
"Udah berapa jauh ya kira-kira kita jalan? Matahari udah mulai tinggi. Kayaknya sekarang sudah jam tujuh atau delapan-an," ujar Kiran mengusap peluh di keningnya.
Saya setuju dengan Kiran. Jika melihat posisi matahari saat ini, mungkin sekarang sudah pukul tujuh atau delapan pagi. Perjalanan kami benar-benar tidak terasa karena di sepanjang jalan kami berdua terus mengobrol dan membicarakan banyak hal tentang satu sama lain yang sebelumnya tidak kami ketahui. Saya merasa sedikit lebih mengenal Kiran dibandingkan dengan sebelumnya dan saya pun yakin bahwa Kiran juga merasakan hal yang sama. Setidaknya, di balik kejadian ini, ada banyak hal yang bisa membuat kami berdua justru semakin dekat dan saling mengenal satu sama lain.
Tanpa mengurangi sedikit pun semangat serta upaya, kami berdua terus melanjutkan perjalanan dengan lebih fokus. Kami mulai mempercepat pergerakan karena takut tiba setelah truk tersebut lewat. Kali ini, kami harus melakukan segala yang kami bisa sebab inilah satu-satunya jalan keluar yang paling mungkin untuk kami tempuh.
Waktu terus bergulir. Matahari terus meninggi. Peluh dan keringat kini bukan hanya ada di kening atau leher kami, melainkan di seluruh bagian tubuh bahkan punggung dan kaki. Kami tidak berniat menepi atau beristirahat sejenak karena kami sadar bahwa kami bukan hanya dikejar oleh Edy, melainkan juga oleh waktu. Setelah lama berjalan dan mulai merasa kelelahan, saya melihat sebuah jalan beraspal yang kini hanya berjarak puluhan meter saja dari lokasi di mana kami berdiri.
Melihat hal yang sama, Kiran menoleh ke arah saya sembari menyunggingkan senyum lebar. Ia meraih tangan saya dan menariknya, membawa saya ke jalan utama dengan begitu antusias dan bersemangat.
Saya tersenyum amat lebar. Ekspresi wajah Kiran terlihat begitu senang dan lega. Kami berharap banyak dari usaha kami ini. Kami berharap truk tersebut lewat dan membawa kami kembali pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Kami ingin keluar dari sini dan meninggalkan Edy sendirian dengan segala rencana yang telah ia rancang dan susun untuk menjebak dan menyakiti kami.
Setibanya di jalan utama, Kiran melepaskan tangan saya. Ia memegang bahu saya dengan kedua tangannya, menatap saya dengan mata berbinar penuh harap sembari berkata, "Chandana, sebentar lagi, kita pasti bisa pergi dari sini. Sebentar lagi, kita bakal bisa ninggalin tempat ini dan pergi sejauh mungkin dari Edy."
Saya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Saya sama berharapnya, saya sama inginnya keluar dari sini sesegera mungkin.
"Oke, kalau gitu, kamu duduk di sini, biar saya yang tunggu di sebelah jalan. Kalau truk itu lewat, atau kalau pun ada kendaraan lain yang lewat, saya akan hentikan mereka dan minta tumpangan. Sekarang, kamu duduk dulu," Kiran menarik tangan saya, menyuruh saya duduk dan bersandar di bawah sebuah pohon besar, mengistirahatkan diri sejenak usai perjalanan panjang yang telah kami tempuh.
Saya menurut. Sementara saya duduk dan menyelonjorkan kaki, Kiran berjalan ke pinggir jalan, melihat ke kanan dan ke kiri, menunggu lewatnya kendaraan yang mungkin dapat membantu dan mengantarkan kami ke kota atau setidaknya meninggalkan hutan ini dan kembali ke peradaban.
Awalnya, Kiran terlihat bersemangat dan antusias. Tiap kali terdengar deru mesin kendaraan, Kiran memandang bergantian ke kedua arah. Namun, anehnya tak ada satu pun kendaraan yang melintas. Entah suara-suara itu memang benar ada atau hanya bayangan kami berdua, yang pasti selama hampir dua jam kami menunggu, tidak ada satu pun kendaraan yang lewat.
