Chandana

Chandana
Kiran (16)


__ADS_3

"Lagi liat apa?" Edy menyentuh bahu Kiran, membuat laki-laki yang tengah menatap lurus ke arah langit-langit itu terlonjak.


"Nggak," Kiran mengelak. Ia masih mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang diperhatikan Rendi.


Sementara itu, acara penutupan terus berlangsung. Hingar-bingar kemeriahan tersaji dengan elok dan luar biasa. Semua penonton terlihat senang dan bersuka cita, tak terkecuali Menteri Pemuda dan Olahraga yang menyempatkan hadir pada acara penutupan turnamen tahun ini.


Belasan pria berbaju hitam terlihat berdiri di sekitar Bapak Menteri. Kiran simpulkan mereka adalah penjaga atau pengawal yang ditugaskan untuk menjaga keamanan Menteri tersebut. Selain itu, banyak pula terdapat petugas keamanan dari kepolisian yang terlihat berjaga di berbagai sudut. Wajar saja, acara ini adalah acara yang besar, melibatkan puluhan tim yang berasal dari berbagai macam daerah yang tersebar di Indonesia. Tamu yang hadir pun bukan main-main, para pejabat dan petinggi kota terlihat duduk di kursi vip dengan suguhan mahal yang tersaji di meja-meja mereka.


Kiran menghela napas saat merasa tak dapat menemukan sesuatu yang aneh di langit-langit yang sebelumnya di perhatikan Rendi. Laki-laki itu juga rupanya sudah pergi sebab Kiran tidak dapat menjumpainya saat ia kembali melihat ke arah bangku penonton.


Sekali lagi Kiran menyandarkan punggung di kursi. Menatap tanpa minat ke titik yang menjadi pusat perhatian semua orang. Kini ia hanya berharap acara ini segera selesai agar pertandingan dapat segera dimulai sehingga Kiran bisa segera menyelesaikan urusan pertandingan dan fokus menangani masalah lain yang belum mampu ia tuntaskan.


Waktu terus berjalan. Stadion semakin lama semakin ramai, lebih-lebih setelah Bapak Menteri meresmikan acara penutupan yang secara tidak langsung menggiring mereka menuju babal final.


Kiran dan rekan-rekannya telah berada di ruang ganti sejak tiga puluh menit yang lalu. Di sana, mereka saling berbagi strategi dan memanjatkan doa dengan menggunakan kata dan kalimat yang beragam meski intinya nyaris sama semua.


Kiran melepas sepatu futsalnya kemudian mengeluarkan benda asing yang ada di dalamnya. Sebuah kerikil berukuran sedang terlempar keluar saat Kiran menjungkir balikkan sepatu tersebut. Pantas saja sejak tadi Kiran terus merasa tidak nyaman. Meski sempat merasa penasaran darimana dan bagaimana sebuah kerikil bisa masuk ke dalam sepatunya, Kiran memilih untuk tidak terlalu peduli. Bukan saatnya ia memikirkan hal-hal yang tidak perlu sementara pertandingan besar menunggu untuk dimenangkan serta masalah rumit menunggu untuk diselesaikan.


Edy mengumpulkan anggota timnya, memerintahkan mereka membentuk sebuah lingkaran kecil dengan tangan yang saling merangkul bahu orang yang berdiri di kanan dan di kiri mereka.


"Hari ini, apapun yang terjadi, lakukan yang terbaik! Masalah hasil urusan belakangan yang penting kita semua selamat dan memberikan yang terbaik buat sekolah! Buat keluarga! Buat diri kita sendiri dan buat orang yang kita cintai!" Edy menatap Kiran sesaat setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Seolah sadar bahwa Kiran sedang mengalami kendala dalam percintaannya.


Mereka semua kompak menunduk sembari memejamkan mata. Berdoa sekali lagi untuk satu tujuan yang sama, kemenangan.


"Oke, ayo kita lawan mereka!" Edy berseru, memompa semangat seluruh anggotanya yang turut menyuarakan seruan serupa.


Kiran tersenyum samar, melihat kawan-kawannya penuh harapan dan cita-cita membuat Kiran ingin berusaha lebih baik lagi untuk memenangkan pertandingan ini. Ia ingin mempersembahkan kemenangan yang indah pada semuanya sehingga mereka dapat menceritakan perjuangan dan kesulitan selama jalannya turnamen ini dengan bangga dan penuh suka cita.


