
Roka menarik lengan Kiran untuk menjahui rekan-rekan mereka yang kini tampak terheran-heran usai mendengar pembenaran yang dikatakan Kiran atas ucapan Roka. Mereka merasa terkejut bukan main sebab semua orang pun tahu bahwa selama ini Kiran sangat anti pada perempuan. Meski mereka menyayangkan sebab gadis cantik tersebut ternyata sudah tidak sendiri, namun di sisi lain mereka juga ikut senang atas kebahagiaan Kiran.
Sementara itu, Roka sibuk menarik Kiran untuk menuju arah yang berlawanan dengan siswa-siswi lain yang kini sedang berbondong-bondong menuju ke lapangan. Usai merasa tiba di tempat yang tidak terlalu ramai, Roka melepaskan lengan Kiran.
"Ngapain lo di sini?" tanya Roka sembari mengusap keringat di dahinya.
"Gue di suruh ngambil beberapa berkas di ruang guru. Gue juga mau nyamperin Chandana sebentar si sebenernya, tapi malah udah pada ke lapangan," Kiran menjelaskan. Sejak tadi ia berputar-putar dan bahkan mendatangi kelas Bahasa untuk menemui Chandana.
Roka mengangguk mengerti, "Gue tadi ketemu dia, lagi sama Naya. Anehnya si Naya ngehindar gitu dari gue. Menurut lo dia kenapa?"
Kiran memandang gedung-gedung yang berdiri tegak di hadapannya, mencoba menerka-nerka. Usai berpikir sebentar, ia mengatakan, "Mungkin dia kira lo masih marah. Udahlah nanti langsung samperin aja. Gue harus buru-buru ke ruang guru nih, udah ditungguin."
"Ah elah elo mah!" gerutu Roka yang mau tidak mau harus membiarkan Kiran pergi bahkan sebelum keresahannya teratasi.
Usai melihat Kiran berjalan ke arah ruang guru, Roka berjalan malas menuju lapangan upacara yang sudah terlihat penuh dengan siswa-siswi yang telah berbaris rapih. Dengan sedikit terburu-buru, Roka mencari celah kosong untuk bergabung dalam barisan sebelum guru tatib menghampirinya.
Seperti biasa, upacara yang diselenggarakan usai libur panjang selalu lama lantaran amanat pembina upacara serta arahan yang diberikannya untuk satu semester ke depan tidak bisa dikategorikan sedikit. Meski awalnya cukup tenang, waktu yang semakin siang membuat suasana di lapangan mulai gaduh sebab banyak siswa yang mengeluh kepanasan. Beberapa di antaranya juga asyik mengobrol dan melepas rindu dengan sesama teman usai lama tidak berjumpa.
Tak terkecuali Roka yang sibuk bercanda dengan beberapa temannya dari kelas sebelah. Umumnya laki-laki memang memiliki pergaulan yang lebih luas daripada perempuan. Meski tidak benar-benar dekat, anak laki-laki cenderung bisa menyesuaikan diri dan banyak mengobrol dibanding dengan perempuan yang umumnya hanya mampu bercanda dan bermain dengan teman yang tergolong dekat dengan mereka.
Beberapa kali guru tatib mencoba menertibkan siswa hanya dengan berjalan mendekat, namun tidak jarang pula mereka harus menjewer atau menarik anak-anak yang terlalu gaduh ke belakang barisan untuk mendapat hukuman seusai upacara pagi ini selesai.
"Seperti biasanya anak-anak, selama tiga hari ke depan kurikulum dan jam belajar mengajar masih belum intensif. Kegiatan kalian mungkin akan diwarnai dengan bersih-bersih, pembagian buku dan jadwal, serta kegiatan sosialisasi. Dan seperti yang kalian ketahui, tim futsal sekolah ini berhasil lolos seleksi awal dan berhasil mengikuti turnamen futsal nasional. Hari ini, Pak Arman akan mengarahkan beberapa kelas untuk membantu memberi dukungan pada tim futsal yang akan bertanding di GOR. Selama tim kita terus lolos, tiap kelas akan mendapat giliran untuk menjadi suporter. Turnamen akan berlangsung 7 hari dari sekarang. Jadi mari kita doakan mereka agar dapat membanggakan nama sekolah sekali lagi!" seru kepala sekolah di akhir amanat yang ia sampaikan.
