
Rintik-rintik hujan yang tidak dapat dikatakan deras masih mengguyur sejumlah wilayah dengan kuantitas konstan. Tidak terkecuali area perumahan tempat Naya dan keluarga kecilnya tinggal.
Kini Naya tengah asyik memainkan bola basket di lapangan olahraga kompleks yang hanya berjarak tiga puluhan meter dari rumahnya. Meski gerimis masih mengguyur, meski pakaian yang ia kenakan telah nyaris basah seluruhnya, Naya masih tidak memiliki sedikitpun niatan untuk berhenti bermain.
Naya masih terus dan terus berlari mengitari lapangan, mendribel bola di tangannya dengan tenaga yang tidak main-main, lantas menggigit pelan bibir bawahnya saat dengan penuh kekuatan ia melakukan shooting, namun tembakannya justru kembali meleset.
Lagi-lagi, Naya menghela napas dengan penuh rasa kesal. Dadanya naik turun antara marah dan lelah. Ia hanya diam dan berdiri cukup lama hingga akhirnya memutuskan untuk duduk dan menyelonjorkan kaki dengan ekspresi yang perlahan mulai melunak.
Sore itu, ia hanya duduk dan merenung di bawah guyuran hujan. Tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi semua rasa sakit di hatinya lantaran menyadari betapa brengs*k orang yang disukainya selama ini. Ia tidak habis pikir dimana kurang dan salahnya ia selama ini. Naya pikir dengan tidak pernah bersilisih dan bertengkar hubungannya akan tetap baik-baik saja, namun Naya salah besar. Ia justru harus menelan pahitnya diduakan oleh kekasih yang selama 3 tahun ini selalu bersama dan menemaninya dari awal masa sekolah menengah pertama hingga hari kelulusan tiba.
Naya mengusap wajahnya yang basah oleh leburan air mata dan hujan. Hari itu ia bertekad bahwa ia tidak akan pernah lagi jatuh cinta. Ia benci dengan semua laki-laki, lebih-lebih pada mereka yang suka mempermainkan hati perempuan. Tak ada sebutan lain lagi bagi orang-orang yang tidak setia selain sampah.
Dengan perasaan yang masih belum sepenuhnya lega, Naya berjalan pulang ke rumah. Orang pertama yang dijumpainya usai membuka pagar ialah Rosa, ibu tirinya. Ibu sambungnya itu berlari berduyun-duyun usai melihat Naya berdiri di depan pagar dengan basah kuyup oleh air hujan. Wajahnya yang masih terlihat segar dan muda itu tertutup ekspresi khawatir lantaran sejak tadi menunggu putrinya kembali.
Naya membuang bola di genggamannya lantas memeluk Rosa dengan erat. Naya menumpahkan air matanya sekali lagi, namun kali ini dengan isakan yang teramat keras. Ia semakin mempererat pelukannya saat ingatan tentang penghianatan yang diterimanya terus berputar di seisi kepala nyaris seperti kaset rusak. Naya menangis tersedu-sedu sementara ibu tirinya sibuk menenangkan, tak kuasa melihat gadis yang sudah seperti putrinya ini menangis sebegitunya.
Rosa yang kini telah berusia empat puluh tahun baru beberapa bulan ini menjadi ibu sambung bagi Naya dan kakak laki-lakinya. Bagi Rosa, Naya sudah seperti putrinya sendiri, hal yang sama berlaku pula bagi kakak laki-laki Naya. Ia mencintai suami barunya sejak mereka masih muda, namun kala itu takdir belum ingin menyatukan. Rosa dan Rizal -ayah Naya- harus berpisah dan menjalin biduk rumah tangga dengan orang lain.
Belasan tahun terpisah, Rosa kembali bertemu dengan Rizal yang saat itu telah sendiri lantaran istrinya sudah lama meninggal. Rosa sendiri memiliki seorang putra yang amat ia sayangi, namun ia tidak mencintai ayah dari anaknya sedikitpun. Pria berwatak keras dan egois yang selama ini merenggut semua kebahagian yang dimilikinya. Rosa memutuskan bertahan selama belasan tahun hanya karena putranya, namun hampir setahun lalu ia resmi bercerai dengan suaminya dan kini mendapatkan keluarga baru bersama dengan Rizal dan anak-anaknya.