Kiran mulai terlihat gelisah dan khawatir. Ia berulang kali mengusap rambutnya dengan desahan kesal saat ia merasa mendengar suara mesin, tetapi sama sekalu tidak ada kendaraan yang melintas.
Tak ingin membiarkan Kiran khawatir dan gelisah seorang diri, saya berdiri kemudian berjalan menghampirinya. Saya menyentuh pundak Kiran dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Akan segera ada kendaraan yang lewat. Jadi, Kiran tidak perlu khawatir dan gelisah seperti itu.
"Lebih baik kamu duduk dulu. Kamu juga pasti capek. Biar gantian saya yang berdiri sambil nungguin kendaraan lewat," saya mencoba menenangkan Kiran dan menyingkirkan kekhawatiran yang ada di hati dan pikirannya meski pada nyatanya saya pun merasakan kegelisahan dan kekhawatiran yang sama.
"Enggak. Saya saja yang tunggu kendaraan lewat, kamu duduk lagi saja," Kiran menepis tangan saya. Ia semakin terlihat khawatir dan gelisah.
Saya tidak tahu apa yang terjadi pada Kiran, entah karena kelelahan atau karena terlalu banyak berpikir, ia jadi lebih emosional. Nada bicaranya tidak selembut dan sebaik biasanya. Saya tahu Kiran sedang frustasi. Siapa juga yang tidak frustasi jika berada di dalam situasi yang seperti sekarang ini? Siapa pun yang mengalami hal seperti kami pasti akan merasakan hal yang sama. Kini, saat satu-satunya harapan yang kami miliki pun jadi terasa kabur dan tidak pasti, wajar saja jika Kiran menjadi sekhawatir dan sefrustasi itu. Akan tetapi, saya tidak akan membiarkannya begitu saja. Saya tidak akan membiarkan ketakutan dan kegelisahan memecah belah kami seperti ini.
"Kiran, kamu harus istirahat. Kamu pasti lelah. Di keadaan seperti ini, jangan memaksakan diri kamu. Pikiran kamu sudah cukup lelah dengan memikirkan solusi terbaik untuk kita berdua bisa keluar dari sini, kalau fisik kamu pun harus dipaksa dan menjadi terlalu lelah juga, kita sendiri yang akan rugi. Semua manusia pun pasti akan stress kalau terus-terusan berada dalam tekanan. Sekarang kita sudah ada di bawah tekanan, jadi jangan membuat diri kamu lebih tertekan lagi. Saya tahu kamu pasti khawatir dan gelisah, saya juga sama. Jadi, tolong dengarkan kata-kata saya. Jangan menjadi orang lain, saya nggak suka melihat kamu yang seperti ini," saya nyaris menangis melihat Kiran yang tiba-tiba menjadi lebih pemarah.
Entah kenapa, saya takut Kiran akan berakhir seperti ayah. Saya tidak mau jika satu-satunya orang yang saya miliki saat ini harus ikut berubah juga seperti yang lainnya. Saya takut Kiran akan menjadi orang lain dan menjadi sama jahatnya dengan mereka. Tanpa sadar, saya menitihkan sebulir air mata. Saya benci situasi seperti ini.
"Maaf," Kiran berujar lirih. Ia mengusap air mata yang masih bergulir di pipi saya dengan jemarinya yang lembut.
"Saya menakuti kamu ya? Maaf.. Saya.. Saya cuma takut kalau pada akhirnya kita nggak akan bisa keluar dari sini. Saya takut semua usaha yang udah kita lakukan sia-sia. Saya takut gagal melindungi kamu."
"Nggak. Bukan cuma kamu yang harus melindungi saya, melainkan saya juga harus melindungi kamu. Jangan terlalu memaksakan diri kamu seperti ini. Kamu butuh istirahat supaya bisa berpikir dengan jernih. Sekarang kamu duduk di sana, biar saya yang tunggu di pinggir jalan."
