
3 hari telah berlalu semenjak kedatangan Edy dan Chandana ke kabin tersebut. Awalnya Chandana berpikir bahwa Edy mungkin akan melakukan hal-hal buruk kepadanya. Namun, sejauh ini Edy hanya sesekali melecehkan gadis tersebut. Memang tetap menakutkan dan tidak menyenangkan sama sekali, tapi setidaknya tidak seburuk dugaan Chandana. Ia berpikir Edy akan memperkosanya setiap hari, seperti yang dulu pernah Edy lakukan kepada Chandana.
Sejujurnya, Edy memang sangat menginginkan Chandana. Ia ingin menikmati waktunya di sini dengan bebas dan puas. Namun, Edy memiliki urusan yang harus ia selesaikan di tempat itu. Sebelum tujuannya tercapai, Edy takkan bisa menikmati waktunya dengan santai. Oleh sebab itu, selama tiga hari belakangan Edy terus mengutak-atik ponsel dan laptopnya untuk menghubungi beberapa anak buahnya.
Perlakuan Edy kepada Chandana memang tidak seburuk dugaan gadis tersebut. Namun, dua hari yang lalu, telah terjadi suatu hal yang jauh lebih buruk dari apa pun yang telah Chandana duga sebelumnya.
Selama mereka berada di kota, Edy telah membeli beberapa ponsel baru beserta nomor yang baru pula. Ia sadar bahwa dirinya harus tetap menjalin komunikasi dengan antek-anteknya untuk dapat memahami sutuasi dan keadaan yang ada. Namun, sayangnya di tempat ini benar-benar nyaris tidak ada sinyal sama sekali. Jangankan untuk mengakses internet, untuk mengirim sms saja membutuhkan waktu hampir 1 jam agar dapat terkirim. Oleh karena itu, Edy mencoba menghubungi agen untuk memasang Wifi dedicated VSAT yang akan langsung terhubung ke satelit sebab di tempat ini belum terjangkau kabel fiber optik jika ia ingin memasang wifi rumahan pada umumnya.
Jujur saja, Edy mendelik kaget saat mengetahui harga yang harus ia bayarkan untuk mendapatkan wifi VSAT. Meski begitu, Edy tetap menghubungi pihak agen dan meminta mereka datang secepatnya. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke kabin. Setidaknya tidak sampai hitungan hari.
"Rumah yang bagus, Mas. Lagi liburan ya?" ujar salah seorang agen, berniat melakukan sedikit basa-basi.
Edy tersenyum hambar dan mempersilahkan dua orang yang datang karena panggilannya itu untuk masuk ke dalam.
Kedua petugas tersebut meminta izin kepada Edy untuk berkeliling rumah karena mereka harus memasangkan wifi di tempat yang paling strategis dari kabin tersebut. Edy mempersilahkan mereka untuk melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan selama hal tersebut dapat mempercepat pekerjaan mereka.
Setelah berkeliling ke beberapa ruangan, dua orang tersebut dibuat terkejut saat melihat sosok gadia tengah duduk termenung di sebuah kursi santai. Meski tak tahu berapa usia Edy, mereka sadar bahwa kemungkinan besar laki-laki itu masih seorang pelajar jika dilihat dari wajahnya. Kini, saat mereka menjumpai seorang gadis muda di dalam rumah tersebut, keduanya nampak amat kaget. Pikiran mereka sontak melayang ke mana-mana.
Menyadari kedatangan seseorang, Chandana menoleh. Ia terlihat sangat kaget melihat dua orang pria dengan seragam aneh berwarna biru tua tengah memandang heran ke arahnya.
"S- Selamat siang," Chandana spontan berdiri dan menyapa keduanya.
Dua orang tersebut terlihat sama gugup dan kagetnya saat berkata, "S- Siang, Mbak."
Edy yang mengikuti dua orang tersebut dari belakang sontak menepuk dahi saat menyadari bahwa ia melupakan soal Chandana. Dua orang ini bisa saja curiga dan melaporkan mereka ke polisi setempat.
Dengan tergesa-gesa, Edy mengatakan, "Oh! Kenalkan, dia adik saya!"
