Chandana

Chandana
Bagian 26


__ADS_3

"Kirannnnn!" Roka menggedor pintu kamar Kiran dengan tidak sabaran.


"Iya-iya, sebentar," seru Kiran dari dalam kamarnya.


Roka bergerak-gerak gelisah menunggu pintu sinting dihadapannya ini terbuka.


"Ngapain sih berisik banget?" Kiran mendengus kesal persis setelah pintu kamarnya terbuka.


"Bunda kemana? Kenapa pembantu yang bukain? Sejak kapan ada pembantu di sini?" Roka membombardir Kiran dengan segala pertanyaan yang ada di benaknya.


Besok adalah hari dimana mereka akan berangkat ke puncak guna melangsungkan kegiatan outbond. Karena memiliki cukup banyak barang bawaan, Kiran memutuskan membawa mobil sebagai kendaraan yang akan membawanya ke sekolah besok. Roka yang mengetahui hal ini pun bergegas meluncur ke rumah Kiran, berniat nebeng sebab esok hari ayahnya tidak bisa mengantar Roka.


Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di benak Roka saat melihat seorang wanita paruh baya yang mengaku sebagai pembantu baru Kiran membukakan pintu. Setahunya, sejak insiden yang menimpa Arda kedua orang tua Kiran sepakat tidak mau menampung pembantu tetap untuk tinggal di rumah mereka. Kebingungannya semakin menjadi setelah masuk ke rumah dan tidak bisa menemukan Arda serta ibunda Kiran dimanapun.


Kiran menghela napas. Memang mau tidak mau ia harus menceritakan semuanya pada Roka, "Masuk dulu sana."


Kiran membereskan koper serta tas punggung kecil yang nantinya akan ia bawa. Sementara Roka bersila di atas kasur usai melemparkan barang bawaannya ke sembarang tempat.


Rumah Kiran sangat besar dan megah. Mungkin dua atau tiga kali lipat lebih besar dari rumah Roka yang sejujurnya sudah masuk kategori mewah. Kamar Kiran pun membentang luas dengan balkon lebar yang disertai sebuah gazebo kecil. Bahkan sebuah kasur berukuran king size yang setiap malam dipakai Kiran untuk tidur pun terasa tidak terlalu besar bila dibandingkan luas kamarnya. Sebuah set komputer lengkap berada di sebelah jendela kaca yang memperlihatkan balkon kamarnya. Kiran juga memiliki tiga buah rak besar berisi buku-buku tebal yang menyakitkan mata Roka tiap kali melihatnya. Jalan menuju kamar mandinya juga dilengkapi kloset pakaian yang ukurannya tidak main-main. Bagi Roka, Kiran adalah satu-satunya orang kaya raya yang cukup bodoh sebab masih menggunakan ponsel usang keluaran China.


Roka betah berlama-lama di rumah Kiran karena segala yang ia butuhkan ada di sana. Meski di rumahnya sendiri pun Roka memiliki segala benda-benda dan barang mewah yang ia butuhkan, namun di tempat Kiran ada kehangatan keluarga yang tidak pernah Roka temukan di rumahnya. Bahkan ketika ibunya masih berada di sana pun, rasa kekeluargaan tidak pernah ia rasakan di tempat itu.


Dan sekarang, kemana perginya semua orang? Keluarga hangat yang selama ini menyayanginya layaknya bagian dari mereka? Kemana semua?


Kiran duduk di sebelah Roka, ia menceritakan semuanya dengan tetap memilah dan memilih kata yang tepat agar tidak membuat Roka merasa khawatir.


"Sejauh ini belum ada bahaya apapun sih. Tapi ini tindakan preventif aja dari Bokap gue supaya nanti kalau terjadi hal-hal yang nggak diinginkan, semua udah ada persiapannya. Lo nggak usah khawatir. Setiap akhir minggu mereka bakal ke sini kok, atau gue yang kesana. Lo bisa ikutan kalo mau," Kiran mencoba menanangkan Roka yang terlihat amat terkejut serta panik.


"Pantesan satpam rumah lo nambah dua biji sama satu lagi bapak-bapak kacamataan item mantengin cctv depan rumah sampe ketiduran begitu." Roka tetap berusaha terlihat tenang meski sebenarnya ia sangat khawatir. Ia tahu benar betapa berbahayanya penjahat itu.