Seisi lapangan bersorak menyatakan dukungannya. Setiap tahun, tim futsal selalu berhasil lolos hingga ke semi final namun selalu gagal di babak tersebut ataupun di babak final tanpa pernah berhasil memboyong satupun piala juara. Kali ini tentu mereka semua mengharapkan kemenangan bagi tim futsal sehingga semuanya kompak berdoa saat kepala sekolah memimpin doa bersama dari tempatnya berdiri di podium pembina upacara. Hampir seluruh siswa terlihat bersungguh-sungguh mengatupkan kedua tangan mereka, tidak terkecuali Roka, Naya, Ratih, dan Chandana.
Usai sesi berdoa, kepala sekolah mengakhiri amanatnya, membuat siswa-siswi yang mengeluh kepanasan bersorak riang.
Matahari semakin meninggi. Cuaca cerah berawan pagi ini menyemburkan nuansa terik yang indah dipandang mata. Puluhan siswa dari kelas yang telah diminta kerja samanya oleh Pak Arman terlihat berkumpul di sebelah gerbang sekolah untuk menunggu bus jemputan tiba. Meski kelas Roka bukan salah satunya, ia dan beberapa temannya menawarkan diri untuk turut berpartisipasi memberikan dukungan mereka. Bersama dengan Roka, Chandana dan Naya juga terlihat berada di lingkungan yang sama guna menunggu jemputan meski bukan giliran kelas mereka untuk menjadi suporter.
Sejak tadi Roka memang terlihat asyik bercanda dengan teman-temannya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa ia terus mencuri pandang ke arah Naya setidaknya sepuluh kali dalam satu menit. Sejujurnya ia berniat berjalan ke sana dan mengajak Naya berbicara, namun melihat keramaian yang ada membuat Roka memutuskan untuk bersabar sedikit lebih lama lagi dan baru akan mengajak Naya bicara nanti ketika mereka telah tiba di GOR.
Setelah hampir setengah jam menunggu, dua buah bus bermotif senada berhenti tepat di gerbang sekolah mereka. Pak Arman dengan bantuan beberapa anak OSIS mulai mengarahkan anak-anak untuk masuk ke dalam bus dengan tertib. Meski wajar bila setiap siswa SMA pasti memiliki sifat bandel, namun jika dibandingkan dengan murid sekolah lain, siswa-siswi SMA Tunas Kelapa memang dikenal tertib dan cukup disiplin bila menyangkut hal-hal seperti ini sebab mereka cenderung mudah diatur dan dikondisikan.
Selama kurang lebih lima menit mengatur seluruh siswa agar duduk dan masuk ke dalam bus dengan rapih, Pak Arman memberikan kode kepada salah satu supir bus bahwa mereka siap untuk berangkat.
__ADS_1
Si Supir mengangguk kemudian melaju tenang bersama dengan bus yang dikemudikannya. Bus yang satu lagi mengikuti dari belakang tidak lama kemudian.
Untuk menuju GOR yang terletak di pusat kota, mereka membutuhkan waktu kurang lebih 20-30 menit lamanya. Beberapa siswa terlihat sibuk mengobrol untuk mengisi waktu luang tersebut. Beberapa lainnya nampak sibuk bermain ponsel atau mendengarkan lagu sehingga tanpa terasa, mereka akhirnya tiba di GOR.
Dengan arahan dari Pak Arman, semua siswa berjalan dengan tertib ke arah stadion futsal. Suasana di GOR sangat ramai sebab banyak siswa dari sekolah lain yang juga berkunjung ke sana. Banyak pedagang makanan dan minuman yang membuka stand-stand kecil hingga sedang di seputaran area stadion futsal.
Roka yang sedari tadi terus berusaha menahan diri untuk tidak mendekati Naya pun memutuskan bahwa inilah saat yang paling tepat baginya. Ia berpikiran bahwa dirinya tidak mungkin memiliki kesempatan berbicara dengan Naya jika nanti mereka sudah masuk ke stadion. Oleh karena itu Roka berjalan cepat sembari membelah rombongan untuk bisa mencapai Naya.
"Naya! Gue mau ngomong!" Roka mencekal lengan Naya dari belakang, membuat gadis tersebut tersentak karena kaget.
Naya memandang Roka dengan ragu, kemudian menyuruh Chandana untuk masuk terlebih dulu dan mencarikan kursi untuknya sementara ia akan menyusul belakangan.
