
"Ini siapa? Pacarnya Kiran?"
Ratih tercekat. Asam lambungnya seolah naik hingga ke kerongkongan mendengar pertanyaan yang dilontarkan ibunda Kiran, "Bukan tante. Saya Ratih, temannya Kiran," ujar Ratih sembari tersenyum kikuk. Ia jadi merasa tidak enak.
Roka tertawa mendengarnya, terlebih melihat ekspresi konyol dan mulas yang terpampang jelas di wajah Ratih, "Pacarnya Kiran beda lagi, Bunda. Emang anak Bunda itu playboy kelas kakap kalo di sekolah," gurau Roka yang sontak mengundang tawa ringan dari ibunda Kiran.
Ia mempersilahkan mereka masuk dan duduk di sofa. Di ruangan ini, terdapat sebuah ruangan tembus pandang yang bersekat kaca bening sebagai pemisah antara pasien dengan pengunjung. Karena segala fasilitas yang ada di kamar ini begitu komplit dan banyak, tidak menutup kemungkinan hal tersebut dapat mengganggu istirahat pasien. Oleh karenanya pihak rumah sakit memberikan semacam sekat atau ruang lain bagi pasien dan segala peralatan medisnya namun dengan menggunakan kaca sehingga pasien masih bisa diawasi dari berbagai sisi.
"Tante tunggu diluar ya. Kalian ngobrol aja sama Kiran," Liliana menepuk bahu Roka seraya tersenyum simpul kepada Ratih lantas melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut.
Roka memimpin di belakang untuk memasuki ruangan tempat Kiran berada. Naya berjalan selangkah di belakang Roka sementara Ratih dua langkah di belakang. Ia mengembuskan napas berat saat melihat tubuh Kiran terbalut perban. Jika dilihat dari porsi balutan perbannya, badan Kiran tentunya menjadi bagian dengan cidera paling parah. Kakinya juga dibalut dengan perban di beberapa bagian sementara di wajahnya hanya terdapat beberapa luka gores kecil yang Ratih simpulkan disebabkan oleh pecahan kaca.
"Halo, Bro," Roka berjalan mendekati ranjang Kiran.
Laki-laki yang tengah terbaring lemah itu menoleh kemudian tersenyum. Ia menggerakkan tangannya perlahan-lahan untuk menjabat tangan Roka, "Hai. Hai Naya, dan... Ratih? Haiiii," Kiran tersenyum simpul saat melihat Ratih turut menjenguknya.
Roka memandang Kiran dengan tatapan iba. Hanya dalam hitungan detik kedua mata laki-laki tersebut mulai berkaca-kaca lantaran tidak kuasa melihat sahabat baiknya berada dalam kondisi mengerikan ini, "Harusnya lo nggak usah sok-sok an nyelametin orang," ujar Roka sembari mengusap sudut-sudut matanya yang berair.
"Yee. Sebenernya gue juga gak berniat tau nggak lo, itu gerakan refleks doang," Kiran beralasan. Ia memang mendorong Edy dengan sengaja, dengan kesadaran penuh bahwa ia mungkin menerima resiko tertimpa lampu besar tersebut. Dan sesuai dengan dugaan, kini ia benar-benar tertimpa lampu dan harus menjalani perawatan.
"Gimana perasaan lo? Sakit nggak?" Naya berjalan ke samping ranjang Kiran, mengamati perban-perban yang membalut laki-laki tersebut dengan lebih jelas.
Kiran mengendikkan bahu meski gerakannya tak terlalu kentara karena sulit bagi Kiran untuk menggerakkan tubuhnya, "Masa begituan lo tanya sih Nay? Jahitannya kerasa panas banget pas efek obat biusnya udah abis. Sebadan rasanya panas banget," jelas Kiran yang pagi ini merasa sangat menderita karena rasa panas yang ia rasakan disekujur tubuhnya usai efek obat bius yang diberikan padanya habis.
