
Karena kemarin ga up, akhirnya aku memutuskan untuk up dua chapter hari ini wk ::. Akhir-akhir ini rasanya susah banget buat aku untuk bisa bagi waktu antara nulis dan belajar. Fyi, dalam waktu dekat aku bakalan ikutan ujian masuk perguruan tinggi alias utbk. Seriusan ini bikin stress dan pikiran kepecah-pecah. Rasanya sulit banget untuk konsentrasi dan berimajinasi :: karena kepala penuh banget sama macem-macem hal.
Oh yaa, aku minta doanya yaa, supaya diberi kelancaran buat aku dan semua yang juga lagi ikut ujian. Semoga kami bisa mengerjakan dengan baik dan diterima di perguruan tinggi pilihan kami. Aku yakin banget doa orang-orang baik seperti kaliann pasti akan diijabah dan didengar sama Allah. Makasih banyak semuanya🤗🤗
----
"Kiran! Kamu nggak apa-apa?"
Melihat Kiran yang tiba-tiba saja muntah membuat saya panik bukan main. Dengan cepat, saya membawa Kiran keluar dari ruangan tersebut dan mengelus punggungnya dengan perlahan-lahan.
Entah apa yang membuatnya tiba-tiba bereaksi seperti itu, yang pasti kini Kiran tidak terlihat baik-baik saja. Wajahnya mendadak pucat, dadanya naik turun, dan napasnya pun memburu. Ia seolah terkena shock berat usai melihat ketiga mayat tersebut. Lagipula, ini juga salah saya yang lupa mengatakan bahwa Edy telah membunuh tiga manusia yang sama sekali tidak salah apa-apa. Terlalu banyak hal yang harus saya pikirkan dalam waktu yang begitu singkat sehingga saya nyaris melupakan bahwa kekejian Edy telah menghilangkan nyawa dua orang petugas wifi dan satu orang perawat kabin.
Setelah memastikan kondisi Kiran sudah lebih baik, saya kembali ke dalam ruang kamar Edy untuk mengambil beberapa pakaian yang ternyata masih utuh dalam keadaan tidak tertata di dalam lemari. Saya mengambil sebuah kaos berwarna hitam serta celana jeans yang juga berwarna hitam. Saat melihat sebuah jaket berwarna cokelat tergantung di lemari, saya memustuskan untuk mengambilnya juga karena takut Kiran akan kedinginan di malam hari. Lagipula, saya yakin bahwa kami tidak akan bisa meninggalkan tempat ini dalam waktu dekat mengingat tak ada akses sama sekali yang menghubungkan kami dengan dunia luar.
Usai memastikan tidak ada yang tertinggal, saya pergi keluar dan menyuruh Kiran untuk membersihkan dirinya di kamar saya. Sementara dia berkutat di kamar mandi, saya kembali menjelajah ke segala ruangan untuk menemukan makanan.
Saya memeriksa semua ruangan dengan teliti. Tak membiarkan satu pun sudut terlewatkan begitu saja. Bagaimana pun juga, kami tidak akan mampu bertahan jika tanpa makanan. Kami bahkan tidak dapat memastikan berapa jam atau bahkan hari yang harus kami habiskan di hutan ini.
Setelah mencari hampir ke semua tempat dan hasilnya nihil, saya nyaris menyerah. Saya berjalan kembali ke ruang tamu saat tanpa sengaja melihat tempat sampah yang tutupnya berada dalam keadaan sedikit terbuka.
Entah kenapa, hal tersebut terasa sedikit ganjil bagi saya. Tutup tempat sampah tersebut sedikit terbuka karena kepenuhan, sedangkan selama ini saya tidak pernah melihat Edy membuang banyak sampah apalagi sampai bisa memenuhi tempat sampah yang ukurannya nyaris sebesar televisi 32 inch itu.
Dengan terburu-buru, saya berjalan ke arah tong sampah tersebut dan membuka tutupnya. Hal pertama yang saya temukan ialah sebuah kresek besar berwarna hitam yang teronggok di dalamnya. Dengan ragu, saya membuka kresek tersebut dan mendapati puluhan bahkan ratusan jenis makanan di dalamnya.
Astaga Edy. Kamu memang pintar ya, hanya saja nggak sepintar itu juga.
Saya bahkan nyaris tidak terpikir sama sekali jika Edy akan menyembunyikan semua makanan di dalam tong sampah. Lagipula, siapa yang akan mengira bahwa seseorang akan menyembunyikan makanan di dalam tong sampah yang identik dengan kuman dan kotoran?
