Chandana

Chandana
Bagian 32


__ADS_3

"Kiran, lo denger gue kan?" Ratih mengguncang pelan bahu Kiran saat mendapati lelaki tersebut seperti tengah tenggelam dalam lamunan.


Kiran kembali menatap Ratih. Ia sekarang benar-benar bingung harus berkata apa. Bahkan setelah ia tolak dihadapan umum, selama ini Ratih masih menyukainya? Kiran tidak habis pikir menyadari betapa setia dan baiknya hati gadis cantik di hadapannya ini. Namun Kiran harus bagaimana dengan itu? Tentu ia tidak bisa membiarkan Ratih menyukainya lebih lama, ia tidak boleh.


Kiran sadar bahwa ia hanya akan memberi harapan kosong jika tidak segera mengatakan yang sebenarnya. Dengan bibir gemetar, Kiran mencoba membuat Ratih mengerti dan berhenti menyukainya.


"Gue nggak ngerti apa yang ada di pikiran lo sampai lo suka sama gue setelah semua itu. Tapi gue nggak bisa. Gue nggak ingin memberi harapan untuk lo, yang jelas-jelas memang nggak akan ada harapan sama sekali. Gue nggak mau disukai dan menyukai siapapun, Ratih. Gue udah melukai terlalu banyak orang bahkan ketika gue nggak melakukan apapun. Gue harap lo ngerti dan berhenti suka sama gue. Lo perempuan yang baik, ceria, menyenangkan dan bahkan setia, lo sempurna. Di luar sana banyak orang yang pastinya lebih pantas mendapatkan kasih sayang dan hati lo. Tapi orang itu bukan gue. Maaf, Ratih. Maaf. Maaf."


Ratih mengusap bulir bening yang jatuh dari sudut matanya. Meski ia tahu hal seperti ini akan terjadi, namun ia tetap tidak bisa merasa tidak sedih sama sekali. Ratih menyentuh pipi Kiran dengan jemarinya yang lentik, lantas berbisik pelan, "Perasaan gue itu hak gue Kiran. Hak gue mau menyukai siapapun, menyukai lo. Ini menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan lagi melihat orang yang gue sukai menderita karena rasa takut. Meskipun bukan untuk gue, seenggaknya lo harus membuka hati. Mengizinkan seseorang untuk menyembuhkan lo, menyembuhkan hati lo ini."


"Gue nggak minta lo membalas perasaan ini. Gue cuma ingin kita berteman seperti ini tanpa lo dorong gue untuk menjauh. Sederhananya supaya gue bisa melihat dan memastikan bahwa orang yang gue sukai benar-benar bahagia dan baik-baik saja," Ratih melanjutkan, ia menunduk untuk menghapus air matanya.


Meski Kiran hanya diam sembari menatap Ratih tanpa banyak berekspresi, ia menitihkan sebutir air mata. Tidak pernah ia mendengar kalimat yang seindah dan setulus ini keluar dari mulut seseorang. Jika saja hati dan pikirannya ini tidak hanya dipenuhi oleh sosok Chandana, Kiran tanpa ragu akan mencoba membuka hati dan perasaannya untuk Ratih.


Namun terlambat bagi Ratih, Chandana telah terlebih dulu masuk ke dalam hidupnya sebagai sosok yang begitu indah. Sosok yang kini mampu membuatnya bicara dengan Ratih sedang sebelumnya tak bisa sama sekali. Kiran merasa buruk harus menyakiti Ratih sekali lagi. Ia merasa tak tega.


"Terimakasih. Hal baik akan selalu dibalas baik, Ratih. Tuhan nggak tidur, dan gue tahu lo akan bersama dengan seseorang yang memang benar-benar pantas untuk lo. Terimakasih banyak," dengan ragu, Kiran meraih bahu Ratih, memeluknya singkat sembari mengusap rambut gadis tersebut, lantas bangkit dan pergi meninggalkan acara api unggun.


Ratih masih terisak pelan saat memandang kepergian Kiran. Lelaki tersebut berjalan pelan menembus kegelapan hingga menghilang di balik pagar villa.


Dari sisi yang lain, Roka melihat semuanya. Ia melihat bagaimana Ratih dan Kiran berbicara dengan serius sembari saling memeluk di akhir. Entah kenapa Roka merasa tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Entah kenapa Roka merasa ini adalah hal yang nantinya akan membawa kebaikan bagi Kiran. Oleh karena itu Roka tetap duduk di tempatnya dan tidak berniatan menyusul Kiran sama sekali sebab sadar atau tidak, Chandana telah lebih dulu pergi keluar pagar jauh sebelum Kiran melangkah ke arah yang sama.