Ratih hanya diam sembari memandang Kiran yang berusaha keras terlihat normal dan baik saja. Sadar atau tidak, Kiran beberapa kali mengernyit di tengah pembicaraannya dengan Roka dan Naya lantaran harus menahan rasa sakit yang Ratih sendiri tak dapat membayangkan bagaimana. Jujur saja melihat Kiran berada dalam kondisi seperti ini membuat Ratih merasa ikut merasakan sakitnya. Ia ingin membantu Kiran dalam melalui semua ini dan terus memberinya dukungan tapi ia sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Ada orang yang lebih berhak untuk itu, Ratih. Ada yang lebih berhak. Batinnya.
Malam itu, mereka membicarakan banyak hal. Ratih yang semula hanya diam karena merasa sedih pun akhirnya mulai bisa menempatkan diri dan ikut serta dalam pembicaraan seru mereka. Kiran yang sebelumnya merasa kesepian sepanjang waktu pun dibuat tertawa dan antusias oleh kedatangan tiga temannya ini. Terlebih Roka yang memang sangat berisik terlihat berusaha keras menghibur mereka semua. Setidaknya kini Kiran merasa dirinya bukanlah seorang pesakitan yang hanya bisa berbaring dan meratap.
Waktu berlalu cukup cepat lantaran mereka sibuk berbincang dan bercanda. Keempatnya baru menyadari bahwa mereka telah berbicara selama berjam-jam saat seorang suster masuk ke dalam ruangan dan mengatakan sudah waktunya bagi Kiran untuk beristirahat.
Roka dan Naya berpamitan pada Kiran begitu juga Ratih yang tersenyum sembari bersedekap. Ia menggeleng pelan kemudian berucap, "Kacau banget lo emang," ujarnya lirih.
Kiran tersenyum, "Makasih udah khawatir. Daritadi gue lihat lo nggak kaya biasanya. Ada apa?"
__ADS_1
Ratih menggeleng pelan, "Gue balik dulu ya. Lo baik-baik. Makan yang banyak biar cepet kering tuh luka," ujar Ratih sembari menuding badan Kiran yang terbalut perban berlapis-lapis.
"Kalo lo mau datang lagi, nggak apa-apa. Gue justru seneng kalau ada temennya. Lebih baik daripada diem-diem seharian sambil ngeliatin tabung oksigen sama selang infus," Kiran yang merasa kesepian pun mencoba mengatakan keresahannya tiap kali ia ditinggal sendirian.
Ratih mengangguk, "Gue bakal sering-sering dateng kalau itu bisa bantu lo ngerasa lebih baik," ujarnya sembari berjalan keluar, meninggalkan Kiran bersama dengan seorang perawat yang terlihat akan mengganti perban yang membalut tubuh laki-laki tersebut.
Entah kapan dan dimana, Ratih memang pernah membaca sebuah literatur yang mengatakan bahwa pasien pasca kecelakaan parah atau penyakit berat yang dibiarkan sendirian selama masa perawatan atau pemulihan akan lebih mudah terserang stress. Hal ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mereka dan memperlambat proses penyembuhan.
Kali ini Ratih akan bersikap netral dan akan dengan senang hati membantu Kiran sebagai seorang teman. Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk memberi pertolongan agar Kiran dapat segera pulih dan setelahnya, Ratih akan benar-benar mencoba melupakan Kiran dan mulai menata hatinya untuk kisah cinta yang baru. Ia akan membuang perasaannya jauh-jauh dengan tetap menjaga pertemanan dan hubungan baik mereka sampai kapanpun juga sebab ia ingin menyikapi semua ini dengan dewasa dan bukannya bertingkah kekanakan dengan memilih menjauh serta bermusuhan.
Malam itu Ratih berjalan pelan menuju tempat parkir. Tubuhnya yang tinggi dan langsing serta wajah cantik dan karismatik mengundang perhatian banyak laki-laki meski ia tidak mengenakan riasan atau pakaian yang mencolok. Hanya sebuah kaos berlengan pendek dengan celana ripped jeans yang dibelinya dari online shop saat kebetulan sedang ada diskon. Tapi begitulah Ratih. Ia sendiri merasa tidak nyaman karena terlalu sering dipandang sempurna oleh kebanyakan orang sedang ia sadar betul bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan. Semua orang memiliki kekurangan dan begitupun dirinya.