Dua pria tersebut menoleh ke belakang saat mendengar suara Edy. Keduanya menghela napas lega saat mengetahui bahwa mereka telah salah menduga, "Oh.. Adiknya toh. Kirain apa."
Edy memutar bola matanya. Lagipula tidak penting sama sekali apa dan bagaimana pendapat dua orang bodoh ini tentang dirinya, "Yasudah, Pak. Cepat di pasang."
Tak ingin membiarkan dua orang ini berlama-lama, Edy meminta keduanya segera melakukan tugas mereka.
Sesuai dengan apa yang Edy minta, kedua petugas tersebut mulai memasang beberapa kabel dan peralatan yang dibutuhkan. Edy menunggu di ruangan yang sama karena ia ingin mengamati pekerjaan dua orang tersebut.
Di saat dirinya tengah berdiri dengan tangan bersedekap dan tubuh yang bersandar pada tembok, Edy mendapatkan sebuah ide. Seringai senang dan percaya diri terukir di bibir Edy saat membayangkan rencana yang akan segera ia ambil untuk dua orang tersebut.
Waktu berjalan dengan cepat. Setelah melakukan pekerjaan mereka selama kurang lebih satu setengah jam lamanya, dua pekerja tersebut dipersilahkan duduk oleh Edy. Ia menyuruh Chandana membuatkan minuman dan mengeluarkan camilan untuk dua orang tersebut.
"Kalau boleh tahu, Masnya ini usianya berapa ya? Kok mau-maunya tinggal di hutan sendirian sama adiknya. Nggak ada orang tua pula," tanya salah seorang petugas.
Edy tersenyum kecil, "Biasa, Pak. Lagi libur sekolah. Orang tua kami sibuk bekerja. Adik saya ingin sekali berlibur dan menghirup udara segar. Jadi saya yang menemani dia ke sini. Nggak mungkin juga saya biarkan dia tinggal sendirian di hutan begini."
"Woaah. Bagus itu, Mas. Memang nggak baik membiarkan perempuan sendirian. Apalagi adiknya cantik banget kayak Mbaknya itu. Woah, bisa bahaya! Hahaha," ujar salah seorang pekerja sembari menyeruput minuman yang baru saja diantarkan oleh Chandana.
Edy turut tertawa bersama dua orang tersebut. Ketawa aja kalian. Sebentar lagi, jangankan untuk ketawa. Untuk bernapas saja kalian nggak akan bisa.
"Ayo, ayo di makan!" Edy menyodorkan piring-piring kecil berisi camilan kepada dua orang tersebut.
Mereka terlihat senang dan menikmati apa yang Edy suguhkan. Ketiganya berbincang cukup lama sampai salah satu dari dua petugas tersebut mengatakan, "Boleh numpang ke kamar mandi, Mas? Karena banyak minum saya jadi kebelet."
Edy mengangguk antusias, "Boleh, boleh. Mari, saya antar," ujar Edy dengan ramahnya.
Keduanya pun berjalan meninggalkan ruang tamu.
"Lurus aja," ujar Edy yang kini berdiri di belakang laki-laki tersebut.
Si Laki-laki mengangguk tanpa menoleh, ia berjalan dengan perlahan sembari celingukan untuk menemukan kamar mandi yanh Edy maksud. Sementara itu, Edy yang kini berdiri di belakang si Laki-laki pun terlihat mengambil sebuah tongkat besi.
Edy mengangkat tongkat tersebut dengan hati-hati kemudian menghantamkannya ke kepala petugas wifi yang berdiri di hadapannya itu.
Si Petugas terjatuh ke lantai hanya dengan sekali pukulan. Cairan berwarna merah gelap merembes melalui rambutnya yang hitam, membasahi lantai kayu yang ada di bawah mereka.
Edy mengusap peluh di dahinya sembari berjalan ke luar. Ia berniat kembali ke ruang tamu untuk menghabisi petugas yang satu lagi.
Edy masih asyik berjalan saat si Petugas muncul di hadapannya dengan tiba-tiba hingga membuat Edy nyaris terjengkang ke belakang.
"Saya dengar suara benda jatuh, ada apa?" tanya si Pria sembari memandang tongkat besi yang dibawa oleh Edy.