Kiran menuruti perkataan saya kali ini. Untungnya, ia segera menyadari kesalahannya dan memperbaiki hal tersebut sebelum menjadi semakin parah. Saya tidak bisa memikirkan apa pun lagi jika nantinya kami justru harus terpecah belah di saat keadaan menjadi semakin buruk seperti saat ini.
Setelah memastikan Kiran telah duduk dan bersandar di salah satu pohon, saya berjalan ke pinggir jalan, mengedarkan pandangan dan mulai menunggu kendaraan yang entah kapan akan lewat.
Jujur saja, saya merasa ada yang aneh. Tiga sampai empat kali saya mendengar suara kendaraan bermotor yang terdengar mendekat. Namun, tidak pernah ada kendaraan yang sampai atau lewat di depan kami. Tidak mungkin saya terus salah dengar, terlebih hal yang sama pun juga didengar oleh Kiran beberapa waktu yang lalu.
Dulu, saat saya masih sering mengunjungi kabin tiap hari libur tiba, sangat jarang sekali ada kendaraan yang melintas di jalan ini. Mungkin, dalam satu hari hanya ada belasan kendaraan saja yang melintas. Di antara kendaraan-kendaraan yang melintas itu, truk sayur adalah salah satunya. Hanya saja, bedanya truk sayur melintasi jalan ini secara rutin. Oleh karena itu, saya bisa menghapal dan mengingatnya meski tidak bisa dibilang terlalu ingat juga.
__ADS_1
Namun, hal tersebut terjadi sekitar delapan sampai sembilan tahun yang lalu. Kemungkinan besar saat ini sudah banyak kendaraan yang melintasi daerah ini, meski tidak sebanyak jalanan-jalanan yang ada di kota, tetapi pasti frekuensi kendaraan yang lewat sudah lebih banyak dari beberapa tahun yang lalu.
Sekarang, kembali ke permasalahan utama. Dari mana datangnya suara-suara mesin kendaraan tersebut? Kenapa suara-suara tersebut terdengar mendekat, tetapi sampai saat ini belum ada satu pun kendaraan yang lewat?
Kali ini, saya mencoba menajamkan pendengaran. Pertama, saya ingin memastikan bahwa apa yang saya dengar adalah nyata dan bukan sekedar bayangan semata. Kedua, setelah memastikan bahwa suara-suara mesin tersebut memang benar-benar ada, tugas saya adalah mencari dari mana arah suara-suara tersebut berasal.
Saya menoleh ke belakang, Kiran terlihat menyandarkan punggungnya di salah satu batang pohon dengan mata tertutup. Ia ketiduran.
Saya tersenyum kecil sembari menghela napas lega. Saya sempat khawatir Kiran akan terlalu terbawa suasana dan berhasil dikuasai emosinya. Beruntung ia bukan orang yang seperti itu sehingga mudah saja bagi saya untuk mengingatkan Kiran dan menyadarkannya agar tidak sampai melewati batas. Tubuhnya belum sehat dan ia butuh banyak istirahat. Sejauh ini ia telah terlalu memaksakan diri. Oleh karena itu, saya tidak akan mengganggu Kiran dan mencoba memecahkan teka-teki ini sendirian.
Saya memutuskan untuk duduk di pinggir jalan karena merasa pegal di bagian tumit. Lagipula, entah kenapa saya merasa yakin bahwa tidak akan ada kendaraan yang lewat. Oleh sebab itu, saya mencoba menunggu suara selanjutnya dengan duduk bersila agar perhatian dan fokus saya lebih terarah ke suara yang akan terdengar alih-alih sibuk memijat tumit yang pegal.
Menit demi menit berlalu. Tidak terdengar suara apa pun selain gemerisik dedaunan serta gesekan antar dahan dan ranting yang tertiup angin. Suara burung-burung baik yang hinggap di pohon-pohon maupun yang terbang pun terdengar saling bersahutan, memberikan kesan tenang dan natural yang benar-benar identik dengan hutan.
