Chandana

Chandana
Kiran (15)


__ADS_3

"Ayah saya."


Kiran membisu. Napasnya tercekat, matanya membelalak. Ayahnya sendiri?


Kiran menatap Chandana seolah tidak percaya sementara gadis itu masih memandangnya dengan air mata yang kian bertambah deras.


Tanpa ragu Kiran kembali merengkuh Chandana ke dalam pelukannya, ia mendekap gadis tersebut semakin erat, mengisyaratkan agar Chandana membagi semua beban dan kesedihannya pada Kiran. Agar mereka dapat menanggung semuanya bersama-sama.


"Ayah saya menderita sindrom tourette sejak masih kecil. Dia menikahi ibu saya yang merupakan seorang dokter dan mereka saling mencintai satu sama lain. Rasa cinta ayah saya pada kami begitu besar, sehingga saat ibu saya meninggal dalam sebuah kebakaran, ayah saya hancur. Dia tidak bisa menahan semua tekanan dan kesedihannya sehingga dia mengalami gangguan perilaku dan mulai menderita OCD. Pada hari ibu meninggal dia mengatakan pada ayah untuk tidak tidur sampai ibu kembali, tapi ayah tidur dan ibu meninggal. Karenanya tiap kali dia melihat saya tertidur, ayah akan selalu memukul dan menyiksa saya. Dia selalu pergi ke kamar setiap satu jam untuk memastikan saya tidak tidur. Ayah berpikir, jika saya atau dia tidak tidur seperti yang dikatakan ibu sebelum ia meninggal, ibu akan kembali ke rumah," Chandana mengelap air mata yang menggenang di sudut bibirnya.


Kiran memejamkan matanya. Ia tidak tahu bagaimana bisa Chandana menjalani semua penderitaan ini seorang diri. Kini satu pertanyaan telah terjawab, meski tidak sepenuhnya lega, Kiran merasa sedikit tenang setelah satu pertanyaannya terjawab.


Ia mengusap punggung Chandana dengan lembut, "Kamu bisa tinggal di rumah saya, kamu tidak mungkin seperti itu terus kan?" Kiran berceletuk tanpa berpikir panjang. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah membawa Chandana pergi dan memastikan keselamatannya terjaga.


Chandana melepaskan pelukannya. Ia memandang Kiran kemudian terisak sekali lagi. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya.


"Kamu tidak mengerti. Maafkan saya, Kiran. Tapi kita nggak akan pernah bisa bersama," Chandana menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia menghindar ketika Kiran berniat meraihnya.


"Apa yang tidak saya mengerti? Kalau ayah kamu adalah masalahnya, kita bisa merawat dia sama-sama. Kita bisa tidur bergantian dan membangunkan setiap satu jam sekali. Saya nggak ingin melihat kamu terluka dan menanggung semuanya sendiri," Kiran menatap Chandana dengan yakin. Meski ia tidak tahu bagaimana caranya, ia yakin solusi pasti dapat ditemukan asalkan Chandana mau berbagi semua masalah dan kendalanya pada Kiran dan berhenti menanggung semua sendirian.


Chandana memejamkan mata, ia kini makin terisak, "Beberapa bulan lalu ayah saya baru keluar dari penjara. Dia mendekam di penjara selama beberapa tahun karena membutakan mata pemilik rumah sakit tempat ibu bekerja... Dia yang membutakan mata adik kamu, Kiran. Ayah saya yang membuat hidup kalian menderita! Dan itulah sebabnya saya dan kamu tidak akan pernah bisa bersama!"


Kiran melangkah mundur. Bohong... Dia... Sedang berbohong kan? Hanya mengarang cerita... Dia hanya tidak ingin bersama saya... Ayahnya bukanlah Pak Arif... Bohong..


"Kamu bohong!" Kiran menjerit, ia menutup telinganya sembari jatuh terduduk di tanah.


Chandana menatap Kiran dengan isakan yang semakin kencang, terlebih saat ia melihat laki-laki itu menangis sejadi-jadinya. Kiran menangis tanpa ampun. Ia menjerit dan memukul dadanya dengan tangan terkepal. Dadanya terasa sesak, ia tidak bisa bernapas.