"Gue tinggal di sini dulu aja kalo gitu. Gue bisa tidur di kamar Arda atau di dapur kalo lo keganggu ama ngorok gue yang kadang-kadang mengalun merdu. Gue gakmau liat lo sendirian di sini. Lagian Bokap gue pasti ngerti kalo gue mau tinggal di sini sementara. Boleh kan? Gue janji kaga bakal ngerepotin dan berisik!" Lanjut Roka, menawarkan diri atau mungkin lebih tepatnya memaksakan diri.


"Mama gue juga bilang begitu. Kalo lo mau tinggal di sini dulu boleh aja sih. Nginep doang beberapa hari terus pulang selang seling juga boleh. Terserah lo, lagian rumah ini juga udah kek rumah lo sendiri mengingat apa yang sedang terjadi," Kiran melirik posisi Roka sebagai tamu yang enak-enakan berbaring terlentang di kasur sementara ia Sang Tuan Rumah justru duduk di pinggiran kasur.


Roka tertawa menyadari betapa sopannya ia. Malam itu keduanya saling berbagi cerita mengenai banyak hal. Tentang fakta bahwa besok mereka akan tinggal bersama dengan Naya, Chandana, dan bahkan Ratih, tentang Roka yang mulai tertarik dengan Naya secara emosional, tentang Kiran yang kini sudah mulai berbicara nonformal dengan Chandana, juga tentang hal-hal lain yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri.


Malam yang panjang itu berakhir ketika Roka tertidur usai mereka menonton film superhero. Kiran membereskan sampah-sampah camilan dan minuman yang ada di kamarnya, menyalakan penyedot debu untuk mengangkut remahan makanan dari karpet berbulu yang ada di sebelah ranjangnya, kemudian berbaring tidur dan menunggu datangnya hari esok.


---

__ADS_1


Belasan Bis berukuran raksasa berjajar rapih di lapangan basket SMA Tunas Kelapa. Sebagian akan mengangkut siswa kelas 12 sedangkan sebagian lagi akan mengangkut siswa kelas 11. Mereka tidak dikenai biaya apapun atas kegiatan ini lantaran semua telah digabungkan dengan biaya daftar ulang setiap awal tahun ajaran. Meski begitu, fakta bahwa SMA Tunas Kelapa adalah sekolah bagi anak orang-orang kaya memang tidak bisa dipungkiri. Fasilitas kelas atas serta metode pembelajaran yang unik dan efektif menjadikan SMA Tunas Kelapa sebagai sekolah unggulan yang dilirik oleh para pengusaha, pejabat, dan orang-orang berduit untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Meski masih ada beberapa anak beasiswa, uniknya sekolah ini tidak pernah membuka identitas siapa-siapa saja siswa yang menerima beasiswa agar tidak terjadi kesenjangan di antara murid-muridnya.


Lapangan basket yang semula lengang kini mulai ramai oleh siswa dan siswi yang mulai berdatangan. Nyaris semuanya mengenakan pakaian yang classy namun tetap casual, menunjukkan nilai fashion yang indah namun tetap menyesuaikan tempat dan usia. Beberapa mobil mewah terlihat berlalu lalang, beberapa orang tua mengantarkan anaknya kemudian meninggalkan mereka usai memastikan semua barang bawaan sang buah hati telah masuk ke dalam bagasi. Tidak sedikit pula yang setia menunggu hingga nanti tiba saatnya keberangkatan mereka.


Chandana turun dari mobil dengan tenang. Ia mengangkat kopernya dengan bantuan seorang supir kemudian mengatakan agar supirnya segera kembali ke rumah tanpa perlu menunggunya berangkat. Dari sekian banyak pilihan pakaian, Chandana melabuhkan pilihannya pada celana jeans denim serta kemeja polos hijau army yang tiap-tiap ujungnya dimasukkan ke dalam jeans, menampakkan belt simpel yang melingkar di celana yang ia kenakan. Sejujurnya, Chandana ingin bisa tidur di dalam bis nanti dengan hanya mengenakan sweater dan celana panjang, namun Naya mencegahnya dan mengatakan agar Chandana memperhatikan penampilannya di keberangkatan mereka kali ini.