---
Hari Rabu pagi. Hari ketiga dimulainya waktu belajar efektif usai satu Minggu yang penuh dengan waktu luang dan pelajaran kosong. Meski kebanyakan siswa mengaku bosan jika terlalu banyak jam kosong, nyatanya jam pelajaran pun tidak membuat mereka merasa senang. Dan begitulah manusia. Tak pernah merasa puas dan cukup untuk semua yang mereka dapat.
Insiden yang menimpa Kiran pada hari Minggu masih menjadi topik pembicaraan yang hangat dibicarakan oleh siswa dan siswi dari kelas 10 hingga kelas 12. Banyak gosip dan rumor yang beredar di kalangan siswa. Bukan hanya tentang bagaimana kondisi dan keadaan Kiran saat ini, mereka juga mulai membahas dan mengulas semua tentang Kiran. Berita-berita lama yang tidak dapat dipastikan kebenarannya kembali mengudara, kembali menjadi bahan perbincangan. Teori-teori konspirasi yang mengatakan bahwa kecelakaan tersebut disengaja juga mulai dibicarakan meski tak dapat dipastikan darimana sumbernya. Bukan hanya itu, nama Ratih pun kembali disangkut pautkan dengan peristiwa ini termasuk juga Rendi yang sukses menjadi orang paling dicurigai oleh mayoritas siswa dan siswi di sekolah mereka jika memang kejadian ini bukanlah murni kecelakaan.
Tentu saja semua itu hanya gosip dan spekulasi belaka karena memang tidak ada fakta pendukungnya. Satu-satunya hal mendasar yang membuat banyak siswa mencurigai Rendi adalah kabar bahwa jatuhnya lampu tersebut disebabkan oleh baut yang hilang. Masalahnya, keempat baut yang berada di empat sisi berbeda hilang di saat yang bersamaan. Jika baut-baut tersebut terlepas karena faktor alami, tentu tidak mungkin jika ke empat-empatnya terlepas pada waktu yang sama. Kecuali jika memang ada orang yang sengaja melepaskannya.
Meski Ratih merasa tidak nyaman dengan semua kabar burung yang seolah berdengung di manapun dan kapanpun ia pergi, tak ada yang benar-benar bisa ia lakukan. Ia tidak berusaha mengingatkan orang-orang atau bereaksi dengan berita-berita yang ada karena ia sadar bahwa semakin ia bereaksi, akan semakin banyak pula gosip yang beredar. Bukan tidak mungkin orang-orang akan membicarakan tentangnya dan Kiran jika ia membela laki-laki itu dan menyuruh semua orang diam. Ia sadar bahwa setiap tindakannya menjadi perhatian banyak orang sehingga satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah diam. Setidaknya dengan diam ia tidak akan menimbulkan gosip baru dan memberikan topik baru untuk dibicarakan orang-orang.
Ratih menyesap es lilinnya dengan malas saat seseorang meletakkan semangkok bakso di meja kemudian duduk tepat di sampingnya.
"Naya?" Ratih membelalak. Ia baru saja akan melayangkan tinju jika ternyata orang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya adalah seorang laki-laki.
Naya menyunggingkan senyum sembari meletakkan segelas es jeruk di meja, "Gue duduk di sini ya?"
Ratih menyipitkan mata, memperlihatkan ekspresi jelek sembari berkata, "Lo udah duduk btw."
Naya tertawa sembari melahap sebutir bakso tanpa menggigitnya terlebih dulu, "Tumben lo sendirian?"
Ratih memainkan plastik es liling di tangannya kemudian menyesapnya sekali lagi dan berkata, "Gue males sama temen-temen gue. Mereka nggak jauh beda sama yang lain. Gue muak denger mereka ngomongin gosip yang enggak-enggak. Bahkan gue gak bakal heran kalaupun sekarang ini mereka mungkin lagi ngomongin gue di belakang," Ratih melepas kuncir rambut berwarna hitam yang melingkar di pergelangannya kemudian mengikat rambutnya asal-asalan, "Akhir-akhir ini gerah banget."
