
"Hah? Gila aja lo ya! Penampilan rapih dan tampan begini yakali gue begaul ama anak begituan?" Roka tersedak cendol sesaat setelah mendengar permintaan Naya untuk menyelidiki masalah kakaknya.
Naya mengangguk lemah. Ia memang sudah menduga bahwa Roka mungkin tidak akan bisa menolongnya. Naya dan Roka memiliki ranah yang berbeda dengan Sang Kakak, oleh sebab itu Naya merasa gagal dan kecewa pada dirinya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika orang-orang itu datang lagi dan melakukan hal yang semakin parah.
Roka mengamati ekspresi Naya, ia sadar betul bahwa ekspresi kesedihan tersirat dari wajah gadis tersebut usai mendengar jawaban darinya. Lantas mau bagaimana lagi? Roka memang tidak memiliki kenalan ataupun teman yang berkecimpung di dunia malam.
"Memang masalah kakak lo apa sih sampek digebukin sama orang-orang begituan? Dia ngerampok apa begimana?" Roka mencoba mengorek informasi lebih dalam agar ia memahami semuanya, siapa tahu ia bisa membantu melalui cara yang lain.
Naya menggeleng pelan, "Enak aja lo. Papa gue nafkahin kita dengan baik ya! Tapi gue yakin waktu itu dua berandal itu nyebut-nyebut tentang pelunasan. Gue punya firasat ini ada hubungannya sama obat-obatan terlarang, makanya kakak gue nyuruh gue diem. Kalau cuma uang sih bukan masalah besar buat Papa gue, tapi dia larang gue cerita, pasti ada sesuatu yang mau di tutup-tutupin," Naya mencoba mengatakan segala yang ada dipikirannya.
Roka mengusap dagunya, "Nay, dengerin gue ya. Kalau masalahnya menyangkut hal-hal kayak gitu, ini bukan ranah lo, bukan juga ranah gue, kita masih pelajar, Nay. Ini bahaya. Bukannya gue nggak mau bantuin, tapi kakak lo ngelarang lo ikut campur pasti karena dia udah pahan dan ngerti bahwa ini semua bakal ngebahayain diri lo," Roka mencoba meyakinkan Naya agar tidak terlalu ikut campur dalam urusan kakaknya. Roka khawatir hal tersebut akan membahayakan diri Naya.
"Terus gue harus gimana? Lo mau gue cuma diem aja ngeliat kakak gue dihajar? Ngeliat dia digebukin sampai hampir mati? Gak! Gue gak bakal diem aja!" Naya bersikeras untuk tetap membantu kakaknya. Bagaimanapun juga Naya tidak bisa membiarkan semuanya begitu saja.
Roka mendesah frustasi karena sifat keras kepala Naya, "Susah banget sih dibilangin! Kalau emang lo mau bantu kakak lo, mending lo tanya dulu sama dia siapa lawannya, siapa yang bakal lo hadepin supaya lo tahu keputusan lo ini tepat atau enggak! Lo bahkan belum tahu mereka itu siapa dan nekat mau ikut campur? Mau mati ya?" Roka tidak bisa menahan emosinya lantaran rasa khawatir yang tidak terbendung.
Naya terkejut sebab Roka berbicara dengan nada yang menurutnya cukup tinggi, "Kenapa lo malah marah sama gue sih? Kalo nggak mau bantuin gue yaudah! Nggak usah bentak-bentak segala macem!" Naya yang sejak kemarin terus merasa gelisah kini justru bertambah kesal sebab Roka tak bisa memahami situasinya dengan baik.
Dengan tergesa-gesa, Naya mengambil tasnya dan pergi keluar dari kafe. Ia benar-benar kesal dan tidak ingin berada di sana bersama Roka lebih lama lagi. Sementara itu, Roka yang melihat Naya pergi keluar semula hanya diam dan menjatuhkan kepalanya di atas meja sembari mendesah frustasi. Tak lama setelahnya, Roka membereskan meja dan berlari keluar dari kafe untuk mengejar Naya.