---


Suasana malam di pegunungan memang sangat berbeda dengan kota. Selain semilir angin yang dinginnya menusuk hingga tulang, di pegunungan terdapat banyak hewan malam. Di sepanjang jalan yang dilewati Kiran, suara-suara jangkrik dan kodok terdengar silih berganti. Memecah kesunyian visual yang tersaji sejauh mata memandang lantaran tak ada apapun selain pepohonan dan jalan beraspal yang semakin menanjak.


Kiran tidak tahu apa yang sedang coba dilakukannya sekarang. Ia hanya berjalan mengikuti jalur yang ada tanpa tahu kemana hendak menuju. Saat itu pula Kiran memikirkan kembali apa yang dikatakan Ratih. Ia bahkan kembali teringat dengan pelukan yang tanpa sadar ia berikan untuk Ratih.


Kiran menggosok kepalanya fruatasi, ia tidak percaya dengan apa yang telah ia lakukan, "Aaahhh bodoh! Apa bedanya lo sama si sambel uleg yang curi-curi kesempatan!" Kiran merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saat itu Kiran hanya ingin menenangkan Ratih. Ia tidak bisa memikirkan bentuk rasa terimakasih apalagi yang bisa ia berikan untuk gadis tersebut selain memberinya sebuah pelukan, pelukan pertamanya. Ya dengan begitu Ratih telah menorehkan namanya sebagai gadis pertama yang Kiran peluk selain ibu kandung Kiran sendiri.


Sembari terus berjalan, Kiran mencerna kembali semua perkataan Ratih, lantas membandingkannya dengan ucapan Bagas. Inti permasalahannya sekarang adalah ia harus bisa membuka diri, menunjukkan segala sifat aslinya tanpa perlu berusaha menjadi orang lain dan menutup-nutupi masalah. Ia harus mulai bisa menyukai dan disukai agar hatinya melunak. Jika ia ingin sembuh, maka ia harus berusaha. Ia tak harus berusaha sembuh sendirian, ia bisa mengandalkan orang lain untuk itu.


Dan dari sekian banyak manusia di muka bumi ini, orang pertama yang terlintas di benak Kiran adalah Chandana, sebab hanya pada gadis tersebut ia merasa berbeda. Hanya Chandana yang membuatnya salah tingkah, hanya Chandana yang terus ada dipikirannya tiap malam sebelum tidur, hanya Chandana yang tidak membuatnya merasa panik, Chandana pula yang membuatnya perlahan-lahan ingin berubah. Jika pusat dari semua ini adalah Chandana, maka Kiran haruslah melanjutkan perjalanannya ini dari tempat ia bermula.


Kiran terus berjalan menembus kegelapan. Menyusuri jalan beraspal yang terus menanjak ke atas hingga akhirnya ia sampai pada sebuah tanah lapang yang tidak terlalu luas. Rupanya tempat tersebut adalah ujung dari bukit ini, sebab sudah tidak terlihat ada dataran lagi seusai bagian paling ujung dari tanah lapang ini. Dari sekian banyak hal yang terlihat olehnya, satu hal yang paling membuat Kiran terkejut adalah siluet seorang gadis yang tengah duduk di sana.


Perlahan, Kiran berjalan mendekat dengan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan banyak suara. Namun tetap saja sekeras apapun ia berusaha, suara sepatu yang bergesekan dengan rumput dan beberapa ranting kecil tak bisa teredam. Gadis tersebut menoleh tepat saat angin berhembus dari timur, menerbang-nerbangkan rambutnya yang tergerai.


Gadis tersebut masih berwujud siluet sampai jarak mereka hanya tinggal 3 meter. Dari situ, Kiran bisa melihat dengan jelas wajah yang amat dikenalinya di bawah cahaya redup sinar rembulan. Chandana dengan bibir terkatup rapat tengah memandang Kiran dengan matanya yang terlihat sedikit bengkak.


Dia habis menangis? Kiran membatin di tempat. Ia terdiam sebab tak kuasa menahan diri untuk tidak terpesona dengan segala keindahan yang ada. Keindahan dari lampu-lampu kecil yang ada di bawah sana, keindahan sang rembulan dan sinarnya, serta keindahan Chandana.