Merasa ada yang tak beres, pria tersebut melangkah mundur ke belakang. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
"Teman saya... Sepertinya kami harus segera kembali ke kan-"
***buk*
*buk buk buk buk buk***
Edy menghantam kepala pria tersebut dengan sekuat tenaga. Bahkan setelah si Pria kehilangan keseimbangan dan terjatuh, Edy terus menghujam kepala pria tersebut dengan tongkat besi hingga wajah dan tengkoraknya nyaris hancur. Hidung, mata, dan wajah yang semula terlihat sempurna kini berubah menjadi hal mengerikan yang sama sekali tidak enak dipandang. Darah berceceran di mana-mana sementara Edy asyik tersenyum bahkan tertawa.
Tentu saja, ia harus membunuh dua orang tersebut. Edy tidak bisa mengeluarkan biaya sebesar itu hanya untuk memasang wifi bukan? Lagipula, ia tidak bisa membiarkan dua orang ini kembali ke tempat mereka begitu saja. Tidak menutup kemungkinan jika mereka akan mengatakan keberadaan Edy dan Chandana di tempat ini kepada banyak orang.
Di sisi lain, Chandana yang mendengar keributan pun turun ke lantai bawah dan hal pertama yang ia saksikan ialah seonggok mayat manusia yang sudah hancur wajah dan kepalanya.
Chandana menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia nyaris menjerit jika saja dirinya tidak cepat-cepat menyadari bahwa Edy bisa saja melakukan hal yang sama kepadanya. Air mata jatuh menuruni pipi mulus Chandana. Ia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Ia harus segera pergi dari sini dan mengirim Edy ke dalam penjara agar semua kegilaan ini dapat berakhir dengan segera.
Usai pembunuhan keji tersebut, Edy meminta bantuan Chandana untuk menguburkan mayat-mayat tersebut. Awalnya Chandana menolak karena ia tidak sanggup melakukannya. Ia bahkan tidak bisa tahan hanya dengan melihat mayat-mayat itu. Namun, Edy mengancam akan melakukan hal yang lebih buruk pada Chandana jika ia tidak mau membantu.
Karena tidak mempunyai pilihan lain, Chandana terpaksa melakukan apa yang Edy minta. Ia membantu Edy menguburkan mayat-mayat itu. Belum selesai sampai di sana, Edy juga membuang mobil yang dibawa oleh kedua petugas itu ke dalam jurang yang letaknya tidak jauh dari kabin mereka. Tentu Edy harus menyingkirkan mobil tersebut karena ia sadar bahwa benda tersebut bisa saja menarik perhatian orang luar jika terus dibiarkan berada di tempat tinggal mereka.
Setelah kejadian mengerikan itu, Chandana menjadi semakin takut dengan Edy sebab dugaannya terbukti benar. Laki-laki itu bisa melakukan apa saja tanpa pernah merasa bersalah. Chandana bahkan tidak mengerti bagaimana Edy bisa menghancurkan kepala seseorang di saat membunuhnya saja sudah cukup keji?
Chandana menghela napas. Kejadian dua hari yang lalu benar-benar sangat mengguncang hati dan pikirannya. Kini, mau tidak mau ia harus lebih berhati-hati dari sebelumnya.
---
__ADS_1
"Saya mau jalan ke depan sebentar. Boleh?" Chandana melirik Edy dengan ragu. Laki-laki itu terlihat sangat sibuk dengan laptop dan ponselnya.
Edy menoleh singkat sembari berkata, "Lima menit."
Chandana mengangguk pelan sembari berjalan ke depan. Rasanya sangat aneh saat mengingat bagaimana indah dan menyenangkannya tempat ini saat ia masih kecil dulu. Chandana sangat bahagia dan senang di masa lalu. Ia bagai hidup di negeri dongeng di mana kesedihan hanyalah mitos yang takkan pernah menimpanya.
Kini, hampir setiap hari yang dilalui Chandana adalah hari-hari yang menyedihkan. Ia tidak memiliki kesempatan untuk hidup bahagia bahkan hanya untuk sebentar saja.
Belum puas melamunkan masa lalu, Chandana melihat seorang perempuan paruh baya tengah berjalan ke arahnya. Ibu itu.. Yang merawat tempat ini kan?