"Nay? Naya!" Roka memekik saat melihat Naya tengah diseret oleh dua orang berpakaian serba hitam.
Tanpa ragu, Roka melayangkan tendangan tepat di pinggang salah seorang lelaki yang kini tengah menarik Naya hingga membuat pegangannya pada Naya terlepas. Lelaki tersebut merasa geram dan langsung membalas tendangan Roka dengan melayangkan pukulan yang berhasil dihindari Roka.
Satu pria lain yang masih memegangi Naya memutuskan untuk ikut membantu rekannya membereskan Roka. Dengan kekuatan yang bukan main, dua lelaki tersebut menghantam Roka habis-habisan hingga darah dan lebam mulai nampak di wajah dan pergelangan tangan Roka. Meski begitu, ia tidak menyerah dan berusaha keras melumpuhkan dua orang tersebut.
Perkelahian itu berlangsung selama belasan menit hingga si pemilik kafe berhasil memanggil petugas kepolisian dan membuat dua orang tersebut berlari terbirit-birit. Naya yang merasa shock tidak berhenti menangis sedikitpun melihat Roka dihajar dan menghajar orang-orang tersebut.
Dengan kaki gemetar, Roka menepis tangan orang-orang yang hendak menolongnya lantas berjalan ke arah Naya yang kini tengah duduk tersungkur sembari menitihkan air mata dengan tatapan kosong. Roka membelai rambut Naya dengan lembut kemudian mengatakan, "Lo nggak apa-apa? Ada yang sakit nggak?"
__ADS_1
Naya mendongak, air matanya mengalir semakin deras melihat wajah Roka yang babak belur. Ia segera bangkit dan memeluk Roka dengan erat hingga membuat laki-laki tersebut mengerang lantaran memar-memarnya terhimpit.
"Maafin gue ya. Gara-gara gue elo... Gara-gara gue-" Naya menenggelamkan wajahnya di bahu Roka, ia tidak sanggup berkata-kata karena isakannya.
Naya benar-benar merasa bersalah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sesuatu yang buruk juga menimpa Roka. Entah siapa dan darimana datangnya dua pria tadi, Naya benar-benar tidak mengerti. Seingatnya ia baru saja keluar dari kafe dan dua orang tersebut langsung menarik tubuhnya dengan paksa, seolah mereka telah menunggu dan mengawasi Naya sejak lama.
Sebelum pergi ke rumah sakit bersama dengan petugas kepolisian yang menolong mereka, Roka sempat berbisik pada Naya, "Nay, gue nggak apa-apa. Tapi tolong jangan keras kepala. Ini bukan sesuatu yang bisa kita tangani sendiri, Nay. Kita masih anak-anak. Seenggaknya kalau kita mau ngelakuin sesuatu, kita harus tahu dulu masalahnya apa dan lawan kita siapa. Oke?"
Naya mengangguk pelan dengan masih terisak. Ia memeluk erat lengan Roka untuk membantunya berjalan menuju mobil polisi. Beberapa orang yang tadi sempat membantu mereka nampak mengamati kepergian keduanya dengan sedikit khawatir. Sementara itu, sosok berpakaian serba hitam dengan sebuah topi dan masker terlihat mengamati mereka dengan seksama.
Usai memastikan mobil polisi yang membawa Naya dan Roka sudah tidak lagi terlihat, orang tersebut berjalan meninggalkan lokasi kejadian dengan perasaan puas dan senang lantaran ia merasa telah mendapatkan beberapa informasi yang ia inginkan.
---
Roka menjejakkan kakinya ke lantai saat luka di lengannya tersenggol oleh pasien yang juga tengah berjalan di lorong rumah sakit. Naya melirik Roka yang meringis kesakitan dan menanyakan keadaannya. Roka hanya mengangguk pelan sembari menekankan bahwa ia baik-baik saja.