Riuh ramai mulai terdengar dari area penonton saat komentator pertandingan mulai mengucapkan kalimat pembuka. Seluruh anggota yang akan bertanding mulai dihinggapi rasa gugup yang membuat mereka berdebar. Tidak sedikit yang mulai berkeringat dingin akibat merasa tertekan.


Ketika yang lain sibuk melompat, melakukan pemanasan atau sekedar meregangkan otot sebagai upaya untuk menghilangkan rasa gugup, Kiran justru berdiri di salah satu sudut dengan tangan bersedekap. Bukannya ia tidak merasa gugup seperti halnya yang lain, Kiran hanya sedang menghadapi situasi dimana ia seolah berada di dalam mimpi. Mendengar kebisingan di luar sana membuatnya merasa seolah semua ini bukanlah hal yang nyata.


Semua orang pasti pernah merasa demikian. Berada di suatu keramaian, namun merasa sendirian. Seolah-olah semua yang terjadi di sekitar hanyalah gambar sedangkan kita sendiri sebagai orang yang melihatnya dari luar meski sebenarnya kita adalah bagian dari keramaian yang ada. Itulah yang kini dirasakan Kiran.


Tidak lama setelahnya, komentator pertandingan meneriakkan nama tim lawan, memanggil mereka untuk segera memasuki lapangan. Kiran dan rekan-rekannya segera berkumpul dan membentuk suatu barisan sebab giliran mereka pun akan tiba hitungan detik setelahnya.


"Tim futsal SMA Tunas Kelapa!" teriak si komentator, suaranya menggema dengan nyaring di seisi stadion terlebih saat ditambah dengan sorak-sorai dari para penonton ketika melihat member tim Tunas Kelapa mulai muncul satu-persatu.


Seperti biasa, semua anggota dari kedua tim saling menyapa dan bersalaman sebelum kapten dari masing-masing tim melakukan undian koin dengan wasit untuk menentukan siapa yang akan melakukan kick off untuk membuka pertandingan mereka kali ini.


Karena Edy dalah dalam memilih, tim lawan berhasil mendapatkan kesempatan untuk melakukan kick off terlebih dulu.

__ADS_1


*Priiiiiiiitttt*


Dan pertandingan pun dimulai.


Tanpa banyak berbasa-basi, tim lawan langsung melakukan serangan ke jantung pertahanan tim Tunas Kelapa. Edy dan beberapa rekannya sempat dibuat terkejut dengan pola serangan lawan yang sangat cepat, beruntung mereka dapat beradaptasi dan menghadang serangan pertama tersebut dengan baik dan sigap.


Kini bola berada di kaki Edy, ia menunjuk ke salah satu titik kemudian mengoper bola ke arah Kiran yang terlihat berlari ke titik tersebut. Berhasil mendapat bola, Kiran berlari dengan cepat ke area pertahanan lawan. Alih-alih mengoper bola pada Bayu yang bebas tanpa penjagaan, ia lebih memilih melesakkan shooting langsung yang justru membentur tiang gawang lawan.


Kiran memalingkan wajah ke arah rekan-rekannya sembari mengucapkan maaf. Edy mengangguk sekilas sembari mengacungkan jempol. Bagaimanapun juga Kiran menyadari bahwa ia kesulitan mengontrol emosinya setelah segala hal yang diketahuinya hari ini. Sempat tersebit rasa sesal di hati Kiran karena mencari kebenaran tepat sebelum ia menghadapi sebuah pertandingan penting. Meski begitu ia tidak ingin menyerah, ia masih akan berusaha keras dan mati-matian mengontrol diri agar dapat membawa timnya meraih kemenangan.


Bola kembali bergulir di lapangan. Jual-beli serangan terus terjadi hingga membuat para penonton merasa gemas dan kesal sendiri karena tak kunjung tercipta gol.


Dengan napas tersengal, Kiran mengoper bola kepada Bayu. Ia masih berlari kecil saat tanpa sengaja melihat lampu berukuran besar yang ada di atap lapangan sedikit bergoyang. Merasa salah lihat, Kiran kembali mendongak ke atas saat lampu tersebut kembali bergoyang.


