Chandana

Chandana
Ratih (1)


__ADS_3

Kegaduhan yang memekakan telinga terus berlanjut. Pekikan dan teriakan ramai bersahutan. Belasan orang terlihat terkejut bukan main sedang sisanya menjerit histeris dan mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen tragis yang tersaji di hadapan mereka.


Ratih berdiri dengan kaki gemetar sementara air mata menggenangi kedua maniknya yang indah. Di depan sana, laki-laki yang ia sukai tengah terbaring berlumuran darah. Di depan sana, pahlawan yang baru saja mengunci kemenangan bagi sekolah mereka tengah terkapar tak berdaya.


Ratih memejamkan mata, membuat setetes bulir bening mengalir di pipinya yang putih dan mulus. Ia tidak bisa mempercayai apa yang kini tersaji di hadapnnya. Ia tidak bisa mempercayai apa yang sekarang harus dilihatnya. Beberapa menit yang lalu Kiran masih berlarian di lapangan dengan gagah dan kerennya, dengan senyum dan ketampanannya. Lalu sedetik kemudian semua berganti dengan jeritan dan kepiluan atas tragedi mengerikan yang baru saja terjadi.


Tidak sanggup lagi melihat ke lapangan, Ratih membanting dirinya di kursi penonton. Entah kenapa, peristiwa dimana ia bertemu Kiran untuk pertama kali kembali terputar di ingatannya.


Siang itu, Ratih sedang menunggu Rendi yang sibuk melakukan pendataan untuk perlengkapan ekstra basket. Karena bosan, Ratih memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di sekitaran ruang ekstra basket yang lokasinya cukup jauh dari deretan ruang kelas. Karena suasana yang sepi dan tenang, Ratih dapat dengan jelas mendengar suara seekor kucing yang mengeong-ngeong di sekitaran ruang ekstra basket. Dengan segenap rasa penasaran dan kegabutan yang melandanya, Ratih mulai mencari sumber suara.


Ia berjalan memutari ruang ekstra sampai akhirnya ia melihat seekor anak kucing tengah terjepit di antara tembok dan meja yang sudah tidak terpakai. Dengan segera, Ratih berlari menghampiri kucing tersebut sembari menarik meja yang menghimpitnya.


Ratih berjongkok sembari mengangkat tubuh kucing tersebut, "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya pada si kucing. Meski sadar ia tak akan mendapat jawaban dalam bahasa manusia, Ratih merasa semakin khawatir pada kondisi kucing tersebut saat ia menanggapi pertanyaan Ratih dengan mengeong.


"Kamu tunggu di sini, aku cari makan," ujarnya sembari menurunkan kembali anak kucing yang terlihat lesu dan tidak berdaya itu.


Ratih berjalan meninggalkannya sembari sesekali menoleh ke belakang. Ia memberengut sedih saat menyaksikan anak kucing tersebut berbaring lemah di tanah.


Bingung harus kemana, Ratih kembali ke dalam ruang ekstra basket untuk menemui Rendi dan meminta izin padanya untuk membeli makanan kucing sebab ia yakin Rendi akan marah besar jika Ratih pergi tanpa bertanya.


"Hah? Ngapain sih! Kamu ibunya? Selaluu aja ngelakuin hal-hal nggak berguna! Pergi sana, aku lagi pusing juga!" Rendi yang dibuat pusing dengan pendataan pun menyalak dengan nada tinggi, membuat Ratih lagi-lagi merasa kesal lantaran ulahnya yang tak pernah bisa mengendalikan emosi.


"Kenapa sih? Aku ini pacar kamu! Bukan tempat kamu lampiasin semua susah dan kesalmu! Memang aku samsak apa? Apa sih susahnya ngomong baik-baik?" Ratih juga berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Beberapa anak yang berada di dalam ruangan tersebut terlihat kaget dan bingung melihat pertengkaran yang terjadi di hadapan mereka.


"Berisik banget sih! Kamu yang harusnya ngerti! Aku nih lagi pusing kenapa malah ditambahin sih? Kalau mau ngasih makan kucing ngasih makan aja sana! Kalau perlu kasih makan anak kucing satu negara!" Rendi kembali berteriak. Ia memang benar-benar tipikal orang yang buruk dalam menahan amarah.


