
Naya mengerjapkan mata. Ia tanpa sengaja terbangun dari tidur saat mendengar kegaduhan dari belakang rumah. Dengan malas, Naya berjalan keluar dari kamar untuk mencari ibu tirinya dan menanyakan keributan apa yang terjadi di belakang sana.
Usai lama berkeliling, Naya merasa heran lantaran tidak menjumpai ibunya di manapun. Akhirnya Naya memutuskan untuk mengecek sendiri sumber kegaduhan yang berasal dari belakang rumah.
Dengan ragu, Naya melangkah perlahan, mencoba untuk tidak menimbulkan terlalu banyak suara. Semakin jauh Naya melangkah, semakin jelas pula kegaduhan tersebut. Bahkan kini Naya merasa mampu mendengar suara seorang laki-laki yang sedang berteriak di sela-sela suara berdebam yang sepertinya timbul dari benda-benda tumpul yang sengaja dipukul-pukulkan.
Naya semakin dekat dengan sumber suara saat ia dengan berhati-hati mencoba bersembunyi di balik sebuah pagar, mengintip apa yang sedang terjadi di belakang sana. Samar-samar Naya mendapati dua orang laki-laki berusia 20-an tengah memukuli seseorang yang kini telah duduk tersungkur sehingga membuat Naya kesulitan melihat wajahnya.
Naya masih mengamati kekejian dua laki-laki tersebut saat jantungnya mulai berdegup kencang. Keringat dingin mengaliri dahi dan lehernya lantaran merasa takut, ini kali pertama baginya menyaksikan sebuah perkelahian secara langsung dengan kedua matanya sendiri. Semakin lama, dua orang tersebut semakin menjadi-jadi. Mereka menendang, memukul dengan kayu, bahkan menyudut Si Korban dengan menggunakan rokok dengan terus berteriak-teriak menuntut pembayaran atas hutang-hutang serta ancaman-ancaman mengerikan. Meski Naya tidak tahu benar apa masalahnya, namun ia sadar ia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan apa yang sedang terjadi di sana, laki-laki yang tidak berdaya tersebut bisa saja mati di tangan dua orang berandal ini.
Sempat terpikir untuk menelpon polisi, Naya mengurungkan niatnya sebab ia sadar akan memakan waktu lama bagi polisi untuk tiba di sini. Bisa saja orang itu mati sebelum polisi datang. Naya kembali menimbang-nimbang di sela kepanikannya, dan diambillah keputusan yang tergolong cukup nekat. Dengan gemetar, Naya mengeluarkan ponsel dari sakunya lantas memutar suara sirine polisi dari salah satu aplikasi. Dua laki-laki yang sebelumnya masih asyik menghajar sosok yang telah tersungkur tersebut pun lari pontang-panting usai mendengar suara sirine polisi yang bersumber dari ponsel Naya.
Naya menghela napas lega sebab ia berhasil mengelabui dua orang tersebut dan membuat mereka pergi. Dasar dongo. Pikirnya dalam hati, penuh dengan rasa kemenangan.
Usai memastikan dua orang tersebut benar-benar pergi, Naya berlari menuju sosok laki-laki yang terkapar penuh darah dan luka lebam di sekujur tubuh dan wajahnya. Naya menjerit saat menyadari laki-laki tersebut adalah kakaknya. Dengan air mata yang mulai menggenang, Naya membantu kakaknya berdiri meski dengan tubuh gemetaran.
"Lo ngapain sih di sini?" ujar kakak laki-laki Naya, mencoba melepaskan diri dari adiknya.
Naya menatap penuh rasa marah, "Nolongin elo lah? Lo gila ya? Siapa orang-orang itu? Ngapain mereka mukulin lo sampek kaya gini?"
"Bukan urusan lo. Gue ingetin sama lo, jangan bilang apa-apa sama Papa," laki-laki tersebut kembali menyentakkan tangan Naya hingga terlepas, kemudian berjalan tertatih dan masuk ke dalam rumah.
"Gue bantuin!" Naya memekik saat melihat kakaknya nyaris terjatuh karena limbung.