"Kiran?" Chandana berusaha mendekati Kiran saat melihat laki-laki itu terbatuk-batuk.


Kiran berusaha keras meraup udara sebanyak yang ia bisa. Dengan susah payah ia mencoba menghirup udara dari hidung dan mulutnya, ia kembali kesulitan bernapas. Chandana berlari ke arah Kiran dengan panik. Air mata terus mengaliri wajah dan lehernya saat Kiran menepis tangan Chandana yang hendak menyentuh punggung laki-laki tersebut.


"Kamu kenapa?" Chandana histeris. Ia bingung melihat Kiran dalam keadaan seperti ini.


Kiran menatap Chandana dengan marah, dengan tidak percaya di tengah usahanya bernapas dan menahan sakit di dada. Ia masih tidak bisa mempercayai segalanya. Ia masih tidak bisa mempercayai bahwa Chandana adalah putri orang itu. Orang kejam itu.


Kiran masih berusaha menepis tangan Chandana dengan lemah saat ia mulai kehabisan tenaga karena tak bisa bernapas dengan normal. Perlahan-lahan, Kiran mulai melemas. Tubuhnya jatuh ke tanah disertai bunyi berdebam yang nyaring. Kedua matanya perlahan tertutup. Kiran kehilangan kesadaran.


---


Suara mesin mobil menderu lembut sementara klakson dari berbagai sisi terdengar nyaring bersahutan. Roka melirik ke spion tengah, mencoba melihat Kiran yang masih terbaring tidak sadarkan diri di kursi belakang mobil.

__ADS_1


Beberapa waktu yang lalu Chandana menghubunginya dengan panik, mengatakan bahwa Kiran pingsan di rumahnya. Tanpa banyak bertanya, Roka melesat ke rumah Chandana dengan menggunakan mobil yang ada di rumah Kiran. Ia benar-benar tidak habis pikir sebab Kiran pergi keluar rumah sebelum ia dan Naya bangun dari tidur. Kini ia justru harus mengangkut Kiran dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Udah sadar?" Roka kembali melirik ke arah spion tengah saat menyadari pergerakan dari sosok yang sebelumnya terkulai lemah itu.


Kiran mengusap matanya. Dadanya terasa sesak sekali, "Mau kemana?" ia bertanya sembari mencoba bangun dari posisi berbaring.


"Rumah sakit lah. Lo kenapa? Apa yang bikin lo collapse tadi?" Roka bertanya dengan masih memusatkan perhatiannya ke jalan raya.


Kiran menggeleng pelan, "Lo nggak bakal percaya ini," ujarnya lirih.


Roka mengerutkan dahi, "Apa?" ujarnya dengan nada mendesak.


Kiran tidak berbicara lagi. Apa yang tadi didengarnya dari Chandana sangat mindblowing. Tidak pernah terpikir barang sedetik bahwa Chandana adalah putri penjahat yang telah memporak-porandakan kehidupan Arda. Tak pernah ia bayangkan hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Sadar atau tidak, semenjak pertemuan Kiran dengan Chandana beberapa bulan lalu, hal-hal mustahil dan kebetulan yang mencengangkan terus menimpa keduanya. Entah masih pantaskah semua ini disebut sebagai kebetulan.


Takdir? Apa ini takdir? Kiran seolah bertanya pada diri sendiri.


"Kok lo diem si anyink?" Roka kembali bertanya sebab Kiran tidak kunjung menjawabnya.


"Gue rasa pelaku teror itu bukan Pak Arif," ujar Kiran pada akhirnya.


Meski sulit dipercaya, tadi Kiran telah berhadapan langsung dengan penjahat keji yang telah melukai Arda. Tidak seperti yang ia bayangkan, penjahat itu kini telah berubah menjadi pria kurus yang tidak terlihat sehat sama sekali. Ia bahkan menanyakan perasaan Kiran dan menangis usai Kiran menjabarkan semua perbuatannya di masa lalu. Bagi Kiran, ayah Chandana tidak terlihat seperti seseorang yang dapat melakukan hal-hal seperti menyuruh orang untuk meneror atau mengawasi teman-temannya. Pria itu seolah sudah kehilangan gairah hidup, apalagi gairah untuk balas dendam. Jadi sangat tidak mungkin jika ia pelakunya.