Ratih memandang Rendi tidak percaya. Rasa kesal di hatinya kini telah berada pada puncaknya, "Aku selalu ngertiin kamu ya. Udahlah, emang lebih baik kalau kita putus!" Ratih membalas ucapan Rendi dengan setengah berteriak. Ia memang sudah lelah dengan hubungan ini sejak lama. Tak ada lagi yang tersisa di antara mereka selain ego masing-masing.


Meski tak benar-benar menyukai Rendi, Ratih berusaha keras bertahan di sisinya karena ia tahu bahwa Rendi membutuhkan seseorang di sisinya. Meski ia sangat sering lepas kendali, ia kerap menyesali perbuatannya itu sebab ia memang tidak menyengaja kemarahannya. Namun jika terus seperti ini, Ratih juga akan menyiksa diri sendiri. Rendi tak kunjung berubah dan di sisi lain ia semakin sering disakiti. Jika Rendi memang menyesali sikapnya, seharusnya laki-laki itu berusaha merubah diri. Namun hingga saat ini tidak ada sedikitpun yang berubah darinya selain semakin bertambah buruk.


Dengan suasana hati yang teramat tidak baik, Ratih berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rendi yang kini diliputi rasa sesal sebab ia kembali lepas kendali.

__ADS_1


"Ratih, maafin aku! Aku.. Aku nggak bermak-"


"Setiap hari kamu minta maaf. Setiap saat kamu minta maaf. Kamu bilang kamu menyesal. Tapi apa? Adakah yang berubah? Nggak sama sekali."


Ratih berjalan pergi meninggalkan Rendi yang tertahan di ruang ekstra basket karena urusan yang belum tuntas. Usai memastikan Rendi kembali masuk ke dalam, Ratih yang telah berjalan sejauh puluhan meter dari ruang ekstra basket pun berlari kecil dan kembali ke sana untuk membawa Si Kucing kecil bersamanya.


Ketika Ratih hendak berjalan ke belakang ruang ekstra, terdengar suara lirih seorang laki-laki dari sana. Merasa penasaran, Ratih berjalan dengan perlahan agar tidak mengejutkan atau menimbulkan suara yang dapat menarik perhatian.


"Aku suir ya?" ujar seorang siswa laki-laki yang terlihat berjongkok di sebelah anak kucing tersebut.


Ratih mengintip dalam diam. Laki-laki tersebut terlihat meletakkan kotak bekalnya di tanah kemudian menyuir daging ayam yang seharusnya menjadi lauknya lantas diberikan pada si anak kucing. Ia mengelus kepala anak kucing tersebut dengan satu tangan sementara tangan yang lain mengeluarkan botol berisi air mineral dari dalam tas. Dituangkannya sedikit air ke tutup botol dan menyodorkannya ke si anak kucing.


"Makan yang banyak ya," ujarnya lirih, masih terus mengelus punggung dan puncak kepala si anak kucing yang kini sibuk mengunyah daging ayam pemberiannya.


Ratih tersenyum simpul. Baru kali ini ia melihat seorang anak laki-laki begitu peduli pada seekor kucing. Entah dimana, yang pasti Ratih pernah membaca bahwa laki-laki yang menyayangi hewan adalah laki-laki yang berhati lembut. Dan laki-laki yang kini tengah berjongkok itu pastilah salah satu dari mereka.


Dengan masih berada dalam posisi mengintip, Ratih mencoba melihat wajah laki-laki tersebut. Ia berusaha keras mengintipnya namun tembok di sebelahnya membuat penglihatannya terbatas, ia tidak bisa melihatĀ  wajah anak laki-laki tersebut dengan jelas.


Mata mereka bertemu dan untuk sesaat, Ratih terpanah dengan betapa tampannya laki-laki tersebut. Ia menurunkan matanya ke bawah, ke arah nametag yang terpasang di dada kanan si laki-laki tampan itu. Di sana tertulis 'Kirandana Bagaspati'.


Ratih kembali tersenyum saat tanpa sadar si laki-laki membereskan bekal dan botol minumnya kemudian mengelus si anak kucing sekali lagi sebelum ia berjalan terburu-buru ke arah yang berseberangan dengan arah datangnya Ratih.