Ketika Chandana mempertanyakan alasannya, Naya berkelit dan berakhir dengan tidak terjawabnya pertanyaan Chandana. Alasan Naya sebenarnya mudah saja, ia ingin orang-orang lebih memperhitungkan Chandana. Temannya memang disukai banyak laki-laki karena kepolosan, ketenangan, dan tentu saja kecantikannya, namun di mata siswi perempuan, Chandana dianggap sok polos dan sok pendiam meski itulah kenyataannya. Kini Naya ingin menonjolkan sisi feminim Chandana dengan membuatnya tampil stylist meski sebenarnya ia cantik terlepas dari apapun yang dikenakan. Naya hanya ingin menyumpal mulut orang-orang dengan penampilan berbeda dari Chandana, dan benar saja, teman-teman sekelasnya yang munafik itu kini terperangah bahkan hanya dengan melihat Chandana mengenakan kemeja dan celana jeans.


Naya tersenyum penuh kemenangan sembari melambaikan tangannya pada Chandana. Gadis itu membawa sebuah koper biru muda dengan tas bahu kecil. Naya menguncir rambutnya seperti biasa dengan mengenakan topi baseball.


"Udah lama?" Naya mengelap peluh di dahinya kemudian duduk di pinggiran lapangan.


Chandana meletakkan kopernya dalam posisi berdiri kemudian duduk di sebelah Naya. "Belum terlalu lama."


Naya mengangguk kemudian tersenyum antusias, "Tau nggak. Kelas kita sekelompok sama kelas Kiran dan Roka."


Chandana terdiam. Wajahnya tetap tenang namun kedua matanya memancarkan binar kebahagiaan. Naya tahu itu bahkan hanya dengan menatap Chandana.


"Kita jadi banyak temannya." Chandana menjawab sekenanya.


Naya menggeleng pelan seraya tersenyum simpul, ia tahu Chandana merasa senang namun ia tidak ingin membahasnya dan membuat Chandana merasa malu dengan itu.


Roka dan Kiran berjalan beriringan. Beberapa mata langsung tertuju pada mereka. Keduanya terlihat sempurna dalam balutan seragam, namun dengan pakaian kasual keduanya memancarkan aura ketampanan yang tidak dapat terbendung oleh siapapun, bahkan oleh Naya dengan segala kegengsiannnya juga Chandana dengan segala ketenangannya.


Roka menyengir saat matanya bertemu dengan Naya. Ia buru-buru menghampiri gadis itu, meninggalkan Kiran yang berjalan amat lelan lantaran masih sibuk menghibungi orang rumah untuk membawa kembali mobilnya. Tentu saja Kiran tidak mungkin meninggalkan benda itu di sini selama 4 hari.


"Wow cantik-cantik banget lo pada. Udah siap berpesta?" Roka memukul ujung topi Naya yang sontak membuat gadis itu menggeram kesal karenanya.


"Pesta-pesta your head! Belum aja lo ngerasain nyamuk hutan ya!" Naya melepaskan topinya, menyeka keringat yang memenuhi dahi dan sisi-sisi wajahnya.


Chandana hanya tersenyum samar melihat pertengkaran ringan Naya dan Roka. Sejenak ia memainkan jemarinya, kemudian mencuri pandang ke arah Kiran yang masih fokus memperhatikan ponselnya tanpa menyadari berapa banyak mata yang kini tengah memperhatikannya sembari berbisik-bisik dengan orang di kiri dan kanan mereka. Chandana mendesah pelan kemudian mengedarkan pandangan, mencoba mencari-cari sesuatu yang mungkin lebih menarik dari Kiran.


"Hai," Kiran meletakkan kopernya kemudian duduk dengan tetap memberi jarak tiga atau empat puluhan centimeter dari Chandana.


Dengan keterkejutan, Chandana menoleh. Kiran sudah duduk di sampingnya, memandanginya dengan tatapan hangat, menunggu ia menjawab sapaan yang diucapkan Kiran barusan.


"Hai." jawab Chandana pada akhirnya.


Berhasil mendapatkan yang ia tunggu, Kiran kembali fokus dengan ponselnya. Hal ini rupanya memunculkan sedikit rasa penasaran di hati Chandana. Beberapa kali ia berniat mengajukan pertanyaan tentang siapa yang sedang coba Kiran hubungi, namun Chandana selalu mengurungkan niatnya dan membuang pandang ke arah Roka dan Naya yang masih ribut sendiri.

