
Roka menelan ludah dengan susah payah. Sudah hampir 1 jam lamanya ia duduk bersebelahan dengan Naya di bangku perpustakaan. Peristiwa langka ini terjadi akibat ulah Kiran yang meminta Naya untuk mengajari mereka sedikit pengetahuan tentang Bahasa Inggris agar Roka tak lagi perlu mencari-cari subtitle berbahasa Indonesia tiap kali menonton film asing. Meski awalnya Roka terus menolak karena malas, namun pada akhirnya justru dirinya-lah yang sibuk berguru pada Naya sementara Kiran justru asik membaca sebuah buku tebal yang entah sejak kapan telah berada di hadapannya.
"Eh, ini gue bingung nih. Lo yang ngajakin belajar malah gue yang kerja keras mencerna segala apenih bahasa matahari apa gimane sih!" Roka yang merasa kepalanya berkunang karena tak sanggup lagi mencerna materi yang disampaikan Naya pun memutuskan untuk menegur Kiran yang tidak lain merupakan biang dari acara belajar dadakan mereka.
Tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang ia baca, Kiran mendesis pelan seraya berkata, "Kok jadi gue. Yang suka ribet cari subtitle lebah ganteng siapa?"
Mendengar balasan Kiran membuat Roka merasa kesal, ia tak mau terlihat payah di hadapan perempuan apalagi di depan Naya yang memang kerap meremehkan dirinya. "Eh, ngapainn. Lo kira gue apaan doyan ama lebah ganteng, gue mah doyannya ama yang cantik cantik gila aja lu."
Naya yang sejak tadi menahan tawa mendengar pertikaian dua sahabat ini pun tak kuasa lagi menahan diri. "Udah ah, ini perpustakaan pada kenapa si, heran. Lo juga ya, daritadi ditanya bahasa inggrisnya timun sama meja doang kaga bisa-bisa, pakek sok-sok an nggak doyan lebah ganteng lagi lo." Naya mencecar Roka dengan hujatan karena memang sejak tadi lelaki itu terus membuatnya geregetan karena kemampuan berbahasa Inggris yang cukup payah.
Dengan tatapan sedih, Roka menunduk. Naya memang selalu mampu menohok perasaan Roka dengan segala fakta atas kelemahan yang dimilikinya. Roka mengatupkan kedua bibirnya, ia tak berusaha terlihat menggemaskan namun entah kenapa aksinya ini membuat pipi Naya merona. Tak mau terlihat salah tingkah, Naya buru-buru membuang muka. Tak mau lagi memandangi wajah merajuk Roka yang entah kenapa nampak begitu menggemaskan bagi dirinya.
Setelah beberapa saat berusaha menenangkan diri, Naya kembali melirik ke arah Roka yang rupanya masih nampak merajuk. Dengan berat hati, Naya memutuskan untuk mengakui kesalahannya karena mungkin fakta yang diungkapkannya melukai hati Roka. "Maaf, becanda doang kok. Makanya kalo belajar tuh yang serius. Jangan masalah cewek mulu lo pelajarin."
"Yaudah ajarin lagi." Roka tersenyum tipis seraya menarik buku paket Bahasa Inggris yang sejak tadi mereka jadikan bahan belajar. Naya mengangguk singkat seraya bergeser mendekat ke arah Roka agar bisa melihat isi dari buku paket tersebut.
Kiran yang sejak tadi terlihat amat fokus membaca buku rupanya sempat mencuri pandang beberapa kali pada dua orang yang duduk di hadapannya ini. Entah kenapa, Kiran merasa bahwa Naya cukup bisa membuat Roka merasa nyaman. Sahabatnya itu nampak bahagia dan sangat lepas ketika berinteraksi dengan Naya. Dalam hati kecilnya, Kiran berharap bahwa Roka akan segera menemukan seorang perempuan yang bisa membuka mata dan hatinya agar tak lagi menyimpan dendam pada sang ibunda.