"Dibilang gausah ya gak usah! Lain kali jangan ikut campur urusan gue kayak gini lagi," ujar Sang Kakak dengan ketusnya.
Naya mengusap air matanya melihat betapa sombong dan tidak tahu dirinya orang ini, "Kalo gue gak nolongin lo, yang ada lo sekarang udah mati tau nggak! Ngapain aja sih lo selama ini? Mereka siapa! Hah?"
Dengan masih berjalan tanpa sedikitpun menghiraukan adiknya, laki-laki tersebut berkata, "Gue bilang bukan urusan lo."
Naya terdiam di tempatnya. Meski ia merasa amat sangat khawatir dengan kondisi kakaknya, mendapat perlakuan seperti itu membuatnya merasa marah. Kakaknya memang sudah banyak berubah sejak ayah mereka memutuskan untuk menikah lagi, namun Naya tidak mengira bahwa kakaknya akan berurusan dengan orang-orang berbahaya seperti itu. Meski kakaknya jarang berada di rumah dan seringkali bersikap ketus padanya, Naya sadar laki-laki tersebut masih menyayangi keluarga mereka sebagaimana dulu. Hanya saja kini ia tenggelam dalam dunianya sendiri, dunia yang tidak dimengerti oleh Naya dan keluarganya.
Usai kejadian tersebut, Naya terus mengurung diri di kamar. Ia berusaha mencari tahu segala informasi tentang kakaknya melalui media sosial. Mulai dari foto-foto, status, bahkan orang-orang yang berteman dan saling follow dengannya, semua Naya eksplorasi dengan terperinci.
__ADS_1
Dari situlah Naya mendapati fakta bahwa selama ini kakaknya telah terjun ke dalam dunia yang sama sekali berbeda. Jika dilihat dari semua informasi yang ditemukan Naya, kakaknya bergaul dengan para anak berandalan, sering mabuk-mabukan, bahkan tidak menutup kemungkinan kakaknya juga terjerumus dalam lembah narkoba.
Naya menitihkan air mata membayangkan apa yang bisa saja terjadi pada kakaknya setelah ini. Ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi mengingat perlakuan yang diterima kakaknya dari dua orang tadi. Mungkin kini Naya bisa menyelamatkan nyawa kakaknya, namun siapa yang tahu? Bisa saja dua orang itu kembali dan melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi. Hanya dengan membayangkan apa yang bisa saja terjadi membuat Naya merasa pusing. Ketakutan menjalari pikiran dan hatinya.
Tidak begitu lama, dering ponsel menyadarkan Naya dari lamunannya. Dengan tergesa-gesa, Naya mengambil ponsel tersebut dan memeriksa siapa yang menelpon dirinya. Ia tercekat ketika melihat nama Roka tertera di sana. Dengan ragu, Naya mengangkat panggilan tersebut.
Tidak ada kata ataupun kalimat yang dipertukarkan. Hanya suara lembut deru napas yang dapat di dengar Naya selain suara napasnya sendiri. Selama bermenit-menit mereka hanya diam tanpa suara, seolah mencoba memberi waktu pada masing-masing untuk menenangkan diri dan memilih kata yang pas untuk diucapkan pada satu sama lain.
"Ha-Halo?" Naya menjadi yang pertama berbicara.
"Naya, maafin gue ya. Gue nggak seharusnya bicara kayak gitu sama lo."
Naya menghela napas lega. Selama berhari-hari menjalani liburan sekolah, tidak ada satupun hal yang bisa ia lakukan tanpa memikirkan Roka. Memikirkan perasaan laki-laki tersebut atas apa yang sudah ia dengar dan ia ucapkan pada hari terakhir pertemuan mereka.
"Gue juga minta maaf. Nggak seharusnya gue melampiaskan mood gue yang buruk dan semua masalah gue ke elo."
"Enggak. Lo bener. Gue emang keterlaluan, gue sering mempermainkan perempuan hanya karena gue ingin membuktikan kalo pendapat gue tentang kalian itu benar. Maaf ya, Nay. Gue nggak akan begitu lagi."