Chandana spontan menoleh ke belakang. Edy masih duduk di ruang tamu sembari mengekori laptopnya. Syukurlah!
Dengan buru-buru, Chandana berlari kecil untuk menghampiri wanita itu. Chandana harus memintainya pertolongan dan menyuruhnya pergi dari sini sesegera mungkin.
"Loh? Mbak Chan-"
"Sssstt!" Chandana meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sembari sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Edy masih belum beranjak dari tempatnya.
"Sini, Bu!" bisik Chandana sembari menarik pergelangan tangan wanita tersebut untuk bersembunyi di balik sebuah pohon.
Seakan mengerti, wanita tersebut nampak menuruti semua yang dikatakan Chandana tanpa banyak bertanya.
"Bu, saya minta tolong supaya ibu segera menghubungi polisi. Hubungi kakek saya juga. Bilang kalau saya ada di sini bersama penjahat yang sudah menculik saya. Ibu harus segera pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi sampai ibu berhasil menghubungi kakek dan polisi. Ibu paham?" Chandana berbisik dengan bibir gemetaran. Jatungnya berdetak dengan sangat cepat karena takut dirinya ketahuan.
"Baik, Mbak. Saya akan segera kembali ke rumah dan melakukan semua yang Mbak bilang. Tapi, apa Mbak Chandana nggak apa-apa di sini sendirian dengan penjahat itu?" ujar si Wanita yang kelihatannya sangat khawatir.
Chandana menggeleng pelan, "Nggak apa-apa, Bu. Sudah, kita nggak boleh lama-lama. Sekarang juga Ibu kembali ke rumah dan lakukan apa yang saya minta."
"Baik, Mbak."
Wanita tersebut berjalan meninggalkan Chandana dengan langkah cepat. Namun, Chandana masih belum bisa tenang sehingga ia masih berdiri di sana dan mengamati wanita tersebut sampai ia benar-benar sudah tidak lagi terlihat oleh mata. Usai memastikan si Wanita telah meninggalkan area kabin, Chandana menghela napas lega kemudian berbalik saat tubuhnya tersentak ke belakang karena melihat Edy telah berdiri di belakangnya.
"Ngapain kamu?" Edy bertanya dengan nada menyelidik.
Chandana yang merasa sangat amat terkejut pun berusaha terlihat tenang meski jantungnya terasa mencelos keluar saat melihat Edy berdiri di belakangnya. Ia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya kini dilanda rasa takut yang amat sangat besar. Sejak kapan Edy berdiri di sana? Bagaimana jika Edy mendengar semuanya dan menyakiti dirinya? Napas Chandana memburu saat memikirkan apa yang akan ia terima kalau sampai Edy memergoki apa yang baru saja ia lakukan.
"Jawab!" Edy menyalak. Tak menanti jawaban dari Chandana.
"Nggak ngapa-ngapain. Saya cuma bersandar di pohon dan memandangi hewan-hewan itu!" Chandana menuding sekumpulan capung yang terbang di sekitaran pohon yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Edy menaikkan sebelah alisnya. Terlihat tak yakin dengan penjelasan yang diberikan Chandana.
"Udah dibilang lima menit kan?"
Chandana menunduk, "Maaf."
Edy menghela napas kemudian menyodorkan kresek hitam berukuran sedang kelada Chandana, "Udahlah. Nih, buang ini ke jurang sana."
Chandana mengambil kresek tersebut dengan bertanya-tanya, "Kenapa harus dibuang ke jurang?"
Chandana mengangguk cepat sembari melangkah meninggalkan Edy dengan rasa lega di hati. Sepertinya Edy tidak tahu jika Chandana baru saja meminta pertolongan kepada orang lain.
---
Membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk sampai ke jurang yang Edy maksud. Jalanan yang menanjak serta terjal membuat Chandana kesulitan di sepanjang jalan. Telebih ia harus berjalan kaki untuk sampai di sana.
Selama kurang lebih 45 menit berkutat dengan jalanan yang sulit dan tidak mudah untuk dilalui, Chandana patut bersyukur karena ia berhasil tiba di kabin sebelum hari mulai gelap.