Selama beberapa waktu, ketiganya sibuk dengan buku di hadapan mereka masing-masing. Kiran yang memang telah membaca cukup lama merasakan lelah pada kedua matanya sehingga memutuskan untuk sejenak beristirahat dengan memandangi rak-rak buku yang ada di sekitar mereka. Siapa sangka, niat Kiran untuk mengistirahatkan sejenak kedua indera penglihatannya justru mengantarkan ia pada sosok cantik dengan rambut tergerai yang tengah sibuk memilih buku di salah satu rak yang jaraknya tidak cukup jauh dari posisi mereka bertiga. Meski gadis tersebut berdiri membelakanginya, entah kenapa Kiran merasa yakin bahwa sosok tersebut adalah si gadis misterius.
Selama beberapa waktu Kiran tak sedikitpun mengalihkan pandangannya. Ia mengamati setiap gerak-gerik yang dilakukan gadis tersebut dengan seksama. Naya yang duduk tepat di hadapan Kiran pun menyadari sikap aneh lelaki tersebut. Alhasil Naya memutuskan untuk mengikuti sorot mata Kiran, untuk sesaat Naya merasa terkejut karena yang sedari tadi diamati dengan serius oleh Kiran adalah seorang perempuan. "Kok kaya kenal?" Naya berbisik pelan, ia merasa familiar dengan sosok perempuan tersebut.
Sembari berusaha mengingat, Naya memutuskan untuk terus mengamati gadis tersebut. Ia yakin benar bahwa ia mengenali sosok tersebut, namun Naya benar-benar kesulitan mengingat. Hingga saat gadis tersebut berbalik menghadap dirinya, barulah Naya menyadari siapa sosok yang sedari tadi mencuri perhatian Kiran. "Chandana? Sini!" Naya memanggil gadis tersebut dengan suara yang teramat lantang sehingga menjadikannya pusat perhatian. Seisi perpustakaan memandang ke arahnya dengan ekspresi terkejut sekaligus kesal, tak terkecuali Roka dan Kiran yang duduk bersebelahan serta berhadapan dengannya.
Namun lebih daripada apapun, satu-satunya hal yang membuat Kiran terkejut adalah nama yang baru saja Naya sebutkan. "Chandana? Dimana?" Tanpa sadar, Kiran mengucapkan kalimat tanya seraya melongok kesana-kemari.
Naya yang mendengar pertanyaan Kiran sontak merasa heran. "Hah? Bukannya daritadi lo lagi liatin dia ya? Masa iya lo belum ngerti yang mana Chandana?"
"Hah?" Kiran menatap Naya dengan sorot mata tak percaya. Ia merasa bingung sekaligus heran menyadari bahwa dua gadis yang selama beberapa hari belakangan kerap mengganggu pikirannya ternyata adalah satu orang yang sama.
Kiran buru-buru menatap ke arah Chandana. Gadis tersebut rupanya telah berjalan mendekat ke arah mereka usai Naya memanggilnya beberapa waktu yang lalu. Saat itu, waktu terasa melambat bagi Kiran. Gadis misterius yang ternyata adalah Chandana itu kini tengah berjalan pelan seraya menatap lurus ke arah lantai, tak membiarkan Kiran menatap wajah yang entah kenapa terlihat amat sangat cantik itu. Rambutnya yang hitam dan panjang terayun-ayun lembut seiring dengan hentakan kaki Chandana di lantai keramik perpustakaan. Outer rajut berwarna kuning yang dikenakannya terlihat senada dengan warna kulitnya yang pucat. Sedikit demi sedikit, frekuensi detak jantung Kiran mulai mengalami peningkatan. Terlebih ketika pada akhirnya gadis tersebut mendongak, memperlihatkan wajah cantik serta ekspresi sendu yang tak bisa dijelaskan. Kiran menelan ludah dengan susah payah, untuk pertama kalinya dalam hidup ia merasakan reaksi yang tak biasa seperti ini ketika melihat seorang perempuan.