Saya sempat hampir putus asa dan mengira bahwa apa yang sebelumnya saya dengar memang hanyalah imajinasi atau bayangan saya saja sampai deru suara mesin kendaraan mengalun seirama dengan gemerisik dedaunan. Suaranya benar-benar pelan dan lirih hingga saya harus memejamkan mata dan memperkuat pendengaran untuk memilah mana suara mesin kendaraan dan mana suara dedaunan.
*brrrmm*
Saya masih memejamkan mata dan berusaha keras menangkap suara tersebut. Awalnya, suara kendaraan tersebut terdengar samar. Namun, kian lama, suaranya kian jelas, seolah kendaraan tersebut berjalan mendekat ke arah di mana saya dan Kiran berada dan di sinilah keanehan mulai terjadi. Suara tersebut mendadak berhenti sebelum akhirnya kembali terdengar. Namun, setelah sempat terhenti, suara kendaraan tersebut tidak lagi mendekat ke arah kami, melainkan terdengar semakin samar sampai akhirnya benar-benar tidak bisa didengar lagi. Seolah-olah, kendaraan itu menjauhi kami setelah sebelumnya sempat mendekat.
Saya kembali membuka mata, apa maksudnya itu? Kenapa kendaraan-kendaraan itu mendekat, kemudian berhenti, lalu menjauh?
Saat itu saya merasa bahwa memang benar ada sesuatu yang tidak beres. Saya melirik Kiran sekali lagi, ia masih terlelap. Ia terlihat sangat lelah dan begitu nyenyak dalam tidurnya.
Setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan untuk tidak membangunkan Kiran dan pergi memeriksa semuanya sendiri. Namun, sebelum itu saya menyempatkan diri untuk berjalan ke arah Kiran dan berpamitan. Meski saya yakin ia tidak akan mendengar apa yang saya katakan, setidaknya dengan mengatakan sesuatu kepadanya sebelum saya pergi akan membuat hati saya sedikit lebih tenang.
"Kiran.. Ada sesuatu yang aneh dan saya harus menyelidiki hal aneh tersebut. Kamu baik-baik di sini ya. Saya akan segera kembali. Tidur yang nyenyak, Kiran," saya mengusap pipi Kiran dengan perlahan sembari memandang wajahnya selama beberapa detik. Dengan cara tersebut, saya ingin mendapatkan keberanian dan keyakinan.
Jalanan utama hutan ini sedikit berkelok-kelok sehingga batas pandangan saya pun menjadi cukup terbatas. Hal ini membuat saya harus menempuh jarak yang lebih jauh lagi hanya untuk melihat apa yang ada di balik belokan.
Awalnya, saya tidak menemukan hal aneh apa pun. Jalanan benar-benar lengang dan kosong. Tidak ada kendaraan sama sekali di jalan tersebut. Hanya ada beberapa lembar daun kering yang terus berjatuhan dari pepohonan setiap ada angin yang berhembus. Setidaknya itulah yang saya pikirkan sebelum saya tiba di belokan terakhir.
Karena hutan ini masuk dalam kategori daerah puncak, terdapat banyak jalan berliku. Sejauh ini, saya sudah menjumpai dua belokan dan kini mendapati belokan ketiga. Saya menghela napas sembari terus melangkahkan kaki yang rasanya seperti sudah mau putus karena terlalu banyak berjalan sejak kemarin.
Setelah melewati belokan tersebut, saya dibuat terkejut saat mendapati sebuah papan besar yang diikat dengan tali yang terhubung dengan pohon yang berada di kanan dan kiri jalan. Papan tersebut menutupi hampir seluruh bagian jalan sehingga jalanan tidak bisa dilewati.
Saya berjalan cepat untuk melihat papan apa itu sebenarnya. Setelah sampai di hadapan papan tersebut, saya mendapati sebuah tulisan di papan tersebut yang ditulis dengan menggunakan cat berwarna hitam.