Seolah mengerti, Chandana mengangguk lantas berjalan masuk ke dalam stadion bersama rombongan siswa SMA Tunas Kelapa lainnya. Meninggalkan Roka dan Naya di depan pintu stadion.
"Kita minggir ke sana ya?" Roka masih memegang lengan Naya saat ia menarik pelan gadis tersebut untuk mencari tempat duduk sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih nyaman.
Roka berhenti di sebuah bangku besi yang terletak di bawah sebuah pohon mangga berukuran sedang. Ia kemudian mempersilahkan Naya untuk duduk dan mengikutinya usai memastikan gadis tersebut telah duduk dengan nyaman.
"Maafin gue," Naya berkata lirih sembari menundukkan kepala. Rupanya dugaan Kiran benar. Naya masih merasa bersalah pada Roka.
"Gue udah ambil ibu lo," Naya berusaha untuk tidak menangis. Ia benar-benar merasa bersalah kepada Roka.
Roka tersenyum sembari menggeleng pelan. Jemarinya membelai lembut pipi mulus Naya, "Enggak lo nggak ambil apa-apa dari gue. Justru gue yang harusnya minta maaf karena udah marah sama lo. Gue tahu lo nggak salah apa-apa, tapi gue justru melampiaskan semuanya dengan menghindari lo kayak gitu."
Naya mendongak, ia merasa sedikit malu sebab ini kali pertama ia bersikap lunak dan melankolis setelah sekian lama menjadi gadis tomboy yang super cuek, "Lo nggak marah? Maksud gue, sekarang kita saudara tiri. Gue ini adik lo!"
Roka terdiam. Memang benar bahwa secara tidak langsung kini mereka telah menjadi saudara tiri. Namun tetap saja mereka tidak memiliki hubungan darah. Ia juga tidak tinggal bersama dengan ibunya dan hidup bersama Sang Ayah, "Gue gak nganggep lo adik tuh?"
Naya tersenyum kesal, "Elo mah!"
"Nay, gue sayang sama lo. Gue suka sama lo. Gue pengen kita bareng-bareng! Lo mau kan?" Roka melepaskan tangannya dari pipi Naya lantas meraih pergelangan tangan gadis tersebut. Berusaha menyalurkan keyakinannya pada gadis yang ia yakini juga memiliki perasaan yang sama dengannya itu.
"Mama gimana? Kalau dia tahu-"
"Mama udah ngasih izin. Lo tahu kalau Mama sakit?" Roka bertanya ragu. Lagi-lagi ia harus kembali mengingat fakta bahwa ibunya tidak akan memiliki banyak waktu tersisa.
__ADS_1
Naya menunduk sedih, "Iya. Mama nggak pernah mau berobat. Satu-satunya obat yang mau dia minum cuma penghilang rasa sakit sama multivitamin biar dia kelihatan fit. Terkahir kali ke rumah sakit, dokter bilang sekitar 3 bulan lagi. Dan sekarang udah 2 bulan berlalu," Naya tidak sanggup mengatakannya. Meski Rosa hanya ibu tiri, namun bagi Naya wanita tersebut sangatlah berarti.
"Berarti... Kurang satu bulan lagi?" Roka bertanya lirih. Tenggorokannya terasa kering saat mengatakan hal tersebut.
Naya mengangguk lemah. Mungkin sekarang ia merasa sedih, namun Naya sadar betul bahwa Roka pasti jauh lebih sedih daripada dirinya. Laki-laki itu telah berpisah selama bertahun-tahun dengan ibu kandungnya, mengecap ibunya sebagai pengkhianat dan hidup tersiksa oleh dendam dan kemarahan. Kini saat semua kebenaran terungkap, ia justru harus menghadapi fakta bahwa usia ibunya tidak lama lagi.
"Kalo lo mau, gue pengen kita bahagiain Mama dulu. Gue pengen kita pikirin Mama dulu. Setelahnya, baru kita pikirin tentang kita. Tentang gue sama lo. Gimana?" Naya mengusulkan. Ia berpikir mungkin untuk saat ini mereka harus fokus dengan Rosa terlebih dahulu sebelum memikirkan hubungan mereka ke depannya.