__ADS_1


Kiran memasukkan ponselnya ke dalam saku saat kebetulan Chandana tengah mengamatinya. Meski gadis tersebut tidak bertanya, Kiran berinisiatif memberitahu Chandana siapa yang tengah sibuk ia hubungi. "Saya minta pegawai di rumah buat ambil mobil itu tapi beliaunya ketiduran."


Chandana tersenyum samar. "Sekarang sudah bangun?"


"Sudahh. Sekarang menuju ke sini." Kiran tersenyum sembari menelisik pakaian yang dikenakan Chandana.


Kiran menengadah. Cuaca pagi ini cukup mendung dengan udara yang berkabut. Kiran bahkan melapisi sweaternya dengan jaket lantaran udara dingin yang terasa menembus tulang. Melihat Chandana yang cantik dengan kemejanya membuat Kiran berpikir, tidakkah gadis tersebut kedinginan?


"Kamu nggak dingin?" Kiran memperhatikan Chandana yang duduk bersila sembari memainkan jemarinya.


"Enggak terlalu," Chandana menoleh kemudian tersenyum tipis, mencoba meyakinkan Kiran.


Kiran nampaknya tidak cukup puas dengan jawaban Chandana. Ia mengobrak-abrik tas punggungnya kemudian mengeluarkan beberapa bungkus permen dan mengulurkannya pada gadis tersebut.


Chandana menatap uluran tangan Kiran dengan heran, "Ini apa?"


"Ini permen jahe. Supaya kamu hangat."


Chandana mengambil satu permen dari Kiran, membuat laki-laki itu menyodorkan tangannya sekali lagi, "Ambil semuanya. Saya ada banyak."


"Terimakasih."


Dengan hati-hati, Chandana membuka bungkus permen tersebut kemudian memasukkannya ke dalam mulut. "Enak." Chandana tersenyum.


"Tuh kan. Kalo mau nambah bilang aja. Aku ada banyak."


Chandana melirik ke sana-sini, mencoba mencari tong sampah untuk membuang sampah permennya. Sesaat kemudian Kiran mengulurkan tangan kosong. Chandana mengernyitkan dahi, tidak mengerti.


"Sampahnya." Kiran memberi tahu maksudnya.


Dengan ragu, Chandana meletakkan bungkus permennya yang telah kosong di telapak tangan Kiran. Laki-laki itu bergegas memasukkannya dalam saku jaket kemudian kembali menatap Chandana, "Kamu pernah ikut kegiatan kayak gini nggak?"


Chandana menggeleng pelan, masih mengunyah permen pemberian Kiran.


"Saya juga enggak. Sepertinya banyak banget hal yang nggak pernah kita lakukan ya, sampai-sampai hampir semuanya jadi yang pertama kali. Ngapain aja saya selama hidup." Kiran tersenyum saat mendapati Chandana menyetujui kalimatnya.


Keheningan menyelimuti keduanya. Lebih daripada apapun, kalimat terakhir Kiran terdengar seperti sindiran bagi dirinya sendiri. Ia merenungi ucapannya dan memikirkan semua hal yang pernah ia lalui selama ini. Tidak banyak hal berarti dalam hidupnya. Mungkin banyak, namun semuanya terlupakan oleh dua peristiwa mengerikan yang pernah menimpanya. Kiran tidak memiliki cukup ruang untuk mengingat kenangan bahagia lantaran kepala dan hatinya telah sesak dipenuhi kenangan pahit dan menyakitkan.


Tanpa Kiran ketahui, bukan hanya dirinya yang berpikiran demikian. Gadis yang kini duduk di sebelahnya, yang dihargai dan dipedulikannya lebih dari siapapun -selain ibunya-, juga memiliki kenangan dan kesulitan yang tak kalah pahit dari miliknya. Sampai saat itu mereka belum saling mengerti dan memahami kesulitan satu sama lain. Belum saling mengetahui betapa kejamnya takdir pahit yang di kemudian hari akan mengikat mereka, bahkan mengancam kebersamaan singkat yang indah ini.

__ADS_1


__ADS_2