Tulisan tersebut berbunyi, "DILARANG LEWAT. ADA POHON TUMBANG. BAIK KENDARAAN KECIL MAUPUN BESAR HARAP MEMUTAR."
Saya tercekat. Pohon tumbang? Di mana ada pohon tumbang? Siapa pula yang memasang papan ini dan memberikan informasi palsu yang konyol ini? Jadi, inilah yang alasan yang membuat saya dan Kiran tidak dapat menjumpai satu pun kendaraan selama lebih dari tiga jam menunggu.
Tunggu.. Tunggu.. Kenapa.. Astaga! Apa ini ulah Edy?
Tanpa berusaha berpikir lebih banyak lagi, saya berlari dengan sekuat tenaga, sekencang yang saya bisa.
Napas saya naik turun sementara kaki saya yang sakit pun rasanya semakin sakit saja. Ini benar-benar tidak mungkin semua ini benar-benar tidak mungkin.
Setelah berlari cukup jauh, saya kembali tiba di tempat yang sebelumnya kami gunakan untuk beristirahat. Kiran masih tertidur di sana. Namun, saya tidak berhenti berlari, saya hanya melirik Kiran sekilas dan terus melanjutkan langkah kaki saya. Sejujurnya, ada satu hal lagi yang harus saya pastikan. Mungkin saja memang benar ada pohon tumbang di sisi lain jalan. Lagipula, jalanan ini terbagi atas dua arah. Dan tidak ada kendaraan yang lewat sama sekali dari kedua arah. Jadi, saya ingin memastikan ada apa di arah yang satu lagi.
__ADS_1
Saat itu, saya terus berdoa dan berharap bahwa memang benar-benar ada pohon tumbang di sana. Saya berharap bahwa ini semua bukanlah rencana Edy. Karena bagaimana pun juga, jika semua ini adalah rencana Edy sejak awal, tidak ada lagi kesempatan bagi saya dan Kiran. Tidak ada lagi jalan untuk pergi jika laki-laki itu benar telah mengatur dan merencanakan semuanya.
Saya masih berlari dan terus berlari. Air mata saya mulai mengalir saat saya tidak kunjung melihat adanya pohon tumbang. Hingga akhirnya, tangis saya pecah saat mendapati papan yang sama terpasang dengan isi tulisan dan posisi yang sama pula.
Saya menjerit. Edy telah mengetahui semuanya. Dia tahu di mana kami berada dan rencana kami untuk menumpang kendaraan yang lewat. Ia tahu semuanya sehingga ia sengaja memasang papan-papan ini agar tidak ada satu pun kendaraan yang melintas di tempat kami menunggu.
Saya kembali bangkit dan berdiri. Saya harus segera memberitahu Kiran agar kami dapat segera melarikan diri dari sini.
Saya berlari sekali lagi, mengabaikan semua rasa sakit di tumit serta bagian kaki lainnya. Mencoba kuat dan bertahan sebab tidak ada waktu lagi bagi kami. Saya tidak tahu apa yang sedang direncanakan Edy sehingga ia melakukan ini semua. Ia melepaskan kami, membiarkan kami berharap dan berpikir bahwa kami telah terbebas darinya. Namun, kami tidak pernah berhasil bebas. Kami masih ada dalam belenggunya dan entah bagaimana caranya, kami masih berada dalam pengawasannya.
Setelah berlari sembari terisak-isak di sepanjang jalan, saya duduk tersungkur di sebelah Kiran. Saya masih menangis saat mencoba membangunkannya.
"Kirann.. Kirann! Kiran, bangun! Kita harus segera pergi dari sini. Kiran!"
Kiran membuka matanya, ia mengerjap berkali-kali sembari mengusap kedua matanya dengan punggung tangan. Setelah benar-benar terbangun, ia memandang saya dengan ekspresi bingung.
"Loh? Kok nangis? Ada apa?"
"Kiran... Kita harus cepat pergi dari sini! Kita harus segera pergi dan lari dari sini!" saya memekik, ketakutan dan kengerian menjalari hati dan pikiran saya.