Sejak hari itu, Ratih terus memikirkan laki-laki tersebut. Ia mengumpulkan semua informasi tentangnya dan mendapati fakta bahwa nama pemuda itu adalah Kiran. Selama beberapa minggu Ratih mencoba mencari tahu segala tentangnya termasuk informasi bahwa Kiran membenci perempuan. Awalnya Ratih sempat merasa tidak percaya namun jika mengingat kembali bagaimana reaksi Kiran saat mengetahui Ratih tengah mengintipnya membuat gadis tersebut mau tak mau mulai menganggap informasi tersebut masuk akal.


Sementara Ratih sibuk mengeksplorasi informasi tentang Kiran, Rendi tak pernah berhenti mengganggunya. Laki-laki itu terus berusaha mengajaknya kembali bersama namun Ratih terus menolaknya dan mengatakan agar Rendi berusaha memperbaiki diri sebelum kembali mencari pasangan lagi. Ia tak bisa terus seperti itu sepanjang hidupnya dan menyakiti orang-orang yang berada di sekitarnya secara terus-menerus. Ratih ingin Rendi berubah ke arah yang lebih baik dan melupakan dirinya, namun laki-laki itu amat keras kepala sebagaimana ia amat sulit mengendalikan emosinya.


Puncaknya ialah setelah Ratih menyatakan perasaannya pada Kiran. Selama berhari-hari Ratih mengumpulkan keberanian dan keteguhan hati untuk mengesampingkan harga diri demi membuktikan ketulusannya pada Kiran. Meski awalnya ragu untuk menyatakan perasaan secara terang-terangan, atas usulan dan desakan beberapa teman Ratih mulai terpengaruh dan mendapatkan keyakinan.


Pada hari itu, Ratih melangkah dengan malu menuju kelas Kiran. Ia memang sengaja tidak mendekati Kiran sebelumnya karena orang-orang mengatakan bahwa hal itu akan membuat laki-laki tersebut merasa risih. Oleh karenanya Ratih tidak pernah mendekati Kiran bahkan berusaha mengenalnya dan memutuskan untuk langsung menyatakan saja apa yang ia rasakan pada Kiran. Dengan begitu ia berharap Kiran bisa melihat ketulusan dan kesungguhan hatinya.


Yang awalnya hanya berjalan ditemani beberapa orang teman, kini mulai banyak yang mengerumuni Ratih dan ikut serta mengawalnya menuju kelas Kiran. Ia tidak tahu bagaimana semua orang ini mengetahui niatannya namun mereka mendukung penuh aksi nekat Ratih sebab mereka menilai Kiran dan Ratih akan menjadi pasangan yang serasi. Saat itu semua orang yakin Kiran akan menerima perasaan Ratih sebab tidak ada seorangpun yang bakal menolak gadis secerdas dan secantik Ratih.

__ADS_1


Setibanya ia di depan kelas Kiran, beberapa teman laki-laki tersebut menggila menyadari apa yang terjadi. Mereka terlihat histeris sembari mencoba menarik Kiran keluar dari kelas.


Ratih berdebar. Rasa malu sekaligus tidak sabar menggelayuti hatinya. Ia tersenyuk kikuk sembari menoleh ke belakang untuk mendapatkan keyakinan dan dukungan dari teman-temannya.


"Kalian yakin?" tanya Ratih. Ia tengah mencoba mengumpulkan keberanian dengan cara meyakinkan kembali dirinya bahwa apa yang ia lakukan ini benar.


Ketiga teman dekatnya kompak mengangguk sembari tersenyum antusias. Bukan hanya Ratih, mereka pun tidak sabar melihat bagaimana reaksi Kiran saat melihat gadis yang dijuluki sebagai siswi tercantik di sekolah ini menyatakan perasaan suka padanya.


Dan di sanalah ia. Kiran berdiri dengan gugup dan bingung. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak paham dengan apa yang terjadi di hadapannya, mengapa banyak sekali orang yang mengerumuni kelasnya sembari tersenyum-senyum serta menyoraki kedatangannya.


