!" Roka memekik sembari berlari kecil, disusul Kiran dibelakangnya.
Keduanya berjalan beriringan dengan sumringah. Roka melontarkan beberapa lelucon aneh yang tidak tahu kenapa membuat Kiran tertawa kecil mendengarnya. Dalam sekali gerakan Roka juga menebar pandangan, kedipan mata, dan tanda hati pada setiap siswi yang mereka temui. Semua menatap keduanya dengan senang serta heran, ini kali pertama bagi mereka melihat energi cerah menyelimuti kedua orang itu ketika berjalan bersama. Biasanya Kiran selalu menatap lurus ke depan, mengabaikan semua yang dilaluinya dengan ekspresi kaku. Kini ia berkali-kali tersenyum saat beradu lelucon dengan Roka. Tanpa sadar, orang-orang yang melihat keduanya pun ikut dibuat tersenyum.
Kiran mengetuk pelan, kemudian membuka pintu ruang BK saat menyadari belasan perwakilan kelas lain telah berkumpul di sana. Ia masuk sendirian sementara Roka menunggu di luar bersama beberapa orang teman basketnya yang kebetulan sedang nongkrong di sekitar ruangan tersebut. Seorang guru berbadan tambun menyambut Kiran dan mempersilahkannnya duduk di kursi yang telah di tata sedemikian rupa. Kiran menatap sekeliling, ini kedua kalinya ia pergi ke tempat ini setelah insiden perkelahiannya dengan Rendi.
Tepat setelah Kiran duduk di kursi yang ada, semua mata seakan tertuju padanya. Mereka semua menatapnya dengan heran, mungkin mereka bertanya-tanya kenapa bukan Bagas yang hadir. Meski banyak yang meragukan, Kiran adalah wakil ketua kelas 11 Mipa 3, ia dan Bagas menjabat sebagai pimpinan kelas sejak semester pertama dan kini mereka sudah nyaris menyebrang ke semester 4. Ia adalah pemikir yang hebat sedangkan Bagas adalah pemimpin yang bijaksana dan mampu mengarahkan anak buahnya dengan baik. Dibalik kesuksesan Mipa 3 dalam menorehkan nama pada setiap ajang perlombaan antar kelas di berbagai acara, Kiran selalu berada di belakang mereka sebagai perencana dan pemberi ide atas gagasan-gagasan tak biasa yang selalu mengejutkan kelas lain. Sisinya yang tak banyak diketahui orang lain itulah yang membuat teman-teman sekelasnya mengagumi Kiran dan mempercayainya dengan sepenuh hati.
Kiran mengangguk ringan. Laki-laki itu adalah Bayu, rekannya di tim futsal. Sejujurnya Kiran juga baru tahu jika Bayu merupakan seorang ketua kelas, wajar saja, ini kali pertama bagi Kiran mengikuti hal-hal semacam ini. Lagipula dari sekian banyak yang hadir di sini, tak ada satupun yang Kiran kenali selain Bayu dan...... Ratih. Kiran menarik napas dalam saat memergoki Ratih tengah menatapnya dengan kedua maniknya yang sayu, Kiran menunduk lantaran tidak berani menatap gadis yang telah ia sakiti hatinya itu.
"Udah dari kapan tau kali, Bay. Bagas ada urusan di osis. Belum di mulai ya?" Kiran menoleh untuk melihat Bayu.
"Belum, tinggal tiga kelas yang belum dateng." Bayu menggaruk tengkuknya, saat itu pula Kiran menyadari bahwa Bayu telah berganti gaya rambut.
"Rambut baru nih," Kiran tersenyum sembari menggosok kepala plontos Bayu.
Bayu menghentikan tangan Kiran dan meletakkannya di pinggirian kursi, "Baru apaan. Gue disuruh ngabisin rambut gara-gara kalah taruhan!"
"Taruhan? Sama siapa?" Kiran bertanya-tanya. Selama ia mengikuti latihan futsal, tidak ada anak yang menyinggung taruhan sama sekali.
__ADS_1
"Sama anak basket. Jangan bilangin si Edy ya, Bro! Dia pasti marah banget kalo tahu gue masih berurusan sama mereka. Gue kemarin dipaksa ikutan dan gakbisa nolak, sebenernya gue juga udah males sama anak buahnya si Rendi!" Bayu berbisik semakin pelan saat menyebut nama Rendi. Ia bersungut-sungut sembari menggosok kepalanya saat menyebut nama itu.
"Iya-iya. Tapi bagus juga plontos gini, sapa tau ntar pas turnamen pala lo yang ditendang bukan bolanya." Kiran memandang lurus ke depan saat Bayu memukul bahunya karena kesal.
Tiga orang perwakilan kelas yang lain telah hadir. Setelah mereka duduk, pria tambun yang tadi menyambut Kiran di pintu pun berjalan ke depan kemudian membuka suara, "Selamat pagi anak-anak!"