Naya yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu pun begitu bersyukur dengan kehadiran sosok Rosa yang sabar, baik, dan penuh pengertian. Meski awalnya merasa takut lantaran ibu tiri selalu digambarkan sebagai sosok yang jahat dan kejam, kini Naya benar-benar bergantung dan menyayangi Rosa seperti ibu kandungnya sendiri.
Usai hari yang menyakitkan itu, Naya tetap menjalankan hidup sebagaimana mestinya. Dan yang paling penting, Naya menunaikan tekad yang sempat ia ucapkan pada dirinya sendiri kala itu, yakni dengan tidak akan pernah jatuh cinta lagi, lebih-lebih pada laki-laki buaya darat yang gemar mengumbar kata-kata dan janji manis.
Naya resmi masuk dan mengenyam pendidikan di salah satu sekolah terbaik di seantero negara yang kebetulan terletak di kotanya, SMA Tunas Kelapa. Meski terkenal ketat dan memiliki metode yang rumit dalam menyeleksi siswa baru, pada akhirnya Naya berhasil diterima di SMA Tunas Kelapa karena prestasi olahraga yang ia miliki.
Dengan tekad kuat untuk berubah menjadi sosok yang baru, Naya memulai hari-harinya sebagai siswi SMA dengan perubahan yang cukup signifikan.
Selama di SMP, Naya terkenal sebagai gadis yang feminin dan ceria meski ia tergabung dalam tim basket. Naya berteman dengan banyak laki-laki dan disukai pula oleh banyak di antara mereka lantaran sikapnya yang manis, blak-blakan, dan ceria. Namun semenjak SMA Naya merubah penampilannya nyaris 180 derajat. Ia selalu mengikat rambutnya, melipat ujung lengan seragamnya, serta mengenakan gelang berwarna hitam agar terlihat tomboy. Naya hampir selalu mengenakan jeans dan kaos daripada kemeja, outer, atau baju-baju feminin lainnya ketika bepergian kemana-mana.
Selain perubahan penampilan, Naya juga merubah sedikit sikap dan caranya bertutur kata pada lawan jenis. Ia tidak lagi bersikap ramah dan ceria melainkan ketus agar para laki-laki itu merasa takut padanya. Dan memang terbukti benar bahwa cara ini ampuh dan manjur sekali. Nyaris semua pria yang menyukai Naya langsung menyerah sebelum sempat menyatakan perasaan lantaran sikap ketus dan sinis yang diberikan Naya pada tiap kesempatan.
__ADS_1
Semua berjalan sempurna saat di suatu sore, Naya menjumpai sosok laki-laki yang terlihat sok tampan, banyak tertawa, dan suka sekali menggoda perempuan. Naya mendecih kesal ketika mengamati gelagat laki-laki tersebut saat tengah menggoda beberapa rekan basketnya. Naya lebih kesal lagi melihat reaksi perempuan-perempuan tersebut, bagaimana bisa mereka terlihat kegirangan dan salah tingkah saat jelas-jelas tengah dirayu oleh seorang buaya?
Naya memutar bola matanya dengan jengah, lantas pergi ke arah rekan-rekannya untuk mengambil minuman yang ada di dalam tas.
Setibanya ia di sana, tanpa menghiraukan kikikan para gadis labil yang masih sibuk termakan rayuan, Naya mengambil botol dari dalam tasnya. Dengan sekali tegukan, ia telah menguras nyaris seperempat isi botol saking hausnya. Laki-laki yang telah masuk dalam daftar hitam orang yang akan ia jadikan teman itupun terkejut ketika melihat Naya yang dengan begitu ketus dan anggunnya meneguk begitu banyak air sekaligus. Laki-laki tersebut merasa tertarik serta penasaran usai melihat Naya. Tanpa berpikir panjang, hanya dalam hitungan detik ia berpamitan pada gadis-gadis di hadapannya, lalu berjalan mendekati Naya.
Si Laki-laki tersenyum -nyaris tertawa-, "Haus Mbak?" ujarnya dengan nada yang terdengar sangat konyol di telinga Naya.