"Heh, biasa aja kali liatinnya. Kedip tuh mata!" Roka yang sebenarnya juga terpukau dengan betapa cantiknya Chandana pun tak kuasa untuk tidak menggoda Kiran. Untuk sejenak Roka merasa gadis bernama Chandana itu sangat melebihi ekspektasi yang dipikirkan olehnya, ia pikir seorang gadis penggemar buku tebal adalah sosok kutu buku berkacamata. Namun rupanya Roka salah besar, Chandana terlihat sangat cantik dengan wajah sendunya yang memberi kesan pendiam dan lemah lembut. Ia berharap gadis ini sebaik kelihatannya sehingga Roka bisa dengan tenang membiarkan Kiran mendekati dan mengenal sosok Chandana lebih dalam lagi.
"Apaan sih." Kiran membuang muka karena malu sementara Naya dan Roka tertawa kecil menyadari sikap salah tingkah yang Kiran tunjukkan. Bersamaan dengan itu, Chandana telah sempurna berdiri di sebelah Naya. "Eh kalian berdua, kenalin ini Chandana. Chandana, kenalin ini Roka dan ini Kiran." Ujar Naya mencoba memperkenalkan Chandana dengan Roka dan Kiran yang sejak tadi menemaninya di perpustakaan.
__ADS_1
Chandana tersenyum kecil sembari memandang Roka, kemudian mengalihkan pandangannya pada Kiran yang ternyata berusaha terlihat sibuk dengan membuka kembali buku yang sempat ditutupnya beberapa waktu yang lalu. "Eh iya, Chandana, si Kiran dari kemarin nanyain tentang lo tau, dia sampek keliling sekolah buat nyari anak yang namanya Chandana." Roka yang sebenarnya sudah berusaha menahan diri untuk tidak mengatakan apapun pada akhirnya tak tahan lagi, terlebih setelah melihat ekspresi grogi Kiran yang sangat jarang ditemuinya itu.
Kiran yang semula terus menunduk untuk menyembunyikan kegelisahannya sontak mendongak menatap Roka. Ia tak percaya Roka setega itu pada dirinya. Perasaan malu yang amat besar menyeruak memenuhi hati dan pikirannya. "Hah? Siaapa? Kapannn? Enggaak kook."
Roka gila dasaaaarrrr. Malu malu malu banget gila gila gilaaaaaaa.
"Iya." Jawaban singkat nan lembut keluar begitu saja dari bibir Chandana, membuat dua sahabat yang tengah saling mengintimidasi satu sama lain melalui tatapan mata itupun beralih memandangnya.
Melihat wajah Chandana yang sama sekali tidak berekspresi tanpa sadar membuat Kiran merasa sedikit kecewa. Ia rasa benar jika Chandana mungkin merasa terganggu karena dirinya. Meski sejujurnya Kiran berharap bahwa Chandana mungkin akan mengatakan sesuatu tentang kejadian beberapa waktu yang lalu ketika ia menolong gadis tersebut sewaktu Rendi mengganggunya, namun Kiran merasa sudah cukup hanya dengan mengetahui identitas serta kebenaran tentang siapa Chandana meski hatinya sedikit kecewa.
Roka yang menyadari ekspresi kecewa Kiran pun merasa sedikit bersalah sehingga ia memutar otak untuk melakukan sesuatu guna menebus rasa bersalahnya. "Aduh, laper banget nih perut gue. Ke kantin yuk? Chandana, gabung sama kita ya?"
Chandana yang semula berdiri di sebelah Naya tanpa ekspresi sontak terkejut dengan ajakan Roka yang terkesan tiba-tiba. Tak tahu harus bereaksi bagaimana, Chandana memutuskan untuk menolak ajakan Roka dengan sopan. "Maaf, bukannya saya nggak mau, tapi saya mau kembali ke kelas saja." Balas Chandana dengan suara lirih. Penolakan Chandana membuat Kiran semakin yakin bahwa gadis tersebut mungkin sedang berusaha menghindarinya, hal ini membuat kepala Kiran semakin dalam tertunduk.