Meski merasa sedikit sedih, pada akhirnya Roka menyetujui usulan Naya. Ia memang harus memikirkan ibunya lebih banyak lagi mengingat waktu yang dimiliki perempuan yang telah melahirkannya itu kini sudah tidak lama lagi. Untuk kali ini, Roka harus bersedia mengesampingkan egonya.
Usai melihat Roka mengangguk, Naya tersenyum kecil. Dengan perlahan, ia menyentuh pipi Roka dengan tangannya. Membelai lembut pipi yang bebas bulu tersebut lantas mendaratkan sebuah kecupan di sana, "Gue juga sayang sama lo."
Roka mendelik. Bibirnya mengatup rapat karena jantung yang serasa berhenti berdetak. Ia merasakan napas hangat Naya berhembus di wajahnya saat gadis tersebut mengecup singkat pipinya. Usai melakukan aksi tersebut, Naya membuang muka sembari tersipu malu sementara Roja terkejut dengan mata membelalak.
Rasa bahagia sekaligus salah tingkah menggerayai mereka berdua. Selama beberapa saat, Roka dan Naya terdiam di tempat masing-masing, mencoba menetralkan detak jantung dan perasaan bahagia yang membuncah.
"Ayo masuk," Roka mencoba memecah hening dan canggung di antara mereka dengan mengajak Naya masuk ke dalam stadion futsal.
Naya mengangguk sembari menautkan jemarinya dengan jemari Roka. Mereka berjalan pelan dengan saling bergandengan tangan, membuat heran beberapa pasang mata yang melihat keduanya.
Dari kejauhan, Chandana yang melihat Roka dan Naya berjalan menghampirinya di deretan bangku penonton hanya bisa tersenyum simpul. Seperti yang telah ia dan Kiran duga, Naya dan Roka memang benar-benar saling menyukai. Melihat Naya dengan wajah merona serta Roka dengan senyum cerah membuat Chandana menyimpulkan bahwa dua orang tersebut telah berhasil melewati badai yang sempat menghadang mereka.
Roka menyapa Chandana lantas mempersilahkan Naya untuk duduk di sebelah gadis tersebut, "Udah mulai?" Roka bertanya.
Chandana menggeleng pelan, "Masih pemanasan."
Roka mengangguk kemudian menatap lurus ke arah lapangan. Di sana, Kiran bersama dengan Edy dan rekan setim mereka yang lain tampak tengah melakukan pemanasan serta peregangan. Beberapa kali Edy terlihat mencoba memberikan arahan dan masukan kepada rekan-rekannya sebelum pertandingan dimulai.
Puas memperhatikan Kiran dan anggota tim futsal sekolahnya, Roka memandang ke arah tim lawan yang kini juga tengah melakukan pemanasan. Dari segi postur tubuh, mereka sedikit lebih tinggi dan berisi dari sebagian anggota tim futsal SMA Tunas Kelapa. Roka meneliti dan menelisik satu-persatu wajah dan postur anggota tim lawan. Menurut Roka, tim sekolahnya akan menang dengan mudah kali ini sebab usai melakukan pengamatan, tidak ada satupun anggota yang terlihat bersungguh-sungguh. Mereka terlihat malas dan enggan, seolah tidak menginginkan pertandingan ini.
Berbanding terbalik dengan tim sekolahnya yang terlihat bersemangat dan penuh tekad. Edy bahkan beberapa kali menepuk punggung kawan-kawannya untuk menyalurkan semangat dan keyakinan pada mereka. Untuk hari ini, Roka menjamin kemenangan tim futsal sekolahnya. Ia yakin Kiran dan teman-teman akan bisa meraih kemenangan dengan mudah.
Peluit ditiup. Wasit memasuki lapangan dan mengarahkan kapten tim dari kedua belah pihak untuk melakukan undian dengan koin sebagai sarana untuk menentukan siapa yang akan melakukan kick off untuk mengawali babak pertama ini. Dari bangku penonton, para suporter mulai bersorak saat para pemain mulai memasuki lapangan. Di sana, Roka tersenyum penuh arti, tidak sabar menantikan kemenangan sahabatnya.
Saat itu, tidak ada yang menyadari bahwa kemenangan hari ini serta hari-hari selanjutnya tidak akan sepenuhnya membahagiakan. Sebab nantinya, akan ada harga yang harus dibayarkan untuk semua kebanggaan yang berhasil mereka dapatkan.
__ADS_1