"Mau ketemu nggak? Gue ada hal yang mau diomongin," Naya menawarkan sebuah pertemuan dengan Roka. Naya tahu Roka punya banyak teman dari berbagai macam elemen dan tingkatan, oleh karena itu Naya ingin meminta bantuan Roka untuk mengorek informasi tentang kakaknya sedikit lebih banyak lagi.
"Oke. Sore ini gue jemput ya?"
Naya tersenyum saat Roka mengiyakan permintaannya tanpa banyak ngeles dan bertanya.
"Iya. Gue tutup telponnya ya?"
"Iya. Bye."
"Bye."
Naya masih tersenyum sembari memandangi ponselnya saat Roka menutup telpon mereka. Entah kenapa ia kini merasa lebih lega dan lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Mungkin karena ia telah banyak berbicara dan mendengar dari Chandana beberapa hari yang lalu.
Hari itu, usai Roka dan Kiran pergi meninggalkan restoran, Naya menangis di pelukan Chandana lantaran merasa bersalah dan juga lega karena akhirnya beban di hati yang selama ini ia simpan sendiri bisa keluar bersama dengan segala sudut pandang serta uneg-unegnya tentang Roka dan seluruh laki-laki yang ada di bumi.
__ADS_1
Di tengah isakannya, Naya bertanya pada Chandana, "Kenapa kamu akhirnya mau menerima Kiran? Kamu bilang kamu takut dia nggak akan bisa menerima kenyataan kalau nanti tiba saatnya dia tahu semuanya."
Chandana terdiam sejenak, lalu mengatakan, "Awalnya saya juga ragu, Naya. Tapi saya bukan ragu dengan Kiran, saya ragu dengan diri saya sendiri. Saya ragu apakah saya yang memiliki masa lalu seburuk itu, menyimpan rahasia sebanyak itu, pantas untuk Kiran? Apakah dengan bersama kita akan baik-baik saja? Tapi Kiran terus meyakinkan saya. Dia meyakinkan saya untuk memberi kesempatan baginya agar bisa membuktikan diri pada saya, memberi kesempatan juga untuk diri saya sendiri."
"Semuanya tidak akan selalu baik-baik saja, Naya. Tidak ada yang akan selalu baik-baik saja. Kalau memang nanti Kiran akan pergi meninggalkan saya setelah dia mengetahui semuanya, maka itu tidak bisa dihindari. Itu adalah harga yang harus saya bayar atas kebersamaan kami. Saya sadar semua keputusan selalu mendatangkan akibat, saya juga tidak tahu apa yang sedang menunggu kita di depan sana, tapi kita hidup di hari ini, Naya. Apa yang saya miliki saat ini akan selalu saya jaga. Perkara masa depan, saya kembalikan semuanya pada takdir Tuhan," Chandana tersenyum simpul sembari mengusap pelan kepala sahabatnya.
Naya semakin terisak, "Kamu sama Kiran benar-benar dewasa menyikapi hal semacam ini ya? Apa sebegitu besarnya efek suka membaca?"
Chandana tersenyum sekali lagi, "Sepertinya iya."
"Kalau saya boleh tahu, kenapa kamu getol sekali mengatakan kalau laki-laki selalu mau menang sendiri? Selalu mencari celah agar dapat mempermainkan dan menyakiti perempuan?" Chandana memutuskan untuk mengajukan pertanyaan yang sedari tadi ia tahan-tahan.
Naya melepaskan pelukannya sembari menghapus sisa-sisa air mata yang ada di sekitaran wajah dan lehernya, "Dulu di SMP, aku pernah punya pacar. Dia orang yang sangat baik dan pengertian. Dia selalu mendominasi setiap hal dalam hubungan kami, meskipun terkadang dia bersedia ngedengerin pendapat aku, tapi semua itu semata-mata dia lakuin untuk meluluhkan aku karena pada akhirnya tetap kemauan dia yang harus kita patuhi. Saat itu aku belum sadar, dia selalu bersikap manis dan seakan-akan tahu bagaimana cara menenangkan dan meluluhkan aku yang memang keras kepala," Naya berhenti sejenak untuk menyambut pesanan mereka yang baru saja tiba.