Dari kejauhan, Chandana dapat melihat Edy tengah berdiri di pintu dengan senyum lebar. Ia seperti sedang menyambut Chandana jika dilihat dari bagaimana laki-laki itu bereaksi saat melihat Chandana berjalan mendekat. Entah apa alasan yang membuatnya bertingkah seaneh itu, Chandana merasa tidak yakin dengan apa yang ia lihat. Pasti telah terjadi sesuatu selama ia pergi. Pasti.
"Hai. Ayo masuk! Ada hadiah buat kamu!" Edy mendorong punggung Chandana dengan bersemangat.
Chandana mendadak panik saat melihat tingkah janggal yang ditunjukkan Edy, "A- Ada apa? Hadiah apa?"
Edy menarik sebuah kursi untuk Chandana, mempersilahkan gadia tersebut duduk dan menikmati hadiah yang telah dipersiapkan Edy sebelumnya.
Chandana menatap heran saat Edy berlari ke dapur dan kembali dengan membawa sebuah nampan besi yang tertutup tudung saji berbahan stainless.
Edy meletakkan nampan tersebut tepat di hadapan Chandana. Senyum lebar yang sejak tadi terlihat di bibirnya tidak sedikitpun berkurang atau menghilang, melainkan semakin lebar dan mengerikan.
Chandana menoleh ke arah Edy. Ia benar-benar bingung dengan maksud dari semua ini, "Apa? Ini apa?"
Edy mengedipkan sebelah matanya dengan gemas, "Buka aja!"
Chandana merasa ada yang tidak beres. Ia benar-benar merasa ada yang tidak beres di sini. Lagipula, senyum di bibir Edy sudah cukup mengganggunya, dan kini sebuah nampan tertutup tudung stainless. Chandana tidak dapat menebak atau memperkirakan apa yang ada di balik tudung tersebut sehingga ia memutuskan untuk membukanya dengan segera.
Chandana menggerakkan tangannya perlahan sembari sesekali melirik Edy yang berdiri di belakangnya. Tak mau membuat dirinya lebih penasaran lagi, Chandana membuka tudung tersebut dan menjerit sejadi-jadinya saat melihat apa yang ada di baliknya.
"Aaaaahhhhh!"
Edy tertawa melihat reaksi Chandana. Ia tertawa terbahak-bahak melihat Chandana menangis histeris saat menyaksikan kepala seorang wanita yang amat sangat ia kenali. Ya. Itu adalah kepala dari wanita yang merawat dan menjaga kabin ini. Wanita yang dimintai pertolongan oleh Chandana beberapa waktu yang lalu. Edy tahu semuanya. Ia tahu bahwa Chandana meminta pertolongan kepada wanita tersebut dan berniat membuat Edy tertangkap.
"K-Kamu gila! Kamu gila!" Chandana mendorong kursinya ke belakang dan berniat berlari ke kamarnya saat Edy mencekal pergelangan tangan gadis tersebut.
Edy menarik rambut Chandana dan membenturkan kepala gadis tersebut ke tembok dengan keras kemudian berbisik, "Jangan coba-coba melawan! Jangan coba-coba berkhianat kalau kamu tidak ingin kepalamu yang cantik ini terlepas dari leher! Jangan coba-coba kabur atau lari kalau kamu tidak ingin Kiran yang bodoh itu menerima paket berisi kepala gadis yang dia cintai!"
Edy kembali membenturkan kepala Chandana ke tembok dengan lebih keras, "Sebentar lagi. Sebentar lagi semuanya akan berakhir."
Untuk terkahir kalinya, Edy kembali membenturkan kepala Chandana ke tembok hingga membuat gadis tersebut tidak sadarkan diri dengan kondisi kepada yang telah berdarah-darah.
---
Chandana mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya terasa sakit bukan main. Ia mencoba menggerakkan tangannya saat ia menyadari bahwa kini dirinya tengah berada dalam posisi terikat. Ia didudukkan di atas kursi sementara tubuh, tangan, dan kakinya diikat dengan tali.
Di depan sana, Edy tengah mengutak-atik laptop dan ponselnya. Melihat hal ini, Chandana mulai merasa panik. Ia tidak tahu apa yang hendak dilakukan Edy, yang pasti dirinya tahu bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang baik.