Tanpa membuang lebih banyak waktu, saya mulai mengambil satu-persatu makanan yang ada di dalam kantong kresek tersebut dan memindahkannya ke dalam sebuah tas ransel yang saya temukan dalam kondisi tergeletak di meja ruang tamu.
Tidak lama setelahnya, Kiran berjalan keluar dalam kondisi yang jauh lebih segar dan bersih. Saya tersenyum saat mendapati Kiran sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Meski beberapa luka memar masih menghiasi wajahnya, setidaknya kini Kiran sudah jauh lebih baik dan sehat.
"Itu apaa?" Kiran menunjuk tas ransel yang ada di tangan saya dengan raut penasaran.
Saya mengangkat tas tersebut sembari tersenyum simpul, "Makanan."
"Waw!" Kiran hendak berjalan menghampiri saya saat langkahnya tiba-tiba terhenti begitu saja.
Saya yang merasa heran pun mencoba mengikuti arah pandangnya. Kiran tengah menatap keluar kabin melalui jendela kaca yang terletak dua sampai tiga meter jauhnya dari kami. Belum sempat saya melihat apa yang sedang dilihat Kiran, ia berjongkok dan menarik tangan saya untuk turut berjongkok bersamanya.
Sempat merasa bingung pada awalnya, semua rasa heran saya terjawab saat Kiran mengatakan, "Ada orang di luar!"
Saya membelalak, "Hah? Siapa?"
Kiran menggeleng kuat-kuat, "Nggak tahu! Saya nggak bisa lihat wajahnya, tapi kalau dilihat dari pakaiannya, mirip banget sama baju Edy!"
__ADS_1
"Hah? Edy?"
Kiran menggigit bibirnya, ia mengangguk sembari mengernyitkan dahi, "Iya! Apa saya samperin aja ya, terus saya hajar. Saya merasa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Lagipula saya udah ambil pistolnya dia, nggak ada yang perlu kita takuti lagi. Saya bisa nyamperin dia dan hajar dia secara langsung!"
Saya menggeleng kuat-kuat, "Kamu kan udah tahu kalau dia itu sangat tertata dan terencana. Kalau dia udah memikirkan sampai sejauh itu, dia pasti juga udah memperkirakan kalau kamu bakal ambil pistolnya. Nggak menutup kemungkinan dia punya pistol lain lagi, atau mungkin senjata lain seperti alat kejut listrik dan sebagainya. Kalau kamu, saya yakin kamu nggak akan mau menggunakan pistol itu. Tapi kalau Edy, dia bisa aja langsung nembak kita berdua tanpa banyak berpikir! Keluar dan nyamperin dia nggak akan ada untungnya buat saya dan kamu. Lebih baik kita menghindar dulu dan memikirkan apa yang harus kita lakukan buat pergi dari sini nanti. Kamu udah lelah fisik dan pikiran. Saya nggak bisa membiarkan kamu pergi ke sana dan mengorbankan diri sekali lagi."
Kiran tersenyum tipis, "Saya selalu banyak berpikir dan mempertinbangkan sesuatu sebelum bertindak, tapi entah kenapa, tiap kali sama kamu, saya nggak pernah berpikir sebelum bertindak. Rasanya nggak sempat aja mikirin ini dan itu because all that matters is you."
Saya menatap Kiran tepat di kedua matanya. Jantung saya berdebar dengan sangat kencang hingga rasanya nyaris meledak saat itu juga. Tapi bukan saya namanya jika tidak ahli dalam menyembunyikan perasaan. Alih-alih merespon perkataan Kiran dengan sesuatu yang mungkin dapat melegakan hatinya, saya justru mengatakan, "Sempat-sempatnya ya kamu ngomong seperti itu di saat-saat genting begini. Ayo, kita harus cepat keluar. Di sana, kita keluar lewat pintu belakang. Ada satu tempat yang mungkin akan sangat cocok untuk kita sembunyi dan istirahat!"
Kiran mengangguk. Saya memimpin dengan merangkak di depannya. Setelah melewati dapur, saya membuka pintu belakang dengan perlahan dan melangkah keluar. Kiran mengikuti dari belakang kemudian menutup kembali pintu tersebut.
"Sekarang gimana?"