Usai menyeruput minumannya barang seteguk, Naya melanjutkan, "Dia nggak pernah maksa aku, tapi dia orangnya manipulatif dan bener-bener tahu gimana ngadepin aku, makanya kita nggak pernah berantem sama sekali. Semua berjalan sampai setelah wisuda. Aku sebenernya udah mulai sadar sama fakta bahwa dia selalu lebih dominan, tapi aku tepis pemikiran itu dengan menganggap bahwa asalkan kita nggak berantem dan masih saling menyayangi, semuanya pasti baik-baik aja. Tapi nyatanya dia mendua, Chandana. Dia selingkuh sejak tahun pertama kita pacaran."
"Sejak saat itu aku mulai mikir bahwa dalam suatu hubungan yang tentram dan tanpa pertengkaran bukan berarti nggak ada apa-apa. Bukan berarti hubungan itu bakal bertahan lama. Dan dari situ juga aku jadi benci sama laki-laki, karena bagiku mereka semua sama," Naya kembali menyeruput minumannya.
Chandana mendengarkan Naya dengan seksama. Berusaha memahami situasi berdasarkan sudut pandang Naya, dan sudut pandangnya sendiri selaku pihak netral. Usai berpikir cukup lama, Chandana berkata, "Mungkin benar apa yang dikatakan Kiran tadi, Naya. Kita nggak bisa menuduh satu desa sebagai pembunuh hanya karena salah satu warganya membunuh orang. Kita nggak bisa mengatakan semua laki-laki akan menyakiti perempuan hanya karena satu lelaki menyakiti kamu. Bukan begitu analoginya."
"Saya harap kamu nggak lagi melihat orang lain melalui kacamata yang sama. Kamu mungkin nggak sadar, tapi kamu mungkin melihat Roka sebagaimana kamu melihat mantan pacar kamu itu, laki-laki buaya yang sudah menyakiti kamu. Karena itu kamu nggak menyadari kalau selama ini Roka nggak pernah menyakiti siapapun. Dia nggak pernah mematahkan hati gadis manapun, Naya," Chandana memegang bahu Naya, mencoba membuat sahabatnya itu mengerti maksud dan arah kalimatnya.
"Maksud saya, mulai sekarang, lihat Roka sebagai Roka. Bukan sebagai laki-laki atau jenis makhluk yang pernah membuat kamu sakit hati. Ya?" Chandana tersenyum samar.
"Makasih ya. Makasih banget kamu udah mau negur aku dan nasehatin aku kayak gini. Beruntung banget aku kenal sama kamu, Kiran, dan si kutu kupret Roka. Kalau bukan karena kalian, mungkin aku selamanya bakal hidup dengan terus menyalahkan seluruh laki-laki di dunia ini atas sesuatu yang nggak -sebagian dari- mereka lakukan," Naya meletakkan es kopi miliknya di meja lantas kembali memeluk Chandana dengan erat.
Siapa sangka obrolan mereka hari itu bisa membuka hati Naya. Bisa membuatnya sedikit lebih memahami bagaimana seharusnya ia bertindak dan menyikapi semuanya.
Kini, dengan pikiran yang masih belum sepenuhnya lega, Naya turun ke lantai bawah untuk mengambil makanan. Naya menatap pintu kamar kakaknya selama beberapa menit saat tanpa sengaja ia melihat pintu tersebut. Naya tidak tahu harus melakukan apa, namun ia benar-benar ingin membantu kakaknya. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada kakaknya jika ia diam saja.
Roka, semoga lo bisa tolongin gue ya.
Naya menyuapkan sesendok penuh nasi dan lauk ke mulutnya, berharap semua akan baik-baik saja sampai ia bisa menemukan solusi atau mungkin sedikit titik terang atas sesuatu yang sedang menimpa kakaknya ini.
__ADS_1