Selama kurang lebih setengah menit saling memandang, Kiran memutuskan untuk berjalan mendekat, lantas duduk beberapa senti dari Chandana. Jarak terdekat yang pernah diambilnya selama ini.


"Tidak ada. Hanya duduk. Kenapa kamu ke sini?" Chandana memandang Kiran sekilas, lantas turut menatap lurus ke bawah sana.


"Saya nggak tahu kenapa saya ke sini. Saya hanya berjalan dan tiba-tiba sampai kemari. Barangkali alam mengerti bahwa saya sedang ingin bertemu kamu," Kiran berujar pelan. Jantungnya mulai berdebar dengan lebih cepat.


Chandana menoleh, "Kenapa ingin bertemu saya?"


Kiran tersenyum gugup, "Saat kecil, saya selalu tersenyum, saya selalu bermain dengan anak-anak lainnya dengan senang hati. Saya tidak ragu untuk melakukan hal-hal yang bisa menyenangkan orang lain," Kiran memutuskan untuk bercerita meski Chandana tidak meminta. Ia ingin gadis tersebut menjadi orang pertama yang mendengar semuanya dari mulut Kiran sendiri. Ia ingin Chandana menjadi alasan untuknya bisa bercerita setelah sekian lama diam dan memendam.


Chandana tidak keberatan mendengarkan Kiran. Chandana memperhatikan Kiran dengan tatapan lembutnya meski kedua matanya sedikit bengkak, sementara laki-laki itu tak berani melihat Chandana dan hanya menatap lurus ke langit hampa yang ada di hadapannya.


"Tapi sepertinya, hanya bermain bersama dan berbuat baik tidak cukup untuk sebagian anak. Mereka bilang, mereka menyukai saya. Mereka ingin saya untuk diri mereka sendiri. Saya tidak terlalu memikirkannya, kami masih anak-anak, jadi menurut saya wajar jika mereka bermain-main dengan itu. Awalnya hanya satu, tapi semakin lama anak-anak seperti itu terus bertambah. Mereka mulai saling iri dan membenci, mereka mulai saling bersaing dan memperebutkan apa yang seharusnya tidak mereka perebutkan. Saya," Kiran merasa tenggorokannya mengering. Ingatannya seakan membawanya kembali menyaksikan hal mengerikan itu lagi.


"Dan kemudian, semua perdebatan mereka tentang saya mencapai puncaknya. Hari itu, saya bermain bola dengan Roka dan teman-teman lain. Ada 5 anak gadis yang saling bertikai di taman bermain sekolah. Karena semakin gaduh, anak-anak mulai berkumpul. Kerumunan itu tahu bahwa kelima anak ini sedang memperdebatkan siapa yang paling saya sukai di antara mereka. Kemudian salah satu anak kehilangan kontrol dan mendorong yang lainnya hingga jatuh membentur beton pembatas. Gadis malang itu berdarah dan kakinya patah. Saya bahkan tidak mengenal mereka dan masih bermain di lapangan saat anak-anak lain berlari ke arah saya dan mendorong saya hingga jatuh. Mereka bilang saya pembuat onar, saya pecundang besar," Kiran merasakan ada air menggenang di kedua matanya.

__ADS_1


Chandana masih menatap Kiran, ia pun kini mulai berkaca-kaca.


Kiran mengambil napas panjang kemudian kembali melanjutkan, "Saya masih tidak mengerti dimana letak kesalahan saya saat tanpa saya sadari orang-orang mulai menjauh. Mereka menghina saya tiap kali saya menampakkan diri. Mereka bilang saya yang telah membuat gadis itu lumpuh. Mereka bilang saya yang sudah membuat mereka menyukai saya dengan memberi harapan palsu. Sejauh yang saya ingat, saya hanya tersenyum, hanya senang bermain seperti anak-anak lain. Tapi sepertinya hanya dengan itu, saya telah bisa melukai seseorang. Awalnya saya kesal karena tidak merasa melakukan apapun, namun semakin lama mendengar semua itu, saya jadi percaya bahwa saya memang pelakunya. Saya bersalah karena telah banyak tersenyum, saya bersalah karena telah banyak berbuat baik dan ramah pada orang lain."