Tanpa berniat menghiraukan laki-laki tersebut, Naya memutar tubuhnya dan berjalan menjauh.
Laki-laki tersebut menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut lantaran ini kali pertama ia bertemu dengan seorang gadis yang mengacuhkan dirinya. Masih belum ingin menyerah, ia berjalan dan mensejajari langkah kaki Naya, "Baru kali ini gue lihat cewek minum sekali teguk langsung abis se-liter," ia menggoda.
Naya memutar bola matanya kemudian berhenti melangkah, ia menoleh untuk menatap laki-laki tidak tahu diri yang kini berjalan di sebelahnya, "Gue lebih suka mencerna air dua galon daripada gombalan lo. Jauh-jauh sana, muka lo bukan tipe gue," Naya kembali melanjutkan langkahnya.
Laki-laki tersebut tertawa ringan, ia menggeleng pelan sembari lanjut mengikuti Naya, "Maaf banget tapi apa gue keliatan kaya lagi mau ngelamar lo?"
Naya menggigit dinding mulutnya, rasanya ingin sekali ia menendang laki-laki tersebut dengan sekuat tenaga namun tentu saja ia tidak bisa. Dengan helaan napas, Naya kembali berbalik untuk melihat lelaki tersebut, "Oke. Sekarang gue tanya mau lo apa?"
Laki-laki tersebut terdiam sejenak, ia menggaruk tengkuknya dengan bola mata yang sibuk bergerak kesana-kemari, rupanya ia pun masih bingung dengan tujuannya. Naya menatap malas sembari berkacak pinggang menunggu laki-laki ini menjawab pertanyaannya, tak sabar ingin memberi tendangan silat bila saja laki-laki ini berkata ingin menjadikan Naya sebagai kekasih atau semacamnya.
Tatapan malas dan rasa sebal yang sebelumnya terpampang jelas di wajah Naya berangsur mereda seiring dengan helaan napas berat yang tersembur melalui bibirnya yang tipis. Dengan pelan, ia mendesis, "Gue lebih mending temenan sama monyet daripada sama lo. Jangan ikutin gue lagi!" Naya berjalan cepat menjauhi laki-laki yang mengaku bernama Roka tersebut.
Dengan mulut menganga, Roka menggeleng tidak percaya, "Masa iya monyet lebih bagus dari gue? Gak bener ni anak."
Begitulah takdir Naya dengan sosok aneh dan tidak karuan ini dimulai. Pertemuan pertama yang mengesalkan dan menggelikan ini tidak membuat Roka menyerah untuk bisa dekat dengan Naya. Meski Naya berusaha mati-matian menghindari Roka, selalu ada saja hal yang membuatnya harus terlibat dengan laki-laki tersebut. Jika saja Naya tidak sangat menyukai basket, sudah pasti ia akan mundur dan mencari kegiatan lain yang tak mengharuskannya berjibaku dengan sosok agak tampan yang teramat aneh dan menjengkelkan itu.
Puluhan bahkan ratusan kali Roka membuat Naya berang lantaran kelakuannya yang menggelikan namun kadang Roka juga mengejutkan Naya dengan hal-hal unik dan baik tentang dirinya. Satu di antaranya ialah ketika sekolah mereka mengikuti turnamen basket antar provinsi. Itu adalah turnamen pertama yang diikuti tim basket SMA Tunas Kelapa usai Naya dan seluruh siswa angkatannya bergabung dengan tim -saat itu Naya masih duduk di kelas 10-. Oleh karena itu di pertandingan ini mereka tidak menjadi bagian dari skuat yang bertanding melainkan official yang membantu mengurus perlengkapan dan kebutuhan anggota yang tergabung dalam tim inti.
Dari sekian banyak anggota ekskul basket, Naya benar-benar merasa kesal lantaran orang yang akan bekerja dengannya dalam menangani konsumsi adalah Roka. Divisi konsumsi terbagi dalam beberapa bagian, secara kebetulan Naya dan Roka menadapat bagian untuk mengatur, membeli, dan membawa konsumsi pada hari-h pertandingan.