"Pagi pak!"
"Kalian tahu kan kita di sini mau melakukan apa? Nah, untuk kelas 12, aturan main kita tidak sama dengan tahun lalu. Lokasi outbond dan kegiatan kalian juga akan berbeda dengan kelas 11. Jadi nanti akan Bapak jelaskan untuk kalian." dengusan kekecewaan dari para perwakilan kelas 12 memenuhi seisi ruangan.
"Sementara itu untuk kelas 11, sebentar lagi kita akan mengambil undian. Setiap perwakilan kelas bisa maju dan mengambil kertas kecil ini. Tiga kelas yang mendapat gambar sama akan menjadi satu kelompok, tiga kelas ini nantinya akan tinggal di satu villa yang sama dan punya satu hari full untuk menyelenggarakan kegiatan yang disepakati pada hari ketiga outbond bersama-sama. Selain itu, nanti kalian dapat membagi keseluruhan anak dari tiga kelas ini ke dalam beberapa tim kecil yang terdiri dari sepuluh anak untuk seterusnya menjadi tim dalam semua kegiatan. Pembagian kamar tidur dan sebagainya bisa dilakukan dan disepakati bersama oleh ketiga kelas ini. Bisa dipahami?" ujarnya panjang lebar.
Kiran mengangguk pelan sembari tetap menyimak tanpa sedikitpun mengalihkan perhatian.
"Dan juga, nanti Bapak berikan list barang bawaan yang harus dan tidak boleh dibawa. Selain itu terserah kalian mau bawa apapun juga terserah. Karena acara ini berlangsung selama 4 hari 3 malam, Bapak berharap kalian bisa bijak dan memanfaatkannya untuk mencari teman dan ilmu sebanyak-banyaknya." lanjut pria tersebut, seluruh siswa yang ada di sana mengangguk serempak.
Kini semua mata tertuju pada sebuah kotak transparan yang diletakkan di sebuah meja yang ada di depan sana. Di dalamnya terdapat gulungan-gulungan kertas kecil yang berisi gambar. Dimulai dari kelas 12, acara pengambilan ini pun berlangsung.
Papan putih yang semula kosong dan bersih, kini mulai di isi oleh nama-nama buah dan kelas yang berada di kelompok tersebut. Kiran masih mengamati dengan serius saat nama kelasnya dipanggil. Dengan ragu Kiran berjalan ke depan, memasukkan tangannya ke dalam kotak transparan itu dan mengambil sebuah gulungan kertas dari dalamnya.
"Anggur." ujar Kiran yang entah kenapa menuai kebisingan di belakang sana.
Tanpa berusaha mencari tahu apa yang terjadi, Kiran kembali ke kursinya dengan tenang, kemudian melihat kembali kelas mana saja yang tergabung dalam kelompoknya. Belum sempat Kiran membaca, Bayu menarik seragam Kiran hingga membuatnya menoleh karena kaget, "Apa?"
"Kelas lo satu kelompok sama Ratih!"
Kiran terdiam, tanpa pikir panjang ia langsung menoleh ke tempat di mana Ratih duduk bersama perwakilan kelas lain yang terlihat seperti teman-temannya. Mata mereka bertemu karena Ratih memang tengah menatap Kiran. Tak tahu harus bereaksi bagaimana, akhirnya Kiran tersenyum simpul, mencoba menetralkan ketegangan pada dirinya dan pada diri Ratih. Gadis tersebut terlihat kaget dengan apa yang ia lihat, untuk sesaat ia mendelik karena terkejut sementara Kiran masih menatapnya dengan senyuman yang masih terkembang.
Beberapa siswi yang duduk di sebelah Ratih pun satu-persatu mulai menyadari alasan Ratih terdiam, yang kemudian membuat mereka ikut terdiam. Jika itu orang lain yang tersenyum pada Ratih, maka tidak akan ada artinya sebab Ratih memang gadis populer di sekolah yang dipuja karena kecantikannya. Tapi ini Kiran, sosok dingin dan cuek yang menolak Ratih secara spontan dan terang-terangan di hadapan banyak orang. Yang selama ini tak pernah bersedia melihat Ratih bahkan ketika gadis itu tersenyum dan menyapanya usai apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Dengan ragu, Ratih membalas senyuman Kiran dengan senyumnya yang anggun dan jelita. Membuat Kiran memudarkan senyumnya dan kembali menatap ke depan dengan perasaan lega. Setidaknya ia harus meminta maaf pada Ratih atas perlakuannya dulu.
Kiran kembali melihat papan untuk memastikan satu kelas lagi yang tergabung dalam kelompoknya. Kedua mata Kiran berbinar saat melihat 11 Bahasa 1 lah yang melengkapi kelompok mereka.