
Roka memantulkan bola basket yang ada di genggamannya hingga menimbulkan suara berdebam yang berhasil menarik perhatian beberapa anak basket yang lain. Kini mereka tengah berteduh di koridor kelas yang berada tepat di samping lapangan basket. Hujan yang mengguyur sore ini tergolong cukup deras dan juga lama bila dibandingkan biasanya. Terhitung sudah satu jam lamanya mereka menunggu hujan reda, namun selama itu pula gemericik air hujan tidak ada hentinya memecah lengang di sekeliling mereka.
Sparing melawan SMA tetangga yang bahkan belum berjalan satu babak itupun terpaksa dihentikan demi keselamatan semua anggota tim. Berbeda dengan sepak bola, di tengah hujan seperti ini lapangan basket tentunya akan menjadi licin. Belum lagi bila harus bermain dengan bola yang berat disertai guyuran air hujan yang amat deras. Oleh sebab itu sudah menjadi kesepakatan semua orang bahwa di tengah hujan, pertandingan basket haruslah dihentikan sebab keselamatan pemain adalah yang utama.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore lebih beberapa menit. Roka memandang kosong ke tengah lapangan dengan tangan yang tak berhenti mendribel bola basket. Sejak tadi ia tidak bisa berhenti memikirkan Kiran yang belum juga terlihat batang hidungnya. Bohong bila ia mengatakan tidak khawatir terhadap sahabatnya itu. Belum lagi masalah perubahan sikap Chandana yang sempat disampaikan Naya kepadanya siang tadi.
"Hah... Gue bilang apa enggak ya soal tadi siang. Kalo gue bilang, itu anak pasti makin kepikiran," Roka menunduk untuk meletakkan bola basket dari genggamannya ke atas lantai.
"Tapi kalau gue nggak bilang... Kasihan juga itu anak," lanjutnya dengan suara yang terdengar putus asa.
Dari kejauhan, Naya yang melihat Roka tengah menatap kosong ke arah lapangan dengan ekspresi wajah gelisah pun memutuskan untuk mendekat dan berbicara pada laki-laki tersebut, "Mikirin apa lo?"
Roka menoleh cepat, "Buset. Sejak kapan lo di sini?"
"Barusan. Gue tanya sekali lagi, kenapa muka lo sepet begitu? Lagi mikirin apa?" Naya berdiri di samping Roka, memperhatikan wajah laki-laki yang lebih tinggi belasan centimeter darinya itu dengan seksama.
Sempat terlintas di pikiran Naya bahwa Roka ternyata tampan juga. Ia tinggi dan bertubuh atletis, rahangnya maskulin dan kulitnya bersih meski tidak bisa dikatakan putih. Hidungnya juga mancung bila dibandingkan dengan milik Naya. "Apenih? Terpesona denganku yaaa?" Roka menoleh ke arah Naya, menaikkan sebelah alisnya selepas mendapati gadis tersebut tengah asik menatap dirinya.
Naya membuang muka. Pipinya merona karena malu, "Yang bener aja lo. Gu- gue salfok sama panu di dagu lo."
Roka tergelak. Naya benar-benar menggemaskan ketika malu, "Heh, sori ya. Gue kalo mandi sabunan abis sebotol, enak aja bilang gue panuan." Roka menggosok dagunya dengan wajah cemberut.
Naya menahan diri untuk tidak tersenyum, usai mampu menetralkan kembali ekspresinya, ia kembali menatap ke arah Roka, "Terus itu apa dong yang ada di dagu lo?" Naya bertanya ragu.
Sejujurnya Naya tahu betul bahwa itu merupakan bekas luka, tapi ia tidak punya pilihan lain. Daripada harus menahan malu karena ketahuan sedang memandangi Roka, lebih baik pura-pura bodoh agar bisa berbincang lebih lama.
Buset, barusan gue mikir apaan. Setan mane nih yang ngerasukin gue.
Roka menyentuh bekas luka di dagunya, "Oh, ini. Dulu waktu kecil gue pernah jatuh di jalan raya pas lagi main sepeda. Dagu gue nyungsep di aspal dan bukannya cepet-cepet pergi gue malah nangis gak berhenti." Roka tersenyum kecil mengingat masa kecilnya.