"Terus siapa?" Roka menanyakan sebuah pertanyaan yang juga tengah berputar-putar di kepala Kiran.


Kiran mungkin merasa marah dan kecewa karena Chandana baru mengatakannya setelah banyak kesempatan dan kebersamaan mereka selama ini. Ia merasa tidak percaya sama sekali.


Namun bagaimanapun juga Chandana tidak bersalah untuk kejahatan yang dilakukan ayahnya. Apapun yang telah Arif lakukan pada Kiran dan keluarga, semua orang tidak berhak membenci Chandana untuk kesalahan Sang Ayah. Kiran pun merasa sedikit lega karena pada akhirnya rahasia terbesar yang disimpan Chandana seolah mulai runtuh seiring dengan satu demi satu kenyataan yang terbongkar. Kini tersisa beberapa rahasia lagi yang perlu Kiran ungkap dari sosok gadis yang ia cintai itu.


"Kok lo bengong lagi sih?" Roka kembali bertanya saat Kiran sekali lagi mengacuhkannya.


Kiran menggeleng pelan kemudian berkata, "Anterin gue ke stadion."


"Gila ya? Lo harus ke rumah sakit dulu!" Roka menyalak usai mendengar permintaan Kiran yang dinilainya sangat sulit untuk dikabulkan.


"Gue udah sehat! Gue harus ikut pertandingan final. Seenggaknya gue harus beresin pertandingan ini dulu sebelum benar-benar bisa fokus mikirin siapa yang ada di balik semua hal gila ini!" Kiran memekik frustasi. Baru kali ini ia merasa kesulitan mengendalikan emosi.


"Kenapa lo se-yakin itu kalau ini bukan ulah penjahat itu? Sebelumnya dia ada di peringkat pertama tersangka yang kita buat semalem!" Roka mencoba berbicara dengan tenang. Ia sendiri juga merasa heran kenapa Kiran bisa mengubah keyakinan dan kecurigaannya secepat itu.


"Gue baru aja ketemu dia. Dan gue ngerasa yakin bukan dia pelakunya," Kiran menghembuskan napas berat saat kembali mengingat laki-laki paruh baya tersebut.


Bagaimanapun juga, pria itu sakit. Seperti yang dikatakan Chandana, ia menderita gangguan perilaku serta OCD sebagai akibat atas komplikasi sindrom tourette yang dideritanya sejak remaja. Entah kenapa, rasa benci yang selama ini ada di hati Kiran seolah menguap ketika mengingat kembali betapa lemah dan tidak berdayanya sosok tersebut. Kiran seolah merasakan pemakluman atas tindakan keji yang sempat ia perbuat beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


"Ketemu dimana, lo kan dari rumah Chandana? Aduh plis lah kalo jelasin tuh yang sekalian jangan kaya kang kredit lo!" Roka mendesah kesal, ia ikut gemas mendengar penjelasan Kiran yang terkesan setengah-setengah.


Dengan hembusan napas panjang, Kiran berkata, "Dia ayahnya Chandana. Pak Arif adalah ayahnya Chandana. Dia sakit mental, dia sakit. Dia juga yang udah mukulin Chandana karena OCD. Jangankan balas dendam ke keluarga gue, gairah buat hidup aja dia sepertinya nggak punya," Kiran berujar terus terang, membuat Roka menginjak rem mobil dengan mendadak hingga mereka berdua kompak tersentak ke depan.


Suara klakson dari kendaraan yang ada di belakang mereka praktis bersahutan, membuat Kiran menggebuk lengan Roka dengan kuat, "Sinting lo?"


"Lo serius? Dia.. Dia bokapnya Chandana?" Roka bertanya dengan pupil bergetar. Ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar.