"Ikut sa-"
"DIMANA KALIAN! HAH? KELUAR LO BERDUA! GUE BUNUH SEKARANG JUGA LO YA! LO BERDUA NGGAK AKAN PERNAH BISA KABUR DARI GUE! HAHAHAHA! GUE KEJAR KALIAN SAMPAI KE ALAM BAKA! BAKAL GUE POTONG-POTONG TUBUH KALIAN DAN GUE KASIH MAKAN KE ANJ*NG! SAMPAI MATI PUN, AKAN GUE KEJAR LO BERDUA! KELUAAARRRR!"
Terdengar teriakan yang amat sangat lantang dari sisi lain kabin. Sepertinya Edy sudah menyadari bahwa kami ada di sekitar sini.
Dengan tangan gemetar dan jantung berdebar hebat, saya menarik tangan Kiran dan mengajaknya berlari secepat dan sekuat kaki ini melangkah.
Seiring dengan semakin jauhnya langkah kaki ini membawa saya, keringat serta napas saya pun semakin memburu. Rasa takut, rasa lelah, serta rasa sakit seolah meremas tubuh ini dengan tanpa ampun. Semakin takut dan lelah saya dibuatnya, semakin cepat kaki ini melangkah dan berusaha pergi meninggalkannya.
Saya tidak sendirian. Kali ini, saya tidak sendirian. Jika saja saya harus kembali menjalani semua ini seorang diri, saya tidak akan mampu. Saya takkan pernah mampu. Namun, untungnya saya tidak sendirian. Ada Kiran di sisi saya. Ada Kiran yang menggenggam saya dan tidak sedikit pun melepaskannya.
Tuhan, jika memang takdir itu ada dan semua ini bukanlah suatu kebetulan semata, maka jagalah Kiran. Jagalah Kiran agar ia selalu sekuat dan seberani ini. Agar ia selalu mau dan mampu berada di samping saya yang penuh lemah dan resah. Jagalah Kiran agar ia bisa menjadi satu di antara mereka yang hidupnya penuh suka dan cita. Jagalah Kiran agar senyuman itu tetap berada di sana dan tak hilang ataupun pergi kemana-mana. Jagalah Kiran, Tuhan. Jagalah Kiran melalui takdir yang Engkau tetapkan. Saya mohon. Hamba mohon.
"Chandana? Chandana! Kamu kenapa? Chandana?"
---
"*You are the chaos of my tranquility. Without you, there is no harmony."
"You are the chaos of my tranquility. Without you, there is no harmony."
"You are the chaos of my tranquility. Without you, the*-"
"Kiran.." saya mengerjap beberapa kali. Rasanya lemas dan pusing sekali.
"Kamu udah bangun?" Kiran membantu saya yang sebelumnya berbaring dengan menyandarkan saya di sebuah pohon besar yang ada di sebelah kami.
"Kamu tuh yaa. Kan belum makan, kok ya lari-larian begitu! Lihat kan, kamu pingsan tahu! Ini, kamu makan dulu. Saya nggak mau lanjut jalan kalau kamu masih belum makan!" Kiran memarahi saya. Namun, lucunya, berbeda dengan nada suaranya yang terdengar kesal dan galak, ekspresi wajah Kiran terlihat sangat amat khawatir. Ia menyodorkan sebuah roti kepada saya, ia juga membuka sebotol susu dan menyodorkannya pula kepada saya dengan gestur sok kesal.
Saya meraih roti dan susu tersebut dengan lemah, lantas mengulurkan tangan dan berniat untuk mengusap rambut Kiran. Sebelum tangan saya sampai dan menyentuh puncak kepalanya, kiran mencekal tangan saya sembari berkata, "Et et, mau apa?"
__ADS_1
Saya menghela napas, menarik kembali tangan saya dan membatalkan apa yang telah saya niatkan sebelumnya, "Di atas kepala kamu banyak nyamuk."
"Hah?" Kiran mendongak, mencari-cari nyamuk yang saya maksud, "Kamu ngibul ya? Mana nyamuknyaa?" ia masih saja mendongak sembari menoleh ke sana kemari.
Saya memakan roti pemberian Kiran sembari tersenyum kecil, "Nggak ada nyamuk kok."
Mendengar perkataan saya barusan membuat Kiran menatap saya penuh selidik, "Ah. Kayaknya saya pernah dengar nih yang begini. Pasti kamu mau ngegombal ya? Ye, dasar, segala pakek alesan. Tahu nggak, saya udah menghabiskan hampir seumur hidup sama si Roka ya. Ga mempan digombalin!"