Naya menaikkan alisnya, tak mengerti. "Terus? Di jalan raya kan banyak mobil? Lo nggak apa-apa setelah itu?"
Roka tersenyum, "Di situ gue ketemu Kiran. Gue masih nangis kejer saat dia narik sepeda gue ke trotoar, abis itu dia balik lagi, ngebantuin gue berdiri sambil bilang 'Aku punya permen'. Dia lepas kaos kakinya buat nyeka darah di dagu gue dan yang paling parah gue gada banyak cakap cuma iye-iye aja."
__ADS_1
Naya tertawa renyah. Roka ikut tersenyum sembari meliriknya sekilas, lalu melanjutkan cerita, "Sejak saat itu gue selalu ngikutin Kiran kemana-mana. Di mata gue dia keren banget. Dia baik banget. Selalu senyum dimanapun dan kapanpun, selalu nolongin orang lain. Beda sama Kiran yang sejak kecil emang udah rapih, ganteng, dan style nya udah macem anak bangsawan, gue dulu cupu dan ingusan. Badan gue kerempeng dan kecil, gue selalu dekil dan kusut karena orang tua gue sibuk sendiri. Gue juga cengeng dan penakut, gak ada temen. Dan di situ Kiran mau aja gue ikutin kemana-mana. Dia ajak gue makan enak di rumahnya, dia ajarin gue berenang, dia suruh gue panggil ibunya Bunda biar nggak ada kesenjangan di antara kita berdua." Roka tersenyum tipis mengingat kembali semua ingatan tersebut.
"Kalian gemes banget." Naya menatap Roka lekat-lekat. Tidak ia sangka ternyata persahabatan mereka berdua memang sekuat itu bahkan sejak masih kecil.
Roka tersenyum kecut, "Gemes apaan. Pas SD, kita satu sekolah bahkan satu kelas. Gue masih kucel dan sedangkan dia langsung punya banyak temen. Gue masih selalu ngintilin dia, dan gak sedikit yang bilang gue kacungnya Kiran, dan lo tahu dia bilang apa ke semua orang?"
"Apa?" Naya memasang wajah penasaran, tak sabar mendengar kelanjutan kisah mereka.
"Dia bilang, 'Dia bukan kacung aku. Dia keluargaku.' " Roka menghentikan kalimatnya, rasanya sangat emosional mengingat betapa besar kebaikan yang telah Kiran lakukan untuknya selama ini.
"Sejak saat itu, gue selalu bilang sama diri gue sendiri kalo gue bakal selalu ngelindungin Kiran, selalu ada buat dia. Tapi nyatanya, bahkan setelah gue janji kayak gitu ke diri gue sendiri, justru Kiran yang ngelindungin gue, yang selalu ada buat gue. Dia ajarin gue baca, ajarin gue bebersih diri, ajarin gue segala macem hal yang selama ini gak gue dapetin dari siapapun bahkan orang tua gue sendiri. Dia selalu berdiri di sana saat semua orang pergi entah kemana. Dia yang selalu nyenterin jalan gue, tapi saat dia redup gue gak bisa ngelakuin apa-apa buat dia." Roka merasa matanya mulai berkaca-kaca sehingga dengan segera ia mengedipkan mata berkali-kali agar tidak menangis.
Naya terdiam. Ia tidak tahu apa yang telah dialami Kiran dan Roka selama ini. Sejujurnya Naya juga merasa aneh mendengar deskripsi Roka tentang betapa ceria dan baiknya Kiran saat kecil mengingat Kiran yang ia kenal adalah sosok yang dingin, cuek, dan irit bicara.
"Jangan nyalahin diri sendiri. Lo udah berusaha, lagipula yang berhak menentukan berhasil enggaknya usaha kita emang bukan diri kita sendiri. Gue salut sama kalian berdua. Gue salut sama lo." tanpa sadar Naya tersenyum tulus sembari mengusap puncak kepala Roka.
Selama beberapa detik keduanya terdiam pada posisi yang sama, sampai akhirnya Naya menyadari apa yang baru saja ia lakukan sehingga dengan cepat ia bergegas membuang muka serta menarik diri sejauh dua meter dari Roka.