Usai memberikan beberapa keterangan kepada pihak kepolisian, Roka memutuskan untuk tidak memperpanjang kasus ini. Entah kenapa ia merasa tidak ada yang perlu diusut atau diselidiki. Sejujurnya Roka belum sepenuhnya merasa aman dan masih sedikit khawatir, namun ia tidak ingin masalah ini terdengar oleh ayahnya dan ia pun tidak ingin menghabiskan liburannya dengan penuh keribetan dalam mengurusi masalah-masalah yang memusingkan ini.
Setelah semuanya beres, Roka meminta Naya menghubungi Kiran agar ia bisa menjemput Roka serta membawanya untuk menginap di rumah sahabatnya itu selama beberapa hari, setidaknya sampai memar dan semua luka yang diderita Roka membaik. Naya mengiyakan permintaan Roka dan segera menghubungi Kiran.
Sembari menunggu kedatangan Kiran, Naya duduk di samping Roka sembari mengamatinya dengan seksama. Rasa bersalah kembali menyeruak di hati Naya ketika melihat kondisi Roka saat ini. Di samping itu, Naya juga merasa penasaran dan bertanya-tanya siapa dua orang yang tadi hendak membawanya. Ia berasumsi dua orang tersebut ada hubungannya dengan dua orang lain yang kemarin sempat memukuli kakaknya.
Tapi jika memang benar demikian, kenapa ia yang harus dibawa? Apa jangan-jangan mereka menyadari bahwa kemarin Naya mempermainkan mereka dengan membunyikan suara sirine mobil dari ponselnya? Atau mereka hendak menculik Naya sebagai jaminan agar kakaknya segera melunasi semua hutangnya? Atau justru dua orang tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan peristiwa kemarin?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Naya merasa pusing bukan main. Roka menyadari kekhawatiran Naya, terlihat jelas dari kedua mata gadis tersebut bahwa ia sedang gelisah. Dengan perlahan, Roka meraih telapak tangan Naya dan menggenggamnya.
"Nay, nggak usah terlalu khawatir. Gue yakin semua akan baik-baik saja. Masalah dua orang yang tadi berusaha mencelakai lo dan gue, bisa gue minta Kiran untuk bantu cari tahu. Menurur gue orang tua Kiran punya kekuasaan dan kenalan yang cukup buat sekedar cari tahu masalah ini. Yang pasti sekarang lo tenang dan jangan macem-macem ya? Jangan coba-coba membahayakan diri sendiri," dengan suara pelan, Roka mencoba menenangkan sekaligus mengingatkan Naya.
Meski rasa khawatir di hati Naya tidak bisa sepenuhnya menghilang, setidaknya mendengar ucapan Roka membuatnya sedikit lebih tenang, "Iya. Maafin gue yang terlalu egois dan grusak-grusuk sampai ngebahayain lo kayak gini."
__ADS_1
Roka menggeleng pelan, "Ini bukan salah lo. Ini salah mereka. Habis ini lo pulang bareng gue dan Kiran. Tidur yang nyenyak, nanti kalau ada informasi gue langsung kabarin lo, oke?"
Naya mengangguk pelan. Entah kenapa melihat Roka bisa seserius dan setenang ini membuatnya merasa aman dan nyaman. Ia tidak menyangka Roka akan bisa bersikap dewasa dalam menyikapi hal-hal semacam ini. Walaupun sifat jahil dan menyebalkan masih saja dilakukan Roka bahkan dengan keadaan tubuh yang penuh lebam seperti ini, namun Naya merasa senang dan bersyukur karena sekali lagi ia berhasil melihat dan mengetahui sisi lain dari seorang Roka.
Sore itu mereka membicarakan banyak hal serta saling melempar gurauan seperti biasanya. Beberapa kali Roka meringis kesakitan saat ia terlalu bersemangat dan banyak tertawa, menyebabkan beberapa luka di wajahnya yang masih belum mengering itu meregang dan menimbulkan rasa sakit.