Dengan segala keresahan yang ia rasakan, Naya menatap bingung menu-menu yang ada di hadapannya. Ia merasa bingung makanan apa yang cocok untuk diberikan pada anak-anak nantinya. Sementara Naya bergelung dengan dilema, Roka yang duduk di sebelahnya tampak tengah memainkan sedotan di mulut dengan fokus.
__ADS_1
Naya hanya melirik dengan enggan, sudah terbiasa baginya melihat Roka bermain-main seperti orang bodoh.
"Geprek Cakar ini aja gimana?" Roka menunjuk salah satu menu yang ada di kertas dengan menggunakan sedotan yang entah sejak kapan beralih dari mulut ke tangannya.
Naya menghela napas, "Jangan bercanda! Bisa m*ncret satu tim dong ah! Ini kan pedes banget!"
Roka mengatupkan bibirnya, "Ada yang lebih pedes sih dari ini."
"Apa?" Naya menanggapi sekenanya sembari terus membolak-balik lembaran kertas di hadapnnya.
"Mulut lo. Pedes banget kan kek sambel matah?" Roka terkikik usai melihat Naya memasang ekspresi kesal.
Naya menggulung kertas-kertas tersebut hingga membentuk sebuah tabung memanjang, lantas memukulkannya ke tubuh Roka dengan membabi buta, "Gue lagi pusing, lo malah asyik ngunyah sedotan, ngerecokin gue mulu, sekarang segala ngatain pula. Pulang aja lo sana ga usah gangguin gue kalo ga mau bantu!" Naya memekik di akhir, membuat beberapa orang yang duduk di dekat meja mereka menatap heran.
Roka memegang lengannya, ia merasa bersalah, "Makan ini aja, rice box. Kemasannya gampang di angkut, udah gitu ada lauk, sayur, sama karbo kan? Minumnya bisa air mineral aja. Nanti gue bilang bokap gue biar mobilnya bisa di pakek buat ngambil makanannya," ujar Roka pelan, sembari melirik Naya yang kini telah kembali duduk di kursinya dengan tenang.
"Maaf ya gue ngeselin. Niatnya biar lo nggak stress-stress amat gitu," Roka membuang sedotan yang sudah tidak berbentuk itu ke dalam tong sampah yang ada di bawahnya.
Naya menghela napas pelan. Roka selalu banyak bermain-main sehingga ia tidak nampak seperti seseorang yang bisa berpikir atau menyikapi sesuatu secara serius. Namun dengan ini Naya merasa mengetahui sedikit hal baru lagi dari Roka, bahwa ternyata laki-laki di sampingnya ini bisa menjadi cukup serius dan dapat memikirkan solusi dengan baik. Meski tetap saja Roka terlambat menyampaikannya lantaran Naya telah melalui banyak waktu dengan dilema dan rasa bingung.
"Yaudah kalau gitu ini aja. Kenapa nggak bilang daritadi sih?" Naya melirik Roka, merasa kesal lantaran laki-laki ini terlihat dengan sengaja membuatnya berpikir keras sebelum akhirnya membantu memberikan solusi.
"Seru aja ngeliat lo marah-marah!" Roka tersenyum jahil.
"Emang kebangetan lo ya! Apa untungnya juga lo dimaki-maki tiap hari? Sebegitu pengennya lo dimarahin orang?" Naya benar-benar tidak mengerti lagi dengan cara berpikir Roka.
"Enak aja, lo pikir gue samsak, jadi sasaran kemarahan semua orang. Gak sih, gue cuma pengen lihat lo aja yang marah," Roka mengendikkan bahunya.
Naya mengerutkan dahi, "Hah? Kenapa gitu?"
"Lo cantik kalau lagi marah," Roka tersenyum simpul, membuat darah Naya kembali berdesir lantatan marah.
__ADS_1
"Ini tisu kalo gue sumpelin mulut lo gada yang tahu loh," Naya mengangkat kotak tisu yang ada di hadapannya sementara Roka tergelak.
Namun segala hal tersebut masih merupakan awal dari perjalanan panjang Naya, dari rollercoaster yang akan segera membolak-balikkan takdirnya dan takdir Roka.