Naya yang menyadari kecanggungan di antara mereka juga merasa bingung harus bertindak bagaimana. Chandana memang tak pernah sekalipun berinteraksi dengan anak-anak di kelasnya karena sifatnya yang sangat pendiam, bahkan jika diingat kembali, ini adalah kali pertama bagi Naya memanggil nama Chandana sejak mereka tergabung di kelompok yang sama beberapa bulan yang lalu. Mengajak Chandana pergi ke kantin bersama? Tentu saja Naya tidak merasa heran jika ajakan Roka ditolak. Sepanjang berada di kelas yang sama dengan Chandana, Naya tak pernah sekalipun melihat gadis tersebut melangkahkan kaki ke kantin sekolah. Chandana selalu membawa kotak bekal serta minuman dari rumah, satu-satunya tempat yang mungkin Chandana kunjungi bila keluar kelas pastilah perpustakaan.
Namun melihat posisi Roka yang terpojok serta Kiran yang tertunduk lesu membuat Naya mau tak mau harus berinisiatif. "Chandana, nggak apa-apa, si Roka hari ini lagi seneng jadi dia mau traktir kita semua. Kamu ikut ya? Nanti balik ke kelas bareng aku aja. Mau yaa?" Naya tersenyum sembari menatap penuh harap ke arah Chandana.
Terlihat jelas betapa kebingungannya Chandana dengan semua yang terjadi, alisnya bertaut karena tak tahu harus bereaksi bagaimana. Usai memikirkan perkataan Naya serta mempertimbangkan kembali, pada akhirnya Chandana memutuskan untuk bergabung dan pergi ke kantin bersama mereka.
"Yes! Yaudah, kuy lah berangkat!" Roka menutup semua buku terbuka yang berada di hadapannya, lantas menarik tangan Naya untuk berjalan terlebih dahulu.
"Aduh, Nay. Jangan keras-keras kalo ngomong, kita masih di perpus. Iya-iya mau nyebrang. Menyebrangi tembok yang misahin aku sama kamu." bisik Roka yang sontak membuat Naya naik darah.
"Dasar sinting." ujarnya seraya berjalan mendahului Roka tanpa mau lagi menghiraukan ucapan-ucapan tidak berguna yang dilontarkan laki-laki tersebut.
Di sisi lain, Chandana berjalan ragu di belakang keduanya. Kiran yang baru saja mengembalikan buku yang tadi sempat ia baca pun berjalan di belakang Chandana, sesekali mengamati punggung gadis tersebut, ia nampak teramat rapuh dan tidak percaya diri. Bahkan hanya berjalan pun gadis tersebut nampak penuh keragu-raguan sebab langkahnya tak pernah tegas dan mantap. Entah kenapa, Kiran merasa nyaman mengamati dari belakang. Dari sana, ia bisa melihat sosok Chandana tanpa perlu merasa malu-malu.
Roka yang berada beberapa langkah di depan Chandana menyempatkan diri untuk menengok ke belakang. Betapa terkejutnya ia melihat Kiran yang malah berjalan di belakang Chandana. Entah bodoh atau memang terlalu polos, Roka merutuki tingkah Kiran yang bukannya memanfaatkan kesempatan justru berjalan layaknya orang yang tidak saling mengenal seperti itu. "Dongo banget temen gue, heraannnn!" Gumam Roka yang tanpa sengaja terdengar oleh Naya yang berjalan di sebelahnya. Dengan ragu, Naya turut menengok ke belakang, ia tak kuasa menahan senyum ketika melihat dua orang tersebut. Chandana yang sibuk menyembunyikan wajah dengan menunduk, serta Kiran yang berjalan lurus seraya memandangi Chandana yang berjalan pelan tepat beberapa langkah di depannya.