"Ran!" teriak Damar, membuat Kiran yang perhatiannya teralihkan merasa terkejut dan justru kehilangan bola.


Kiran meminta maaf sekali lagi karena bertindak ceroboh. Kali ini Edy memutuskan untuk mengganti Kiran dengan pemain lain dan menyuruhnya beristirahat sejenak untuk kembali memfokuskan diri, "Lo duduk dulu. Fokus Ran!" seru Edy saat Kiran berjalan pelan ke pinggir lapangan.


Kiran menyalami beberapa rekannya yang tengah duduk di bangku cadangan sembari meneguk sebotol minuman. Ia duduk dengan tenang sembari mengamati permainan lawan. Sejujurnya permainan anak Balaraja terlihat lebih rapih dan sulit di imbangi daripada permainan lawan mereka kali ini. Namun karena Kiran kehilangan fokus dan konsentrasi, ia justru membuat anggota lain merasakan kerugiannya dengan gagal mencetak gol sampai saat ini.


Kiran menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan berat. Ia mendongak untuk merilekskan leher saat matanya kembali menangkap lampu yang masih terlihat bergoyang. Posisinya telah sedikit lebih turun dari terakhir kali Kiran melihatnya.


Tidak lama berselang, Kiran mulai merasakan firasat buruk. Entah apa itu, yang pasti sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Ia menggeleng pelan sembari memukul-mukul telinganya kemudian menyisir bangku penonton. Ia tengah mencoba menemukan keluarganya yang mengatakan akan melihat pertandingan hari ini.


Kiran tersenyum simpul. Jika bukan untuk dirinya dan juga teman-temannya, setidaknya Kiran harus memenangkan pertandingan ini untuk mereka. Untuk keluarganya.


Dengan keyakinan dan tekad yang berhasil menggusur kegelisahan atas masalah-masalah yang belum terselesaikan, Kiran merasa dirinya mampu memfokuskan diri dan membela tim mereka sekali lagi.


Kiran hendak memberikan isyarat pada Edy saat wasit meniup peluit tanda babak pertama telah berakhir. Semua pemain yang berada di lapangan mulai berjalan ke pinggir dan menghampiri official mereka.


Edy menenggak sebotol air minum kemudian duduk tepat di sebelah Kiran, "Gimana? Udah bisa konsentrasi?" tanya Edy sembari mengelap keringat di wajah dan lehernya dengan menggunakan handuk.


Kiran mengangguk mantap, "Udah. Maaf ya, gue nggak seharusnya bersikap gitu tadi. Kalau aja gue oper bo-"


"Udahlah. Setelah ini lo masuk, hajar gawang mereka, oke?" Edy menepuk bahu Kiran sembari menyunggingkan senyum.


Kiran mengangguk kemudian melakukan sedikit pemanasan ringan sebelum babak kedua dimulai.


Beberapa pemain tim lawan mulai memasuki lapangan saat wasit menginformasikan bahwa pertandingan akan segera dilanjutkan kembali. Kiran dan beberapa rekannya yang lain pun turut masuk ke lapangan dan mengambil tempat di posisi masing-masing.


Peluit kembali ditiup dan pertandingan babak kedua pun dimulai. Seperti sebelumnya, tim lawan kembali melakukan serangan cepat sesaat setelah kick off. Namun bedanya kali ini para pemain bertahan dari Tunas Kelapa sudah mengetahui skema serangan tersebut sehingga mereka dapat melakukan defense dengan baik.

__ADS_1


Kiper mendendang bola dan mengumpankannya pada Bayu. Bayu berlari melewati beberapa orang pemain lawan dengan lihai, usai melihat Kiran meminta bola, Bayu mengoper bola tersebut yang dengan sukses mendarat di kaki Kiran.


Dengan lihai Kiran menggocek bola kemudian berlari kencang dan melesakkan tendangan indah ke gawang lawan, memecah kebuntuan dan mengubah skor kacamata sejak babak pertama.


"Gooooooollll!"


"Woooooo!"