Selama kurang lebih tiga puluh menit menunggu, Kiran akhirnya datang dengan terburu-buru serta panik. Ia terkejut melihat Roka babak belur seperti itu sehingga Naya dan Roka harus menceritakan segala hal yang menimpa mereka kepada Kiran di sepanjang perjalanan. Meski awalnya Kiran tidak habis pikir dan benar-benar terkejut, ia akhirnya bersedia menerima fakta yang ada dan akan turut serta membantu Naya.
"Kita duluan ya," Kiran tersenyum samar sembari melambaikan tangannya dari kaca mobil.
"Hati-hati kalian berdua!" Naya tersenyum sembari membalas lambaian tangan Kiran.
Usai memastikan mobil Kiran sudah tidak lagi terlihat, Naya berjalan menuju pagar kemudian masuk ke dalam rumah.
Hal pertama yang Naya sadari usai berjalan melintasi ruang keliarga ialah bahwa kedua orang tuanya sedang tidak berada di rumah. Naya merasa yakin karena biasanya Ibu tirinya akan duduk di depan televisi di jam-jam seperti ini, namun pada nyatanya Naya tidak menjumpai satu orangpun di ruang keluarga.
Naya menghela napas sembari terus berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan membersihkan diri. Mungkin adegan ini akan terdengar klise karena seringkali terjadi di dalam film, namun memang seperti itulah adanya. Naya yang kini tengah begitu gelisah berdiri tepat di bawah shower, membasuh rambut dan seluruh tubuhnya dengan terisak pelan sehingga dengan air yang mengguyur tubuhnya menyatu dan luruh bersama dengan air mata.
Tentu saja hal seperti ini bukanlah hal yang bisa diterima begitu saja oleh seorang siswi yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Lebih daripada apapun, tubuh dan bulu kuduk Naya tidak berhenti meremang saat membayangkan dua orang laki-laki yang hendak membawanya tadi. Bagaimana jadinya jika Roka terlambat? Bagaimana jadinya jika mereka berhasil membawa Naya? Apa yang akan Naya alami setelah itu? Akankah ia masih hidup saat ini jika semua itu terjadi?
Pikiran-pikiran seperti ini terus mengusik Naya hingga ia keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya. Dengan kaos dan celana pendek, Naya berjalan menuju dapur untuk mencari makanan. Ia membutuhkan tenaga dan asupan yang cukup untuk menunjang pikirannya yang sejak kemarin tidak sedikitpun berhenti bekerja.
Suara-suara sendok dan piring yang beradu terdengar samar-samar pada awalnya, namun semakin Naya mendekat ke arah dapur, semakin jelas pula suara tersebut. Dengan ragu Naya melangkah dan mengintip dari balik tembok. Awalnya ia merasa parno dan berprasangka yang tidak-tidak, namun usai melihat dan memastikan sumber suara, Naya menghela napas lega saat mengetahui bahwa ternyata kakaknya lah yang sedang asyik menyantap makan malam di dapur.
Naya berjalan gontai untuk mengambil piring, ia bahkan sama sekali tidak menyadari ekspresi senang dan sumringah yang terukir di wajah kakaknya sampai ia benar-benar duduk di hadapan kakaknya dengan sepiring makanan di meja.
"Kenapa seneng banget sih? Bukannya mikirin orang-orang yang kemarin! Kalau mereka apa-apain lo gimana?" Naya menyalak kesal saat melihat kakaknya tidak terlihat khawatir sama sekali.
"Tenang aja. Semua udah beres. Gue nggak tau sih, tapi mereka bilang utang gue udah lunas karena udah ada yang bayar. Jadi gue udah gak ada urusan apa-apa lagi sama mereka," ujar kakak laki-laki Naya sembari terus menjejalkan sesendok penuh makanan ke mulutnya.
__ADS_1
Naya tercekat. Siapa? Siapa yang melunasi semuanya? Kiran? Roka? Siapa?