__ADS_1
"Kamu mau apa?" Chandana memutuskan untuk berbicara.
Edy menoleh ke arahnya, tersenyum singkat kemudian kembali fokus kepada laptop yang ada di hadapannya, "Saya mau menggunakan kamu untuk memancing Kiran kemari."
Chandana bergidik ngeri. Usai melihat sendiri bagaimana Edy membunuh orang-orang itu dengan mudahnya, Chandana tidak kuasa untuk tidak merasa khawatir kepada Kiran. Jika laki-laki itu datang ke sini sendirian, ia bisa saja berada dalam bahaya. Edy bisa saja melakukan apapun untuk menjebak Kiran dan membuatnya tidak berkutik sama sekali.
"Bagaimana rencana kamu? Apa yang mau kamu lakukan ke Kiran kalau dia berhasil terpancing ke sini?" Chandana kembali bertanya. Ia harus memastikan segalanya dengan baik. Ia harus menggagalkan apapun yang sedang direncanakan Edy.
"Kenapa saya harus memberi tahu kamu?" Edy menaikkan sebelah alisnya dengan malas.
Chandana terdiam. Ia menunduk lesu sembari menggerak-gerakkan tangannya agar setidaknya ia bisa mengendurkan ikatan yang yang membelenggu kedua tangannya itu.
"Lagipula kamu mau membunuh dia sebentar lagi. Setidaknya biarkan saya tahu bagaimana kamu akan membunuhnya," Chandana mencoba terlihat santai meski hatinya benar-benar gelisah bukan main.
Edy melirik Chandana, sejenak menimbang-nimbang perkataan gadis tersebut.
"Oke. Saya bakal melakukan video call dengan memperlihatkan kondisi memprihatinkan kamu ini. Saya akan menyuruh dia datang sendiri atau saya akan bunuh kamu. Saya akan minta dia datang ke hutan. Sementara dia mulai masuk ke hutan, saya sudah menunggu dan tinggal membunuh dia dari belakang seperti yang sudah-sudah. Beres, masalah clear!" Edy tersenyum cerah membayangkan keberhasilan rencananya.
Chandana meremas jemarinya saat mendengar bagaimana licik dan mengerikannya sosok Edy. Ia benar-benar tidak bisa membiarkan Kiran celaka atau terluka di tangan Edy. Chandana harus menggagalkan rencana Edy bagaimanapun caranya. Tapi bagaimana? Bagaimana ia bisa menggagalkan rencana yang telah Edy susun selama berhari-hari itu?
Chandana menghela napas saat melihat Edy mulai memasang tripod dan mengatur letak ponselnya. Rupanya Edy berencana membiarkan Kiran melihat bagaimana mengerikannya kondisi Chandana saat ini.
Di tengah-tengah kesibukan Edy untuk mempersiapkan peralatannya, tetiba terdengar seruan kesal dari laki-laki tersebut.
"Sial! Pakek lupa ngecharge lagi!" Edy melepaskan ponselnya dari t**ripod dengan masih menggerutu.
Mendengar apa yang baru saja dikatakan Edy membuatnya merasa senang bukan main. Inilah kesempatan Chandana. Inilah satu-satunya kesempatan untuk menggagalkan rencana Edy.
"Baterai ponsel kamu habis?" Chandana bertanya dengan ragu.
Edy melirik gadia tersebut, "Iya. Kenapa? Senang ya kamu, karena kematian Kiran tertunda beberapa menit?"
Chandana menghela napas, "Bukan begitu. Kenapa nggak pakai ponsel saya aja. Kan ponsel saya ada di kamu."
Edy nyaris tertawa mendengar saran yang diucapkan oleh Chandana, "Becanda ya? Nomor kamu pasti bakal di lacak sama polisi. Kakek kamu yang kaya raya itu pasti udah ngirim ratusan orang buat nyari cucu kesayangannya! Siapa sangka kalau ternyata cucunya itu disekap di kabinnya sendiri?"
"Kamu kan bisa melepas nomor saya dan memasukkan nomor kamu yang baru. Tapi terserah kamu sih. Saya cuma menyarankan aja."