"Apa kamu memang seperti ini kalau lagi sama Roka?" saya kembali bertanya.
Selama ini, Kiran selalu lebih banyak diam jika sedang bersama saya. Ia selalu lebih banyak memperhatikan dan mengamati saya daripada mengajak saya berbicara. Namun, jika sudah bersama Roka, Kiran selalu banyak bercanda. Jadi, melihatnya yang seperti ini membuat saya merasa senang sebab saya selalu ingin mengenal dan mengetahui lebih banyak sisi Kiran yang nyaris tak pernah ia tunjukkan kepada saya selain sisi dirinya yang pendiam dan romantis.
Kiran tertawa kecil, "Aneh ya? Tapi saya nggak berkepribadian ganda kok."
"Siapa juga yang bilang kamu berkepribadian ganda. Lagian saya suka kalau melihat kamu riang dan banyak bercanda begini. Kelihatan lebih bahagia," saya melipat bungkusan roti yang kini telah habis isinya itu dan menggeggamnya di satu tangan sementara tangan yang lain sibuk memegangi botol susu.
Kiran meraih sampah yang ada di tangan saya kemudian mengatakan, "Saya selalu bahagia kalau sedang bersama kamu. Banyak diam bukan berarti saya nggak bahagia, saya cuma merasa asing dan nggak tahu bagaimana caranya merespon rasa kebahagiaan yang meluap-luap itu. Rasa bahagia yang saya rasakan tiap kali berada di dekat kamu."
Saya menatap Kiran lekat-lekat, begitu juga dengan ia yang tak sedikit pun memalingkan kedua maniknya dari saya. Debaran jantung saya mulai meningkat, pipi saya pun mungkin sudah memerah saat ini. Terlebih, Kiran mulai memajukan wajahnya, tatapannya pun turun dari mata, kini ke bibir saya.
Jantung saya semakin berdebar tak karuan hingga tanpa sadar, saya mulai memejamkan mata. Deru napas Kiran terdengar jelas di telinga saya. Napasnya yang hangat pun menerpa kulit wajah saya dengan lembut dan intens. Entah sudah semerah apa wajah saya saat ini, yang pasti, saya merasa sangat gugup.
Kami berada dalam posisi itu selama beberapa detik lamanya hingga saya merasakan sebuah kecupan yang mendarat di kening saya. Kiran mengecup kening saya dengan lembut dan hangat, ia lantas meraih tubuh saya ke dalam pelukannya, mendekap saya sembari menyandarkan kepalanya di bahu saya.
Selama beberapa waktu, Kiran hanya diam di posisi itu tanpa berbicara sama sekali. Jujur saja, saya tidak mengerti harus bereaksi seperti apa. Rasanya sangat nyaman, di sisi lain, napas saya serasa berhenti dan isi perut saya pun seolah naik ke kerongkongan. Saya membalas pelukan Kiran dan mengusap rambutnya dengan perlahan.
"Chandana, jangan tinggalkan saya, ya?"
Saya terkejut mendengar ucapan Kiran yang terkesan tiba-tiba itu. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba bersikap seperti ini.
"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
"Nggak apa-apa. Rasanya, akhir-akhir ini banyak sekali hal berharga yang terjadi dalam hidup saya. Rasanya, banyak sekali hal-hal penting yang harus saya ingat. Padahal sebelumnya, hari-hari saya seolah sama aja. Nggak ada yang berbeda dan nggak banyak hal yang cukup berharga untuk bisa diingat. Tapi semenjak ada kamu, setiap hari terasa berbeda. Saya nggak sabar bangun hanya untuk menunggu akan ada apa, apa yang akan kita lakukan sama-sama."
"Kalau tanpa kamu, saya nggak tahu apa yang harus saya lakukan. Apa yang harus saya tunggu di hari esok. Apa yang harus saya kerjakan selain membaca dan belajar."
"Jadi, jangan tinggalkan saya ya?"
Beberapa tetes air mata jatuh begitu saja usai mendengar semua yang Kiran katakan.
Andai kamu tahu bahwa kamu juga berarti besar bagi saya, Kiran. Andai kamu tahu bahwa kamu memiliki andil yang sangat besar di dalam hidup saya. Andai kamu tahu bahwa saya pun tidak akan bisa jika tanpa kamu.
"Iya. Saya nggak akan meninggalkan kamu. Kamu juga ya?"
"Iya."
__ADS_1