"Makasih lo udah mau dengerin gue." Roka tersenyum. Naya adalah orang pertama yang bisa membuatnya bercerita. Orang pertama yang membuatnya merasa aman untuk mengutarakan segalanya.
---
Kiran melepaskan sepatunya yang basah oleh air hujan. Ia meletakkan tasnya yang terlihat masih kering sebab memang terbuat dari bahan anti air. Suara-suara yang ditimbulkan Kiran di depan pintu rupanya menarik perhatian sang Ibunda sehingga tak butuh waktu lama hingga ibunya memekik lantaran melihat putra sulungnya itu basah kuyup seperti tikus got.
"Astaga Kiraannnnn! Kenapa nggak berteduh dulu sih? Kalau kamu sakit gimana? Aduuhh, ini basah semua dari rambut sampai kaki." Kiran mengernyit saat sang Ibunda melemparkan handuk tepat di wajahnya.
Dengan masih menggosok kepalanya dengan menggunakan handuk, Kiran melirik ke arah sang Ibunda, "Iya, Ma. Tadi udah terlanjur basah, makanya sekalian aja ujan-ujanan."
"Ck, yasudah. Abis ini mandi sana, terus langsung makan ya. Mama masak sup jagung hari ini," ujar Liliana -Ibu Kiran- pelan.
Kiran mengangguk kecil kemudian bergegas menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Ingatan mengenai apa yang baru saja terjadi di minimarket membuat Kiran merasa senang sekaligus sedih. Ia bangga pada dirinya karena ia bisa mengatakan semua yang ia rasakan selama ini. Ia juga merasa senang karena pada akhirnya Chandana mengetahui isi hatinya, mengetahui alasan yang mendasari tindakan Kiran untuk terus berusaha mendekati Chandana meski tak mendapatkan respon positif dari gadis tersebut.
Namun di sisi lain Kiran merasa sedih. Ia telah mengatakan semuanya, dan itu berarti kini tidak ada lagi yang tersisa dari mereka berdua. Dirinya tidak lagi memiliki alasan untuk mendekati Chandana, "Semoga dia sampai rumah dengan selamat." Kiran berbisik pelan sembari menghela napas.
__ADS_1
Usai menyelesaikan ritual membersihkan diri serta berganti pakaian, Kiran berjalan santai menuju ruang keluarga, "Arda kemana, Ma?"
Mendengar Kiran bertanya membuat Liliana bergegas menoleh ke arah putra sulungnya itu, "Arda ada di rumah nenek. Besok mama juga mau pergi ke sana."
Merasa heran, Kiran lantas membatalkan niatannya untuk pergi ke dapur dan berlari kecil untuk duduk di samping ibunya yang kini tengah duduk di depan televisi, "Kok tumben. Sekarang kan belum liburan. Ada apa, Ma?"
Liliana menoleh ke arah Kiran. Raut wajahnya nampak gelisah dan serius hingga membuat Kiran merasa kebingungan, "Kenapa, Ma?" tanya Kiran tak sabaran.
"Emang sepertinya mau nggak mau kamu harus tahu." Liliana berbisik lirih, terdengar keputusasaan pada nada bicaranya.
"Orang itu sudah bebas, Kiran. Orang yang menghancurkan keluarga ini, sudah bebas."
Tubuh Kiran menegang. Ia berusaha mencerna kalimat ibunya dengan susah payah. Mendadak ia merasa sebuah bongkahan mengganjal tepat di tenggorokannya. Ia tak bisa berkata-kata. Bahkan untuk sekedar berkedip pun ia merasa tak sanggup, "Mama kurang tahu pasti, tapi kata anak buah Papa-mu, dia keluar baru-baru ini."
Kiran memejamkan matanya sesaat. Ingatan mengerikan mengenai kejadian malam itu kembali terputar dalam kepalanya. Ia bergetar karena merasa takut dan juga marah, tak habis pikir bagaimana bisa penjahat mengerikan itu bisa bebas dari penjara.