Tanpa sadar Kiran mulai berlinang air mata. Bebannya seakan luruh bersama cerita dan seluruh air matanya, "Perlahan-lahan, saya mulai menjadi seorang pemurung. Saya mulai menghiraukan semuanya dan tidak banyak bicara. Saya merasa tidak ada bedanya menjadi ramah atau tidak, semua orang tetap akan membenci saya. Jadi saya memilih untuk diam, tidak mempedulikan orang lain. Karena dengan begitu setidaknya saya tidak melukai siapapun. Saya tidak memberi harapan pada gadis manapun. Saya semakin membenci diri saya saat saya gagal menjaga adik saya. Saya merasa tidak pantas hidup, saya merasa ingin pergi saja dari hidup semua orang."


Kiran masih menatap lurus ke depan saat Chandana menggerakkan tangannya ke punggung Kiran, hendak mengusapnya. Belum sempat ia melakukan hal tersebut, Chandana kembali meletakkan tangannya di paha, ia batalkan niatannya.


Kiran yang tidak menyadari hal tersebut masih sibuk menghapus air mata sembari melanjutkan cerita, "Saya mulai mencari sesuatu yang bisa membuat saya bangkit, dan itu adalah buku. Waktu terus berjalan dan saya menjadi sosok yang keras pada diri sendiri dan juga orang lain. Pertengahan tahun ini, saya mulai melunak dan mulai bisa bersosialisasi dengan anak laki-laki. Tapi saya masih ragu dan belum ingin sama sekali bersikap normal pada perempuan. Sampai suatu hari saya meminjam dua buku dari dua tempat yang berbeda. Dalam kedua buku tersebut, saya menjumpai sebuah nama yang sama, nama kamu. Chandana," Kiran menoleh, saat itu pula ia menyadari bahwa sejak tadi Chandana ikut berurai air mata bersamanya.


Kenapa dia ikutan nangis sih? Kiran menggigit bibirnya, merasa bersalah telah membuat Chandana menangis.


Dengan ragu, Kiran menggerakkan tangannya menuju pipi Chandana yang basah oleh air mata. Sesaat sebelum Kiran mendaratkan jemarinya di pipi gadis tersebut, Kiran bertanya, "Apa boleh saya hapus air mata kamu?"


Chandana sempat menarik diri ke belakang melihat pergerakan Kiran, namun usai mendengar pertanyaan Kiran, Chandana terlihat sedikit ragu. Ia diam sejenak, kemudian berkata dengan lembut, "Boleh, Kiran."


Jantung Kiran nyaris mencelos keluar mendengar persetujuan Chandana. Rasa bahagia yang amat besar menjalari sekujur tubuhnya. Dan dengan gemetar, Kiran menyentuh pipi gadis tersebut dengan lembut. Ia mulai menghapus air mata di pipi Chandana yang ternyata begitu halus dan mulus. Entah bagaimana, tubuh Kiran meremang sedang tangannya terus gemetaran. Ia merasakan semacam aliran listrik di ujung jarinya, ia tidak mengerti bagaimana bisa, ia bahkan mencoba memikirkan penjelasan ilmiah atas perasaan bahagia luar biasa yang ia rasakan.


Di sisi lain, Chandana menunduk malu sembari memainkan jemarinya. Hal yang ajaib ialah ia tidak merasa takut dengan Kiran. Ia mungkin akan menjerit jika itu adalah laki-laki lain. Namun ia merasa baik-baik saja bahkan bahagia ketika kulitnya bersentuhan dengan jemari Kiran yang halus. Lebih daripada apapun, Chandana selalu merasa aman dan nyaman di dekat Kiran. Ia juga merasakan debaran jantung yang tak biasa. Seluruh perasaan ini baru kali pertama ia rasakan dalam hidup.


Usai memastikan tak ada lagi kilatan air mata di pipi Chandana, Kiran bergegas menarik tangannya sebelum ia terkena serangan jantung. Telinganya merah padam sementara pipinya memanas.


"Kamu belum menyelesaikan ceritamu, Kiran," Chandana berkata lirih.


Haduh, sampek mana tadi?


Kiran menggaruk tengkuknya sembari mencoba mengingat-ingat sampai di mana ia bercerita. Kontak fisik yang baru saja ia lakukan dengan Chandana benar-benar membuyarkan semua konsentrasi Kiran. Kesedihannya lantaran mengingat masa-masa kelam pun terganti dengan rasa bahagia tiada tara. Ia heran bagaimana bisa ia merasa begitu senang hanya karena hal sesederhana menghapus air mata seorang gadis.


Oh iya, sampek gue nemuin nama Chandana kan ya?

__ADS_1


__ADS_2