Ratih yang menutupi dirinya dengan sebuah papan gabus berbentuk hati hanya tersenyum simpul sembari memandangi Kiran yang terlihat kebingungan dari balik gabus berbentuk hati yang ia pegang. Ratih mengakui bahwa laki-laki itu terlihat sangat menggemaskan dengan ekspresi heran dan bingungnya itu.


Setelah dipaksa-paksa oleh beberapa temannya, Kiran kini telah berdiri tepat di hadapan Ratih. Ratih menurunkan gabus berbentuk hati tersebut, menunjukkan wajah cantiknya di hadapan Kiran yang terlihat semakin bingung sembari menggaruk tengkuk.


Jantung Ratih mulai berdebar kencang. Kata dan kalimat yang sebelumnya telah ia persiapkan seolah menguap, hilang entah kemana. Rasa yakin yang sebelumnya berhasil ia dapatkan kini kembali menghilang lantaran rasa gugup dan grogi menguasai diri. Dengan bibir gemetar, Ratih mencoba mengatakan kalimat apapun itu yang sekiranya bisa mewakili perasaan serta maksud kedatangannya.


"Gue suka sama lo. Kalau lo bersedia jadi pasangan gue, lo terima hati ini. Kalau enggak, lo patahin hatinya!" Ujar Ratih dengan nada cepat. Ia tidak kuasa menahan debaran dada yang berdetak amat cepat dan tak terbendung.


Kiran menunjukkan ekapresi terkejut. Laki-laki itu terdiam seolah menahan sakit dan sesak. Perasaan Ratih mengatakan itu pertanda buruk.


Dan benar saja, tak butuh waktu lama sebelum Kiran memegang hati tersebut dan mematahkannya menjadi dua bagian lantas mengucap, "Maaf!" sembari berlari dan keluar dari kerumunan.


Ratih menunduk dengan air mata menggenang. Meski yang dipatahkan Kiran adalah gabus, hatinya seolah ikut patah bersama dengan penolakan yang laki-laki itu berikan. Seumur hidup Ratih tidak pernah menyukai laki-laki seserius ini. Ia bahkan tidak pernah berusaha dengan keras mencari informasi dan memahamu seorang laki-laki melebihi yang ia lakukan pada Kiran. Dan kini satu-satunya orang yang dapat membuatnya merasa benar-benar mencintai resmi mematahkan hatinya.


Ratih membuang patahan hati tersebut sembari berjalan lemah untuk kembali ke kelas. Tanpa terasa air mata terus mengalir dari kedua matanya, membasahi pipi dan lehernya bak air terjun. Ratih tidak pernah merasakan patah hati sehingga kini ia benae-benar mengerti bagaimana rasanya.


Rasa sakit hati Ratih tidak berhenti di situ. Bahkan setelah kejadian tersebut, seisi sekolah membicarakannya bagai lantunan lagu. Semua orang menghafal dan mengetahui kisah itu bagai puisi indah yang melegakan hati para siswi perempuan. Siswi-siswi yang selama ini membenci dan iri terhadap betapa beruntungnya Ratih. Sedang bagi Kiran, hal yang sama juga terjadi. Gosip murahan yang mengatakan bahwa ia menyukai lelaki mulai tersebar hingga membuat Ratih ikut sakit mendengarnya sebab karena dirinyalah gosip itu merebak. Karena ia terlalu egois dan gegabah, Kiran harus ikut menerima kebencian dan jadi bahan pergunjingan.


Selama beberapa hari Ratih jatuh sakit karena rasa bersalah dan patah hati. Ia pikir setelah Kiran menolaknya, perasaan itu akan hilang dan pergi. Namun Ratih salah, rasa cintanya justru semakin bertambah. Perasaannya pada Kiran terus tumbuh dan perkembang meski tanpa pernah disiram, tanpa pernah ia rawat. Perasaannya menjalar bak rumput liar, yang meski telah dicabutnya hingga ke akar, akan terus dan tetap tumbuh dengan subur.


Ratih mengusap air matanya dengan kasar saat melihat petugas medis mulai berdatangan dan mengangkut tubuh Kiran dengan menggunakan tandu.

__ADS_1


Semoga kamu baik-baik saja, Kiran. Semoga kamu baik-baik saja.


__ADS_2