Edy terdiam. Ia terlihat sedang mempertimbangkan saran yang diberikan Chandana. Meski merasa curiga, Edy menyadari bahwa ia memang tidak boleh membuang-buang waktu untuk hal-hal sepele semacam ini. Semakin cepat ia beraksi, semakin baik buatnya.
Setelah lama menimbang dan memikirkan dengan matang, Edy pergi ke kamarnya dan mengambil ponsel Chandana. Ia mengeluarkan kartu sim dan SD Card yang ada di dalam ponsel tersebut kemudian memasukkan kartu sim yang baru.
Edy buru-buru menyalakan ponsel tersebut dan memeriksa satu-persatu aplikasi yang terinstal di dalamnya untuk memastikan bahwa tidak ada aplikasi yang aneh-aneh. Usai memastikan semuanya beres, Edy menghubungkan ponsel tersebut dengan jaringan wifi yang telah terpasang di kabin kemudian mulai menghubungi Kiran.
Usai lama menunggu, wajah tampan Kiran akhirnya terpampang di layar ponsel.
"Sia- Chandana? Chandana itu kamu kan?"
Terdengar suara keterkejutan Kiran dari sana. Chandana yang mendengar suara Kiran pun tidak kuasa untuk menahan air matanya.
Edy yang mengamati wajah Kiran dari layar ponsel pun mengatakan, "Iya. Itu Chandana. Kalau lo mau lihat dia selamat, lo datang ke hutan *** subuh nanti. Sendirian. Tanpa bilang ke siapa pun soal ini dan tanpa membawa siapa pun. Kalau lo berani bilang ke orang lain, Chandana bakal gue penggal dan kepalanya bakal gue kirim ke rumah lo sebagai suvenir."
"Edy! Lo Edy kan? Lo apain Chandana! Kenapa kepala dia berdarah? Berani lo sentuh Chandana sedikit aja, gue nggak akan pernah maafin lo!"
Edy tertawa. Ia melepaskan ponsel tersebut dari tripod dan membawanya ke dekat Chandana.
Usai mengatur agar lensa utama menggunakan kamera depan, Edy memegang ponsel tersebut dengan satu tangan sembari menciumi pipi Chandana. Memperlihatkan kebejatannya kepada Kiran.
Chandana beringsut dan terisak pelan. Ia tidak bisa melakukan apapun selain menunduk ketakutan.
"Brengs*k lo! Jauhin Chandana! Jauhin Chandana gue bilang!"
Edy tertawa, "Kalau lo nggak mau gue lakuin yang lebih lagi. Cepat datang ke sini tanpa membawa siapapun. Cuma lo. Sendirian!"
"Ya. Lo pegang omongan gue. Jangan sentuh Chandana!"
Edy hendak mematikan video call tersebut saat melihat sebuah pop up aneh muncul dari layar ponsel Chandana.
Edy buru-buru membukanya dan muncul sebuah notifikasi yang bertuliskan "Lokasi anda berhasil di kirim!"
"Apa?" Edy menoleh ke arah Chandana dengan tatap mata tidak percaya.
Ia buru-buru membanting ponsel tersebut dan berlari mengambil sebuah tongkat besi untuk menghancurkan ponsel milik Chandana, "Sial*n! Arrgh! Arggh! Mati! Matiiiiiiaaaaahrrgg!"
Usai memastikan ponsel tersebut benar-benar hancur hingga tidak lagi menyisakan apapun, Edy berbalik dan memandang Chandana dengan penuh amarah.
"Lo sengaja kan? Lo sengaja nyuruh gue pakek hp lo karena sebelumnya lo udah pasang aplikasi pelacak? Bajin*an! Siapa? Ke siapa lokasinya terkirim? Ke siapa?"
Chandana semakin terisak. Ia merasa lega karena rencananya berhasil. Namun, di sisi lain ia merasa ketakutan.
Edy mencengkeram tongkat besinya kuat-kuat, lantas dengan penuh amarah dan emosi, Edy menghantamkan tongkat besi tersebut ke tubuh Chandana.
"Siaaaalllll! Sekarang, lo harus terima balasan karena udah khianatin gue! Lo udah khianatin gue, Chandana!
***buk! buk! buk!
buk! buk! buk! buk***!
*buk!
buk*!
buk!
....
__ADS_1