__ADS_1
Naya nyaris tersedak ketika melirik Ratih, sebagai seorang wanita ia merasa insecure dan takjub ketika melihat gadis tersebut dari sisi samping. Garis leher Ratih sangat indah, terlebih dengan kulit bersih dan mulusnya. Hidung yang mancung serta bibir yang- seksi? membuatnya terlihat sangat sempurna saat dilihat dari samping. Memang tidak berlebihan menyebutnya sebagai siswi tercantik di sekolah.
"Kenapa?" kini Naya benar-benar tersedak saat Ratih mendadak menoleh padanya.
"Sori-sori, lo cantik banget, asli dah gue sampek gagal fokus!" Naya mengusap air di bibirnya kemudian meraih es jeruk miliknya, ia lantas meneguk minuman tersebut hingga hanya menyisakan setengah gelas.
Ratih mengendikkan bahu, "Makasih. Gue bersyukur punya fisik yang bagus tapi jujur aja gue lebih senang sifat dan kemampuan gue yang dikomentarin daripada wajah dan fisik."
Naya mengangguk paham, "Teman-teman lo gosipin siapa emang? Kiran?"
"Iya. Selama ini gue selalu ngerasa risih tiap kali denger obrolan mereka yang ngebahas kekurangan atau kehidupan pribadi orang lain. Yang kaya, maksud gue emang hidup lo udah sebagus apa? Bisa-bisanya ngerendahin orang cuma karena satu dua kesalahan yang belum tentu itu disengaja," Ratih melipat plastik es lilin yang kini telah habis isinya itu.
"Ya walaupun gue tahu kalau sebagian orang yang punya masalah atau ngerasa dirinya buruk bakalan merasa lebih baik dengan membicarakan keburukan orang lain. Jadi secara nggak langsung mereka tuh kaya lagi 'Ini loh ada yang lebih buruk dari gue' daripada 'Gue harus berbenah biar nggak buruk lagi'. You get me?" Ratih melirik Naya yang terlihat memperhatikannya dengan seksama.
Naya mengangguk paham, ia terpukau dengan cara berbicara Ratih yang terdengar sangat percaya diri dan classy, "I got you."
Naya mengalihkan pandangannya kemudian menyuapkan sesendok bakso ke dalam mulut, "Lo masih suka Kiran kan?" ujarnya terang-terangan.
Ratih membelalak, "Hah? Kok lo bisa ngomong kaya gitu?"
Naya mengangkat bahu sembari tersenyum, "Nebak aja. Emang bener ya?"
Ratih membuang muka karena malu, "Memang masih. Tapi gue gak ada niatan apa-apa kok. Gue tahu Kiran sekarang udah bahagia sama orang lain, dan itu cukup buat gue. Jadi teman aja udah lebih dari cukup sih," ujar Ratih pada akhirnya.
Naya menghembuskan napas pelan, "Iya sih. Tapi tetap aja semua balik lagi sama takdir. Apapun yang terjadi kedepannya, gue harap lo bisa selalu bahagia ya," Naya menepuk bahu Ratih dengan senyum merekah di bibir.
"Tumben banget sih kita ngobrol kaya gini?" Ratih tertawa geli saat menyadari bahwa ini adalah kali pertama mereka mengobrol berdua seperti ini.
"Iya ya. Lagian lo selama ini selalu dikerumunin ama dayang-dayang sih. Siapa juga yang mau nimbrung kalo kaya gitu ceritanya!" seru Naya yang kini telah menghabiskan seluruh makanan dan minumannya.
"Jujur aja gue lebih suka sama orang yang terang-terangan daripada baik di depan aja. Gue selama ini sadar gimana mereka tapi gue diem karena takut sendirian. Tapi makin ke sini gue makin sadar buat apa banyak teman tapi gue justru terus ngerasa kesepian tiap sama mereka? Gue ngerasa kita nggak sefrekuensi yang berujung jadi kacang tiap kali mereka sibuk ngomingin orang," Ratih kembali membeberkan keluh kesahnya pada Naya.
Ratih mungkin tidak akan berkata seterus terang ini jika pada orang lain, tapi karena ia merasa Naya adalah orang yang baik, kini tanpa sadar ia menaruh percaya dengan mengutarakan perasaannya dengan jujur.
__ADS_1
"Seenggaknya sekarang gue sadar kalau sendirian nggak selalu bikin kita kesepian."