Kiran mengangguk lemah. Ia sendiri pun masih sulit mempercayainya.


"Gila! Ape sih ini? Sinetron pa gimana? Gila sumpah! Ahhggggggkkkk!" Roka memukul kemudi mobilnya, menyalurkan kekesalan dan keterkejutannya.


Bukan hanya Kiran yang membenci orang itu, kebencian Roka pun sama besarnya. Melihat keluarga Kiran yang damai dan bahagia hancur membuat rasa benci dan marah turut tertanam di hati Roka.


"Lo sama Chandana gimana?" Roka kembali bertanya. Ia tahu betul seberapa besar perasaan Kiran untuk Chandana. Ia yakin hal ini tidak akan membuat Kiran menyerah pada cintanya.


"Gue masih belum mikirin itu. Sekarang yang paling penting keselamatan kita semua. Barangkali bokap gue udah tahu kalo pelakunya bukan Pak Arif, makanya dia nggak ada ngelakuin apa-apa."


Roka mengangguk setuju. Ucapan Kiran memang ada benarnya.


"Lo yakin mau ke stadion?" Roka kembali memastikan. Ia sebenarnya enggan menuruti permintaan Kiran, namun ia tidak ingin membuat tim futsal berada dalam posisi sulit jika ia tidak mengantar Kiran ke lokasi pertandingan.


Kiran mengangguk. Tanpa bertanya lebih banyak lagi, Roka melajukan mobilnya ke arah berlawanan, menembus keramaian lalu lintas untuk menuju GOR dan mengantar Kiran menuju pertandingan besar yang menunggu di depan mata.


Selama kurang lebih 20 menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di stadion. Saat itu GOR terlihat sangat amat ramai dengan pengunjung dari rentang usia yang beragam. Para pedagang dan stan-stan memenuhi pelataran GOR, anak-anak dan orang dewasa terlihat asyik bermain di sekitarnya. Selain karena pertandingan final turnamen futsal tingkat nasional, fakta bahwa hari ini adalah akhir pekan membuat banyak orang datang ke sana untuk sekedar menghabiskan waktu bersama keluarga.


Roka melenggang ke arah keramaian penonton yang tengah menyaksikan upacara penutupan sementara Kiran berjalan ke area dalam untuk menemui rekan-rekannya yang telah menunggu di ruang ganti.


"Dari mana aja? Lo nggak bisa di hubungi!" Edy menyergap Kiran sesaat setelah ia masuk ke ruang ganti.


Semua orang termasuk gurunya telah berada di sana dengan jersey masing-masing. Kiran yang baru datang pun diminta untuk segera berganti pakaian agar mereka dapat bergabung dan menyaksikan upacara penutupan.


Usai memastikan Kiran telah berganti pakaian dan mengenakan atribut lengkap, mereka berjalan menuju tempat yang telah disediakan untuk dapat menyaksikan upacara.


Selama upacara berlangsung, Kiran tidak bisa menikmati acara sama sekali. Ia terus bergerak-gerak gelisah sehingga membuat Edy yang duduk di sebelahnya mulai menyadari kegelisahan Kiran.


"Lo kenapa?" tanya Edy dengan sedikit berteriak lantaran keramaian membuat suaranya teredam.


"Cuma lagi ada yang dipikirin aja!" Kiran menjawab dengan sedikit berteriak juga.


"Lo harus fokus! Kita harus menangin pertandingan hari ini, oke?" Edy mengacungkan jempolnya dengan senyum merekah, mencoba membuat Kiran mendapatkan kembali semangat dan keyakinannya.

__ADS_1


Kiran mengangguk sembari mengalihkan pandangan. Dari kejauhan, Kiran mengamati deretan bangku penonton. Di sana, ia melihat Rendi tengah berdiri kebingungan sembari menatap ke atas. Kiran yang merasa bingung mencoba mengikuti arah pandang Rendi, saat ia menyadari bahwa Rendi tengah menatap lurus ke arah lampu-lampu besar yang terpasang di atap bagian dalam stadion.


Dia lagi cari apa sih?


__ADS_2