Sorakan meriah menggema di seluruh stadion, suka cita menyelimuti wajah semua orang saat pada akhirnya gol tercipta di pertandingan kali ini. Berbanding terbalik dengan kebahagiaan yang terukir di wajah para pendukung SMA Tunas Kelapa, suporter tim lawan terlihat lesuh dan kecewa. Suara drum dan nyanyian yang sejak tadi mereka gaungkan mendadak menghilang dari permukaan, digantikan oleh teriakan kebahagiaan dari setiap suporter SMA Tunas Kelapa.


Kiran berjalan lega sembari menatap teman-temannya. Dalam hitungan detik semua rekan Kiran telah meloncat ke arahnya, memberi pelukan hangat sekaligus bahagia sebab mereka dapat mengungguli tim lawan. Kini tugas mereka tinggal menjaga keunggulan yang ada hingga waktu pertandingan berakhir.


Tidak ingin terlena lebih lama lagi, Kiran kembali ke posisinya. Tim lawan masih bersiap melakukan kick off saat Kiran kembali mendongak dan mendapati lampu yang sebelumnya hanya bergoyang-goyang kini menggantung, seolah akan segera jatuh.


Kiran hendak memikirkan solusi untuk ini saat bola kembali bergulir di lapangan. Kiran berada pada dilema antara mengejar bola atau pergi menghubungi pihak acara. Ia masih berdiri dengan bingung saat Edy berteriak menegur dan mengumpankan bola pada Kiran.


Tanpa pikir panjang, Kiran menyambut bola tersebut dan berlari menyisir lapangan. Ia mendongak beberapa kali dan menyadari bahwa lampu tersebut semakin melorot dan menggantung. Benda itu benar-benar akan jatuh.


Fokus! teriak Kiran pada dirinya sendiri saat berhasil merebut kembali bola yang sempat dicuri darinya.


Kiran berlari ke area pertahanan lawan, mengecoh beberapa pemain, lantas mengoper bola kepada Bayu yang dengan mulusnya kembali menggetarkan jala lawan.


Stadion kembali bergemuruh, kali ini jauh lebih heboh dan keras dari sebelumnya. Setidaknya dengan sisa waktu pertandingan yang hanya menghitung menit, kemenangan seolah telah ada di genggaman.


Di sisi lain, frekuensi suara yang besar ditambah dengan aksi penonton yang melakukan selebrasi dengan melompat-lompat bersama membuat lampu yang nyaris jatuh itu semakin berada di ujung tanduk.


Kiran kembali mendongak. Ia harus segera memberitahukan hal ini kepada pihak keamanan.


Kiran pun bergegas berjalan ke pinggir lapangan. Ia berjalan dengan langkah cepat sembari mendongak sesekali saat Edy memanggilnya.


"Bagus, Ran!" teriak Edy yang kini berjarak belasan meter dari tempat Kiran berdiri.


Kiran tersenyum tipis kemudian kembali mendongak untuk memastikan lampu itu masih berada di tempatnya. Kiran baru saja berniat menghela napas lega saat ia mendapati sati-satunya kabel yang menahan lampu tersebut putus, membuat lampu besar itu bergulir jatuh dan akan segera menimpa... Edy?


Kiran berlari dengan cepat, ia mendorong tubuh Edy kuat-kuat hingga membuat kaptennya itu terpental amat jauh sementara dirinyalah yang justru tertimpa lampu tersebut.


Seisi lapangan menjerit menyaksikan apa yang terjadi di lapangan. Roka yang duduk bersebelahan dengan Naya di salah satu bangku penonton pun membelalak dan melesak ke lapangan sedetik setelahnya.


Liliana menjerit melihat putranya berlumuran darah sementara Pradipta berlari menuruni tangga demi tangga untuk turun ke lapangan.


Setelah terdiam karena shock selama sepersekian detik, semua rekan Kiran berhambur ke arahnya. Sementara Edy masih terduduk di tempat dengan tangan gemetaran serta mata terbuka lebar.

__ADS_1


Siang itu adalah kebanggaan dan kemenangan bagi Tunas Kelapa. Namun sekali lagi, untuk sebuah kebanggaan serta torehan sejarah yang berhasil mereka raih, ada harga yang harus di bayar. Harga yang amat sangat mahal.


__ADS_2