"Kenapa, Ma? Kenapa dia bisa bebas?" Kiran berusaha tenang dan berpikiran jernih. Ia merasa marah, ia merasa sedih, ia juga merasa takut. Tapi lebih daripada apapun, ia merasa khawatir pada adik dan keluarganya.
"Mereka bilang orang itu berkelakuan baik selama di penjara. Dia punya banyak kenalan dan juga punya banyak uang, jadi beberapa hari yang lalu dia dibebaskan dengan syarat." Liliana menghela napas panjang. Hanya mengingat wajah penjahat itu saja ia sudah kesulitan tidur, kini ia justru dihadapkan dengan kenyataan bahwa orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga mereka sudah menghirup udara bebas.
"Papa memutuskan untuk memindahkan Arda ke rumah nenekmu untuk waktu yang masih belum ditentukan. Mama juga akan tinggal di sana mulai besok. Papa khawatir orang itu akan balas dendam, dia bisa saja datang ke sini atau ke sekolah adikmu. Tidak ada yang tahu apa yang bisa dilakukan orang gila itu." Kiran bergidik mendengar ucapan Ibunya. Membayangkan Arda dan keluarganya dalam bahwa membuat perut Kiran terasa mual dan tubuhnya meremang.
"Kamu tenang saja, papa sudah bayar orang untuk jaga rumah ini dan rumah nenek. Tapi kamu tahu sendiri rumah nenekmu seketat apa penjagaannya, jadi pindah ke sana mungkin lebih aman untuk Arda dan mama. Kamu sekarang sudah kelas 2 dan mau ujian, setelah ujian kamu bisa memutuskan ikut kami dan pindah ke sana atau tetap di sini bersama Papa sampai kamu lulus nanti." Liliana meraih bahu Kiran, memeluknya dengan terisak.
Berat rasanya meninggalkan putra sulungnya itu di saat-saat sulit seperti ini. Ia mengenal bagaimana Kiran, anaknya itu tidak akan bersedia pergi dari sini dan membiarkan ayahnya sendirian. Ia yakin betul bahwa Kiran akan bersikeras menjaga ayahnya dan menetap di sini lantaran ia tak ingin membuat kedua orang tuanya merasa susah mengurus kepindahannya. Kiran selalu seperti itu. Putra sulungnya itu selalu menanggung segalanya sendirian, ia tak pernah mau membagikan kesedihannya pada siapapun, ia tak pernah mengijinkan siapapun masuk ke dalam tembok besar yang Kiran ciptakan, tak ada satupun orang yang tau apa dan bagaimana isi hati Kiran yang sebenarnya, bahkan sang Ibunda sekalipun.
"Ma, nggak usah nangis. Kiran pasti bakal baik-baik aja kok. Kiran bakal sering-sering main ke sana. Dan Kiran juga yakin si Papa pasti tiap hari ke sana nyamperin Mama." Kiran tersenyum nakal, mencoba menghibur ibunya.
Liliana mendesis pelan sembari menyeka air matanya. "Kamu ini. Iya-iya. Lagian Mama yakin kamu nggak bakal mau pergi ke tempat nenek. Di sini kan ada yang lagi jatuh cintah."
Kiran tersipu mendengar ucapan ibunya. Ia sendiri bahkan tidak berani menafsirkan perasaannya pada Chandana, namun sang Ibunda justru terang-terangan menyebut Kiran sedang jatuh cinta, "Enggaaakk Maa. Yaudah Kiran mau makan."
Usai melihat ibunya mengangguk pelan, Kiran berjalan menuju meja makan. Ia menarik sebuah kursi kemudian membuka tudung saji sehingga terpampang lah berbagai macam makanan yang telah disiapkan ibunya. Kiran mengambil satu-persatu lauk yang terhidang di hadapannya sembari menatap kosong entah kemana. Pikirannya tidak berhenti memikirkan fakta bahwa keselamatan keluarganya mungkin saja terancam.
__ADS_1
Kiran menunduk, membaringkan kepalanya di atas meja makan. Belum sirna pikiran tentang Chandana, kini ia harus memikirkan keselamatan keluarganya sekaligus bertindak waspada dan hati-hati karena ia tidak tahu bagaimana serta kapan penjahat tersebut akan melancarkan aksi balas dendam pada keluarganya.