"Hah? Kenapa? Kok tiba-tiba? Ada apa? Bilang sama saya ada apa!" Kiran mencoba menenangkan saya dengan menggenggam pergelangan tangan saya.
Namun, saya tidak bisa tenang. Semua ini terlalu mengerikan bahkan hanya untuk sekedar dipikirkan. Saya tidak percaya hal seperti ini benar-benar terjadi.
"Nanti saya jelaskan semuanya, yang penting sekarang kita harus pergi dari sini. Kita harus lari sejauh mungkin dari tempat ini!" saya menarik tangan Kiran agar ia segera berdiri.
Meski masih terlihat bingung dan tidak dapat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, Kiran menuruti semua yang saya katakan tanpa banyak bertanya lagi. Saya menarik tangannya dan berlari di pinggir jalan dengan masih berurai air mata.
Tidak lama, terdengar suara nyaring dari arah belakang kami. Seperti sebuah tabrakan antara benda keras. Saya dan Kiran sempat menoleh ke belakang dan menghentikan langkah kami. Namun, tidak ada apa-apa di sana sehingga kami pun mulai melanjutkan langkah.
Belum sampai sepuluh meter berjalan, suara mesin mobil terdengar mendekat ke arah kami. Kiran yang mendengarnya pun menarik tangan saya sembari menghentikan langkahnya, "Chandana! Itu truknya bukan?"
Ia menuding ke arah sebuah truk yang melaju kencang di belakang kami. Saya menoleh dan melihat ke arah truk tersebut dan memang benar itulah truknya. Itulah truk pembawa sayur yang sering saya lihat sewaktu saya kecil dulu.
Kiran tersenyum amat lebar, ia melambaikan tangannya ke arah truk tersebut, berpikir si Sopir akan memberikan kami tumpangan seperti yang sebelumnya kami rencanakan.
Truk tersebut mulai memelankan lajunya. Dan tanpa disangka-sangka, truk itu mulai menepi dan berhenti tepat di sebelah kami. Kiran melirik saya yang masih terisak sembari mengatakan, "Jangan nangis begitu. Nih, truknya udah ada di sini!"
Saya tidak mengerti. Saya tidak mengerti. Semua ini terasa sangat aneh dan juga salah. Saya merasa seperti semua ini bukanlah hal yang benar. Kenapa pula truk ini tiba-tiba melaju di saat saya sudah mengetahui kebenarannya? Saya merasakan firasat yang amat sangat buruk di sini. Namun, Kiran yang belum memahami segalanya justru terlihat begitu riang dan bersemangat.
Kiran membuka pintu truk tersebut saat si Sopir membunyikan klaksonnya. Saya masih menangis saat saya memandang ke arah kursi kemudi truk tersebut. Seorang laki-laki bertopi terlihat duduk di balik kemudi. Setelahnya, saya memandang Kiran yang masih berusaha membuka pintu truk.
Tidak begitu lama, bunyi *ceklek terdengar dan pintu pun terbuka. Alih-alih kami yang naik dan masuk ke dalam, sesuatu terjatuh dari atas truk tersebut tepat setelah Kiran membuka pintunya.
Seseorang terjatuh menimpa kami berdua. Kiran yang terkejut pun buru-buru mendorong orang tersebut hingga jatuh ke tanah. Saya dan Kiran mendelik dan saling melempar pandang saat melihat bahwa orang yang baru saja terjatuh dari dalam truk adalah seorang laki-laki setengah baya yang pakaiannya sudah berlumuran darah.
Kiran melongok ke dalam truk dan lantas mendorong tubuh saya hingga terjatuh. Di saat yang bersamaan, suara tembakan terdengar begitu nyaring dan memekakan telinga.
Laki-laki yang duduk di balik kursi kemudi truk pun turun dan membuang topinya ke sembarang arah. Ia menyunggingkan senyum lebar sembari mengacungkan pistol di tangannya.
__ADS_1
"Wah wah wah, satu hari terasa seperti satu tahun ya?"