"Kita udah susah-susah juga. Liat tuh anak noh! Bukannya ngobrol kek, apa kek, malah jalan bebaris begitu! Apaan cobak, bebek lo? Hadeh!" Roka tak kuasa menahan rasa kesal melihat betapa dodolnya Kiran.
"Telpon aja si Kiran, suruh ngajakin dia ngobrol. Si Chandana emang anaknya pendiem parah." Naya berusaha memberikan usulan agar rencana mereka tidak berantakan begitu saja sebab Kiran tak kunjung mengajak Chandana bicara.
Mendengar usulan Naya membuat Roka sedikit lega, ia memutuskan untuk menelpon Kiran dan untungnya segera diangkat beberapa detik kemudian. "Heh, ngapain sih lo? Ajakin Chandana ngobrol, gila! Malah jalan di belakangnya begitu, siape lo? Pengawalnya?" Roka berusaha meredam suaranya agar tidak sampai terdengar oleh Chandana yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
"Gue harus ngomong apaan?" Kiran yang tak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan pun mengharapkan usulan dari Roka agar ia tak salah langkah.
"Tanya apaan kek, ngutang kek, bahas buku kek, udahlah buruan sono! Gedeg gue ama lo lama-lama!" Roka yang memang sudah merasa gemas dengan sikap dua orang di belakangnya ini pun secara blak-blakan melontarkan emosinya pada Kiran.
"Iya-iya." Kiran mengakhiri panggilannya dengan Roka kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Di depan sana, Roka kembali menengok ke belakang yang juga membuat mata dua sahabat tersebut saling bertatapan. Dari sorot matanya, Roka berusaha meyakinkan Kiran agar segera berjalan mensejajari Chandana.
Dengan ragu, Kiran melebarkan langkah kakinya. Usai berhasil mensejajari Chandana, entah bagaimana debaran jantungnya mulai bertambah cepat. Sementara itu, Chandana yang menyadari seseorang tengah berjalan di sebelahnya pun sontak mendongakkan kepala. Dilihatnya seorang Kiran tengah memandang ke arahnya dengan tatapan lembut yang seingat Chandana tak pernah ia terima dari siapapun sebelumnya.
"C.. Chandana." Kiran yang terkejut sebab Chandana tiba-tiba mendongak pun spontan memanggil nama gadis tersebut untuk menyembunyikan rasa gengsi karena kedapatan tengah memandangi puncak kepala Chandana.
"Iya?" jawab Chandana seraya membuang muka.
"Ka.. Kamu, anu.. Apa ya.." Kiran terus mencoba menyusun kalimat namun kepalanya terasa amat berat dan penuh sehingga tak mampu menemukan kalimat yang tepat untuk di ucapkan.
Mendengar suara Kiran yang terbata-bata membuat Chandana kembali mendongak untuk melihat wajah lelaki tersebut. Kiran rupanya sibuk menatap langit-langit serta menggaruk kepalanya, entah apa yang sedang dipikirkan laki-laki tersebut. "Ada apa?" tanya Chandana sekali lagi.
"Nggak tau! Maaf!" Pekik Kiran seraya berlari terbirit-birit mendahului Chandana serta Roka dan Naya. Untuk sesaat mata semua siswa yang berada di koridor tertuju pada Kiran yang kemudian menghilang di balik belokan. Pekikannya teramat keras sehingga membuat aktivitas beberapa siswa terhenti sesaat. Tak terkecuali Roka yang berdiri mematung seraya menatap nanar ke arah belokan tempat Kiran menghilang.
Di sisi lain, Kiran terus berlari dengan kecepatan tinggi hingga membuat heran orang-orang yang melihatnya. Dalam hati, Kiran terus merutuki dirinya sendiri karena tak mengerti setan apa yang merasukinya hingga melakukan hal konyol seperti ini hanya karena tak tahu harus berkata apa di hadapan seorang perempuan.
Gue lagi ngapain si? Mati aja lo Kiraaannnnnnn!
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.